NovelToon NovelToon
Istriku Akhirnya Setuju Bercerai

Istriku Akhirnya Setuju Bercerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Diam-Diam Cinta
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Selama 365 hari, Arga hanya memiliki satu tujuan: menceraikan Nisa.
​Terjebak dalam perjodohan keluarga yang tak diinginkannya, Arga secara sepihak menganggap pernikahan mereka tak lebih dari sekadar "kontrak". Baginya, Nisa hanyalah penghalang yang merampas kebebasannya untuk bersama Adelia—satu-satunya wanita yang benar-benar ia cintai. Segala sikap dingin, pengabaian, hingga wacana perpisahan Arga lemparkan demi membuat Nisa menyerah.
​Dan malam itu, doa Arga terkabul.
​Sadar bahwa memperebutkan hati pria yang jelas-jelas dimiliki wanita lain adalah sebuah kesia-siaan, Nisa akhirnya berhenti berjuang. Tanpa air mata, tanpa perdebatan, dan tanpa drama, ia menandatangani surat cerai itu dan melangkah pergi membawa sisa harga dirinya.
Anehnya, saat keinginannya benar-benar terkabul, Arga justru menyadari satu hal. Dia tak bisa hidup tanpa Nisa.
​

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Goresan pensil di atas kertas sketsa itu bergerak begitu lincah dan luwes. Lima hari belakangan ini, Nisa benar-benar menenggelamkan dirinya dalam tumpukan pekerjaan di butik. Ratusan pesanan, pemilihan kain, hingga revisi pola menjadi pelarian yang sempurna. Otaknya benar-benar penuh dengan rancangan desain, sukses membuatnya sejenak melupakan masa lalunya yang kelam dan menyakitkan.

Fokus Nisa baru terpecah ketika ponsel di atas mejanya berdering nyaring. Keningnya berkerut melihat nama yang tertera di layar. Mami Kintan.

Nisa menelan ludah sebelum menggeser tombol hijau. "Halo, Assalamualaikum, Mi?"

"Waalaikumsalam, Nisa Sayang!" Suara ceria Mami Kintan langsung menyambar dari seberang telepon. "Kamu lagi sibuk nggak, Nak?"

"Lagi di tempat kerja, Mi. Ada apa?"

"Tempat kerja? Kamu kerja? Sejak kapan, Nak? Kok, Mami baru tahu?"

"Baru aja, Mi," sahut Nisa sambil tersenyum kecil.

"Kenapa harus kerja, Sayang? Memangnya, Arga nggak kasih kamu cukup uang?"

"Nggak kok, Mi. Nisa cuma mau cari kesibukan aja," balas Nisa.

Hening sejenak, sebelum suara Mami Kintan kembali terdengar.

"Oh, ya sudah, Mami nggak akan ganggu lama-lama. Begini, besok kamu sama Arga datang ke rumah Mami, ya? Mami sengaja mau masak besar supaya bisa makan malam sama kalian. Kakek juga dari kemarin uring-uringan nanyain kamu terus. Katanya kangen sama pijatan Nisa."

Jantung Nisa seakan berhenti berdetak. Ia terdiam sejenak, otaknya bekerja keras mencari alasan.

"Mi... maaf, tapi sepertinya Nisa—"

"Eh, nggak ada penolakan!" potong Mami Kintan cepat dengan nada jenaka yang memaksa. "Mami rencana mau masak semur daging kesukaan kamu dan iga bakar kesukaan Arga. Pokoknya jam tujuh malam besok, kalian berdua harus sudah sampai di sini. Dandan yang cantik, ya! Mami tutup dulu, masih repot di pasar. Assalamualaikum!"

Klik. Panggilan diputus sepihak.

Nisa menjauhkan ponsel dari telinganya dan menghela napas sangat panjang. Kepalanya tiba-tiba berdenyut nyeri. Ia tidak mungkin datang sebagai istri Arga lagi. Tapi ia juga tidak sanggup menghancurkan hati wanita paruh baya itu lewat sambungan telepon. Terpaksa, Nisa meraih tas kerjanya dan melangkah keluar dari butik menuju gedung perusahaan Arga setelah pamit pada Inayah

*****

Di lantai lima belas gedung perkantoran mewah itu, Arga sedang memijat pelipisnya sambil menatap tumpukan laporan keuangan saat telepon di mejanya berdering.

"Halo, Pak Arga. Maaf mengganggu," suara resepsionis dari lobi bawah terdengar hati-hati. "Di bawah ada Ibu Nisa mencari Bapak. Apakah beliau diizinkan naik?"

Napas Arga seketika terhenti. "Nisa?!"

Suara Arga tanpa sadar meninggi satu oktaf. Dada pria itu mendadak bergemuruh hebat, memompa darahnya dengan sangat cepat. Ada letupan kebahagiaan aneh yang tiba-tiba meledak di perutnya.

"I... iya, Pak. Ibu Nisa," jawab resepsionis itu gugup. "Apa saya suruh tunggu di lobi—"

"Jangan biarkan dia menunggu di bawah! Suruh dia naik sekarang juga!" potong Arga cepat, nyaris berteriak. "Arahkan dia langsung ke ruangan saya. Pastikan lift eksekutif sudah siap untuknya!"

Arga membanting gagang telepon. Ia melompat dari kursi kebesarannya seolah kursinya baru saja terbakar. Dengan gerakan panik, ia berjalan menuju cermin panjang di sudut ruangan.

Arga merapikan dasinya yang sedikit longgar, menyisir rambutnya dengan jari agar terlihat sempurna, dan merapikan setelan jas navy yang ia kenakan.

Selama lima hari menyandang status duda, hari ini adalah kali pertama ia merasa sangat bersemangat. Ia bahkan tidak tahu mengapa ia bisa sebahagia ini hanya karena Nisa datang menemuinya di kantor. Di kepalanya, mulai bermunculan skenario manis bahwa Nisa merindukannya.

Arga segera menekan tombol interkom di mejanya. "Selia! Ke ruangan saya sekarang!"

Dalam hitungan detik, sekretarisnya membuka pintu. "Iya, Pak Arga? Ada dokumen yang harus saya urus?"

"Bukan dokumen," ucap Arga cepat. "Istriku—maksudku, Nisa sedang naik ke mari. Cepat siapkan teh chamomile hangat dan beli macaron di kafe lantai bawah. Tata yang rapi, bawa ke ruangan saya segera. Jangan sampai lama!"

Mata Selia terbelalak lebar. Mulutnya sedikit terbuka. Selama satu tahun bekerja dengan Arga, tak sekalipun bosnya ini menyuruhnya menyiapkan apa pun jika Nisa datang berkunjung. Biasanya, Arga hanya akan menyuruh Nisa menunggu di sofa luar berjam-jam tanpa disuguhi air putih sekalipun.

"B... baik, Pak. Segera saya siapkan!" Selia mengangguk kaku lalu bergegas melangkah terburu-buru keluar.

Terdengar suara denting lift di ujung lorong. Arga tidak sabar menunggu di kursinya. Pria itu melangkah keluar dari ruangannya, berjalan menyusuri lorong divisi demi menyambut Nisa.

Begitu sosok Nisa terlihat keluar dari lift, senyum lebar yang sangat hangat langsung terukir di wajah Arga.

"Nisa," sapa Arga lembut. Ia menghampiri Nisa dan langsung mengarahkan tangannya ke pinggang wanita itu untuk membimbingnya, meski Nisa dengan cepat menggeser tubuhnya menghindar.

Arga tak memedulikan penolakan kecil itu.

Senyumnya tak luntur. "Ayo, masuk ke ruanganku."

Para pegawai yang duduk di kubikel mereka saling menyenggol lengan, menatap pemandangan itu dengan mata terbelalak dan bisik-bisik yang tertahan.

"Eh, sumpah, itu Pak Arga? Tumben banget nyambut Bu Nisa sampai ke depan lift begitu?" bisik seorang staf marketing.

"Iya, aneh banget! Senyumnya lebar banget lagi. Biasanya kan boro-boro ditengok, istrinya cuma dicuekin aja terus suruh duduk di luar!" sahut staf lainnya dengan wajah terheran-heran.

Begitu pintu ruang kerja Arga tertutup rapat, Arga langsung mempersilakan Nisa duduk di sofa tamu yang empuk.

"Duduklah, Nis. Sebentar lagi Selia akan membawakan teh chamomile kesukaan kamu dan beberapa camilan ringan," ucap Arga dengan binar mata yang tak bisa disembunyikan. "Tumben kamu datang ke kantor? Kamu sudah selesai kerja? Mau makan siang bareng?"

Namun, segala euforia dan keramahan Arga itu seolah menabrak dinding es yang sangat tebal. Nisa sama sekali tidak tersenyum. Wanita itu berdiri kaku, menolak duduk di sofa, dan menatap Arga dengan pandangan menuntut yang tajam.

"Mas," panggil Nisa, suaranya terdengar sangat datar dan dingin.

"Iya, Nis? Kamu mau pesan makanan lain?" tanya Arga masih berusaha menjaga senyumnya.

"Kamu belum kasih tahu orangtua kamu soal perceraian kita?" tembak Nisa tanpa basa-basi.

Senyum di bibir Arga membeku. Udara di dalam ruangan itu mendadak terasa tersedot habis. Tangannya yang baru saja hendak melonggarkan kancing jasnya terhenti di udara.

Nisa maju selangkah, menatap tepat ke dasar mata pria itu. "Kenapa, Mas? Kenapa Mami masih meneleponku dan menyuruhku datang makan malam ke rumah dengan status sebagai istri kamu? Bukannya kamu sudah janji bakal handle semuanya soal keluarga kamu begitu surat cerai kita keluar?!"

Arga mematung kaku. Kepingan-kepingan kebahagiaan yang tadi memenuhi dadanya hancur berserakan menghantam lantai.

Ia pikir Nisa datang karena tak sanggup menahan rindu. Ia pikir Nisa datang karena ingin melihat wajahnya, atau sekadar memastikan keadaannya setelah berpisah. Rupanya, ia terlalu percaya diri. Nisa datang bukan untuk menemuinya, melainkan untuk melayangkan protes karena urusan keluarga ini menghambat kehidupannya.

"Jawab aku, Mas," desak Nisa tak sabar, melipat kedua tangannya di depan dada. "Kamu tidak menutupi perceraian kita dari Mami dan Papi demi mencari keuntungan lain, kan?"

Arga menelan ludah. Rasa kecewa yang amat besar menelan habis seluruh sisa antusiasmenya hari ini. Cahaya di matanya seketika redup, digantikan oleh bayangan kelabu yang sangat memilukan.

Ia tidak menutupi apa pun demi keuntungan, ia hanya... belum sanggup mengucapkan kata perpisahan itu secara nyata kepada keluarganya.

1
Bella. pr1ncess
males thor kalau nisa mau kembali sama arga padahal kan arga udah berzina sama adel kenapa tidak ada tokoh wanita yg trgas disetiap cerita sih. yg ada hanya wanita yg mengalah menye menye bosan
Bella. pr1ncess
tolong jangan k mbalikan nisa sama arga thor kalau nnti nisa balek sama arag aku udah gak minat baca
Bella. pr1ncess
bangkitlah nisa kamu masih muda jemputlah takdirmu sendiri lepaskan bebanmu semoga kamu sudah tidak mau kembali pada laki2 durjana seperti arga
Bella. pr1ncess
heh laki2 bulshit dia yg minta cerai setelah nisa mengabulkan malah marah memang laki2 hanya kamu semoga nisa vertemu laki2 baik setelah berpisah dari arga
Bella. pr1ncess
bagus nisa jadilah wanita yg tegar jangan menye2 raihlah bahagiamu sendiri jangan terus mau diinjak lelaki durjana
Turi77 Turi77
Next selanjutnya thor 🥰
merry
jgn mau rujuk nisa laki murahan kyk segala gk pnts di perjuangkan,,
Adinda
bongkar aja lngsung sama keluarganya arga jangn mau dimanfaatin
Turi77 Turi77
skrng Arga bkn,suami km lg Nisa dri pda menutupi lbh baik jujur apapun kondisi Kakek Arga,
biar kedua orang tuanya thu kelakuannya selama mnjdi suami km nis😡
Mundri Astuti
ancem aja nis....kamu beberin selingkuhan Arga klo ga ngomong sama keluarganya
ryuka
baguussss.. dijamin seruu..
aku suka karya2 mu thoorrr
semangat berkarya terus ya thorrrr
ryuka
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥 semangat nisaa 👍👍👍👍👍
Aidil Kenzie Zie
bagus Nis harus tegas👍🏻👍🏻👍🏻
Adinda
buat keluarga arga tau biar arga dimiskinkan biar belang pelakor ketahuan
Turi77 Turi77
Alhamdulillah akhirnya cerai jga, semoga setelah ini hari mu selalu bahagia lahirdan batin Nisa 🫰🥰....janda rasa perawan mkn kedepan 🥰🥰🥰💪💪💪
MamDeyh
Nahhhhh mantaap ortu sama kakek nya dtg
ryuka
kamu ga akan pernah menang batu kali/Puke//Puke//Puke//Puke//Puke/
Sri Widiyarti
Alhamdulillah ketahuan....
Enz99
Bagus
Heni Fitoria
nah lho ketahuan....
asyik....
hajar Bu, Pak anakmu perlu dikasih pelajaran klu perlu usir dr rumah , sita semua aset si Arga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!