sejak lahir, dia tak sempurna.
ibunya ditinggalkan pergi oleh sang ayah, saat ia masih dalam kandungan.
sang ibu mengandung seorang diri, karena bapaknya pergi mencari nafkah dan biaya persalinan sang ibu.
sampai ia lahir ayahnya tak menghendakinya dan datang membawa madu untuk ibunya.
sejak lahir penduduk desa mengatakannya pembawa petaka, karena ia lahir tak sempurna. kini ia hidup berdua bersama sang ibu.
sementara sang ayah pergi dengan wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atikah@72, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu Memilih Nyawa
Sari berlari.
Lagi.
Dalam 24 jam terakhir, hidup Sari isinya hanya berlari. Berlari dari gubuk bocor saat kontraksi. Berlari 5 km di padang sabana gendong Bintang demam. Berlari mengejar ambulans. Berlari mengejar bus pencuri tanah.
Dan malam ini, jam 22:15, ia berlari lagi dari terminal bus Waingapu kembali ke RSUD, dengan sertifikat tanah asli yang ia peluk erat di dalam daster berdarahnya, dengan lutut berdarah karena jatuh di aspal.
Tukang ojek yang tadi setia menunggu, melihat Sari berlari sambil menangis, langsung menyalakan motor tanpa diminta.
"Naik, Bu! RSUD lagi ya!"
"Ya, Bang! Cepat! Anak dan suami saya kritis!"
Motor itu melaju lebih kencang dari sebelumnya, membelah malam Waingapu yang dingin. Sari memeluk sertifikat tanah itu seperti memeluk nyawa Bintang. Karena memang itulah nyawa mereka.
Sampai di RSUD, Sari langsung lari ke lantai dua, ke koridor di antara dua ruang operasi.
Pemandangan di koridor itu seperti neraka.
Di depan Ruang Operasi 1, perawat berlarian membawa kantong darah. Lampu merah di atas pintu operasi menyala: OPERASI BERLANGSUNG. Di dalam, Johan pendarahan otak ketiga kalinya. Dokter bedah berteriak dari dalam, "Tekanan darah drop! Butuh transfusi lagi! 500 cc!"
Di depan Ruang Operasi 2, Dokter Anya menangis sambil menggendong Bintang yang kejang-kejang kecil. Bintang demam 40 derajat, matanya mendelik ke atas, kaki bengkoknya yang mau dioperasi gips pertama malah kaku karena kejang. Lampu merah di atas pintu operasi 2 juga menyala. Dokter anak berteriak, "Sepsis naik ke otak! Kejang! Harus intubasi dan antibiotik sekarang! Kalau tidak, lumpuh permanen!"
Dua pintu. Dua nyawa. Satu ibu.
Sari jatuh berlutut di tengah koridor, di antara dua pintu itu. Sertifikat tanahnya terjatuh di lantai. Bintang menangis melengking di pelukan Dokter Anya. Dari dalam ruang operasi Johan, terdengar suara alat monitor jantung yang berbunyi pelan, tanda nyawa Johan menipis.
Dokter Anya berlutut di depan Sari, memegang kedua bahu Sari.
"Sari, kamu harus putuskan sekarang! Dokter bedah saraf butuh keputusan! Dokter anak butuh keputusan! Kita hanya punya 1 dokter anestesi malam ini! Tidak bisa bius dua pasien sekaligus! Harus pilih salah satu yang didahulukan! Kalau pilih Johan dulu, Bintang bisa kejang terus dan lumpuh otak! Kalau pilih Bintang dulu, Johan bisa mati kehabisan darah di meja operasi!"
Mama Leni yang duduk di pojok koridor hanya bisa berdoa keras, "Tuhan Yesus, tolong..."
Sari menatap Bintang. Bayi perempuannya. Anak yang ia lahirkan sendirian di tengah badai. Anak yang ia bela saat semua desa bilang kutukan. Anak yang kakinya bengkok tapi matanya mirip dia. Anak yang ia janjikan akan punya rumah.
Lalu Sari menatap pintu Ruang Operasi 1. Johan. Laki-laki yang menghamilinya, mengkhianatinya, mau menjual tanahnya, tapi juga bapak kandung Bintang, satu-satunya orang yang cap jempol darahnya bisa selamatkan kaki Bintang, dan satu-satunya orang yang tadi mengakui kesalahannya di depan polisi demi Sari.
Dua-duanya adalah darahnya.
Sari memejamkan mata. Air matanya habis. Yang keluar hanya darah dari lutut dan dasternya.
Lalu, dengan suara yang sangat tegas, sangat jelas, suara yang tidak pernah keluar dari mulut perempuan Kolorai yang biasa diam saat dipukul suami, Sari berkata:
"Dokter, tolong operasi Bintang dulu."
Semua orang di koridor terdiam.
Dokter Anya kaget. "Sari, tapi Johan... Johan suamimu... dia bisa mati!"
Sari membuka matanya, menatap pintu Ruang Operasi 1 dengan air mata yang akhirnya keluar lagi.
"Johan sudah dewasa. Dia sudah memilih jalannya sendiri. Dia sudah bohong, sudah khianat, sudah mau jual tanah saya. Tapi dia sudah minta maaf. Saya sudah maafkan dia sebagai manusia. Tapi..."
Sari menatap Bintang yang masih kejang di pelukan Dokter Anya, lalu melanjutkan dengan suara yang membuat semua perawat di koridor itu menangis.
"Tapi Bintang belum pernah memilih apa-apa dalam hidupnya. Dia baru lahir semalam. Dia tidak pernah minta kakinya bengkok. Dia tidak pernah minta dihina satu desa. Dia tidak pernah minta bapaknya tidak akui dia. Satu-satunya yang dia punya hanya saya. Kalau saya tidak pilih dia sekarang, siapa lagi yang akan pilih dia?"
Sari menyerahkan sertifikat tanahnya ke Mama Leni.
"Ma, kalau saya mati karena pendarahan, tolong jaga Bintang dan tanah ini."
Lalu Sari menyerahkan Bintang ke dokter anak.
"Tolong, Dok. Selamatkan kaki anak saya. Biar dia bisa jalan. Biar dia bisa lari nanti, tidak seperti ibunya yang harus terus berlari."
Dokter anak langsung membawa Bintang masuk ke Ruang Operasi 2. Pintu tertutup. Lampu merah menyala terang.
Di koridor, tinggal Sari, Mama Leni, dan pintu Ruang Operasi 1 tempat Johan sedang sekarat tanpa anestesi karena dokter anestesi memilih selamatkan Bintang dulu.
Monitor jantung dari Ruang Operasi 1 berbunyi semakin pelan...
*Tut... tut... tut...*
Detak jantung Johan melemah.
Sari berlutut di depan pintu Ruang Operasi 1, menempelkan dahinya ke pintu yang dingin itu, berbisik,
"Johan, bertahan ya... saya sudah pilih Bintang... tapi saya tunggu kamu di sini... jangan tinggalkan kami dulu... kamu belum lihat kaki Bintang sembuh..."
Menit demi menit berlalu seperti tahun.
Lima menit...
Sepuluh menit...
Monitor jantung Johan masih berbunyi pelan, tapi masih ada.
Tiba-tiba, dari dalam Ruang Operasi 2, terdengar tangisan bayi yang sangat kencang. Tangisan Bintang.
Dokter anak keluar dengan wajah lega, melepas maskernya, menggendong Bintang yang sudah digips kaki kirinya dengan gips putih kecil.
"Operasi gips pertama berhasil, Bu Sari! Kejangnya berhenti! Infeksinya turun! Kaki Bintang bisa sembuh total kalau rutin ganti gips 6 kali!"
Sari menangis, memeluk Bintang yang sudah pakai gips putih kecil itu. Kaki bengkok Bintang kini lurus karena gips.
Tapi belum sempat Sari bahagia 10 detik, pintu Ruang Operasi 1 terbuka dengan keras.
Dokter bedah saraf keluar dengan wajah pucat, berlumuran darah, dan berkata dengan suara berat...
"Bu Sari, kami sudah berusaha... tapi..."
Dokter itu berhenti, menatap Sari dan Bintang yang baru selesai operasi.
"Maaf, Bu... Pak Johan..."