“Pernikahan ini hanya ikatan di atas kertas. Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu.”
Duka membeku di hati Arjuna. Sejak kepergian istri tercintanya, jenderal muda yang disegani itu mengubur rapat hatinya untuk siapa pun. Namun, sebuah wasiat terakhir memaksanya menikahi Arunika, perempuan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan menjadi pendamping hidupnya.
Di mata Arjuna, Arunika hanyalah wanita bertubuh gemuk, sederhana dan tak pantas berjalan di sisinya. Ia menerima pernikahan itu semata demi menghormati pesan terakhir mendiang istrinya dan memberikan seorang ibu bagi putra kecil mereka.
Saat Arunika perlahan menaklukkan hati putra kecilnya, sang Jenderal pun mulai goyah.
Bisakah Arjuna mempertahankan dinding esnya ketika wanita yang ia remehkan justru menjadi satu-satunya alasan jantungnya berdetak kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 29
"Ayo, Pa, Ma. Aku sudah ngantuk berat."
Nakula menguap lebar sambil menutup mulutnya dengan tangan kecilnya, lalu merangkak naik ke atas ranjang. Dengan wajah polos yang kini dihiasi rona kebahagiaan sejati, bocah itu langsung mengambil posisi tepat di tengah-tengah kasur king size tersebut.
Arunika yang melihat tingkah manis itu seketika tersenyum tipis. Ia melangkah meraih sebuah bantal tambahan dari sisi ranjang. "Kalau begitu kalian berdua tidur saja duluan. Aku mau tidur di sofa di sudut itu saja."
Baru saja sebelah kakinya hendak melangkah menjauh, suara bariton Arjuna yang berat langsung menghentikannya.
"Tidak usah"
Arunika menoleh dengan kening berkerut. "Kenapa? Kasurnya kan sempit kalau dipakai bertiga."
"Kasur ini ukurannya besar, cukup untuk kita bertiga," jawab Arjuna datar tanpa ekspresi.
Arunika menggigit bibir bawahnya, lalu menggaruk tengkuknya canggung. "Bukan masalah ukurannya, Mas... Aku takut nanti kasurnya amblas ke bawah."
Kalimat itu meluncur begitu pelan, nyaris tak terdengar oleh telinga normal. Arjuna langsung mengangkat sebelah alisnya tajam.
"Kasurnya itu terbuat dari per baja kuat, bukan dari kardus bekas."
Arunika langsung manyun sebal mendengarnya. "Itu tadi secara tidak langsung sedang bilang kalau aku ini gemuk, iya kan?!"
"Aku kan tadi hanya bilang kalau kasurnya bukan dari kardus,$ bela Arjuna dengan nada kaku. "Dan kasur ini sangat kuat menahan beban kita bertiga sekaligus."
Tiba-tiba, Nakula menyela dengan suara polosnya. "Tapi mama memang empuk kan, Pa?"
Ucapan jujur tanpa dosa dari bocah itu membuat suasana kamar mendadak hening seketika selama beberapa detik. Arjuna, yang sedang merapikan bantal, hampir saja tersedak ludahnya sendiri mendengar celetukan anaknya. Sementara Arunika langsung merona merah padam, buru-buru memegang kedua pipinya yang terasa panas.
"Nakula sayang..." panggil Arunika gemas.
"Iya, Ma?"
"Kalau kalimat yang tadi itu tidak usah diucapkan di depan umum."
"Kenapa memangnya, Ma? Salah ya?" tanya Nakula bingung.
Arjuna berdehem pelan beberapa kali untuk menyembunyikan senyumnya yang hampir lolos dari bibirnya. "Tidak salah," sahut Arjuna singkat.
"Nah, kan! Papa sendiri juga bilang tidak salah!" protes Nakula riang.
Arunika hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah tanda menyerah. "Wah, kompak sekali ya kalian berdua. Komplotan tukang meledek."
Nakula terkekeh geli mendengarnya. Tak lama berselang, mereka mulai bersiap untuk tidur malam. Arunika meminta izin sebentar untuk pergi ke kamar mandi guna mengganti pakaiannya dengan piyama tidur longgar serta mencuci wajah.
Beberapa menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi dan melihat Nakula sudah berbaring pulas sambil memeluk guling kesayangannya. Arunika tersenyum kecil penuh kasih sayang. Diam-diam ia kembali melangkah mengambil selembar selimut ekstra dari atas kursi sudut.
"Nah, sudahlah. Aku tidur di sofa itu saja ya, biar kalian berdua lebih leluasa di kasur," bisik Arunika pelan.
Baru satu langkah kakinya bergerak, tubuh Arunika mendadak terangkat melayang dari lantai tanpa aba-aba.
"Mas Arjuna?!" Arunika membelalakkan matanya kaget bukan kepalang.
Arjuna, tanpa banyak bicara sedikit pun, langsung menggendong tubuh istrinya begitu saja dengan gaya bridal style.
"Mas mau membawaku ke mana, hah?!" protes Arunika panik.
"Ke atas ranjang.*
"S-sofa itu kan tempat tidur yang nyaman juga!”"
"Sofa bukan tempat tidur yang layak untukmu," jawab Arjuna datar.
"Turunkan aku sekarang juga, Mas! Malu!"
"Kenapa harus malu?"
"Nakula sedang melihat kita!" seru Arunika histeris.
Mereka berdua lantas menoleh serentak ke arah ranjang. Alih-alih terkejut atau menutup mata, Nakula justru bertepuk tangan riang dengan wajah berbinar.
"Wah! Hebat! Papa memang kuat banget!"
Arunika langsung spontan menyembunyikan wajah malunya di balik bantal empuk yang masih dipeluknya erat-erat.
"Ya Tuhan, malunya minta ampun rasanya ingin tenggelam ke dasae bumi," batinnya menjerit.
Arjuna tetap berjalan dengan santai menuju sisi ranjang. Ia sama sekali tidak merasa keberatan, karena tubuh Arunika ternyata terasa jauh lebih ringan dan pas di dalam dekapan lengannya daripada yang ia bayangkan.
Begitu tiba di tepi kasur, Arjuna menurunkan istrinya dengan sangat hati-hati dan lembut. "Nah, sudah sampai."
Arunika langsung berdiri tegak kembali dari kasur. "Aku tetap mau tidur di sofa saja."
Belum sempat kakinya beranjak, Arjuna dengan cepat kembali menahan pergelangan tangan langsing istrinya. "Kau ini keras kepala sekali, Arunika."
"Aku cuma tidak enak badan rasanya."
"Kalau kau nekat tidur di sofa sempit itu, besok Nakula pasti ngambek!" bisiknya.
Arunika mengerjap-ngerjapkan matanya, mencerna logika itu. "Iya juga, ya..."
"Kau mau membuat Nakula sedih lagi?"
Arunika mengembuskan napas panjang pasrah. "Baiklah kalau begitu.”
Ia akhirnya naik ke atas ranjang dengan sangat hati-hati, bergeser pelan seolah takut kasur itu benar-benar amblas menahan bebannya. Arjuna yang melihat tingkah konyol istrinya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala pelan.
"Berlebihan sekali caramu naik kasur."
"Aku sedang menjaga harga diriku, Jenderal."
"Harga diri atau harga kasurnya yang kau pikirkan?" ledek Arjuna dingin.
Arunika mendelik sebal. "Wah, rupanya seorang Jenderal militer yang terkenal kaku ini ternyata bisa juga ya melontarkan kalimat bercanda."
"Aku tidak sedang bercanda."
"Lalu apa namanya kalau bukan bercanda?"
Nakula di tengah-tengah mereka kembali tertawa renyah. "Papa sama Mama malam ini lucu banget deh."
"Kami tidak sedang melawak," jawab Arjuna dan Arunika serempak berbarengan.
Nakula malah tertawa semakin keras mendengar jawaban kompak itu. Melihat putra semata wayangnya bisa tertawa lepas tanpa beban seperti itu, sudut bibir Arjuna tanpa sadar terangkat membentuk senyuman tipis yang hangat.
Arunika, yang menangkap basah senyuman kecil di wajah suaminya, ikut tersenyum diam-diam dalam gelap.
"Jenderal yang satu ini memang terkenal sedingin es kutub, tapi diam-diam perhatiannya luar biasa," batin Arunika mengakui dalam hati kecilnya.
Sementara itu, di sisi lain, Arjuna sengaja berpura-pura sibuk membetulkan bantal tidurnya agar Arunika tidak menyadari bahwa ia sebenarnya sengaja menyisakan ruang kosong yang jauh lebih luas di sisi kanannya.
Arjuna ingin agar istrinya bisa tidur dengan posisi senyaman mungkin malam itu. Meskipun gengsi di dalam dirinya setinggi langit, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, iasama sekali tidak rela jika wanita yang telah berjuang merawat anaknya itu harus tidur meringkuk di atas sofa.
"Hanya karena kasihan Arjuna, tidak lebih!" gumamnya mencoba menepis perasaan peduli itu.
udh pindah aj ke dapur itung2 latihan nanti kalo makan di penjara ,, 🤭🤭🤣🤣🤣 ,, biar gx kaget