"Apa?! Kak Rania kabur?!"
Surat di tangan Gladis bergetar hebat. Matanya membelalak tak percaya saat membaca tulisan tangan kakaknya untuk ketiga kalinya.
Maaf, Ayah, Ibu. Aku tidak bisa menikah dengan pria yang bahkan tidak aku cintai. Aku memilih hidupku sendiri. Jangan mencariku.
Tubuh Gladis mendadak lemas.
Malam itu seharusnya menjadi malam terakhir persiapan pernikahan kakaknya dengan seorang CEO ternama. Semua undangan telah disebar. Hotel mewah telah dipesan. Para relasi bisnis penting dijadwalkan hadir.
Namun sang calon pengantin justru menghilang.
"Ayah... bagaimana ini?" suara Gladis bergetar.
Di ruang keluarga yang megah namun terasa mencekam, wajah kedua orang tuanya tampak pucat.
Ayahnya terduduk lemah sambil memegangi dada.
"Kita tidak boleh membatalkan pernikahan ini."
"Tapi Kak Rania sudah pergi!"
"Kau tidak mengerti, Gladis!" bentak ibunya tiba-tiba.
Gadis itu terdiam.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat ketakutan pada orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moon28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan sahabat absurd
Pagi itu bahkan matahari belum sepenuhnya tinggi ketika dapur rumah keluarga Wijaya sudah dipenuhi aroma mentega dan vanila.
Gladis mengenakan celemek berwarna krem di atas gamis rumahnya.
Rambut yang tertutup hijab sederhana membuat penampilannya terlihat begitu rapi meski sejak subuh ia sudah sibuk.
Di atas meja dapur berjajar berbagai makanan.
Brownies cokelat.
Risoles mayo.
Puding buah.
Kue sus.
Serta beberapa camilan lainnya.
Bibik yang membantu di dapur sampai geleng-geleng kepala.
"Ya ampun, Nyonya."
Gladis tertawa kecil.
"Kenapa, Bik?"
"Ini sahabat mau datang atau satu RT?"
Gladis terkekeh.
"Salsa makannya banyak."
Bibik langsung tertawa.
"Oh begitu."
"Kalau Roy?"
"Hm..."
Gladis berpikir.
"Roy sih normal."
Bibik mengangguk.
"Kalau begitu memang yang harus diwaspadai si Mbak Salsa."
Gladis sampai tertawa lebih keras.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki kecil.
Tap.
Tap.
Tap.
"Bundaaa..."
Gladis menoleh.
Rian datang sambil menyeret boneka dinosaurus kesayangannya.
Rambut bocah itu masih sedikit berantakan.
Jelas baru bangun tidur.
"Selamat pagi, Sayang."
"Pagi."
Rian langsung naik ke kursi dapur.
Matanya membulat melihat aneka makanan.
"Waaaaah."
Gladis tersenyum.
"Suka?"
"Banyak sekali."
Rian menunjuk brownies.
"Bunda buat ini?"
"Iya."
"Boleh aku makan?"
"Tentu saja."
Belum sempat Gladis mengambilkan.
Rian tiba-tiba teringat sesuatu.
Wajahnya langsung berubah sedih.
"Tapi..."
"Hm?"
"Papa bilang aku tidak boleh makan terlalu banyak manis."
Gladis tertawa kecil.
"Memang."
"Kan?"
Rian menghela napas panjang seperti kakek-kakek usia tujuh puluh tahun.
Membuat Bibik sampai menahan tawa.
Saat itulah suara berat terdengar dari belakang.
"Kali ini boleh."
Semua menoleh.
Arsen baru saja masuk ke dapur.
Masih mengenakan kaus polo hitam dan celana santai.
Penampilannya jauh lebih santai dibanding hari kerja.
Rian langsung bersorak.
"YEAAY!"
Arsen mengangkat satu alis.
"Tapi sedikit."
"Wah."
Rian langsung memeluk kaki ayahnya.
"Papa baik."
Arsen menatap datar.
"Baru sekarang?"
"Iya."
"Kurang ajar."
Rian langsung tertawa.
Gladis sampai ikut tersenyum melihat interaksi ayah dan anak itu.
Arsen kemudian melirik meja dapur.
Tatapannya berhenti cukup lama.
"Kamu buka toko kue?"
Gladis langsung malu.
"Bukan."
"Lalu?"
"Salsa sama Roy mau datang."
"Hm."
Arsen mengambil secangkir kopi yang sudah disiapkan Bibik.
Kemudian duduk di kursi dapur.
"Ehem."
Gladis menoleh.
"Iya?"
"Sahabatmu datang hari ini?"
"Iya."
Arsen mengangguk.
"Hm."
Gladis mengerjap.
"Mas mau ke kantor?"
"Tidak."
"Hah?"
Arsen menatapnya.
"Hari ini akhir pekan."
"Iya."
"Aku libur."
Gladis sampai berkedip beberapa kali.
Libur?
Arsen?
Pria yang bahkan pernah rapat saat hari Minggu?
Pria yang hampir selalu membawa tablet kerja ke mana-mana?
Aneh sekali.
"Hmm..."
Gladis menyipitkan mata.
"Apa?"
"Tumben."
"Apa yang tumben?"
"Biasanya tukang kerja ini jarang libur."
Bibik langsung menunduk menahan tawa.
Sedangkan Rian menatap ayahnya.
"Papa memang tukang kerja."
Arsen menoleh.
"Kalian kompak sekali."
Rian tertawa.
Gladis buru-buru pura-pura sibuk menghias kue.
Meski diam-diam sudut bibirnya terangkat.
Sekitar pukul sepuluh pagi.
Bel rumah akhirnya berbunyi.
Ting tong.
Rian langsung melompat dari sofa.
"Aku buka!"
"Pelan-pelan."
Teriak Gladis dari ruang keluarga.
Namun bocah itu sudah berlari duluan.
Begitu pintu terbuka.
Terdengar suara yang sangat familiar.
"HALOOOOO!"
Salsa.
Dan tentu saja...
Dengan volume suara yang cukup untuk membangunkan satu kompleks perumahan.
Rian sampai mundur satu langkah.
"Ya Allah."
Bisiknya.
Salsa langsung jongkok.
"Kamu Rian ya?"
"Iya."
"Lucu banget!"
Sebelum bocah itu sempat kabur.
Salsa sudah mencubit pipinya pelan.
"Aduh."
Roy yang berdiri di belakang langsung menggeleng.
"Kamu jangan bikin anak orang takut."
"Aku ramah."
"Kamu menyeramkan."
"Aku ramah."
"Menyeramkan."
"Ramah."
"Menyeramkan."
"Ramah."
"Menyeramkan."
Rian menatap keduanya.
Lalu berbisik pelan.
"Mereka aneh."
Gladis yang baru datang langsung tertawa.
"Rian."
"Bener."
Roy langsung menunjuk dirinya.
"Aku normal."
Salsa melotot.
"Kamu tidak."
"Kamu lebih tidak."
Mereka belum masuk rumah saja sudah ribut.
Membuat Gladis menggeleng pasrah.
"Masuk dulu."
"Siap."
Jawab Roy.
Namun begitu melangkah ke dalam...
Roy dan Salsa langsung membeku.
Benar-benar membeku.
Mata mereka bergerak ke kanan.
Lalu ke kiri.
Lalu ke atas.
Kemudian kembali ke depan.
Salsa menelan ludah.
"Dis."
"Hm?"
"Ini rumah?"
"Iya."
"Bukan istana?"
Gladis menahan tawa.
"Rumah."
Roy ikut mengangguk pelan.
"Kalau ini rumah..."
"..."
"...berarti rumahku kontrakan."
Gladis tertawa.
Salsa bahkan sudah memegang dadanya.
"Ya Allah."
"Ada apa lagi?"
"Ruang tamunya lebih besar dari lapangan bulutangkis dekat rumahku."
"Itu berlebihan."
"Tidak."
"Berlebihan."
"Tidak."
Roy menunjuk lampu kristal besar di atas.
"Itu harga satu mobil."
Gladis langsung memijat pelipis.
Benar-benar memalukan.
Namun yang lebih memalukan lagi terjadi beberapa detik kemudian.
Salsa melihat tangga besar melingkar di tengah rumah.
"ASTAGHFIRULLAH."
"Apa lagi?"
"Aku mau foto."
"Tidak."
"Aku mau."
"Tidak."
"Aku cuma satu."
"Tidak."
Salsa langsung cemberut.
Saat itulah suara langkah kaki terdengar dari arah ruang kerja.
Roy dan Salsa spontan menoleh.
Kemudian...
Mereka langsung tegak seperti siswa yang dipanggil kepala sekolah.
Arsen berjalan keluar dengan santai.
Namun entah kenapa auranya tetap membuat orang segan.
Roy yang biasanya santai langsung gugup.
"Se-selamat pagi Pak."
Arsen mengangguk.
"Pagi."
Salsa ikut membungkuk.
"Pagi Pak."
"Pagi."
Hening.
Lima detik.
Sepuluh detik.
Lima belas detik.
Tidak ada yang bicara.
Karena Roy dan Salsa mendadak kehilangan kemampuan sosial.
Sampai akhirnya Gladis menyelamatkan keadaan.
"Duduk saja."
"Oh iya."
"Benar."
Mereka langsung duduk.
Rian yang melihat semuanya malah heran.
"Kenapa Om Roy kaku?"
Roy tersedak.
Sedangkan Salsa langsung tertawa keras.
"Karena dia takut."
"Aku tidak takut."
"Kamu takut."
"Tidak."
"Kamu tadi hampir hormat."
"Itu sopan."
"Itu takut."
Arsen yang mendengar percakapan itu diam-diam terlihat menahan senyum.
Sementara Gladis semakin pusing.
Tak lama kemudian makanan mulai disajikan.
Dan benar saja.
Perkiraan Bibik terbukti.
Salsa memang datang untuk makan.
"Ya Allah."
Gadis itu memegang brownies.
"Ini enak banget."
Gladis tersenyum.
"Ambil saja."
"Jangan bilang begitu."
"Lho?"
"Aku bisa menghabiskan semuanya."
Roy langsung mengangguk.
"Itu benar."
"Aku tersinggung."
"Tapi benar."
"Aku tersinggung."
"Tapi benar."
"Aku tersinggung."
"Tapi benar."
Salsa akhirnya melempar bantal kecil ke arah Roy.
Membuat semua orang tertawa.
Bahkan Raka dan Raina yang sejak tadi mengamati dari kejauhan mulai terlihat lebih santai.
Mereka diam-diam memperhatikan sahabat-sahabat Gladis.
Dan untuk pertama kalinya...
Mereka melihat sisi lain wanita itu.
Gladis yang ceria.
Gladis yang tertawa tanpa beban.
Gladis yang bisa bercanda seperti gadis seusianya.
Bukan hanya sosok dewasa yang setiap hari mengurus mereka.
Di sisi lain.
Arsen juga memperhatikan hal yang sama.
Sejak mengenal Gladis.
Ia lebih sering melihat wanita itu mengurus rumah.
Mengurus anak-anak.
Mengurus kuliah.
Mengurus semua orang.
Namun hari ini...
Ia melihat Gladis sebagai mahasiswa biasa.
Gadis dua puluh tahun yang tertawa bersama sahabat-sahabatnya.
Dan entah kenapa...
Pemandangan itu terasa menyenangkan.
Sangat menyenangkan.
Sementara Salsa yang sedang menikmati kue tiba-tiba berbisik pada Roy.
"Roy."
"Hm?"
"Aku baru sadar sesuatu."
"Apa?"
"Gladis cocok tinggal di sini."
Roy terdiam.
Lalu menatap Gladis yang sedang tertawa bersama Rian.
Kemudian menatap Arsen yang sesekali memperhatikan ke arah mereka.
Dan untuk pertama kalinya...
Pria itu tersenyum kecil.
"Iya."
Jawabnya pelan.
"Cocok."
Karena meskipun hidup Gladis berubah drastis...
Meskipun jalannya tidak pernah direncanakan...
Nyatanya gadis itu perlahan menemukan tempatnya.
Di rumah besar itu.
Di keluarga baru itu.
Dan mungkin...
Di hati orang-orang yang tinggal di dalamnya.