Gara gara terlibat balapan liar berujung skandal di ibu kota, Arkananta Dewangga Tuan muda berusia 25 tahun yang tampan, angku, dan gila hormat. Harus menerima hukuman paling gila dalam hidupnya. Sang ayah membekukan fasilitas mewahnya dan membuangnya ke sebuah desa terpencil. Perintahnya mutlak: "Jangan kembali ke Jakarta sebelum bisa hidup mandiri."
Di Desa Sukmawarna, semua uang dan keangkuhan Arkan tidak berlaku, alih-alih hidup manja. ia harus menghadapi di siplin ketat dari Pak Barkah, yang tidak mempan di sogok. Dirumah pedesaan yang sederhana itu, Arkan di paksa turun ke ladang berlumpur jika tidak ingin kelaparan dan tidur di teras bersama nyamuk kebun.
Di tengah siksaan fisik dan kejutan budaya yang menguras emosi, takdir mempertemukannya dengan Nayla Rahmadania, gadis desa lulusan sarjana yang mandiri dan begitu tegas.
sanggupkah sang tuan muda bertahan melewati ujian berat ini, ataukah ia memilih menyerah dan memilih cara untuk kabur kembali ke kemewahan kota?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Wibawa Seorang Ayah
Pak Suryo tidak langsung menyahuti ucapan anak gadis kesayangannya. Sepasang matanya yang tajam dan sarat akan pengalaman hidup beralih menatap tangan kanan Arkan yang terbalut oleh kain kasa putih bersih. Pandangannya kemudian naik, meneliti kemeja flanel longgar milik Pak Barkah yang dikenakan Arkan, dan terakhir mengunci pandangannya tepat di manik mata cokelat gelap sang Tuan Muda kota. Wajah Pak Suryo yang legam dan mengeras akibat diterpa matahari setiap hari memancarkan ketegasan alami seorang kepala keluarga yang tidak bisa diremehkan oleh siapa pun.
"Jadi, kamu anak muda dari Jakarta yang beberapa hari ini sedang ramai dibicarakan oleh orang-orang di pasar desa?" suara Pak Suryo terdengar berat, dalam, dan bergaung pelan di keheningan tepi ladang yang sunyi.
Arkan menarik napas pendek, mencoba menahan gejolak egonya yang sempat terusik oleh nada suara ketus pria tua di depannya. Sifat gila hormatnya sebagai mantan direktur muda metropolitan sempat ingin berontak. "Benar. Nama saya Arkananta Dewangga," jawab Arkan dengan nada suara beratnya yang dingin, tetap berusaha mempertahankan intonasi bicara khas pria kelas atas Jakarta yang tidak terbiasa disudutkan.
Pak Suryo mengambil langkah satu belahan maju ke depan, membuat jarak fisik di antara mereka semakin terkikis habis. Tubuh Pak Suryo memang tidak setinggi Arkan yang jangkung, namun pundaknya yang bidang dan otot lengannya yang mengeras akibat puluhan tahun memikul beban berat hasil bumi membuat kehadirannya terasa sangat kokoh di atas tanah ladang.
"Nak Arkan," ucap Pak Suryo, nada suaranya mendadak melunak namun justru terasa semakin menekan mental Arkan. "Di Desa Sukmawarna ini, kami hidup dengan segala kesederhanaan yang ada. Kami memang tidak punya gedung-gedung pencakar langit yang megah, jalanan tol yang lebar, atau mobil-mobil sport mewah seharga miliaran seperti di kota tempat tinggalmu yang dulu. Tapi di sini, kami sangat menjunjung tinggi selembar harga diri dan kehormatan keluarga, terutama untuk anak gadis kami."
Arkan mengernyitkan dahinya dalam-dalam, matanya menyipit menatap balik pria paruh baya itu. "Maksud Bapak bicara seperti itu apa?"
Pak Suryo menunjuk seikat padi yang tergeletak di atas rerumputan kering dengan dagunya. "Kemarin siang kamu singgah ke rumah saya saat saya sedang tidak ada di tempat. Dan hari ini, baru saja saya berjalan menuju ke mari, saya mendengar kabar miring dari balai desa kalau ada keributan besar yang menyeret-nyeret nama anak gadis saya, Nayla. Di lingkungan pedesaan seperti ini, rumor miring tentang kehormatan seorang anak gadis bisa merusak nama baik seluruh keluarga seumur hidup."
Pak Suryo menjeda kalimatnya sesaat, menatap Arkan dengan kilat mata yang sangat serius dan dingin. "Saya tidak peduli seberapa kaya, berkuasa, atau terpandangnya nama keluargamu di Jakarta sana, Nak. Tapi kalau kedatanganmu dihukum ke desa ini hanya untuk membawa masalah baru, mengotori nama baik anak saya, atau menjadikannya bahan mainan untuk kesenangan kotamu... saya adalah orang pertama yang akan menyeretmu keluar dari batas desa ini dengan tangan saya sendiri. Apa kamu mengerti?"
Ancaman itu diucapkan tanpa adanya emosi yang meledak-ledak atau teriakan kasar, namun wibawa murni seorang ayah yang protektif di dalam setiap kata-kata Pak Suryo benar-benar berhasil menghantam logika berpikir Arkan dengan telak. Tuan Muda yang biasanya ditakuti di dunia bisnis Jakarta itu mendadak tertegun di tempatnya berdiri. Selama hidupnya, ia selalu dikelilingi oleh orang-orang bermuka dua yang tunduk dan menjilatnya demi limpahan harta. Baru kali ini, di tengah ladang berlumpur, ia berhadapan dengan seorang pria paruh baya berpakaian lusuh yang berani mengancamnya demi sebuah kehormatan keluarga yang tak ternilai.
Nayla menatap ayahnya dengan mata yang berkaca-kaca, merasa sangat tersentuh oleh pembelaan sang bapak yang begitu besar. Namun, di sisi lain ia juga melirik Arkan dengan cemas, khawatir pria kota yang sumbunya pendek dan emosional itu akan mengamuk karena harga dirinya diusik di depan umum.
Namun, dugaan Nayla kali ini salah besar. Arkan tidak membentak atau membalas dengan keangkuhan kotanya yang menyebalkan. Kejadian di aula balai desa tadi pagi, saat ia melihat sendiri bagaimana kejamnya fitnah Ratih bekerja menghasut warga, membuat Arkan mulai memahami ketakutan terbesar yang dirasakan oleh Pak Suryo. Arkan mengepalkan tangan kirinya yang sehat di sisi tubuh, lalu mengembuskan napas panjang untuk menenangkan gejolak emosi di dadanya.
"Bapak tidak perlu khawatir atau berpikir buruk tentang saya," ucap Arkan. Nada suaranya kini terdengar jauh lebih tenang, berbobot, dan tegas, mengunci pandangannya langsung pada manik mata Pak Suryo.
"Urusan di balai desa tadi pagi adalah ulah dari seorang gadis bernama Ratih yang sengaja menyebarkan fitnah busuk karena dendam pribadi kepada saya. Saya sudah menyelesaikan masalah itu secara langsung dan membersihkan nama baik Nayla di depan seluruh warga yang hadir. Saya tidak punya niat sedikit pun untuk mengotori kehormatan keluarga Bapak atau menjadikan Nayla sebagai mainan. Saya berada di desa ini murni karena dihukum oleh ayah saya, dan fokus saya saat ini hanya satu: belajar bertahan hidup sampai hukuman sialan ini selesai."
Mendengar penjelasan yang runtut, tegas, dan penuh tanggung jawab dari mulut Arkan, Pak Suryo terdiam membisu beberapa saat. Pria paruh baya itu memperhatikan setiap jengkal ekspresi wajah Arkan dengan saksama, mencoba mencari celah kebohongan di dalam manik mata cokelat gelap sang Tuan Muda. Namun, yang ia temukan hanyalah kilat kejujuran dan harga diri pria kota yang sedang terluka namun enggan tunduk pada kelicikan.
Perlahan-lahan, ketegangan di wajah keras Pak Suryo mulai mencair. Beliau menarik napas panjang, lalu mengembuskannya bersamaan dengan sela tawa kecil yang terdengar hambar namun melegakan.
"Bagus kalau begitu. Lelaki itu yang dipegang adalah kata-katanya, bukan hartanya," ucap Pak Barkah yang mendadak muncul dari balik pematang sawah setelah menyelesaikan sisa pekerjaan irigasinya, memotong kecanggungan di antara mereka. Pak Barkah menepuk pundak Pak Suryo dengan akrab. "Sudahlah, Kang Suryo. Arkan ini memang keras kepala dan sombongnya minta ampun, tapi dia bukan tipe pria pengecut yang suka merusak anak gadis orang. Saya yang menjadi jaminannya selama anak ini tinggal di bawah pengawasan kami di rumah Mbah Harjo."
Pak Suryo mengangguk pelan, akhirnya benar-benar melepaskan posisi teganya yang mengintimidasi. Beliau kembali membungkuk untuk memungut pikulan padinya dengan gerakan yang sangat cekatan. "Ya sudah, kalau begitu. Maaf kalau kata-kata saya tadi terlalu tajam menyinggungmu, Nak Arkan. Seorang ayah di desa memang harus selalu menjadi tameng pertama untuk anak perempuannya."
Arkan hanya menganggukkan kepalanya dengan kaku, menolak untuk mengakui di depan mereka bahwa wibawa murni Pak Suryo sempat membuatnya merinding ketakutan sesaat tadi.
"Nayla, bawa dokumen kelompok taninya ke rumah Mbah Harjo sekarang bersama Arkan. Bapak mau langsung pulang ke rumah untuk menaruh padi hasil panen ini," perintah Pak Suryo kepada anak gadisnya dengan lembut.
"Iya, Pak. Nayla jalan dulu ya. Bapak hati-hati di jalan," pamit Nayla dengan senyuman manisnya yang khas.
Perjalanan mereka pun berlanjut kembali menyusuri jalan setapak desa, kini dengan tambahan kehadiran Pak Barkah yang berjalan di samping Arkan sambil memikul cangkulnya. Di belakang mereka, Nayla mengekor dengan langkah kaki yang santai. Sinar matahari siang yang mulai bergeser perlahan ke arah barat tampak memanjangkan siluet tubuh mereka berempat di atas tanah kering Desa Sukmawarna.
Arkan kembali melirik telapak tangan kanannya yang masih terbalut rapi oleh kain kasa putih. Pertemuannya dengan Pak Suryo barusan seolah membuka sebuah sudut pandang baru yang sangat segar di dalam kepalanya, yang selama bertahun-tahun ini selalu dipenuhi oleh angka-angka nominal bisnis dan kemewahan materi yang semu. Di desa terpencil yang awalnya ia benci setengah mati ini, ia justru mulai menemukan hal-hal berharga yang tidak akan pernah bisa dibeli dengan lembaran uang kertas: ketulusan hati Ibu Aminah, kepolosan Bagas dan Reno yang gampang takjub, ketegasan tanpa kompromi dari Pak Barkah, serta wibawa murni dari seorang Pak Suryo yang rela mempertaruhkan nyawa demi menjaga nama baik putrinya.
Langkah kaki Arkananta Dewangga kini tidak lagi terasa sekaku dan seberat kemarin. Dinding keangkuhan metropolitan di dalam dirinya memang belum sepenuhnya hancur lebur, namun retakan dan pergeseran pondasi pertamanya baru saja tercipta dengan sangat nyata di bawah kolaborasi alam dan manusia sederhana di Desa itu.