NovelToon NovelToon
OUR WEDDING CONTRACT

OUR WEDDING CONTRACT

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fio Purple

Alessia Francesca Zorzi,Sang ratu jalanan yang liar dan kerasa kepala tiba-tiba saja harus menikah dengan CEO perusahaan besar yang tegas dan berwibawa,Vellano Federico Luca.

Bahkan sebelum menikah,Vellano mempunyai kekasih cantik yang ia sembunyikan selama 3 tahun.Yaitu seorang bintang musisi yang bernama Ansley Flavia.

Tentu saja pernikahan mereka hanya di atas kertas dan sebatas saling menguntungkan.Namun batasan itu hancur ketika salah satu diantara mereka dengan suka rela menghapus garis pembatas.

Akankah Vellano berhasil menaklukkan Alessia?atau justru malah keliaran Alessia yang membuatnya menyerah?


Yuk,mari kita baca sama-sama dan terus nantikan update episode terbarunya!
Author up lebih dari 1 part/hari!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fio Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PART 34.Kencan Dadakan AXEL dan KAREN

Benar saja. Vellano datang.

Di mobil kedua, Axel turun sambil membawa payung besar.

Karen langsung menyikut Alessia. “Tuh kan. Aku bilang juga apa.”

Vellano berjalan mendekat dengan wajah serius, lalu menatap pakaian Alessia yang masih sedikit basah.

“Kamu bilang sudah masuk pit.”

“Aku memang masuk pit.”

“Bagus. Setidaknya kali ini kamu tidak menantang hujan.”

Alessia tersenyum malu.

Axel yang berdiri di belakang mereka nyeletuk, “Aku kira kami menjemput pembalap, ternyata menjemput anak keras kepala.”

Alessia langsung melotot.

Karen tertawa. “Nah, lengkap sudah.”

Vellano hanya menggeleng sambil tersenyum, kemudian membuka payung untuk Alessia.

Hujan masih mengguyur sirkuit ketika Vellano berdiri di samping Alessia sambil memegang payung. Di belakang mereka, Axel baru saja turun dari mobil kedua.

Alessia melirik Vellano dengan curiga. “Kenapa Axel ikut?”

Vellano memasang wajah polos. “Kebetulan saja.”

Alessia menyipitkan mata. “Kebetulan?”

Vellano mendekat lalu berbisik, “Aku tahu Karen ada di sini.”

Alessia langsung menahan tawa. “Oh…”

Rupanya Vellano memang sengaja membawa Axel. Ia tahu Axel dan Karen sama-sama masih lajang, dan sejak beberapa waktu terakhir ia merasa keduanya cukup cocok.

“Jangan bilang kamu sedang menjodohkan mereka,” bisik Alessia.

Vellano tersenyum puas. “Aku hanya membantu takdir.”

Alessia hampir tertawa keras.

Sementara itu, Axel berjalan menghampiri Karen yang sedang berdiri di dekat pintu. Karena lantai licin akibat air hujan, langkah Axel tiba-tiba tergelincir.

“Woi!”

Tubuhnya hampir jatuh ke depan.

Karen refleks mengulurkan tangan dan berhasil menangkap lengannya.

Axel terdiam.

Karen juga terdiam.

Keduanya saling menatap selama beberapa detik.

Alessia langsung menutup mulut menahan tawa.

Vellano malah berbisik, “Bagus. Kontak fisik pertama.”

“Vellano!” Alessia mencubit lengannya sambil tertawa.

Karen membantu Axel berdiri.

“Kamu tidak apa-apa?”

Axel mengangguk cepat. “Aku… baik-baik saja.”

Alessia akhirnya tidak tahan.

“Wah, romantis sekali. Hampir jatuh demi bisa dipegang Karen.”

“Alessia!” protes Axel.

Karen langsung salah tingkah.

Vellano ikut menambahkan dengan wajah serius, “Tenang, Axel. Kalau memang ingin mendekati Karen, tidak perlu sampai jatuh.”

Semua tertawa, kecuali Axel yang memandang sepupunya dengan kesal.

“Ini semua jebakan, kan?”

Vellano tersenyum puas.

“Bukan jebakan. Ini kesempatan.”

Axel hanya bisa menghela napas, sementara Karen diam-diam tersenyum malu.

Hujan akhirnya mulai mereda. Setelah memastikan Alessia tidak kehujanan lagi, Vellano mengantarnya menuju mobil.

“Sudah? Tidak ada yang terlupakan?” tanya Vellano.

Alessia menggeleng. “Tidak ada, Pak Cerewet.”

Vellano terkekeh lalu membukakan pintu untuknya. “Masuk.”

Di sisi lain, Axel dan Karen berjalan menuju mobil kedua. Karen masih tersenyum mengingat kejadian Axel yang hampir terjatuh tadi.

“Jangan tertawa,” kata Axel malu.

“Aku tidak tertawa.”

“Kamu jelas tertawa.”

Karen menahan senyum. “Sedikit.”

Mereka akhirnya masuk ke mobil masing-masing. Vellano dan Alessia berada di mobil pertama, sementara Axel membawa Karen di mobil kedua.

Sebelum berangkat, Vellano sempat melirik ke arah Axel melalui kaca spion dan tersenyum penuh arti.

Alessia langsung menyadarinya.

“Jangan bilang kamu masih menjalankan rencana menjodohkan mereka.”

Vellano hanya tersenyum.

“Tunggu saja.”

****************

Mobil yang dikendarai Axel perlahan meninggalkan arena balap. Hujan masih menyisakan titik-titik air di kaca depan. Karen duduk di kursi penumpang, sementara Axel berusaha terlihat santai meskipun suasana di dalam mobil terasa canggung.

Beberapa menit berlalu tanpa percakapan.

Akhirnya Axel berdeham.

“Jadi… kamu sering datang ke sirkuit?”

Karen menoleh. “Iya. Kenapa?”

“Tidak apa-apa. Cuma… basa-basi.”

Karen menahan tawa. “Basa-basi?”

Axel mengangguk sok tenang sambil tetap fokus menyetir.

Setelah beberapa detik, ia berkata, “Oh iya, kalau nanti ada apa-apa di sirkuit, kamu bisa menghubungi aku.”

Karen mengangkat alis. “Memangnya aku punya nomor kamu?”

Axel langsung terdiam.

“Oh.”

Ia mengeluarkan ponselnya dengan gaya seolah sedang membuat keputusan bisnis paling penting.

“Kalau begitu, catat nomor WhatsApp-ku.”

Karen tertawa kecil. “Kenapa tidak kamu yang minta nomorku?”

Axel kehilangan kata-kata selama beberapa detik.

“Karena… aku sedang menyetir.”

Karen semakin tertawa.

Axel akhirnya menyerahkan ponselnya.

“Nih. Simpan.”

Karen mengetik nomornya, lalu mengembalikan ponsel.

“Sudah.”

Axel tersenyum kecil.

“Bagus.”

Namun saat melihat kontak baru itu, Karen terkejut.

“Kenapa namamu disimpan sebagai ‘Axel—CEO Masa Depan’?”

Axel langsung panik.

“Itu bukan aku!”

Karen tertawa terbahak-bahak.

Dari kejauhan, tanpa mereka sadari, mobil Vellano masih berada di belakang mereka.

Mobil Axel terus melaju meninggalkan sirkuit. Setelah suasana canggung mulai mencair, obrolan Karen dan Axel pun berlanjut.

“Rumah kamu di daerah mana?” tanya Axel santai.

Karen menyebutkan alamatnya. Axel mengangguk seolah sudah hafal.

Namun beberapa menit kemudian, Karen mulai memperhatikan jalan yang mereka lewati.

“Axel…”

“Hmm?”

“Ini bukan arah rumahku.”

Axel tetap tenang. “Aku tahu.”

Karen langsung menoleh tajam. “Kamu tahu?!”

Axel hampir tertawa melihat ekspresinya. “Tenang. Aku tidak menculikmu.”

“Lalu kenapa kita ke sini?”

Axel menunjuk ke depan. “Makan siang.”

Karen mengerutkan kening.

“Bukankah tadi kamu bilang mau mengantarku pulang?”

“Iya. Tapi sebelum itu kita makan dulu.”

Karen terdiam. “Siapa yang memutuskan?”

Axel tersenyum sok santai. “Aku.”

Karen langsung memutar mata. “Percaya diri sekali.”

Ternyata sejak awal Axel dan Vellano memang sudah berjanji untuk singgah di restoran langganan mereka. Vellano bahkan sudah mengirim pesan bahwa ia akan menunggu di sana.

“Jadi ini rencana Vellano?” tanya Karen.

Axel menghela napas. “Kemungkinan besar.”

Karen tertawa. “Pantas saja.”

Tak lama kemudian, mobil Vellano yang berada di belakang mereka tiba-tiba menyalip.

Vellano sempat menurunkan kaca dan melambaikan tangan dengan senyum penuh kemenangan.

Alessia yang duduk di sampingnya ikut melambaikan tangan.

Karen langsung menunjuk mobil itu. “Mereka berdua merencanakan ini!”

Axel mengangguk pasrah.

“Sepertinya kita korban perjodohan.”

Karen tertawa.

“Kalau makanannya enak, mungkin aku bisa memaafkan.”

Axel tersenyum.

“Deal.”

Dan tanpa mereka sadari, perjalanan singkat menuju restoran itu justru menjadi awal PDKT yang semakin nyata.

......................

Begitu tiba di restoran langganan Vellano dan Axel, keempatnya turun dari mobil. Vellano berjalan berdampingan dengan Alessia, sementara Axel dan Karen berada beberapa langkah di belakang mereka.

Begitu memasuki restoran, seorang pelayan langsung menyambut mereka dan mengarahkan ke ruangan VIP yang ternyata sudah dipesankan Maxime sejak pagi.

“Maxime benar-benar tahu bagaimana memanjakan kita,” ujar Alessia sambil melihat meja panjang yang sudah dipenuhi hidangan.

Di atas meja tersaji berbagai makanan mewah. Ada steak dengan saus khas restoran, pasta yang ditaburi serpihan emas edible, roti panggang dengan caviar, berbagai hidangan pendamping, serta wine. Untuk penutup, tersedia beragam dessert cantik yang hampir membuat Alessia lupa bahwa ia baru saja berniat menjaga pola makan.

“Ini makan siang atau pesta pernikahan?” bisik Alessia.

Vellano tertawa. “Kalau kamu mau, kita bisa anggap ini latihan untuk bulan madu.”

Alessia langsung menyikut lengannya.

Sementara itu, Axel sudah sibuk mengambil steak.

Karen duduk dengan anggun di sampingnya.

“Silakan makan,” kata Axel. “Jangan malu.”

Karen tersenyum kecil. “Aku tidak malu.”

“Bagus. Karena aku juga tidak akan malu.”

Alessia langsung menatap Vellano.

“Lihat? Dia memang cocok dengan Karen.”

Karen hampir tersedak minumannya.

“Alessia!”

Vellano ikut tertawa. “Aku setuju.”

Axel justru santai. Ia menoleh kepada Karen.

“Kalau memang cocok, kenapa tidak dicoba?”

Karen membeku.

Garpu di tangannya bahkan berhenti di udara.

“Axel!”

“Apa?” Axel terlihat benar-benar bingung. “Aku cuma bicara jujur.”

Alessia menutup mulut menahan tawa. Vellano bahkan harus menundukkan wajah agar tidak terlihat terlalu puas.

Karen mulai memerah.

“Aku tidak tahu harus menjawab apa.”

Axel tersenyum. “Tidak perlu jawab sekarang. Kita makan dulu.”

“Lihat?” bisik Alessia kepada Vellano. “Blak-blakan sekali.”

“Justru bagus,” jawab Vellano.

Tak lama kemudian, Axel mencoba mengambil roti panggang bercaviar. Namun tangannya malah menyenggol gelas wine hingga hampir tumpah ke arah Karen.

“Waduh!”

Axel buru-buru menangkap gelas tersebut.

Ruangan mendadak hening.

Karen menatapnya.

Axel menarik napas lega. “Aman.”

Alessia langsung tertawa. “Kamu hampir membuat kencan pertama kalian berakhir dengan bencana.”

“Kencan?” Karen spontan membantah.

Axel malah mengangguk santai.

“Kalau kamu mau menganggapnya kencan, aku tidak keberatan.”

Karen langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Vellano tertawa lepas.

“Axel, kau benar-benar tidak punya rem.”

“Bukankah itu bagus?” jawab Axel.

Alessia menggeleng sambil tersenyum. Di tengah hidangan mewah dan candaan yang tak ada habisnya, suasana siang itu terasa begitu hangat.

Namun ketika Vellano diam-diam memperhatikan Alessia yang tertawa di sampingnya, ia tersenyum lebih lembut.

Besok mereka akan berangkat ke Maladewa.

Dan untuk pertama kalinya, Vellano merasa hidupnya benar-benar tenang—setidaknya untuk hari ini.

......................

Hari berlalu begitu cepat. Setelah kemarin dibuat sibuk dengan rencana konyol menjodohkan Axel dan Karen, kini giliran Vellano dan Alessia meninggalkan semua kesibukan itu. Tujuan mereka: Maladewa.

Pagi itu, jet pribadi milik Vellano sudah menunggu di bandara. Keluarga Tuan Zorzi dan keluarga Tuan Benedict datang mengantar. Suasana langsung berubah heboh.

“Jangan lupa kirim foto!” seru Nyonya Anne.

“Dan jangan buru-buru pulang!” sahut yang lain.

Pembicaraan akhirnya kembali ke topik favorit keluarga: cucu.

Alessia langsung memerah, sementara Vellano hanya bisa menghela napas.

Nicholas bahkan membuat ekspresi pura-pura menangis.

“Kak Alessia pergi meninggalkanku…”

Alessia memeluknya sambil tertawa. “Cuma beberapa hari.”

“Beberapa hari itu lama!”

“Drama sekali kamu,” kata Vellano.

Setelah berpamitan, Alessia dan Vellano akhirnya naik ke jet pribadi.

Begitu duduk, Alessia menarik napas lega.

“Akhirnya tenang.”

Vellano tiba-tiba memasang wajah serius.

“Sayang…”

“Apa?”

“Paspor kamu ada?”

Alessia langsung merogoh tasnya.

“Tentu saja ada.”

Vellano menggeleng pelan.

“Sepertinya…”

Alessia membeku. “Sepertinya apa?”

“Paspor kita ketinggalan.”

Wajah Alessia langsung pucat.

“Apa?!”

Ia buru-buru membuka tas, memeriksa semua kantong.

“Vellano, jangan bercanda!”

Vellano akhirnya tertawa.

“Bercanda.”

Alessia menatapnya tidak percaya, lalu memukul lengannya dengan bantal.

“Kamu gila!”

Vellano tertawa sambil menahan serangan istrinya.

Namun tiba-tiba suara pilot terdengar melalui interkom.

“Pak Vellano, kita memiliki sedikit masalah sebelum keberangkatan.”

Senyum Vellano perlahan menghilang.

Alessia menatapnya.

“Apa lagi sekarang?”

Pilot belum menjawab.

Dan untuk pertama kalinya pagi itu, Vellano tidak tertawa.

...****************...

Kenapa lagi ?ada apa lagi dengan mereka?

1
Verawati Naycyl
penasaran nich thor.....Axel kamu blak blak abis..karen sampai malu tuch🤣🤣
Rho Fioca Purple: Wkwkwk,sabar ya kak Nanti ada part khusus untuk Axel dan Karen.Pantengin terus ya kak😁
total 2 replies
Verawati Naycyl
itu pasti vellano dan Axel...
Verawati Naycyl
lanjut thor
Enz99
Bagus
Rho Fioca Purple: Trimakasih kak🥰
total 1 replies
Rho Fioca Purple
Good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!