NovelToon NovelToon
Ibu Susuan Sang Mafia

Ibu Susuan Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Suhada Bintan

Di hari kematian putrinya, Arini justru dituduh lalai oleh Bagas dan keluarga mertuanya yang toxic. Sebagai "penebus dosa", ia dipaksa bekerja keras dan dijadikan mesin pencari uang oleh mereka.

Takdir berubah saat Arini bertemu Dikta, seorang mafia kejam yang rela membayar mahal demi mendapatkan ASI eksklusif untuk putra semata wayangnya. Arini pun masuk ke dalam kehidupan Dikta sebagai ibu susuan.

Akankah Arini mampu bertahan di bawah tekanan keluarga Bagas yang terus memanfaatkannya? Dan bagaimana reaksi Dikta—sang mafia berdarah dingin—saat mengetahui wanita yang merawat putranya ternyata sedang dihancurkan oleh suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suhada Bintan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Sejak Dikta mengizinkannya aku keluar ke area balkon, suasana di dalam penthouse mewah itu perlahan mulai berubah. Kabar mengenai kebebasan Bagas menjadi obat penawar yang luar biasa bagi batin ku. Beban berat yang selama ini menggantung pada pundak ini perlahan lepas, memberi sedikit kebebasan yang selama ini mengurungku. Senyuman yang dulu tertahan karena aturan yang ketat, kini terpancar dari wajahku setiap harinya.

Sore itu, bias cahaya keemasan matahari terbenam masuk menembus dinding kaca ruang tengah. Aku sedang duduk di sofa, memangku Arkan yang sedang dalam fase aktif setelah menyusu. Bayi mungil itu sadar lebih lama, tangan-tangan kecilnya sesekali meraih ujung jilbabku.

"Pintar sekali anak tampan ini, hmm? Nanti kalau sudah besar, harus jadi anak yang berbakti pada Papa, ya," bisikku lembut, menyentuh hidung gembul Arkan yang langsung disambut tawa tak bersuara dari sang bayi.

Tanpa disadari, pintu lift privat terbuka tanpa suara. Dikta melangkah masuk. Jas kerjanya sudah tergantung di lengan kiri, sementara dasinya sudah sedikit dilonggarkan, menampilkan kesan kasual yang jarang ia perlihatkan. Langkah kakinya terhenti tepat beberapa meter di belakang sofa.

Pria yang biasanya berwajah dingin dan kaku itu terpaku. Pemandangan di hadapannya—kehangatan antara Arini dan putranya—seketika merontokkan seluruh rasa lelah setelah seharian bertempur di ruang rapat. Untuk pertama kalinya, ada seulas senyum tipis, terukir di bibir Dikta.

Oweee...

Arkan tiba-tiba menggeliat dan mulai merengek pelan, tampaknya bayi itu merasa bosan karena berbaring di pangkuan.

"Eh, anak Papa sudah bangun rupanya," suara bariton Dikta yang tiba-tiba terdengar membuat aku terkejut mendengar suara khas itu.

Aku bergegas berdiri sambil mendekap Arkan, lalu menunduk hormat. "Pak Dikta. Maaf, saya tidak mendengar Anda masuk."

"Tidak apa-apa," jawab Dikta datar, namun sorot matanya melembut. Ia berjalan mendekat, meletakkan jasnya di sandaran sofa, lalu mengulurkan kedua tangannya ke arah Arkan. "Sini, biar aku yang gendong."

Melihat papanya, Arkan langsung merentangkan tangan kecilnya, seolah tahu bahwa pria bertubuh tegap inilah pelindung utamanya. Dikta mengambil alih Arkan dengan gerakan yang kini jauh lebih luwes dibanding beberapa minggu lalu. Pria itu menimang putranya dengan penuh kasih sayang, membuat rengekan Arkan berganti menjadi celotehan riang.

Menatap hubungan mereka, ada sebuah kehangatan yang aku rasakan di dadanya ini. Di balik sikap diktator dan tegasnya, Dikta adalah seorang ayah yang luar biasa.

"Apa Asimu lancar?" tanya Dikta tiba-tiba, matanya tetap tertuju pada Arkan yang sedang memainkan jari telunjuknya.

Wajahku seketika merona merah mendengar pertanyaan itu. "A-alhamdulillah lancar, Pak. Dokter Gunawan juga bilang berat badan Arkan naik bulan ini."

Dikta mengangguk puas. Ia lalu mengalihkan pandangannya, menatap dalam manik mataku. "Itu karena pikiranmu sudah tenang. Aku lihat kau juga sudah mulai sering tersenyum."

Aku menunduk, meremas pelan ujung jilbabku, "Ini semua berkat kebaikan Pak Dikta. Terima kasih karena sudah membantu... membantu membebaskan Mas Bagas. Saya benar-benar berutang budi pada Anda."

"Aku melakukannya demi Arkan. Selama kau menjalankan tugasmu dengan baik di sini, aku akan memfasilitasimu tanpa kurang sedikitpun," ujar Dikta, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.

"Saya berjanji akan merawat Arkan dengan seluruh jiwa saya, Pak," ujarku dengan penuh semangat.

Tiba-tiba saja, Arkan mengeliat, tubuh kecilnya menegang lalu... preeet. Suara khas dari popoknya terdengar jelas di keheningan ruangan. Tak lama kemudian, aroma khas dari bayi itu, keluar. Dan itu jelas membuat Dikta terpaku. Ia menatap putranya dengan tidak percaya. Sementara aku langsung menutup mulut, menahan tawa yang hampir meledak melihat ekspresi bingung sang emperor bisnis yang mendadak mati kutu hanya karena urusan popok bayi.

"Dia... dia buang air besar?" tanya Dikta dengan nada kaku, seolah sedang menghadapi krisis saham terbesar.

"Sepertinya begitu, Pak," jawabku, bahu ini bergetar menahan tawa. "Maaf, Pak. Biar saya bersihkan dulu," pintaku.

"Tidak perlu. Tunjukkan padaku bagaimana cara menggantinya," potong Dikta cepat. "Aku tidak mau menjadi ayah yang tidak tahu apa-apa tentang bayinya sendiri."

Aku tertegun mendengarnya. "Baik, Pak."

Di dalam kamar bayi, momen kedekatan kami perlahan mulai terlihat. Dikta dengan canggung meletakkan Arkan di atas changing table, sementara aku dengan sabar memberikan instruksi di sampingnya. Beberapa kali tangan kami tidak sengaja bersentuhan saat aku mengarahkan cara mengusap tisu basah atau memasang perekat popok yang benar. Setiap sentuhan fisik yang tidak disengaja itu mengirimkan sengatan aneh yang membuat jantungku berdegup dua kali lebih cepat.

"Bukan begitu, Pak. Sedikit lebih longgar di bagian paha agar Arkan tidak kesakitan," ucapku lembut, menuntun jemari besar Dikta dengan tanganku dari jarak yang begitu dekat.

Dikta terdiam, menatap tangan Arini yang menuntun agar bisa paham dalam hal itu. Jarak kami begitu dekat hingga ia bisa mencium aroma minyak telon bercampur wangi khas tubuh Arini yang menenangkan. Dikta menelan ludah, pandangannya perlahan naik menatap wajah Arini dari samping. Ada ketulusan dan kelembutan murni terpancar dari wanita di hadapannya ini—sesuatu yang belum pernah ia temukan pada wanita mana pun.

"Sudah selesai," ujarku riang, tanpa aku sadari, posisiku mendongak dan langsung terpaku karena menyadari wajah Dikta sangat dekat dengan wajahku. Mata hitam legam pria itu mengunci seluruh kesadaranku. Suasana ikut larut sejenak, hingga aku tersadar dan langsung bergegas memperbaiki posisi.

"Maaf." Aku memutar tubuh, dan langsung berpura-pura melakukan kegiatan lain. Jantungku berdetak kencang.

Dikta tak berbicara sepatah kata. Ia tahu, saat ini Arini pasti salah tingkah. Wanita itu terlihat merah merona ketika diperlakukan olehnya seperti itu. "Jangan berpikir aneh tentangku. Aku tidak tertarik dengan istri orang," ujarnya, lalu menyerahkan Arkan padaku.

Dikta melangkah tegap, tapi sedikit terburu-buru. Bahkan jas miliknya, ia tinggalkan begitu saja. Aku menyentuh dada, lalu duduk diujung ranjang.

"Neng Arin, waktunya makan malam," seru Bi Ina dari kejauhan, membuyar lamunanku yang memikirkan Dikta.

"Letak di meja saja, Bi. Saya ingin membersihkan Arkan dulu. Tadi dia baru saja buang air besar lagi," pintaku.

"Udah. Neng makan saja dulu. Biar Bibi lanjutkan," ujarnya sambil mengambil alih pekerjaan yang Dikta tidak sempat menyelesaikannya.

Setelah mencuci tangan, aku menikmati hidangan yang Bi Ina bawa tadi. Nasi goreng permintaanku ternyata begitu nikmat setelah sekian lama tidak aku nikmati. "Nasi goreng buatan Bibi enak banget," pujiku disela mengunyah.

"Neng, bicaranya jangan kuat-kuat. Jika Pak Dikta dengar, nanti saya kena tegur. Pak Dikta melarang keras makanan itu. Katanya tak ada gizi sama sekali," pintanya langsung berjalan duduk menghadapku.

"Jadi begitu? Baiklah, Bi. Saya tidak akan melewati masa emas ini." Aku mengunyah cepat, hingga tersedak, "Bi, saya ke dapur bentar. Titip Arkan," ucapku berlari, tanpa kusadari Dikta yang kebetulan sedang berjalan, spontan menabrakku hingga tubuh ini hilang keseimbangan.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya Dikta disela tangannya menarik ku agar tidak terhempas ke lantai.

"Maaf, tadi saya buru-buru." Aku menarik pelan dari genggamannya, lalu melangkah pergi ke dapur. Seolah sedang tidak terjadi apa-apa.

"Tunggu!" Dikta menahanku, "Duduklah di situ, biarkan aku ambilkan minum untukmu."

Ia meletakkan laporan di meja, lalu berjalan cepat kearah dapur. Aku menatap punggungnya yang mulai hilang dari pandangan. Sikapnya benar-benar berubah. Ketika aku asyik berdialog pada batinku, Dikta menyerahkan segelas air padaku dengan sedikit senyum yang seperti dipaksakan, "Jangan berlari di ruangan ini. Jika kau jatuh, bisa berbahaya. Apalagi, kau itu masih dalam pemulihan usai melahirkan," ucapnya mengingatkan.

"Iya Pak, saya tidak akan menggulangi lagi."

"Apa Bibi sudah memberimu makan malam?" tanya Dikta, sontak membuatku tersedak karet mengingat nasi itu belum sempat aku habiskan.

"Sudah Pak."

"Apa menunya? Aku sudah memintanya untuk mengurangi makanan yang berminyak. Kau itu harus makan yang sehat dan bergizi."

Aku menekuk leher dengan dalam. Jika Dikta tahu aku baru saja menikmati nasi goreng kampung, sudah pasti Bibi dimarahi habis-habisan. Saat aku dihantui kepanikan, suara Arkan menangis terdengar jelas dari luar. Bayi itu menangis begitu kencang karena sudah mengantuk. Aku meninggalkan Dikta tanpa berkata. Ternyata dalam diam, ia mengikuti dari belakang. Pria itu tak sengaja melihat piringku yang masih tersisa makanan. .

"Bibi, apa ini?" Dikta menatap tajam, seolah ingin menelan mentah-mentah wanita paruh baya di hadapannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!