NovelToon NovelToon
Ampun, Mayor! Istrimu Minta Cerai!

Ampun, Mayor! Istrimu Minta Cerai!

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Penyesalan Suami / Romansa
Popularitas:64.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Om mau nyeraikan gue? Bagus dong! Mana drafnya? Gue tanda tangani sepuluh kali kalau perlu!"

Mayor Yudhana (32) mengira ancaman perceraian akan membuat Vina (20) berlutut memohon ampun. Namun, benturan keras di aspal telah menghapus seluruh kenangan penderitaan Vina selama menikah. Vina yang baru adalah gadis barbar usia 18 tahun yang sama sekali tak terintimidasi oleh baret hijau maupun pangkat tiga melati.

Saat Vina memperlakukannya seperti bapak kos galak dan sibuk mencari uang sendiri untuk angkat kaki, Mayor Yudhana terpukul oleh gengsinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Sang Mayor menyadari bahwa hal paling berbahaya bukan lagi kehilangan wibawa di Batalyon—melainkan kehilangan wanita yang baru saja mulai menguasai seluruh sudut hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Ampun, Mayor!

Keesokan harinya, pendar sinar matahari siang menerobos hangat dari celah tirai kamar rawat inap VIP nomor 304. Suasana kamar terasa jauh lebih tenang dibanding hari sebelumnya. Vina sudah terlihat lebih segar, duduk bersandar di atas peraduan besi sambil menikmati camilan buah potong yang dibeli Ita.

Ting.

Sendok stainless steel di tangan Vina beradu halus dengan piring porselen. Jemarinya yang lincah menusuk potongan buah pepaya segar, lalu melahapnya dengan santai tanpa peduli pada ketegangan kaku yang mendadak kembali memenuhi ruangan. Bau harum manis buah pepaya beradu samar dengan uap antiseptik yang menggantung di udara.

Ketegangan itu kembali hadir karena keberadaan Mayor Yudhana. Pria berseragam dinas harian itu rupanya sengaja datang kembali siang ini, bertepatan dengan jadwal visit rutin Dokter spesialis saraf. Yudhana yang masih digerogoti gengsi dan rasa tidak percaya, membutuhkan konfirmasi medis resmi untuk membuktikan bahwa prasangkanya tentang 'akting amnesia' Vina selama ini tidak salah.

Di sudut ruangan, Dokter spesialis saraf yang baru saja selesai melakukan pemeriksaan refleks membetulkan letak kacamata minusnya. Lembar-lembar hasil CT-scan otak dan grafik EEG di dalam map rekam medis dikibas-kibaskannya pelan, menimbulkan bunyi seep... seep... kertas tebal yang renyah.

Yudhana berdiri tegak tidak jauh dari ujung ranjang. Rahang tegasnya menegang padat. Sorot matanya yang pekat dan kaku menatap lekat ke arah Dokter, menuntut kepastian.

"Jadi ... Dokter mau bilang kalau istri saya benar-benar lupa?" tanya Yudhana, suaranya berat dan rendah, sarat akan penolakan yang dibungkus wibawa militer. "Tidak ada kemungkinan ini hanya bentuk depresi fungsional atau manipulasi ingatan yang disengaja?"

Dokter menghela napas pendek, menatap Yudhana dengan raut wajah kaget sekaligus heran atas kecurigaan dingin pria itu.

"Mayor Yudhana," tegas Dokter seraya menunjukkan lembar CT-scan berlatar hitam ke pendar cahaya lampu. "Pendarahan di hipokampus dan memar pada lobus temporalis Pasien sangat nyata. Benturan keras di aspal saat kecelakaan itu merusak jaringan penyimpan memori jangka pendek dan menengah. Ini amnesia retrospektif fungsional. Memori dua tahun terakhirnya—termasuk kenangan tentang pernikahan ini—terhapus total dari sistem sarafnya."

Dokter menepuk pelan papan rekam medisnya, memandang Yudhana dengan tatapan penuh keprihatinan. "Mbak Vina tidak sedang bersandiwara, Komandan. Bagi kesadarannya saat ini, dia adalah gadis berusia delapan belas tahun yang baru saja lulus sekolah. Memaksa atau mengintimidasi Pasien untuk mengingat hal-hal yang traumatik justru bisa memicu pendarahan ulang atau gangguan jiwa berat."

Pernyataan rasional medis itu menghantam dada Yudhana seperti godam kaku.

Rasa tidak percaya, heran, dan kebingungan berbaur menjadi pusaran pahit di tenggorokannya. Dua minggu ini ia meyakinkan Tanti—dan meyakinkan dirinya sendiri—bahwa ketidakhadiran Vina, aksinya yang tidak pulang ke rumah dinas, serta kecelakaan di jalan raya itu hanyalah bagian dari skenario picik wanita panti yang ingin menggagalkan rencana perceraian mereka. Namun kini, kenyataan medis menampar keangkuhannya tanpa ampun.

Vina tidak sedang berakting. Wanita itu benar-benar telah melupakan dirinya.

"Udah selesai belum nanya-nanyanya, Om?"

Suara Vina meluncur santai, memotong lamunan kaku sang Mayor. Vina mengunyah potongan pepaya terakhirnya, lalu menatap Yudhana dari atas ranjang dengan raut bosan. Tidak ada binar kesedihan, tidak ada mata sembap penuh permohonan, dan tidak ada lagi jemari gemetar yang biasa meremas kain rok saat menghadap suaminya.

"Om ini aneh banget deh," cetus Vina enteng seraya mengelap sudut bibirnya dengan tisu. "Dokter udah jelasin panjang lebar pakai bahasa asing, masih aja ngeyel nuduh gue akting. Om kira akting amnesia gampang apa? Om kata gue nggak pusing pala gue habis ketabrak mobil?"

Yudhana mengepalkan tangannya di sisi tubuh, menyembunyikan rasa malu yang membakar lehernya di hadapan Dokter dan Ita. "Vina, jaga sopan santun kamu. Dokter ini sedang menjelaskan kondisi kamu!"

"Ya emang Dokter menjelaskan, tapi Om-nya yang kagak paham-paham!" semprot Vina balik tanpa takut. Vina lalu menegakkan posisi duduknya, bersandar santai pada tumpukan bantal empuk.

Dengan mata cokelat beningnya yang menatap lurus ke dalam bola mata Yudhana, Vina bertanya tanpa beban sedikit pun di dada: "Gue cuma mau memastikan satu hal deh, Om. Kita beneran udah nikah setahun? Beneran gue ini istri sah Om?"

Yudhana menahan napasnya sejenak. Dada bidangnya terangkat kaku di balik kemeja dinas. "Iya. Kita menikah resmi satu tahun yang lalu di hadapan hukum dan agama."

"Terus ... kenapa kita nikah?" desak Vina polos. "Kata Ita kemarin, kita nikah gara-gara wasiat almarhum bokap gue sama kakek Om yang namanya Opa Gema itu, kan? Om sendiri sebenarnya kagak demen sama gue, dan gue yang sekarang juga kagak ingat pernah demen sama Om."

Yudhana terpaku. Bibirnya mengatup kaku, tak sanggup menyangkal kebenaran kasar yang diucapkan Vina dengan begitu mudah di depan umum.

Vina mengibaskan tangannya di udara seolah mengusir lalat, lalu kembali sibuk mengunyah buah potong, meninggalkan Yudhana yang berdiri kaku dengan rahang menegang keras.

"Yaudah, kalau emang nikah gara-gara keliru dan terpaksa, kita cerai aja sekarang. Ribet amat!" lanjut Vina enteng luar biasa.

Ia mengambil garpu plastik, menusuk potongan buah melon yang ranum, lalu memasukkannya ke dalam mulut dengan raut gembira, seolah-olah keputusan bercerai yang baru saja ia lontarkan tak lebih rumit dibanding memilih jenis camilan siang.

"Cerai itu solusi paling gampang, kan, Om?" ujar Vina setelah menelan buahnya, menatap Yudhana dengan binar jenaka yang mengejek. "Om bebas kembali jadi bujang kaku yang bisa marung-marung sepuasnya, dan gue bebas pulang ke panti asuhan buat cari kerjaan atau kuliah. Nggak ada yang dirugiin, kan? Om kagak usah repot-repot bawa staf hukum komando atau bikin draf acak-acakan. Om bawa kertas kosong ke sini, gue cap jempol atau tanda tangan detik ini juga. Beres!"

Keheningan yang pekat dan berat seketika menyapu kamar inap nomor 304.

Dokter yang memeriksa berdeham canggung, buru-buru merapikan papan catatan medisnya sebelum pamit keluar bersama suster. Ita, yang berdiri di samping nakas, menahan napasnya rapat-rapat—antara takjub melihat keberanian sahabatnya dan puas menyaksikan raut kebingungan yang menampar wajah sang Mayor.

Yudhana berdiri mematung.

Selama tiga ratus enam puluh lima hari terakhir, dialah yang memegang kendali penuh dalam rumah tangga itu. Dialah yang menentukan kapan harus bicara, kapan harus acuh, dan dialah yang merencanakan kapan Vina akan dibuang melalui gugatan perceraian resmi. Dalam bayangan keangkuhannya, perceraian itu akan menjadi hukuman bagi Vina—sebuah momen di mana wanita panti itu akan berlutut menangis, mengemis diberi kesempatan kedua.

Namun kini, realita berputar balik dengan sangat kejam.

bersambung...

1
Nur Cahaya
semangat Vina 💪
Daneen
Wkwkwkk
Daneen
Duh bahaya kali Vina kalau bersuara
Mulaini
Jangan-jangan opa Gema sudah tahu atau memang belum tahu ya kalau cucunya Yudhana telah mengabaikan Vina sebelum kecelakaan.
Daneen
Alhamdulillah ikut senang thor
Mulaini
Vina katakan aja ke kakek Gema kalau kamu tidak mengenalnya dan kita lihat gimana reaksi Yudhana.
Teh Euis Tea
alhamdulilah akhirnya lolos jg, srmangat mommy
Mulaini
Yudhana jadi nikmati aja hasil dari keegoisan mu.
Esther
Kapok kamu Yudhana, hadapi tuh Opa Gema yang datang disaat yang tepat saat Vina tidak ada dirumah
Mulaini
Yudhana kamu jadi panik kan secara kakek mu datang berkunjung dan Vina gak ada di rumah.
Mulaini
Yudhana pelihara aja tuh gengsi mu.
Mulaini
waalaikumsalam...
Alhamdulillah 🤲
Daneen
Semoga thor
Hesty
cepetan thor bikin mereka pisah aku ga setuju vina sama yuda jijik, buat opa gema tau agar yuda di beri pelajaran👍
Hesty
cepetan thor bikin mereka pisah aku ga setuju vina sama yuda jijik, buat opa gema tau agar yuda di beri pelajaran👍
merry
Vina jjur np si ksh pljrann buat lakimu, dan si Tanti itu biar kapok,, gmn kelakuannya kmu di abaikan minta cerai trss,, trs msk RS siumann br dtgg di kiriin kmu cm akting ,, kuasin kmr gede kmu dpt kmr kcil,,, ceritaiin biar cerai cpt kmu fokus sm hdpmu klo jdoh kembali versi terbaik ajj vin,, tentara ko gk bs hargai istri ya heran jg 🤔🤔🤔🤭🤭
merry
asik dtg jg opa gema,, Vina gk drmh ceritaiin Vina kelakuan laki mu biar di tempeleng tu 😆😆😆😆
Kar Genjreng
kurang setuju' mommy kenapa Vina main sandiwara. biar saja untuk apa menutupi aib orang yang tidak perduli dan menyakiti,,, harusnya biar yudhayana merasakan sakit seperti yang Vina rasakan
Mommy Ghina: nanti bakal ketahuan kok
total 1 replies
Kar Genjreng
🤭🤭wah bisa gaswat nihh,,,Vina bingung yudhayana kecut dan pucat pasi mana Vina bau keringat seharian jualan Es coklat dan mampir pasar tradisional,,,kontras dengan peran istri rasa babu nya mayor jossss semoga lekas terbongkar,,👍
Kar Genjreng
rasano sebabagus bagus nya mengemas bangkai lambat laun pasti akan tercium aromanya busuk' nya,,,mamcussss 🤣🤣 sedang kan cucu menantu nya sedang mengais rezeki ,,, karena tidak sudi hidup nya menggantung kepada Pria ,,kaku dan mengabaikan bagus Kakek datang selamat datang Kek dan selamat sore 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!