Amora terjebak dalam lilitan utang dan tak punya banyak pilihan ketika Damian, seorang dokter bedah tampan, kaya, dan dingin, menawarkan pernikahan kontrak dengan bayaran yang mampu menyelesaikan semua masalahnya.
Syaratnya sederhana: menikah, tinggal serumah, dan jangan pernah jatuh cinta.
Bagi Damian, Amora hanya istri sementara. Bagi Amora, Damian hanyalah jalan keluar dari kesulitan hidupnya.
Namun tinggal bersama perlahan membuat hubungan mereka berubah. Terlebih ketika masa lalu Damian, penolakan sang ibu, dan perasaan yang semakin sulit disembunyikan mulai menguji kesepakatan mereka.
Bagaimana jika pernikahan yang awalnya hanya sebuah kontrak justru berubah menjadi cinta yang nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB-8 Tawaran
Pagi itu, seperti biasa, Amora bangun lebih awal meskipun malamnya ia nyaris tidak bisa tidur. Insiden semalam masih membekas di kepalanya, namun ia tidak ingin terlihat lemah di depan Azka. Dengan semangat yang dipaksakan, ia segera bersiap dan menyiapkan sarapan sederhana untuk mereka berdua. Setelah memastikan Azka berangkat ke sekolah dengan selamat, Amora melangkahkan kaki ke kafe tempatnya bekerja.
Sesampainya di kafe, ia menarik napas dalam-dalam dan memasang senyum cerah. Tidak peduli seberapa berat beban yang ia pikul, pelanggan kafe tidak boleh melihatnya murung. "Selamat pagi, dunia!" serunya dengan penuh energi, menarik perhatian beberapa rekan kerja dan pelanggan yang baru datang.
Anggi, yang sudah mengenal Amora luar dalam, hanya bisa meliriknya dengan tatapan penuh selidik. "Lo kenapa? Kok kayaknya senyum lo lebih maksa dari biasanya?" tanyanya saat mereka sedang mempersiapkan pesanan pelanggan.
Amora tertawa kecil. "Anggi, gue ini bakat alami dalam bersikap ceria. Lo aja yang terlalu sensitif."
"Hmm, gue nggak yakin. Lo nggak mungkin tiba-tiba jadi malaikat yang ceria kalau nggak ada apa-apa. Jujur aja, Mor. Apa yang terjadi?" Anggi bersedekap, menatap Amora dengan tajam.
Amora mengangkat bahunya, masih berusaha menghindar. "Nggak ada apa-apa kok. Gue cuma... ya udah biasa aja. Mungkin butuh kopi lebih banyak aja pagi ini."
Namun, Anggi bukan orang yang mudah dibohongi. "Mor, kalau lo nggak mau cerita sekarang, nggak apa-apa. Tapi ingat, lo nggak sendiri. Kalau ada apa-apa, ngomong aja. Gue siap dengerin."
Amora terdiam sejenak. Ada kehangatan dalam kata-kata Anggi yang membuat dadanya terasa lebih ringan. Namun, ia tetap memilih menyimpan semuanya sendiri untuk saat ini. "Gue tahu, Nggi. Makasih, ya."
Hari itu berlalu seperti biasa. Amora sibuk melayani pelanggan, tertawa dengan rekan kerja, dan berusaha menjalani harinya seolah-olah semuanya baik-baik saja. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu badai belum benar-benar reda.
*******
Sementara itu, Azka keluar dari gerbang sekolah dengan langkah tertatih. Meski ia memiliki keterbatasan, tekadnya untuk membantu kakaknya begitu besar. Ia tahu betapa keras Amora bekerja demi dirinya, dan sekarang, saat kondisi mereka semakin sulit, ia ingin sedikit meringankan beban sang kakak.
Dengan seikat tisu di tangannya, Azka berjalan menuju perempatan jalan yang cukup ramai. Ia menunggu lampu merah menyala, lalu dengan senyum lebar dan tatapan penuh harap, ia mulai menawarkan tisunya pada para pengendara.
"Permisi, Om, Tante. Silahkan beli tisunya," katanya dengan suara yang sedikit terbata.
Beberapa pengendara menatapnya dengan iba, tapi tak banyak yang mau membeli. Azka tidak menyerah. Meski badannya lelah, ia tetap berusaha menjajakan dagangannya dengan penuh semangat.
Hingga akhirnya, sebuah mobil mewah berhenti di dekatnya. Kaca jendela perlahan turun, menampakkan sosok pria tampan dengan sorot mata tajam dan ekspresi dingin. Damian. Namun, Azka tidak tahu siapa pria itu.
"Berapa harga tisunya?" tanya Damian tanpa banyak basa-basi.
Azka buru-buru menyodorkan seikat tisu. "Lima ribu per bungkus, Om."
Damian menatap tisu di tangan bocah itu sejenak sebelum mengeluarkan dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang seratus ribu. Tanpa menghitung ulang, ia menyerahkannya pada Azka. "Saya beli semuanya. Tidak usah dikembalikan."
Azka terbelalak. Ia belum pernah menerima uang sebanyak itu hanya dalam sekali jualan. Tangannya gemetar saat menerimanya, dan mata bulatnya berbinar penuh rasa syukur. "Om baik banget! Terima kasih banyak! Semoga Om sehat selalu dan rezekinya lancar!"
Damian hanya mengangguk kecil sebelum menaikkan kaca jendelanya kembali. Mobilnya lalu melaju saat lampu hijau menyala, meninggalkan Azka yang masih terpana.
Dengan hati penuh semangat, Azka meremas uangnya erat-erat. Dalam hatinya, ia berjanji akan memberikan uang itu pada Amora, berharap bisa membantu sedikit pengobatan dan terapi dirinya.
Namun, kebahagiaannya tidak bertahan lama. Saat ia berjalan pulang dengan hati riang, tiba-tiba tiga orang lelaki bertubuh kekar menghadangnya di gang sempit.
"Hei, bocah! Lo jualan di daerah kami tanpa izin, ya? Mana setoran buat kami?" Salah satu dari mereka, seorang pria bertato dengan rambut cepak, menatapnya dengan garang.
Azka mundur selangkah, merasa ketakutan. "Aku... aku cuma jualan tisu, Bang. Aku nggak tahu kalau harus izin."
Salah satu dari mereka tertawa sinis. "Ya kalau nggak tahu, sekarang tahu. Mana duitnya? Jangan pura-pura bego!"
Azka menggeleng cepat, mencoba melindungi uang yang baru ia dapatkan. "Tolong, Bang. Ini buat kakak aku. Kakak aku kerja keras buat aku, aku cuma mau bantu dia."
Namun, para preman itu tidak peduli. Salah satu dari mereka langsung merampas uang di tangan Azka dengan kasar.
"Hei! Jangan ambil! Itu buat kakak aku!" Azka berusaha merebut kembali, tapi tubuhnya yang lemah tidak mampu melawan mereka.
Brak!
Azka terdorong ke belakang dan jatuh ke tanah. Lutut dan sikunya tergores aspal, darah merembes keluar, tapi ia lebih peduli pada uangnya yang sudah berpindah tangan.
"Jangan diambil, Bang..." Suaranya mulai parau, matanya berair.
Para preman hanya tertawa sebelum pergi meninggalkannya tergeletak di gang yang sepi. Dengan tubuh gemetar, Azka berusaha bangkit, menahan tangisnya yang hampir pecah.
Ia tahu kakaknya akan marah dan sedih jika tahu ia diperlakukan seperti ini. Namun, lebih dari itu, ia kecewa pada dirinya sendiri. Ia hanya ingin membantu, tapi malah menambah masalah.
Dengan langkah terseok-seok, Azka berjalan pulang. Hari yang awalnya penuh harapan, berubah menjadi mimpi buruk yang menyakitkan.
******
Amora melepas apron dan meregangkan tubuhnya begitu shift paginya selesai. Kafe mulai sepi menjelang sore, hanya tersisa beberapa pelanggan yang masih menikmati kopi mereka. Anggi juga baru saja selesai merapikan meja kasir. Ia menatap Amora yang terlihat lelah namun tetap memasang senyum cerianya.
"Mau langsung pulang?" tanya Anggi sambil menyandarkan diri di meja kasir.
Amora menggeleng. "Duduk bentar lah. Kaki gue kayaknya nyaris copot hari ini."
Anggi tertawa kecil dan duduk di kursi sebelahnya. "Ya udah, sambil ngobrol. Lo kenapa, Mor? Gue liat dari tadi senyum lo tuh... kayak senyum yang maksa gitu."
Amora terdiam sejenak, lalu mengambil napas dalam-dalam. "Gue ada cerita, tapi janji dulu nggak bakal ketawa atau teriak."
"Kenapa gue harus teriak?" Anggi menyipitkan matanya curiga.
Amora menatap sekeliling, memastikan tidak ada orang yang terlalu dekat. Lalu, ia berbisik, "Dokter dingin itu, Damian... Dia nawarin gue buat jadi calon istrinya. Palsu, sih. Bukan beneran. Cuma buat nipu mamanya doang."
Anggi yang baru saja menyesap kopinya langsung tersedak. Ia batuk-batuk heboh sementara Amora buru-buru mengambil tisu dan menyerahkannya.
"APA?!" Anggi akhirnya berseru kaget setelah batuknya reda. "Dokter super galak, jutek, dan dingin itu? Damian? Are you kidding me?"
"Ssshh! Pelan dikit napa!" Amora mencubit lengan Anggi.
"Eh gila lo! Kok bisa? Kok lo yang ditawarin?" Anggi masih shock. "Jangan-jangan lo ada hubungan di kehidupan masa lalu sama dia?"
Amora mendengus. "Mana gue tahu! Yang jelas, katanya dia diancem sama nyokapnya buat dijodohin. Nah, dia ogah, makanya dia nyari akal biar nggak dijodohin. Terus, entah kenapa gue yang kepilih jadi korban."
Anggi menggeleng tidak percaya. "Jadi lo bakal terima?"
Amora terdiam, menatap meja di depannya. "Gue belum jawab. Gue minta waktu mikir."
"Dan lo mau mikirin serius?" Anggi menatapnya intens. "Amora, ini gila! Lo yakin mau pura-pura pacaran sama orang yang bahkan hampir nggak punya ekspresi?"
Amora menghela napas berat. "Anggi, lo tahu kan masalah gue? Bokap gue ngilang. Dia nyolong tabungan gue dan lo tau kemarin preman ke rumah acak-acak rumah buat cari bokap gue dan nagih hutang. Dan yang lebih mengejutkan, ternyata sertifikat rumah satu-satunya digadaikan. Kalau nggak bisa bayar, rumah bakalan diambil. Dan lo tau berapa utangnya? Lima ratus juta, Anggi. Gue dapat duit darimana? Gue harus mempertahankan rumah itu. Kalau diambil, gue sama Azka mau tinggal dimana? Terapi Azka juga butuh duit gede... Kalau Damian beneran bisa bantu, ya gue harus mikir, kan?"
Anggi terdiam. Ia tahu betapa kerasnya hidup Amora. Betapa keras kepala cewek itu dalam menyembunyikan kesedihannya dibalik tawa.
“Astaga, Mor. Jadi bokap lo udah separah itu?” Anggi benar-benar tidak menyangka seorang ayah yang harusnya melindungi keluarga malah menjadikan anak-anaknya korban keegoisan.
Amora hanya mengangguk sambil menunduk meremas jari jemarinya.
Anggi menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ia menepuk pundak sahabatnya. "Gue cuma takut lo nanti malah terlibat lebih jauh, Mo..." Anggi berkata lebih pelan.
Amora tertawa kecil. "Tenang, gue bukan cewek baperan. Lagian mana mungkin juga gue suka sama dokter es batu itu."
Anggi menatap sahabatnya lama, lalu menghela napas. "Ya udah, apapun keputusan lo nanti, gue dukung. Tapi lo harus pastiin diri lo nggak bakal rugi dalam urusan ini. Oke?"
Amora mengangguk mantap. "Deal."