Vania hanya ingin hidup tenang. Sayangnya, ia malah terbangun di tubuh antagonis "Sinetron tahun 90an" yang ditakdirkan mati tragis di episode final. Demi selamat, ia menghindari Male Lead dan menjauh dari Kevin, sang Villain bermasalah.
Namun saat Kevin mulai merusak plot, Vania panik. Satu-satunya cara menghentikan kekacauan? Melamar pria itu!
"Daripada merebut kekasih orang lain, nikahi saya saja."
Masalahnya, Vania lupa Kevin bukan Villain biasa. Dia pria posesif yang rela membakar dunia demi istrinya. Alih-alih tenang, Vania malah terjebak drama keluarga sultan dan suami yang bucin brutal. Bagaimana caranya hidup damai, kalau suaminya adalah sumber kekacauan terbesar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMUAN PERTAMA (VERSI ANTI-DRAMA)
Angin misterius di dalam kamar itu masih berhembus kencang, mengibarkan ujung jas hitam Kevin dengan dramatis. Pria itu berdiri di ambang pintu, posturnya tegak sempurna, memancarkan aura intimidasi yang biasanya hanya dimiliki oleh penjahat kelas kakap di film-film aksi. Tatapannya tajam, menusuk, dan siap melancarkan serangan verbal.
"Vania, dengar baik-baik," suara Kevin menggelegar, mengalahkan suara dengungan angin indoor yang tidak logis itu. "Aku tahu kau sedang merencanakan sesuatu. Aku tahu kau tidak akan tinggal diam melihat Larasati dan Raka bersama. Jika kau berani menyentuh satu helai rambut gadis itu, atau mencoba melakukan sabotase konyolmu lagi, aku bersumpah akan menghancurkan—"
"Saya setuju dengan Anda."
Kalimat itu keluar dari mulut Vania dengan datar, memotong pidato ancaman Kevin tepat di tengah jalan.
Hening.
Angin di dalam kamar seolah ikut terkejut dan berhenti berhembus sejenak, sebelum kembali bertiup pelan. Kevin yang tadi sudah membusungkan dada dan menyiapkan gestur tangan yang dramatis, kini terdiam. Mulutnya sedikit terbuka, lalu menutup kembali. Otaknya yang terbiasa memproses skema bisnis bernilai triliunan rupiah dan rencana balas dendam yang rumit, tiba-tiba mengalami error. Lag. Blue screen of death.
Vania menatap pria di depannya, dan untuk pertama kalinya sejak terbangun di tubuh ini, ia benar-benar memperhatikan fisik Kevin secara detail.
Dan Tuhan, pria ini sangat, sangat ganteng.
Tingginya setidaknya seratus delapan puluh lima sentimeter, bahunya lebar dan kekar, membuat jas hitam bespoke yang ia kenakan terlihat seperti dipahat langsung di atas tubuhnya. Wajahnya tajam dan maskulin, dengan rahang yang tegas dan stubble—bulu-bulu halus di rahang yang memberinya kesan sedikit liar dan berbahaya. Rambutnya hitam pekat, ditata rapi ke belakang dengan gaya klasik pria kaya tahun 90-an, tidak ada satu helai pun yang berani bergerak melawan gravitasi.
Pemandangan ini sangat familiar bagi Vania. Di kehidupan masa lalunya, saat terjebak di kereta commuter line yang padat dan pengap, ia sering menghabiskan waktu dengan membaca novel-novel dark romance di ponselnya. Jenis pria yang berdiri di depannya sekarang persis seperti male lead di cerita-cerita fiksi tersebut: CEO kejam, mafia berdarah dingin, atau duke yang posesif. Pria dengan stubble, rahang tajam, dan tatapan yang bisa membuat lutut wanita di novel itu lemas.
Di dalam novel, pria seperti ini adalah fantasi. Di dunia nyata, pria seperti ini adalah red flag berjalan dengan ukuran bendera raksasa.
Stubble berarti dia tidak mencukur dirinya karena terlalu sibuk merencanakan pembunuhan. Rahang tajam berarti dia sering mengertakkan gigi saat marah. Dan tatapan tajam itu? Itu adalah tatapan pria yang akan mengurungmu di menara gading dan melarangmu berbicara dengan kasir minimarket.
Vania menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang, tapi bukan karena terpesona. Itu adalah insting bertahan hidup yang berteriak keras di kepalanya. Pria ini adalah monster. Dan monster tidak boleh didekati. Aturan nomor tiga: JAUHI KEVIN.
Kevin akhirnya memproses kata-kata Vania. Alisnya yang tebal berkerut, membentuk huruf V yang dalam. "Apa... apa yang kau katakan?"
"Saya bilang, saya setuju," ulang Vania, suaranya tetap tenang meskipun lututnya sedikit gemetar di balik gaun tidurnya. "Larasati dan Raka sangat cocok. Mereka adalah pasangan yang sempurna. Saya mundur total. Tidak ada rebutan pasangan, tidak ada sabotase, tidak ada drama cinta segitiga. Silakan lanjutkan hidup Anda, Tuan Kevin. Saya tidak akan mengganggu mereka."
Kevin menatapnya. Matanya yang gelap menyipit, mencari-cari kebohongan, mencari-cari jebakan, mencari-cari racun yang mungkin sudah Vania campurkan ke dalam kopinya pagi ini. Otaknya bekerja keras untuk menerjemahkan kalimat sederhana itu ke dalam bahasa intrik keluarga konglomerat yang biasa ia pahami.
Apakah ini jebakan tingkat tinggi? pikir Kevin. Apakah dia mencoba membuatku lengah? Apakah dia sudah menyewa pembunuh bayaran dari luar negeri sementara dia berpura-pura baik? Atau apakah ini trik psikologis agar aku merasa bersalah?
Vania hanya menatapnya balik dengan ekspresi deadpan. Di dalam hati, ia berdoa dengan sangat khusyuk. Tolong, Tuhan. Tolong aturan nomor tiga ini berhasil. Tolong dia hanya mengangguk, berbalik, dan pergi. Aku tidak butuh drama. Aku hanya ingin makan nasi padang dan tidur nyenyak.
"Kau... mundur?" tanya Kevin pelan, suaranya terdengar curiga.
"Total," jawab Vania tegas. "Saya akan fokus mengurus hidup saya sendiri. Anda dan Larasati tidak perlu khawatir tentang saya lagi."
Kevin tidak bergerak. Dia menatap Vania dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah sedang memindai barcode untuk mencari harga tersembunyi. Hening yang canggung menyelimuti kamar mewah itu, hanya diisi oleh suara detak jam dinding antik di sudut ruangan yang terdengar seperti palu hakim.
Vania menahan napasnya. Dia tahu persis bagaimana adegan ini seharusnya berjalan menurut naskah sinetron. Seharusnya, Kevin akan tertawa meremehkan, mengancamnya sekali lagi, lalu pergi dengan langkah gagah. Itu adalah alur normal. Itu adalah alur yang aman.
Tapi Kevin tidak melakukan itu.
Pria itu justru melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Jarak di antara mereka menyusut dengan cepat, hingga Vania bisa mencium aroma cologne mahal yang bercampur dengan bau tembakau dan bahaya. Kevin berhenti tepat di depannya. Jarak mereka kini hanya selebar satu jengkal. Vania harus mendongak untuk menatap mata pria itu, dan ia bisa melihat pantulan wajah paniknya sendiri di pupil hitam Kevin.
Kevin menunduk, menatap lurus ke dalam mata Vania. Tatapannya tidak lagi sekadar tajam, tapi ada sesuatu yang lain di sana. Sesuatu yang gelap, posesif, dan sangat mengintimidasi. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman tipis yang sama sekali tidak mencapai matanya. Senyuman seorang predator yang baru saja menemukan mangsa yang menarik.
"Kau sedang bermain permainan baru, Vania?" bisik Kevin, suaranya rendah dan serak, bergetar tepat di dekat telinga Vania. "Menarik."
BERSAMBUNG...