NovelToon NovelToon
Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:113.4k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Naya selalu diabaikan Aslan, suaminya. Hingga suatu hari Aslan pergi dinas dan tak pulang selama tiga bulan.

Naya yang khawatir memutuskan untuk menyusulnya, Namun dia justru mendapati Aslan telah menikah siri dengan wanita lain secara diam-diam.

Tanpa marah dan tanpa meminta penjelasan, Naya memilih pergi dari kehidupan suaminya.
Namun, ketika Naya benar-benar menghilang, Aslan justru mulai menyadari bahwa kehilangan istrinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

Aslan menuntun Liza masuk ke dalam kamar utama dengan tangan yang menopang pinggang wanita itu penuh perhatian. Kamar yang beberapa jam lalu masih menjadi ruang pribadi antara dirinya dan Naya kini terbuka lebar untuk orang lain. Bau parfum Naya yang samar masih tertinggal di udara, tapi Aslan sama sekali tidak mempedulikannya.

“Sayang, ayo masuk kamar,” ucapnya lembut. “Kamu harus banyak istirahat. Jangan sampai terjadi sesuatu dengan kandunganmu.”

Liza mengangguk patuh, lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang masih terasa empuk dan familiar. Seprei yang biasanya diganti Naya setiap minggu kini menjadi tempatnya berbaring. Ia mengusap perutnya pelan, lalu menatap Aslan dengan mata yang dibuat sendu.

“Sayang… perutku lapar,” pintanya manja, sambil mengusap lengan Aslan naik-turun. “Aku ingin makan soto.”

Aslan langsung mengeluarkan ponsel dari saku celananya. “Sebentar, aku pesankan dulu. Ada soto yang enak di dekat sini.”

“Jangan, Sayang,” seru Liza cepat, menahan pergelangan tangan Aslan.

Aslan mengerutkan kening. “Kenapa? Katanya kamu mau soto.”

Liza menggigit bibir bawahnya, lalu berbicara dengan suara yang sengaja dibuat pelan dan penuh harap. “Iya… tapi aku mau Mbak Naya yang membuatnya.”

Aslan terdiam. Wajahnya memperlihatkan keraguan yang jelas. “Tapi Liza… Naya sudah pindah ke kamar tamu. Jangan—”

Sebelum ia sempat menyelesaikan kalimat, Ranti yang sejak tadi berdiri di ambang pintu langsung menyela. Suaranya tegas dan penuh tekanan. “Turuti saja. Suruh istri pertamamu itu memasaknya. Liza sedang mengidam. Kalau tidak dituruti, bisa-bisa anak kalian ileran.”

Aslan menoleh ke arah ibu mertunya, lalu kembali menatap Liza yang masih mengusap perutnya dengan ekspresi memelas. Di dalam kepalanya, ia sempat teringat wajah Naya yang tadi menutup pintu kamar tamu tanpa menoleh. Tapi rasa bersalah itu hanya bertahan beberapa detik. Ia lebih takut kandungan Liza bermasalah daripada memikirkan perasaan istri sahnya.

Akhirnya Aslan menghela napas panjang. “Baiklah… aku akan suruh Naya membuatnya.”

Liza tersenyum puas, lalu memejamkan mata di atas bantal. “Makasih, Sayang. Aku tunggu ya.”

Aslan keluar dari kamar utama dengan langkah yang sedikit berat. Ia berjalan menuju kamar tamu di ujung. Di belakangnya, Ranti tersenyum tipis, sementara Liza di dalam kamar sudah terlihat nyaman di ranjang yang bukan miliknya.

Di depan pintu kamar tamu, Aslan berhenti sejenak. Ia mengangkat tangan, ragu untuk mengetuk. Tapi kemudian ia mengetuk dua kali dengan keras.

Tok

Tok

“Naya,” panggilnya dari luar. “Keluar. Liza minta dibuatkan soto. Sekarang.”

Dari dalam kamar, tidak langsung terdengar jawaban. Hanya keheningan yang panjang, seolah Naya sedang menimbang sesuatu. Beberapa detik kemudian, bunyi engsel pintu terdengar pelan.

Ceklek.....

Pintu terbuka, memperlihatkan Naya yang muncul di ambang pintu dengan baju tidur kusut dan wajah lelah seperti yang ia bayangkan. Naya sudah berganti pakaian. Kemeja putih rapi, celana bahan gelap, rambut terurai dengan rapi, dan wajahnya dipoles make-up tipis yang membuatnya terlihat segar sekaligus jauh. Tatapannya datar, tanpa emosi.

“Soto?” ulangnya pelan, seolah memastikan ia tidak salah dengar.

Aslan mengangguk kaku. Matanya menghindari tatapan istrinya. “Liza mengidam. Buatkan sekarang.”

Naya terdiam beberapa detik. Keheningan di lorong terasa semakin berat. Lalu, tanpa ragu, ia menggelengkan kepala. “Aku tidak bisa. Aku ada urusan. Harus pergi.”

Aslan membelalak. Ia tidak menyangka akan mendapat penolakan. “Tapi Liza sedang mengidam, Naya,” suaranya berubah memohon, hampir panik. “Kalau tidak dituruti, nanti anak kami bisa ileran. Kamu tahu sendiri—”

“Itu hanya mitos, Aslan.” Potongan kalimat Naya jatuh tajam, memotong ucapan suaminya. Matanya menatap langsung, dingin dan tegas. “Jadi orang jangan bodoh!”

Bentakan itu menggema di sepanjang ruangan. Aslan mematung di tempat, seolah baru saja ditampar. Mulutnya sedikit terbuka, tapi tidak ada kata yang keluar. Selama bertahun-tahun menikah, Naya tidak pernah membentaknya. Apalagi dengan kata-kata yang begitu kasar, langsung di hadapannya. Wanita yang dulu selalu menunduk, selalu menurut, selalu takut membuatnya marah, kini berdiri di depannya dengan kepala tegak dan suara yang penuh perlawanan.

Naya tidak memberi kesempatan pada Aslan untuk membalas. Ia melangkah melewati suaminya dengan jarak yang sengaja dijaga, membawa tas kecil di tangan. Bau parfum ringan yang dikenakannya sempat tercium samar saat ia lewat, sebelum langkahnya menurun tangga dengan cepat dan stabil.

Aslan masih berdiri kaku di depan kamar. Jantungnya berdetak kencang, bukan karena marah semata, melainkan karena keterkejutan yang mendalam. Ia menoleh ke arah tangga yang sudah kosong, seolah masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Dari dalam kamar utama, suara Liza terdengar memanggil. “Sayang? Soto-nya sudah dibuatkan?”

Aslan mengusap wajahnya kasar. Ia tidak langsung menjawab. Ia merasa benar-benar kehilangan kendali. Naya tidak hanya menolak memasak. Ia menolak perintah. Ia menolak mitos yang biasanya selalu dituruti. Ia bahkan berani membentak.

Di bawah, bunyi pintu utama terbuka lalu tertutup lagi. Naya sudah meninggalkan rumah.

Aslan berdiri diam menatap pintu kamar tamu yang masih terbuka. Di dalam dadanya, rasa panik mulai bercampur dengan sesuatu yang lebih tajam, ketakutan bahwa wanita yang selama ini ia anggap tidak akan pernah melawan… kini benar-benar sudah tidak bisa dikendalikan lagi.

Aslan kembali ke kamar utama dengan langkah yang lebih berat dari sebelumnya. Liza yang berbaring di ranjang langsung menegakkan badan begitu melihat suaminya masuk tanpa membawa apa pun.

“Naya pergi,” ucap Aslan pelan, mencoba terdengar tenang. “Dia tidak bisa membuatkan soto untukmu. Aku belikan saja, ya"

Liza langsung mengerutkan kening. Wajahnya berubah kesal. “Aku tidak mau!” protesnya, nada suaranya manja tapi penuh paksaan. “Aku mau Mbak Naya yang membuatnya. Kamu telepon dia, suruh dia pulang sekarang juga.”

Aslan menghela napas, duduk di tepi ranjang, lalu meraih tangan Liza. “Tidak bisa, Sayang. Naya bisa marah. Tadi dia sudah bilang ada urusan. Jangan dipaksa.”

Belum sempat Liza membalas, Ranti yang sejak tadi duduk di sofa kecil di sudut kamar langsung menyela. Suaranya tajam dan penuh sindiran. “Kamu takut sama istrimu itu, Aslan? Pantas saja dia sangat angkuh. Lihat saja sikapnya dari tadi. Kalau kamu tidak tegas, dia akan semakin semena-mena.”

Aslan terdiam. Kalimat Ranti menusuk ego laki-lakinya. Ia menatap Liza yang masih memasang wajah memelas, lalu ke Ranti yang menatapnya penuh tekanan. Di dalam kepala, bayangan Naya yang membentaknya di lorong masih jelas. Tapi di saat yang sama, rasa tidak ingin kehilangan kendali di hadapan Liza dan ibunya membuatnya mengalah.

Akhirnya Aslan menghela napas panjang, lalu mengeluarkan ponsel dari saku. “Baiklah… aku akan menghubunginya.”

Ia berdiri, menjauh sedikit dari ranjang, lalu menekan nomor Naya. Panggilan itu berdering beberapa kali sebelum akhirnya diangkat.

“Naya,” suara Aslan terdengar lebih keras dari yang ia maksudkan. “Pulang. Sekarang. Liza masih menunggu soto. Jangan bikin masalah.”

Di seberang, hanya keheningan sejenak. Lalu suara Naya terdengar datar, jauh, dan sama sekali tidak tergoyah. “Aku sedang di jalan. Tidak akan pulang malam ini.”

Telepon langsung diputus.

Aslan menatap layar ponselnya yang kembali gelap. Rahangnya mengeras.

1
sunaryati jarum
Segera saja nikahnya, Aslan kamu masih belum menyerah walau selalu kalah.Ingatlah perusahaan kamu yang masih digantungkan untuk mencari nafkah banyak karyawan kamu,kau tidak takut Erland melawan, kemarin - kemarin Erland hanya bertahan saja kamu kalah, apalagi jika melawan, kesabaran ada batasnya,Aslan
sunaryati jarum
Bagus seperti dapat kode Erland gercep langsung lamar Naya.Semoga sampai pernikahan tidak kendala
Talnis Marsy
resiko jadi selir atau selingkuhan ya kayak gitu Liza..cuma di jadikan pelampiasan sesaat..
sakit kan????
sunaryati jarum
Aslan dendam kamu pada Naya atas kesalahan kamu hanya membakar dirimu hingga hancur.Erland bukan lawanmu dia punya pertahanan kuat.Jika kamu berlanjut tidak akan lama lagi perusahaan kamu hancur, karena banyak pengeluaran untuk menyerang Erland
Agus Tina
Di cerita ini, Liza spt diposisikan sbg korban. Padahal itu akibat dari perbuatan sendiri ... jika memutuskan untuk menjadi pihak ketiga ya harus siap jika pihak kesatu kadang masih memikirkan pihak kedua, entah karena masih cinta, atau hal lainnya .
Ariany Sudjana
sama bodohnya semua 😂😂🤣🤣
sunaryati jarum
Lebih cepat lebih baik Erland ,ingat usia.Usia hampir empat puluh tahun usia krusial untuk hamil,namun jika Sang Pemberi sudah berkehendak tidak ada yang mustahil.
Ilfa Yarni
Hari Hari menuju bajagia Naya pantas mendapatkannyakarena Utah cukup dia menderita Karen'a Punya suami yg jahat Dan dia Salah memilih Dan skr Ada erlan yg mencintainya dgn tulus
Ntahlah
haaai kak
sunaryati jarum
Tanpa basa-basi langsung ke intinya, emak setuju, kalian sudah dewasa dan sudah mengenal lama.,tak perlu pacaran atau pertunangan langsung nikah.
Ilfa Yarni
asyik mereka akan menikah aku tunggu udangannya ya
sunaryati jarum
Erland sudah kebelet nikah,Nih.Ayo Naya dari pada jantungmu berdetak kencang terus -, terusan jika di dekat Erland,lebih baik segera terima cintanya dan nikah,agar tidak kebablasan
YuWie
sweet bgt er..tapi tetap waspada ya
yumi chan
wah cpt2 nkh aja thor..biar aslan kpnsan
Ilfa Yarni
wah erlan gercep nih udah tidur bareng aja Gpp sih jgn sampe gagal untuk yg kedua Kali ya erlan kekep trus naya ya sampe jadi oh ya jgn lengah aslan msh ga mau Kalah mending hancurkan sekalian drpd mengganggu trus
Ma Em
Thor jgn biarkan Aslan mengusik ketenangan perusahaan yg Erlan pimpin , biarkan Aslan jatuh akibat perbuatan nya sendiri dan istri sirinya yg sdh ketakutan tdk kebagian warisan untuk anak yg msh di dlm kandungan nya makin menderita .
sunaryati jarum
Aslan makin nekat tabiat serakah dan pelit mendominasi jiwanya.Sudah jelas kalah karena kesalahannya sendiri seharusnya membiarkan Naya menjual yang menjadi haknya.Akibat ulahmu yang menghalanginya kau berurusan dengan Erland.Kenekatanmu pada Erland akan membawa kehancuranmu sendiri, Erland hanya bertahan saja kamu kalah,apalagi nanti balik menyerang.
YuWie
jadi berlete2 perang urat sarafnya..ehh tapi faris hebat lho, apa2 dia tau.
Ariany Sudjana
terlalu lama Erland membiarkan Aslan bergerak, kenapa ga langsung dihancurkan saja?
YuWie
ternyata kekuatan erlan sebanding dg aslan..kupikir lebih besar perusahaan dan pengaruhnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!