Ogah jadi istri kedua aki-aki tapi tak mau rugi, Elara (22) memutar otak saat hendak dijadikan istri muda oleh Pak Broto (65). Di tengah acara lamaran yang tegang, dengan nekat dia menunjuk pria berjas hitam di seberang meja.
"Maaf Pak, saya nolak jadi istri kedua Bapak. Tapi kalau nikah sama anak Bapak yang itu... saya mau."
Arka (30), CEO sekaligus anak tunggal Pak Broto, mendadak tersedak dan langsung mengiyakan tawaran gila itu, demi menyelamatkan perasaan ibunya. Namun, niat Arka menyelamatkan rumah tangga orang tuanya justru menjadi awal dari bencana di rumah mewahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Robekan Surat Perjanjian
Jarak di antara mereka terkikis sepenuhnya. Arka berdiri tepat di hadapan Elara, menatap lurus ke dalam bola matanya yang sudah digenangi air mata. Pria kaku yang biasanya amat dingin itu perlahan mengulurkan kedua tangan, meraih jemari Elara yang bergetar lalu menggenggamnya hangat.
"Sakit hati sendirian?" suara Arka terdengar berat, pelan, namun bergetar penuh penekanan. "Kamu pikir selama ini cuma kamu yang berjuang menahan perasaan, Elara?"
Elara tertegun, mendongak menatap Arka dengan pandangan tak percaya.
Tanpa mengalirkan penjelasan panjang lebar yang berbelit-belit, Arka melepaskan genggaman tangannya. Dia berjalan menuju laci meja kerja, membukanya, dan mengeluarkan sebuah map dokumen berwarna hitam yang sangat dihafal oleh Elara. Ya, surat Perjanjian Pernikahan Kontrak.
Elara menahan napasnya. Jantungnya berdegup kencang secara sporadis. "Mau diapain kertas itu? Mau ditandatangani pembatalannya?" batinnya bertanya-tanya.
Arka kembali melangkah mendekati Elara. Tanpa ragu sedikit pun, di bawah tatapan melotot Elara yang shock setengah mati, Arka mencengkeram tumpukan kertas itu dan mencengkeramnya kuat-kuat lalu merobeknya menjadi dua.
Tidak berhenti di situ, Arka merobeknya lagi menjadi potongan-potongan kecil hingga lembaran dokumen berharga itu hancur berserakan tak bersisa. Pria itu membiarkan serpihan kertas putih itu berjatuhan mengotori lantai marmer kamar kerjanya.
"Mas Arka, apa yang—" Elara terbata-bata, menunjuk serpihan kertas di lantai dengan tangan gemetar.
"Kertas itu sudah tidak ada harganya lagi buat saya," potong Arka tegas. Ia melangkah maju satu tapak, memangkas jarak lalu meletakkan kedua telapak tangannya di kedua sisi pipi Elara, mengusap lelehan air mata yang sempat menetes di sana. "Sejak awal, saya memang sengaja menggunakan kontrak itu hanya sebagai alasan agar kamu tidak pergi dari hidup saya. Tapi sekarang, saya tidak butuh kertas bodoh itu lagi untuk menahan kamu."
Mata Elara membelalak sempurna. "Maksud Mas Arka?"
"Saya mencintai kamu, Elara Paramita. Bukan sebagai aktor lawan main kamu, bukan demi menjaga nama baik keluarga, tapi murni sebagai Arka, pria yang menginginkan kamu menjadi istrinya seutuhnya, tanpa tanggal kadaluarsa."
Kalimat jujur dan lugas itu terucap langsung dari bibir CEO yang selama ini dikenal berhati dingin. Elara membatu di tempatnya, menatap manik mata Arka yang penuh dengan kesungguhan. Rasa cemas, takut, dan canggung yang menyiksanya sejak semalam menguap begitu saja, berganti dengan buncahan kebahagiaan luar biasa yang membuat dadanya sesak.
Tanpa sanggup menahan ledakan emosinya lagi, Elara bertindak spontan. Ia majukan tubuhnya dan langsung memeluk leher Arka erat-erat, menyembunyikan wajahnya yang memerah dan menangis haru di dada bidang pria itu.
Arka tertegun sejenak sebelum akhirnya tersenyum tipis. Sebuah senyum paling hangat dalam hidupnya. Pria itu melingkarkan kedua lengan kokohnya di pinggang Elara, membalas pelukan itu dengan sangat erat, menyerap seluruh kehangatan tubuh istrinya.
Sementara itu, beberapa ratus meter dari gerbang perumahan mewah tempat tinggal Arka, sebuah mobil minibus hitam berkaca gelap terparkir rapi di bawah rindangnya pohon.
Di dalam mobil, seorang pria berpakaian serba hitam sedang memegang kamera dengan lensa tele super panjang. Dia beberapa kali menekan tombol shutter, mengabadikan area halaman dan pintu masuk rumah Arka.
Pria itu menurunkan kameranya, lalu menekan tombol panggilan cepat di ponselnya.
"Halo, Pak Broto," bisik pria itu pelan dengan nada penuh kehati-hatian.
"Bagaimana?" Pak Broto menyahut dari seberang sambungan, terdengar sangat tidak sabaran. "Ada bukti yang bisa kamu dapatkan soal status pernikahan kontrak mereka?"
"Saya sudah mengawasi rumah ini sejak pagi, Pak," terang sang detektif swasta. "Sejauh ini interaksi mereka sangat rapat dan dijaga ketat. Tapi saya berhasil menemukan satu hal. Tadi pagi, asisten rumah tangga mereka membuang tumpukan sampah dokumen yang dihancurkan dari ruang kerja Pak Arka ke tempat penampungan luar."
Pak Broto tersenyum licik di seberang telepon. "Kamu sudah ambil potongan dokumen itu?"
"Sudah, Pak. Walau sudah disobek-sobek kecil, tim saya sedang menyusun kembali serpihan kertasnya. Tapi ada satu hal lagi yang menarik."
Detektif itu jeda sejenak, terkekeh sinis. "Saya menemukan informasi latar belakang masa lalu Elara sebelum menikah dengan Pak Arka. Ternyata toko thrift shop miliknya pernah tersangkut kasus hukum barang selundupan beromzet miliaran rupiah yang belum tuntas di kepolisian."
Pak Broto tertawa terbahak-bahak mendengar kabar tersebut. "Luar biasa! Ini jauh lebih panas daripada sekadar isu pernikahan kontrak. Kirim semua data itu ke saya sekarang juga!"
Malam harinya di rumah.
Atmosfer di dalam kamar utama terasa begitu hangat dan manis. Elara duduk di pinggir ranjang sambil tertawa kecil membalas pesan-pesan lucu dari pelanggan toko bajunya. Sementara Arka baru saja selesai mandi dan berjalan keluar mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Arka mendudukkan dirinya di samping Elara, membiarkan aroma kesegaran sabun mewarnai udara di antara mereka. Pria itu mengulurkan tangan, hendak mengusap lembut rambut Elara.
Namun, sebelum jemari Arka sempat menyentuh rambut istrinya, suara dering panggilan telepon dari ponsel Arka yang tergeletak di meja rias mendadak memecah keheningan dengan sangat nyaring.
Arka mengerutkan dahi. Nomor yang tertera di layar adalah Nomor Tidak Dikenal.
Pria itu menjangkau ponselnya dan menggeser tombol hijau. "Halo?"
Bukan suara sapaan ramah yang terdengar, melainkan suara berat pria yang sengaja disamarkan menggunakan efek suara elektronik.
"Selamat malam, Pak Arka yang terhormat," ujar suara di seberang sana dengan nada dingin yang mencekam. "Gala Dinner semalam sungguh luar biasa, ya? Istri Anda tampil begitu memesona. Tapi, apakah Anda yakin kecantikan dan kepintarannya itu bisa menyelamatkan reputasi Valora Group jika publik tahu siapa Elara sebenarnya?"
Raut wajah Arka seketika berubah drastis dari hangat menjadi sangat tegang dan tajam. "Siapa kamu?"
"Coba periksa pesan masuk Anda sekarang," jawab suara itu terkekeh sinis. "Atau besok pagi, foto-foto skandal masa lalu istri Anda dan berkas kasus hukumnya akan menjadi berita utama di seluruh media nasional. Pilihan ada di tangan Anda, CEO."
Sambungan telepon dimatikan secara sepihak. Detik itu juga, sebuah notifikasi pesan bergambar masuk ke ponsel Arka. Ketika Arka membukanya, mata pria itu membelalak sempurna melihat lampiran foto-foto lama Elara yang dipasang berdampingan dengan lembar surat panggilan kepolisian bertuliskan status: Tersangka.