Bima Samudra, pemuda tampan dan jenius yang hidup terisolasi di puncak Gunung Lawu bersama seorang guru cantik dan tujuh kakak seperguruan yang luar biasa cantik. Di era modern yang penuh kebisingan, Bima justru ditempa dalam kesunyian, menguasai bela diri kuno dan ilmu pengobatan warisan leluhur. Mereka semua menyayanginya lebih dari nyawa mereka sendiri. Hingga sebuah takdir memanggil ketujuh kakaknya untuk turun gunung kembali ke hiruk-pikuk kota. Dan dari sinilah, rahasia besar tentang jati diri Bima yang sesungguhnya mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: TIGA RATU PENJAGA
Setelah Eyang Jagat Buana menepukkan tangannya dengan pelan, tanah di kedalaman kuil itu bergetar.
"Grrr..."
Dari kegelapan yang paling dalam, perlahan muncul ribuan sosok cahaya. Mereka bukan manusia. Mereka adalah para penghuni setia kuil ini selama ribuan tahun. Binatang-binatang ajaib penjaga warisan.
Saat cahaya itu meredup, ribuan sosok itu berubah wujud menjadi barisan prajurit yang rapi. Dan di barisan paling depan, tiga sosok pemimpin mereka melangkah maju. Mereka berubah menjadi tiga wanita yang kecantikannya bahkan bisa membuat bidadari iri.
Wanita pertama dengan aura keemasan yang hangat dan wangi bunga, wanita kedua dengan aura biru langit yang anggun dan berwibawa, dan wanita ketiga dengan aura merah menyala yang pemberani dan penuh semangat.
Ketiganya lalu berlutut dengan satu kaki di hadapan sisa jiwa Eyang Jagat Buana.
"Saya Sari, pemimpin Klan Lebah Emas dari Lembah Dieng," ucap wanita bergaun kuning keemasan itu dengan suara lembut.
"Saya Anjani Langit, pemimpin Klan Naga Langit dari Gunung Bromo," ucap wanita bergaun biru langit itu dengan suara tegas dan anggun.
"Saya Sekar Lestari, pemimpin Klan Phoenix Sejati dari Kawah Ijen," ucap wanita bergaun merah menyala itu dengan suara lantang penuh semangat.
"Kami memberi hormat kepada Junjungan Tertinggi," ucap mereka bertiga serentak dengan penuh hormat.
Jejak jiwa Eyang Jagat Buana tersenyum haru melihat kesetiaan mereka.
"Pelayan-pelayanku yang setia, seperti yang kalian tahu, aku bertahan di sini ribuan tahun hanya untuk menunggu pewaris sejati," kata Eyang Jagat Buana dengan suara yang mulai melemah. "Hari ini, waktu yang ditunggu itu telah tiba. Pewaris itu telah hadir di hadapan kalian."
Eyang menatap Bima Samudra.
"Maka dari itu, aku meminta kalian untuk menjadi pelayan setia bagi pewaris baruku ini. Ikutlah dengannya. Mulailah perjalanan baru bersamanya. Jadilah sayapnya, jadilah kekuatannya. Dengan begitu, tugasku di dunia ini telah selesai, dan aku bisa beristirahat dengan tenang."
Mendengar perintah terakhir dari junjungan mereka, wajah ketiga wanita cantik itu dan ribuan pasukan di belakang mereka terlihat sedih, mata mereka berkaca-kaca. Namun kesetiaan mereka jauh lebih besar dari kesedihan.
"Perintah Junjungan adalah segalanya bagi kami," jawab Sari dengan suara bergetar.
Tanpa ragu, ketiga pemimpin itu langsung membuat sebuah Ikatan Darah Kesetiaan. Mereka meneteskan setetes darah emas mereka ke udara, dan Bima membalasnya dengan setetes darahnya. Tiga cahaya menyatu di udara, membentuk sebuah simbol kuno yang mengikat jiwa mereka sebagai pelayan abadi Bima. Ini dilakukan agar tidak akan pernah ada pengkhianatan di antara mereka.
Setelah ikatan selesai, Eyang Jagat Buana berkata lagi pada Bima.
"Mulai sekarang, kamu bisa menempatkan mereka semua untuk tinggal di dalam Alam Jiwa milikmu. Mereka bisa menjadi pasukan yang sangat berguna, menjadi keluarga barumu suatu saat nanti."
Bima mengangguk dan segera membuka Alam Jiwanya. Celah cahaya di antara kedua alisnya terbuka lebar, membentuk sebuah gerbang besar. Ribuan pasukan cahaya itu pun masuk satu per satu dengan sangat tertib ke dalam Alam Jiwa milik Bima, yang kini sudah memiliki Joglo megah dan air terjun pribadi. Pemandangan yang sangat luar biasa.
Setelah semua pasukannya masuk, Bima bertanya dengan penuh rasa hormat, "Eyang, siapa nama lengkap Eyang...?"
"Nama lengkapku adalah Raden Jagat Buana Suryaningrat. Tapi cukup panggil aku Eyang Jagat saja," jawab jejak jiwa itu sambil tertawa kecil. "Sekarang aku akan pergi ke peristirahatan terakhirku. Kamu boleh membawa kuil ini bersamamu, Nak."
Bima sontak kaget. "Maaf, Eyang Jagat, bagaimana saya membawa kuil sebesar Candi Borobudur ini...?"
Mendengar itu, Eyang Jagat tertawa renyah.
"Ha ha ha, pengetahuanmu masih sangat kurang, tapi tidak apa-apa. Setelah kamu mempelajari semua ingatanku yang ada di lautan jiwamu, kamu akan tahu segalanya. Untuk membawa kuil ini, kamu bisa memasukkannya ke dalam Alam Jiwa milikmu dan menyusun tata letaknya sesuai keinginanmu."
Eyang Jagat lalu melanjutkan dengan nada yang lebih serius.
"Satu lagi, Bima. Setelah kamu menyimpan kuil ini, di bawah kuil ini ada senjata pamungkasku. Senjata itu sangat kuat, efek pukulannya bisa membelah gunung. Jika kamu tidak bisa mengontrolnya, senjata itu bisa menghancurkan dunia. Jika kamu mau, kamu bisa membawanya. Namun jika tidak, biarkan senjata itu tetap di sana. Sebab terlalu bahaya jika penggunanya tak mampu mengontrolnya."
"Apakah begitu dahsyat senjata itu, Eyang...?" tanya Bima dengan penasaran.
"Pedang itu aku tempa dari batu meteor yang jatuh di Tanah Bima, Nusa Tenggara Barat. Ditempa dengan kekuatan tertinggi hingga memiliki rohnya sendiri. Jika roh pedang itu mengakui mu sebagai tuannya, maka senjata itu tidak akan berbahaya, karena kau bisa mengontrol kekuatannya."
"Baik, Eyang, saya mengerti," jawab Bima dengan mantap.
"Sekarang, lanjutkanlah perjalananmu. Waktuku sudah habis," kata Eyang Jagat di detik-detik terakhirnya.
Akhirnya, setelah mengucapkan salam perpisahan yang penuh haru, jiwa Eyang Jagat Buana pun musnah sepenuhnya, berubah menjadi ribuan kunang-kunang cahaya yang naik ke langit-langit kuil.
Bima menundukkan kepalanya dalam-dalam sebagai tanda hormat terakhir.
Ia melangkah keluar dari kuil dan membuka Alam Jiwanya sekali lagi. Perlahan di antara kedua alisnya terbuka dan membentuk sebuah gerbang raksasa yang berputar. Secara perlahan gerbang itu menarik seluruh kuil kuno itu ke dalamnya, hingga tanah di sekitarnya pun berguncang hebat seperti gempa di seluruh lereng Gunung Lawu. Sampai akhirnya kuil itu sepenuhnya masuk ke dalam Alam Jiwa milik Bima.
Setelah selesai, Bima pun ikut masuk ke dalam Alam Jiwanya. Di sana, ia melihat para pelayannya sudah berbaris rapi memberi hormat.
"Kuil ini sekarang bisa kalian pakai untuk menjadi tempat tinggal kalian. Tinggallah dengan nyaman dan teruslah berlatih dengan giat...!" kata Bima dengan wibawa seorang pemimpin.
Serentak mereka menjawab dengan suara yang menggema di seluruh Alam Jiwa, "Bawahan patuh, Tuan Muda...!"
"Baiklah, tiga pemimpin klan tetap di sini, yang lain boleh kembali ke kuil dan beristirahat," kata Bima memberikan perintah.
Setelah mereka semua pergi, Bima menghampiri ketiga pelayannya yang paling cantik itu.
"Tuan, apakah ada tugas untuk kami...?" tanya Sari dengan patuh, wajahnya sedikit menunduk malu.
Mereka bertiga memang sangat cantik, terlihat seperti gadis dewasa berusia dua puluhan, dengan pesona yang berbeda-beda. Sari yang manis dan hangat, Anjani yang anggun dan dingin, dan Sekar yang pemberani dan menggoda. Senyum mereka begitu memikat hingga membuat Bima yang biasanya tenang jadi sedikit salah tingkah.
"Tolong ceritakan apa yang kalian tahu tentang tempat di luar Alam Jiwa milikku ini," tanya Bima sambil mencoba bersikap profesional.
"Tuan Muda, ini adalah Dunia Rahasia Gunung Lawu, merupakan tempat rahasia yang diciptakan oleh Eyang Jagat sebelumnya. Di luar dunia rahasia ini adalah Benua Tengah dari Alam Fana," jelas Anjani.
Anjani melanjutkan, "Di Alam Fana ini ada lima wilayah besar di Nusantara. Yaitu Wilayah Barat di Sumatera, Wilayah Utara di Kalimantan, Wilayah Timur di Papua dan Maluku, Wilayah Selatan di Nusa Tenggara dan Bali, dan Wilayah Tengah di Jawa. Setelah Alam Fana, di atasnya ada Alam Dewa."
"Tapi meski disebut Alam Dewa, di sana tetaplah banyak terdapat kejahatan dan keserakahan, iri dengki di mana-mana. Bahkan Tuan kami sebelumnya menjadi korban dari keserakahan para penguasa di sana," tambah Sekar Lestari dengan nada marah.
Tanpa terasa, air mata mengalir di wajah ketiga wanita itu saat mengingat pengkhianatan yang dialami tuan lama mereka.
Bima yang mendengarnya juga ikut mengepalkan tangannya dengan sangat marah. "Namanya Alam Dewa tapi yang dipakai hukum rimba. Sungguh konyol...!"
"Tuan, jika kelak kita menghadapi orang-orang yang jahat dan serakah itu, kami harap Tuan bisa membawa kami bertempur bersama Tuan," kata Sari dengan berani, matanya menyala penuh dendam kesumat.
"Iya, tapi bukan untuk mati, melainkan sampai kita menang," kata Bima sambil tersenyum ramah dan menatap mereka satu per satu. "Sekarang saatnya melawan. Kebenaran harus ditegakkan. Mulai sekarang, kalian bersamaku akan menumpas setiap keangkaramurkaan."
Bima lalu menggaruk kepalanya dengan gaya khasnya yang usil.
"Tapi sekarang, aku harus berkultivasi dulu untuk memahami semua ingatan yang telah diwariskan Eyang. Kalian istirahatlah di Joglo dulu. Jika kalian terus di sini menatapku seperti itu, aku tidak bisa fokus karena pesona kalian terlalu menyilaukan."
Mendengar pujian nakal dari tuan barunya, wajah ketiga wanita cantik yang sudah hidup ribuan tahun tapi masih polos dalam urusan percintaan itu langsung memerah seperti kepiting rebus.
"Kami ini milik Tuan sepenuhnya. Jika Tuan menginginkan bantuan apa pun, kami akan patuh," jawab Sari dengan suara pelan dan wajah tertunduk malu.
Meski mereka sudah hidup sangat lama sebagai pemimpin klan, mereka belum pernah merasakan jatuh cinta pada manusia.
Bima yang dasarnya usil pun menggoda mereka, "Oh ya...? Kalian serius...?"
"Serius, Tuan," jawab mereka bertiga hampir bersamaan.
Bima tertawa terbahak-bahak melihat kepolosan mereka. "Ha ha ha, sudah, sudah. Aku hanya bercanda. Aku ini tuan yang baik, tidak akan memanfaatkan kepolosan kalian. Sekarang sana, pergi ke Joglo, ganti baju kalian dengan kebaya yang ada di lemari Alam Jiwaku. Aku mau lihat apakah kebaya modern cocok dipakai oleh tiga ratu sepertimu. Anggap saja ini tugas pertamamu."
Mendengar itu, ketiganya langsung semangat dan berlari kecil menuju Joglo dengan pipi yang masih merah, meninggalkan Bima yang geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
Di dalam hatinya, Bima bergumam, "Wah, bisa gawat ini kalau ketujuh kakak seperguruanku di bawah sana tahu aku sekarang punya tiga pelayan cantik begini di dalam Alam Jiwaku. Bisa-bisa Perang Dunia Ketiga terjadi di Gunung Lawu."
BERSAMBUNG
kelamaan, berapa bab yg ada cuma rencana mulu. banyakan drama gak jadi² ke padepokan.🤦
sekarang setelah sembuh berubah jadi kakaknya..
priwe mbok thor?
terus setatusnya "adik" atau "kakaknya" intan?