NovelToon NovelToon
Dari Skripsi Jadi Ibu Tiri

Dari Skripsi Jadi Ibu Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Orang Disabilitas / Dosen
Popularitas:52.6k
Nilai: 5
Nama Author: dtyas

Terancam Drop Out karena masa studi yang di ujung tanduk, Ruby menyusul Bara --dosen pembimbingnya hingga ke pelosok desa tempat pria itu melakukan penelitian. Misinya hanya satu, acc skripsi demi menyelamatkan masa depannya.

Sebuah kesalahpahaman konyol membuat mereka dituduh melanggar adat setempat. Tanpa opsi untuk bernegosiasi, Ruby dan Bara dipaksa menikah. Dalam semalam, status Ruby berbalik 180 derajat: dari mahasiswa abadi, menjadi istri sah sang dosen.

Kejutannya tak berhenti di situ. Bara bukan sekadar dosen senior dan dingin, dia adalah duda beranak dua dan salah satu anak Bara penyandang disabilitas.

"Satu dosen dingin, plus bonus dua krucil. Mirip promo beli satu dapat tiga.”

Ruby mendongak, menatap Bara yang menatapnya. "Jadi, ibu tiri! Siapa takut? Lagipula, menghadapi bab empat Pak Bara aja saya bertahan, apalagi cuma ngadepin mereka berdua!"

“Mas, panggil saya mas Bara.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jin Dasim

Bab 21

Pintu kamar Adly dibuka Nilam. “Tante boleh masuk?”

“Masuklah.”

Nilam memasuki kamar, Adly bersandar pada head board fokus dengan gadget. Sepulang sekolah ia harus meluruskan kakinya. Kaki kirinya lebih mudah pegal karena melangkah dengan tertatih dan kaki kanan menyangga beban tubuh karena jalannya terpincang. Menatap sekeliling kamar, entah apa yang dicari Nilam. Mendapati pigura kecil di meja belajar, ada foto Naomi.

Ikut duduk di ranjang, Nilam tersenyum pada keponakannya itu.

"Kamu kok main gadget sih, nanti bodoh loh,” ujar Nilam.

“Seharian aku tidak buka gadget, papi bolehkan sampai sore dan malam fokus belajar lagi.”

"Dulu papi kamu disiplin, sekarang jadi lemah begini. Pasti terhasut istrinya itu. Tante pikir, diumur kamu yang sekarang, kamu sudah bisa membedakan mana orang yang tulus dan mana yang cuma memanfaatkan keadaan."

"Maksud tante?"

Nilam mendekat, mengusap kepala Adly dengan posisi tubuh condong ke depan. "Soal Ruby. Tante makin prihatin melihat kamu terlalu dekat sama dia. Kamu tuh masih kecil, Adly. Belum paham kalau orang seperti Ruby itu punya niat lain. Dia cuma kasihan melihat kamu. Atau lebih buruk lagi… dia cuma memanfaatkan mu supaya kelihatan seperti orang baik di mata keluarga kita."

Adly masih terdiam, raut wajahnya tidak menunjukan emosi apapun.

"Coba kamu pikir pakai logika," lanjut Nilam, masih menatap wajah keponakannya. "Bunda Ruby itu orang luar, orang baru dan masih muda. Mana ada perempuan seusia dia mau menikah dengan pria yang usianya jauh lebih tua dan sudah punya anak. Apalagi kondisi kamu yang… yah, kamu sadar kan kondisi kamu sendiri? Kaki kamu nggak seperti anak-anak lain. Kamu nggak bisa lari, jalan aja susah. Jadi buat apa dia mendekat kalau bukan karena ada maksud lain.”

Adly menarik napas, lalu menoleh dan menatap mata Nilam. "Maksud lain itu apa?" tanya Adly, suaranya datar dan tenang.

“Hanya pura-pura saja, ingin dekat dengan kamu mengambil hati kamu. Dia punya ide licik, pasti itu. Kalian harusnya hati-hati, jangan mudah terhasut. Tante yang lebih mengenal dan paham dengan kalian.”

Kali ini Adly mengangguk. “Oke, aku paham.”

“Kamu paham?"

“Iya, aku paham. Kita jangan mudah terhasut dengan siapapun yang berniat buruk. Termasuk tante Nilam. Begitu ‘kan?”

Nilam sedikit terkejut dengan respons dingin itu, tetapi berusaha mempertahankan senyumnya. "Tante cuma mengingatkan demi kebaikan kamu, Adly."

Adly berusaha turun dari ranjang, lalu berdiri tegak meski tubuhnya sedikit miring karena menahan bobot pada kaki kanannya. Ia menatap Nilam lurus-lurus.

"Bunda Ruby tidak peduli soal kaki aku. Dari awal bertemu, dia tidak bahas apalagi melihat aneh pada kakiku." kata Adly tegas. "Dia juga menghasut, katanya saat dewasa nanti akan ada banyak gadis yang mengejarku" Kali ini Adly tersenyum sinis. “Di saat aku minder dan tidak percaya diri, dia malah memujiku seolah aku paling sempurna.”

"Sebaiknya tante keluar. Aku mau belajar, nanti malam kami mau bertemu orangtua Bunda. Bareng opa dan oma juga.”

Nilam masih duduk terpaku, bibirnya rapat menahan kekesalan melihat upayanya sama sekali tidak menggoyahkan Adly.

***

Pintu kamar dibuka oleh Ruby, ada Jelita berdiri di sana.

“Bunda, malam ini kita makan di luar. Bertemu orangtua Bunda?” tanya Jelita dengan riang.

Ruby menoleh pada Bara. Yang dia tahu memang malam ini ada pertemuan keluarganya juga keluarga Bara, tapi tidak tahu kalau anak-anak juga ikut.

“Iya,” jawab Bara lalu beranjak menuju toilet.

“Iya, nanti kenalan dengan Mama dan papa aku ya.”

“Wah, oma dan opa aku jadi banyak dong.”

“Iya, jadi keluarga besar. Kalau kumpul ramai, jadi nggak kesepian. Sekarang kamu istirahat, habis maghrib kita bersiap. Dandan paling cantik dan cetar membahana.” Ruby merangkul Jelita, mengarahkan untuk turun ke lantai bawah. Menghindar dari Bara, ia belum siap memberikan hak Bara meski ada saatnya itu akan terjadi.

Mengantar Jelita ke kamarnya, berpapasan dengan Nilam keluar dari kamar Adly.

“Loh, masih di sini? Kirain udah pulang,” ujar Ruby. “Masuk ke kamarmu ya.”

“Jelita, ingat yang tadi tante bilang.”

“Pasti ingat kok,” sahut Ruby. “Jelita anak cerdas, dia mudah mengingat dan bisa membedakan mana hal baik dan buruk.”

“Aku masuk Bun, tante,” ucap Jelita.

Senyum Ruby langsung lenyap saat pintu kamar Jelita sudah tertutup lalu beradu tatap dengan Nilam.

“Tujuan kamu ke sini kangen anak-anak apa kangen papinya anak-anak.”

Nilam terkekeh, melangkah dengan percaya diri bahkan sambil mengibaskan rambut. Keduanya menjauh dari kamar anak-anak.

“Kayaknya bukan aku doang yang kangen mas Bara, pasti dia pun begitu. Wajah aku mirip dengan Mbak Naomi. Jadi kalau lihat aku seperti melihat sosok mendiang istrinya. Jadi, kamu nggak usah cemburu kalau kami dekat.”

Ruby terkekeh. “Ya ampun, mirip sama orang yang udah meninggal kok bangga. Kalau pun mas Bara lihat kamu seolah melihat mendiang istrinya, artinya kamu hanya bayang-bayang.”

“Hei, kamu dengar ya!” Nilam menunjuk wajah Ruby dan tangan itu geser Ruby agar menjauh dari wajahnya.

“Kamu yang dengar! Dulu mas Bara masih menduda, mungkin kamu bisa bebas keluar masuk rumah ini kayak ing-us. Kami sudah menikah, hargai aku sebagai istri mas Bara.”

Nilam terkekeh. “Percaya diri sekali, kita lihat saja Bara lebih merespon siapa diantara kita.”

“Astaga, jin dasim nantangin gue.”

Kebetulan Bara baru saja turun. “Ada apa ini?”

Nilam terkejut, berharap Bara tidak mendengar perdebatan tadi.

“Sayang,” panggil Ruby lalu menghampiri. “Udah mandinya?” mendapati rambut Bara basah, padahal bisa saja dia kecebur di bak. Memeluk lengan Bara dengan erat. “Ke kamar yuk. Besok kamu keluar kota, aku pasti kangen. Mumpung masih ada waktu.”

“Mau apa?"

“Ya ampun pake nanya. Mau lanjut yang tadi nggak?” Ruby tersenyum sambil mengedipkan matanya genit.

“Oke!”

Ruby menoleh ke arah Nilam dan menjulurkan lidahnya, jelas kalau dialah pemenangnya.

1
mery harwati
Bara Bara belagak gak mau nemenin, taunya nyusulin gegara kuatir digondol wewe ya istrinya 😛
Iccha Risa
mas Bara planning buat honeymoon coba🤭 biar ga diganggu bocah 🤣🤣
Iccha Risa
yeeaaa sayangg eoyy, hadiah yaa ntar kalo ada moment romantis tercipta pasti lebih lebih dech🤭
mmh nengmuti
katanya gak cemburu tp ngikutin🤣🤣
Iccha Risa: gengsi diaaa, eh cemburu jugaa dech🤭
total 1 replies
Iccha Risa
hahahaha..
bunda Ruby lelah hati papiiii yg sabar yahhh 🤭🤣🤣🤣
Lia Kiftia Usman
selalu nagih baca karyamu mb.tyas
Lia Kiftia Usman
nyusul pak dosen 😊😊🤭
Ayusha
nah kan, lain di mulut lain di hati.
katanya ga cemburu ternyata... 😄
Ayusha
"sukurriin 2X" 🤣🤣🤣
Ayusha
boleh bilang "sukurriin" ga sih 🤭
Shee_👚
nah kan bilang nya gak gak, taunya nyusul🤣🤣
bilang aja takut di gaet cowo lain🤭
Shee_👚
bilang gak, dalam hati kesel pake acara di tanya. gak di tanya juga pasti langsung ngintil 🤣
Shee_👚
gagal maning gagal maning, emang kak dtyas sirik banget ma bara kagak boleh iya iya dulu🤭
Shee_👚
mana mungkin salah gitu kan maksudnya, dia sendiri yang meluk dia sendiri yang bilang mana mungkin, duh gengsinya ke tinggian.

by semalam ada yang bilang sayang sama kamu loh🤣
Iccha Risa: heuhh emangnya..
berasa puber nih, lagi jatuh cinta 🤭
total 3 replies
Shee_👚
harusnya terbaik bara, kamu kasih hadia buat ruby dah jagain anak² dengan baik. ini malah kamu yang minta hadiah🤭
Shee_👚
makanya jangan menilai dari luar aja bara, kan kamu belum kenal ruby seperti apa.
Shee_👚
ngakak sama bara, dah menghayal yang indah malah di sambut sama puser🤭
Shee_👚
mikirnya kejauhan bar, tar kalau gak tercapai jatoh kan sakit. contohnya kaya sekarang dah menghayal tinggi eh orang nya molor🤣🤣🤣
Shee_👚
betul, orang juga paham kamu belum sehat betul
novel destiny
bilang nya ajah ga mau liatin orang di foto . eh taunya nyamperin juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!