"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Langkah kaki Rani bergetar saat menyusuri selasar berbatu. Kerudung instan yang dikenakannya agak kusut, mencerminkan kekacauan batin yang baru saja dialaminya di majelis keputrian. Tatapan-tatapan dingin ustadzah senior dan bisikan sinis para santriwati masih membakar telinganya. Ekspektasi indah tentang kedudukan terhormat sebagai pendamping putra pengasuh pesantren runtuh tanpa sisa.
Tepat saat ia menginjakkan kaki di teras ndalem barat, sosok yang ditunggunya melangkah masuk dari arah gerbang samping. Reyhan berjalan gontai. Baju koko putihnya tampak agak lusuh di bagian lengan, peci hitamnya sedikit miring, dan garis-garis keletihan jiwa terpatri jelas di wajah tampannya. Keberaniannya menghadapi ratusan santri di aula utama tadi pagi telah menguras seluruh sisa energi dan egonya.
Melihat Reyhan, benteng pertahanan diri Rani runtuh seketika. Tanpa memperdulikan batas-batas kesopanan yang biasa ia jaga, Rani berlari kecil. Langkahnya terburu, lalu tubuhnya berhambur menubruk dada Reyhan.
Ia memeluk pinggang pria itu amat erat, menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata tepat di dada bidang Reyhan. Tangisnya pecah—sebuah isak yang tertahan sejak berjam-jam lalu, kini meluap tanpa kendali.
"Mas... sakit sekali, Mas..." bisik Rani di tengah isaknya yang memburu. Suaranya serak, tenggelam dalam lipatan kain baju koko Reyhan.
"Rani dibenci semua orang di sini... Mereka menatap Rani seolah-olah Rani ini kotor, seolah-olah Rani ini penjahat..."
Reyhan membeku di tempatnya. Tubuhnya kaku, kedua tangannya mengambang ragu di udara. Ia tidak membalas pelukan itu seketika, namun ia juga tidak memiliki tenaga untuk menghempaskan wanita yang sedang gemetar hebat di pelukannya.
"Rani tidak pernah minta berada di posisi ini, Mas," lanjut Rani, kalimatnya makin terbata-bata oleh derai air mata yang tak henti mengalir. "Demi Allah, Rani cuma mencintai Mas Reyhan... Karena cinta itu Rani mau menerima semuanya. Tapi sekarang? Bukan cuma santri yang membenci Rani... Mas Reyhan sendiri bahkan sudah tidak mau menatap Rani lagi. Mas membenci Rani, kan?"
Isakan Rani makin kencang, meremas bagian belakang kemeja Reyhan hingga kusut.
"Kalau Mas Reyhan juga membenci Rani, lalu Rani harus bersandar kepada siapa lagi?" tanya Rani lirih, mendongak sedikit dengan mata sembab dan hidung yang memerah.
"Rani ini sebatang kara, Mas. Rani tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain Mas. Kalau akhirnya menjadi istri sah cuma membuat Rani jadi bahan kebencian semua orang dan dibenci oleh suami sendiri... Rani lebih pilih jadi istri siri selamanya. Lebih baik disembunyikan dalam-dalam daripada harus berdiri di sini tapi hati Mas mati buat Rani..."
Kalimat-kalimat itu meluncur polos, sarat akan keputusasaan yang menghantam ulu hati Reyhan. Pria itu menunduk. Pandangannya goyah saat menatap wajah rapuh Rani yang bersimbah air mata.
Rasa bersalah yang teramat sangat berkecamuk di dalam dada Reyhan. Dulu, ia mendekati Rani karena merasa wanita ini membutuhkan perlindungan dan memujanya tanpa syarat—hal yang ia kira tak ia dapatkan dari perjodohan formalnya dengan Naya. Namun, tindakannya yang tidak tegas, keputusannya yang pengecut saat menyembunyikan pernikahan siri, hingga ketidakmampuannya mengendalikan situasi kini telah menghancurkan dua kehidupan sekaligus.
Naya pergi membawa luka yang tak akan pernah bisa ia sembuhkan, sementara Rani terperangkap dalam lingkaran kebencian yang ia ciptakan sendiri.
Tanpa sanggup menahan beban batin yang mengepungnya, kelopak mata Reyhan membasah. Air matanya menetes, jatuh tepat di atas kain kerudung Rani. Penyesalan yang tertahan rapat di dadanya akhirnya meledak juga.
Reyhan perlahan menurunkan kedua tangannya. Jemarinya yang gemetar merengkuh punggung Rani, mengusapnya pelan-pelan dengan gerakan canggung namun penuh emosi yang tertumpah.
"Maafkan saya, Rani... Maafkan saya..." suara Reyhan terputus oleh tangisnya sendiri. Suaranya yang biasa terdengar berat dan tegas saat menyampaikan khotbah kini terdengar begitu rapuh, seperti seorang anak kecil yang kehilangan arah.
Ia menangisi segalanya. Menangisi kebodohannya yang merasa paling benar, menangisi egonya yang telah merusak nama baik pesantren sang ayah, dan menangisi penyesalan terdalam atas kehilangan Naya—permata yang baru ia sadari nilainya saat wanita itu sudah melangkah terlalu jauh dari jangkauannya.
"Tolong... berikan saya kesempatan sekali ini saja," bisik Reyhan seraya menundukkan kepala lebih dalam, menyandarkan keningnya di pundak Rani. "Beri saya waktu untuk menata semua ini. Tolong bantu saya menerima takdir ini dengan baik, Rani... Kita berdua yang memulai kekeliruan ini, maka kita yang harus menanggungnya..."
Di tengah remang sore Mojokerto yang makin dingin, di depan pintu ndalem barat yang menjadi saksi bisu berbagai bisikan dan keputusan salah, dua insan itu berdiri saling memeluk dan menangis bersama. Tak ada kejayaan, tak ada kepuasan atas kemenangan cinta—yang tersisa hanyalah puing-puing penyesalan dan kenyataan pahit yang harus mereka jalani di atas reruntuhan kebahagiaan orang lain.
**
Udara bersih bergulung lembut di antara pilar-pilar putih bergaya modern-timur tengah yang berdiri megah. Di selasar luas yang menghubungkan gedung utama dengan fakultas riset, hiruk-pikuk mahasiswa dari berbagai penjuru dunia riuh oleh percakapan dalam beragam bahasa.
Di tengah lalu lintas manusia itu, Naya melangkah dengan pijakan mantap.
Penampilannya pagi ini menandai batas tegas dari lembar lamanya. Gamis terusan memeluk tubuhnya rapi dengan potong maskulin-elegan berwarna taupe, dipadu blazer pastel bergaris tegas yang memberi kesan profesional tanpa mengikis keanggunannya. Jilbab polosnya tertata rapi, membingkai wajah manis yang tak lagi menyimpan riak ketakutan atau keraguan. Di pundaknya, sebuah tas kulit hitam tergantung manis, berpadu dengan map tebal berisi berkas studi pascasarjana Psikologi Klinis yang ia genggam erat.
Naya menghirup udara dalam-dalam. Oksigen dingin bersensasi aroma lavender yang samar di koridor kampus seolah membasuh jejak debu Mojokerto yang dulu sempat meremukkan napasnya. Kehidupan baru ini bukan sekadar pelarian; ini adalah ruang bagi jiwanya untuk kembali bertumbuh secara utuh.
Setahun hidup dalam kubangan penolakan yang disamarkan dengan dalih spiritualitas oleh Reyhan pernah membuat Naya mempertanyakan harga dirinya. Namun, ilmu psikologi yang dipelajarinya dengan tekun mengajarkannya satu hal fundamental: displacement atau pengalihan rasa bersalah pasangan tak boleh diserap sebagai kelemahan diri. Penolakan Reyhan bukan tentang kekurangannya sebagai wanita, melainkan ketidakmampuan pria itu menghadapi konflik emosional dan ketakutannya sendiri pada komitmen.
Ketika melangkah masuk ke aula besar tempat orientasi program spesialis dan magister digelar, Naya tak lagi membawa beban sebagai wanita yang dikhianati. Ia hadir sebagai dirinya sendiri—Adskhania Nayara Malik, seorang akademisi muda yang siap melangkah sejauh cita-citanya terbang.
Di ruang kuliah berundak yang luas di fakultas psikiatri University of Dubai, suasana begitu hidup. Sinar matahari merobos masuk lewat jendela kaca setinggi langit-langit, menerangi jajaran meja tempat belasan mahasiswa pascasarjana terpilih duduk melingkar.
Profesor Arthur Vance, seorang psikiater senior asal Inggris dengan rambut perak dan pandangan mata yang sangat tajam, baru saja menyelesaikan pemaparan studi kasus mengenai emotional detachment dan pathological narcissism pada pasien yang mengalami sublimasi spiritual abnormal.
"Kasus ini memperlihatkan bagaimana seseorang menggunakan doktrin moral atau agama untuk memvalidasi penolakan emosionalnya terhadap pasangan," jelas Profesor Vance seraya memutar spidol di tangannya. "Ada yang bisa memberikan analisis awal mengenai dinamika pertahanan diri pasien?"
Suasana hening sejenak. Beberapa mahasiswa asing saling pandang, membolak-balik lembaran kasus di tablet mereka.
Naya mengangkat tangannya dengan tenang. Posisinya tegap, tatapan matanya fokus.
"Silakan, Nayara," ujar Profesor Vance, mengangguk memberi ruang.
"Jika dilihat dari kacamata psikoanalisis," ujar Naya, suaranya tenang, bening, dan terpancar artikulasi yang sangat jelas dalam bahasa Inggris yang fasih.
"Sublimasi yang dilakukan pasien sebenarnya bukan bentuk pencapaian spiritual, melainkan ego defense mechanism berupa rationalization. Pria dalam kasus ini mengalihkan ketidakmampuannya membangun intimasi yang sehat dengan menciptakan standar spiritualitas yang tidak realistis. Ini adalah bentuk penolakan atas kerentanan dirinya sendiri."
Naya jeda sejenak, menghela napas halus sebelum melanjutkan dengan ketajaman analisis yang memukau.
"Ketika ia dihadapkan pada hubungan yang menuntut kedewasaan emosional yang seimbang—seperti dengan istri pertamanya—egonya merasa terancam. Maka ia melarikan diri pada figur yang rapuh dan serba penurut, bukan karena cinta, melainkan karena figur tersebut memberi validasi instan atas egonya tanpa pernah menuntut pertanggungjawaban emosional yang setara."
Profesor Vance menghentikan gerak jemarinya. Matanya berbinar menatap Naya, lalu perlahan senyum kepuasan terbit di wajah senior itu.
"Analisis yang sangat tajam dan manusiawi, Nayara," puji Profesor Vance lantang, mengangguk-angguk kagum. "Anda tidak hanya membaca teori, tetapi memahami anatomi jiwa manusia sampai ke akar keperilakuannya. Pendekatan klinis yang sangat matang!"
Tepuk tangan kecil riuh terdengar dari beberapa rekan sekelasnya. Naya tersenyum tipis, mengangguk sopan menerima apresiasi tersebut. Di dalam dadanya, ada kehangatan yang meletup indah. Menguraikan logika di balik perilaku pria seperti Reyhan lewat sudut pandang ilmiah membuat rasa sakit masa lalu itu sepenuhnya terurai menjadi pengetahuan. Ia tak lagi membenci; ia telah melampaui masa lalunya.
***
emang bener ya pelakor itu tdk harus cantik semok yg penting menggatal
jd inget artis penyanyi religi yg itu jd istri siri selama dua tahun baru terungkap, giliran terungkap jawaban klise khilaf pret lah khilaf apa doyan masa khilaf smpe dua tahun😄😄😄
tapi nusuk dari belakang
dengan penghianatan sama dengan nginjek"harga diri Bu nyai dan pa kiai
. kalau sekarang ternyata rasanya🤣🤣🤣🤣