Dibuang oleh keluarga sendiri. Dikhianati oleh orang yang paling ia percaya. Dan kehilangan segalanya karena ulah mereka.
Reyna pernah menjalani hidup seperti itu sampai kematian menjadi satu-satunya akhir yang tersisa.
Namun ketika membuka mata, ia justru kembali ke masa lalu. Kali ini, Reyna tahu siapa yang akan mengkhianatinya.
Mereka mengira Reyna masih gadis naif yang mudah dimanfaatkan, namun mereka salah.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, Reyna akan merebut kembali apa yang menjadi haknya, melindungi orang-orang yang dulu gagal ia selamatkan, dan membongkar satu per satu kebusukan yang pernah menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Matahari sore mulai condong ke barat, memantulkan cahaya keemasan melalui jendela kaca raksasa di ruang CEO. Reyna sedang menandatangani tumpukan dokumen restrukturisasi ketika pintu ruangan terbuka perlahan.
Vincent melangkah masuk, diikuti oleh seorang gadis muda yang tampak sangat tidak cocok dengan kemewahan lantai lima puluh ini.
Gadis itu mengenakan kemeja flanel yang sudah memudar dan celana jeans yang sedikit kebesaran. Rambutnya diikat asal-asalan, dan ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya. Namun, yang paling menarik perhatian Reyna bukanlah penampilannya yang berantakan, melainkan tatapannya. Tatapan seorang hewan yang pernah dipukuli dan kini waspada terhadap setiap gerakan mendadak.
Nadia Kusuma.
"Nona Reyna, ini Nadia Kusuma seperti yang Anda minta," ucap Vincent pelan. "Saya menjemputnya dari toko buku di daerah Blok M. Dia... agak skeptis saat saya menjelaskan tujuan pertemuan ini."
Reyna menatap Vincent, memberikan isyarat dengan matanya. Vincent mengangguk paham dan segera keluar, menutup pintu dengan lembut hingga mereka berduaan.
Nadia berdiri kaku di tengah ruangan, tangannya mencengkeram tali tas kainnya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tidak menatap Reyna dengan kekaguman atau ketakutan yang biasa ditunjukkan karyawan pada CEO. Ia menatap Reyna dengan curiga.
"Sebelum Anda mulai berbicara tentang 'kesempatan kedua' atau basa-basi korporat lainnya," buka Nadia, suaranya serak namun tegas. "Saya ingin tahu kenapa putri kesayangan Richard Arland memanggil saya ke sini. Apakah ini lelucon? Apakah Tuan Julian menyuruh Anda untuk mengejek saya sekali lagi?"
Reyna tidak tersinggung. Ia justru merasa lega. Nadia masih memiliki giginya. Gadis ini belum sepenuhnya hancur.
"Duduklah, Nadia," ucap Reyna, menunjuk kursi di hadapannya. "Dan lupakan basa-basi. Aku tidak memanggilmu ke sini untuk mengejekmu. Aku memanggilmu karena kau satu-satunya orang di perusahaan ini yang tidak bodoh."
Nadia tidak bergerak. Ia tetap berdiri. "Jika ini tentang pemecatan saya tiga bulan lalu, saya sudah menandatangani perjanjian kerahasiaan. Saya tidak akan menuntut, dan saya tidak akan membocorkan rahasia perusahaan. Jadi, apa lagi yang Anda inginkan?"
Reyna menghela napas pelan. Ia membuka laci mejanya, mengambil sebuah map biru, dan menggeserkannya ke tepi meja.
"Buka itu," perintah Reyna.
Dengan ragu, Nadia melangkah maju dan membuka map tersebut. Matanya memindai halaman pertama, lalu matanya membelalak. Ia membalik halaman demi halaman dengan napas yang semakin memburu.
"Itu adalah surat pencabutan resmi dari kepolisian atas tuduhan penggelapan dana terhadapmu," jelas Reyna tenang. "Halaman kedua adalah surat permintaan maaf resmi dari Arland Group yang akan dipublikasikan di tiga surat kabar bisnis utama besok pagi, mengklarifikasi bahwa kesalahan ada pada sistem, bukan pada analis keuangan. Halaman ketiga adalah bukti transfer balik sebesar dua miliar rupiah ke rekeningmu sebagai kompensasi atas kerusakan reputasi dan tekanan mental yang kau alami."
Tangan Nadia gemetar hebat. Map itu hampir terlepas dari pegangannya. "Ini... ini tidak masuk akal. Kenapa? Richard Arland lebih baik membakar uang perusahaan daripada mengakui kesalahannya. Apa maumu? Apa yang harus saya lakukan sebagai gantinya?"
"Aku tidak membutuhkan budak, Nadia. Aku membutuhkan otakmu," Reyna menatap lurus ke mata gadis itu. "Tiga bulan lalu, kau menemukan anomali dalam laporan arus kas divisi konstruksi. Kau menemukan bahwa ada kebocoran dana sebesar empat puluh miliar yang dialirkan ke rekening fiktif di Kepulauan Cayman. Kau membawa data itu padaku."
Nadia terkesiap, mundur selangkah. "Kau... kau tahu?"
"Aku tahu sekarang," koreksi Reyna. "Di masa lalu, aku mengabaikannya. Aku membiarkan Julian memfitnahmu dan memecatmu karena aku terlalu sibuk menjadi putri bodoh yang penurut. Tapi hari ini, aku melihat datanya. Dan kau benar. Setiap angka yang kau catat dalam laporan rahasiamu itu akurat."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Nadia, namun ia menahannya dengan keras kepala. "Lalu? Sekarang kau sudah mengambil alih perusahaan. Kau sudah menangkap Julian. Apa lagi yang kau inginkan dariku?"
"Aku ingin kau memimpin Divisi Audit Internal yang baru," ucap Reyna. "Kau akan melapor langsung padaku. Tidak ada direksi, tidak ada komisaris, tidak ada ayahku yang bisa menyentuhmu. Tugasmu adalah membongkar setiap rekening tersembunyi, setiap aset fiktif, dan setiap celah korupsi yang masih tersisa di Arland Group. Gaji awalmu lima puluh juta per bulan, ditambah bonus tahunan berdasarkan seberapa banyak aset yang berhasil kau selamatkan."