Seorang pemuda bernama Devan dia adalah seorang kurir paket yang hidup sederhana, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah menemukan sebuah gelang giok misterius.
Sejak saat itu, keberuntungan mulai menghampirinya dan satu per satu wanita cantik memasuki kehidupannya.
Namun, siapa sebenarnya mereka dan mengapa semuanya terhubung dengan Devan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Not men, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 : Saat Takdir Memilihku
Setelah Devan, usai membersihkan diri, dirinya menuju singgasana nya, Devan duduk, dengan aura ke agungan yang melekat pada dirinya. Kini lengkap sudah dayangnya, yang seperti layak nya seorang bidadari, Devan di layani dengan telaten, Devan tak menyangka dirinya memiliki takdir seperti ini.
"Malea, apakah tugas ku hanya seperti ini?, jika tidak ada masalah lagi, aku akan kembali untuk sementara ke dunia ku", ucap Devan pada Malea.
"Untuk sementara ini, baginda tidak memiliki masalah apapun, namun tentu kita harus tetap waspada", jawab Malea.
"Baik lah, jika begitu, kita kembali ke dunia nyata", ucap Devan.
"Manjo, jagalah istana selama aku tak berada disini", sambung Devan.
"Dengan senang hati baginda!", jawab Manjo.
Singkat cerita Devan, serta Malea sudah berada di alam nyata. Terlihat toko nya begitu ramai dengan pembeli, Devan tersenyum, dia sangat bersyukur dia bisa membantu banyak orang di desa nya.
Devan pun lantas menghampiri Vivi, yang sedang sibuk melayani pembeli, bersama ibu dari Devan. "Bagaimana? Apakah kau betah bekerja disini, apa ada masalah selama bekerja?", tanya Devan, kepada Vivi.
"Tentu saja, semua karyawan disini sangat baik padaku, terutama ibu mu", jawab vivi.
"Baguslah, jika memang kau nyaman disini", sambung Devan. Devan pun, menunu ke arah pabrik nya, yang hanya bersebelahan dengan toko nya itu.
Melihat kedatangan Devan, tentu Yusa menyambutnya dengan senang hati. "Kemana aja, kau sekarang jarang sekali keliatan Van?", tanya Yusa.
"Ada, hanya sibuk dengan beberapa urusan saja", jawab Devan.
Kedua nya, saling mengobrol, hingga tak sadar salah satu manajer, pemasaran pabrik milik Devan, memperhatikan mereka sejak dari tadi. "Pak bos, sangat tampan, dia cocok ku jadikan suami", gumam Seorang wanita.
Dirinya terus memandangi, ke arah Devan yang sedang berbincang dengan Yusa. Tak sadar, seorang karyawan lain nya, menegur nya karena terus saja melamun, menatap ke arah Devan.
"Heii! Liatin terus pak bos, naksir yaa", ucap Seorang wanita yang baru saja datang, seraya menepuk pundak nya.
"Huhh! Ngagetin saja kamu nis, sembarangan kalo ngomong tuh, gimana kalo pak bos dengar", jawab nya.
"Hehehe, maaf bu Arin, habisnya sih, ibu ngelamun terus", jawab Nisa. Kepada wanita bernama Arin itu.
Arin adalah seorang manajer, yang bertugas membantu, memasarkan produk Milik Devan di pabrik nya.
Devan berkeliling, bersama Yusa, melihat keseluruhan proses produksi dari produk makanan milik nya. "Apa kita perlu memperluas, pabrik milik kita Yus?", tanya Devan meminta saran.
"Seperti nya begitu Van, produksi sudah semakin banyak, karena permintaan pasar begitu melonjak tinggi", jawab Yusa.
"Baiklah, tanah di belakang pabrik ini, sepertinya akan di jual, tanah milik pak rw, dan itu cukup luas untuk memperluas pabrik ini", jawab Devan.
"Baiklah, aku akan coba menanyakan nya, kepada pak rw", sambung Yusa.
Singkat cerita, Devan sudah berada di kamar nya. Bersama Malea serta Ayumi, sementara, yang lain nya berada di alam moana "Apa saran mu? Jika aku membuka kembali tempat usaha di desa ini?", tanya Devan kepada Malea.
"Itu bagus baginda, karena akan membantu banyak, perekonomian warga desa", jawab Malea.
"Benar itu baginda, terlebih di desa ini banyak sekali, pemuda yang tak memiliki pekerjaan bukan", sambung Ayumi.
"Yaa kalian benar, mungkin aku akan membangun lagi sebuah pabrik, yang cukup besar", timpal Devan.
Setelah perbincangan yang cukup lama, Devan lekas membersihkan diri. seperti biasa dirinya di temani, oleh Malea begitupun Ayumi.
Sementara, terlihat seorang wanita tua, seperti sedang mengawasi, ke area pabrik milik Devan. Dirinya memakai penutup kepala serta kacamata hitam, di dalam sebuah mobil, dirinya terus saja memantau aktivitas yang ada disana. "Ternyata pemuda itu, yang di maksud, hebat sekali dia, hanya beberapa waktu, dirinya mampu menguasai seluruh pasar di kota ini", gumam wanita itu, Dirinya Lantas kembali, menutup jendela kaca mobil nya, lalu kembali memacu mobil nya perlahan, dan pergi menjauh dari sana.
Terlihat Devan, sedang duduk santai di balkon, kamar nya seraya menyesap sebatang rokok, di temani segelas kopi di sisinya.
Ssseeep! Wussssh!
"Aku akan membuat desa ini, lebih maju dan berkembang lagi", gumam Devan.
Dirinya menyapu pandangan nya, keseluruh penjuru desa dari atas balkon, desa yang cukup luas. Kini rumah nya, adalah rumah yang paling besar disana, yang sebelum nya, rumah pakde Leman lah yang paling besar, dan membuat pakde Leman menjadi sombong, karena harta milik nya.
Singkat waktu, Devan sudah membeli tanah milik pak rw, sehingga dirinya sudah memulai pembangunan. "Seperti nya ini sudah cukup, karena aku akan membangun satu pabrik lagi, dengan produksi yang berbeda", ucap Devan kepada Yusa.
"Wihh, keren kamu sekarang Van, bangun pabrik tinggal bangun, hebat lah!?", jawab Yusa seraya memberikan jempol nya.
"Ahh biasa aja Yus, lagian niat ku biar lapangan pekerjaan semakin banyak di desa ini", jawab Devan.
"Benar sekali, niat mu memang sangat baik Van", sambung Yusa.
Pembangunan dan perluasan pabrik berjalan bersamaan, dengan bantuan kawan Devan dari pihak kontraktor, yang sudah Devan percayai.
Mendengar Devan, yang akan membangun kembali pabrik, pakde Leman serta bukde Arni, semakin meradang karena iri. "Sial anak itu, dari mana dia mendapatkan banyak sekali uang", gerutu Pakde Leman.
"Tapi kita tak bisa berbuat, apa-apa lagi dengan nya pak, kau tau sendiri, selalu saja ada hal aneh jika kita mencoba mencelakai nya", sambung Bukde Arni.
Kini Devan di mata penduduk desa, menjadi seorang juragan yang baik hati, membuat nya semakin di segani oleh semua orang. Begitu cepat nya waktu berlalu, kini Devan sudah meresmikan pabrik baru nya, dan pabrik lama nya pun semakin besar, karyawan Devan semakin banyak, terlebih pemuda desa kini hampir semua nya bekerja dengan Devan. Dan bahkan, kini Devan membangun gedung kantor nya, agar dia bisa memperluas bisnis nya, di bidang produksi makanan.
"Kau semakin sukses Van, kau memang hebat!", ucap Yusa.
"Ini semua hanya titipan Yus, harus kita gunakan sebaik mungkin, dan bermanfaat bagi semua orang", jawab Devan.
Yusa semakin kagum, dengan sahabat nya itu, Devan tak pernah berubah, walaupun kini dirinya sudah kaya raya, dan bahkan tanpa di ketahui banyak orang, Devan memiliki satu gunung emas, di kerajaan nya di alam moana.
"Baginda semakin hebat, semakin banyak orang yang akan menghormati mi, karena kebaikan mu baginda raja!", bisik Malea.
Devan hanya tersenyum mendengar itu, karena tak mungkin dia, menjawab nya saat Yusa masih ada di samping nya.
Namun tentu, semakin tinggi pohon, akan semakin kencang angin yang menerpa nya.