Rara, seorang gadis yang gemar membaca kisah pria tampan, tiba-tiba terbangun di dalam novel yang baru saja dibacanya. Namun, bukan sebagai pemeran utama yang baik hati, ia justru menjadi Zelara Sabiru, istri arogan, sombong, dan kejam dari seorang bos mafia bernama Bashkar Deluca. Dalam cerita asli, Zelara selalu membenci Bashkar dan ikut keluarganya menuduh sang suami sebagai dalang di balik kematian kedua orang tuanya. Bahkan, Zelara berakhir dengan nasib tragis. Namun Rara mengetahui satu rahasia yang tidak diketahui siapa pun Bashkar tidak pernah membunuh orang tuanya. Semua tuduhan itu hanyalah fitnah. Berbekal pengetahuan tentang alur cerita, Rara memutuskan mengubah takdir Zelara. Ia meninggalkan sifat buruk sang istri, memilih untuk bertaubat, dan mulai membela Bashkar yang selama ini hidup dalam kesepian serta penuh kecurigaan. Tetapi semakin Rara berusaha mengubah akhir cerita, semakin banyak rahasia keluarga Deluca yang terbongkar. Dan yang paling membuatnya bingung… Mengapa sang mafia dingin yang seharusnya membencinya justru mulai melindunginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
"Selanjutnya, item nomor tujuh belas!" suara auctioneer bergema memecah keheningan ballroom melalui pengeras suara. "Sebuah patung kayu ukiran tangan berbentuk burung elang abad ke-19 dari Eropa Timur, dengan hiasan mata batu perak murni. Kita buka penawaran awal di angka lima ratus juta rupiah!"
Beberapa kolektor di area tengah mulai mengangkat papan penawaran mereka.
"Enam ratus juta!"
"Tujuh ratus juta!"
Bashkar memajukan duduknya sedikit. Jemarinya yang panjang bergerak perlahan, bersiap meraih papan nomor penawarannya yang tergeletak di atas meja VVIP.
Melihat gerakan tangan suaminya, jantung Zela rasanya mau melompat keluar dari dadanya. Panik luar biasa menguasai dirinya. Tanpa memikirkan etika atau pandangan orang-orang berkuasa di sekitar mereka, Zela memiringkan tubuhnya dan memegang erat pergelangan tangan Bashkar, menahannya agar tidak memegang papan itu.
"Gak usah dibeli, Mas!" bisik Zela cepat dengan suara bergetar dan napas memburu. "Bentuknya jelek banget! Maksud aku... patung burung begitu enggak bagus, enggak cocok dipajang di rumah kita. Udah ya, enggak usah dibeli, plis!"
Bashkar menarik pergelangan tangannya dari genggaman Zela dengan gerakan dingin dan bertenaga. Manik mata kelabunya menyipit tajam, memancarkan kilatan mengintimidasi yang sangat membekukan.
"Diam di tempatmu, Zelara," desis Bashkar dengan suara rendah yang penuh ancaman, menatap lurus ke dalam mata Zela. "Atau aku sendiri yang akan menyuruh pengawal menyeretmu keluar dari gedung ini."
Sebelum Zela sempat membalas atau memohon lagi, Bashkar mengangkat papan penawarannya tinggi-tinggi.
"Dua miliar rupiah," tegas Bashkar dengan suara berat yang menggelegar tenang di seluruh ballroom.
Suara riuh penawaran seketika terhenti. Tidak ada satu pun kolektor atau pejabat yang berani menawar lebih tinggi setelah sang penguasa Deluca membuka suara. Auctioneer menggetok palunya tiga kali.
TOK! TOK! TOK!
"Terjual kepada Tuan Bashkar Deluca dengan harga dua miliar rupiah!" seru sang auctioneer meriah.
Dua orang petugas panggung berjas rapi segera mendorong troli berisi patung burung elang itu turun dari panggung, membawanya langsung menuju meja VVIP di barisan paling depan untuk diserahkan secara pribadi kepada sang pemenang lelang.
Bashkar berdiri dari duduknya dengan anggun. Ia membetulkan kancing jas hitamnya, bersiap menerima dan menyentuh patung kayu tersebut untuk pemeriksaan awal.
Zela yang masih terduduk membelalakkan matanya lebar-lebar. Keringat dingin membasahi punggungnya sewaktu ia melihat jemari panjang Bashkar mulai terulur mendekati permukaan kayu patung burung itu hanya berjarak beberapa sentimeter dari sensor pemicu di dalamnya!
Enggak! Gak bisa biarin!
Dalam hitungan detik, insting bertahan hidup dan rasa takut akan keselamatan Bashkar mengambil alih seluruh kesadaran Zela. Tanpa memedulikan gaun mewahnya atau keselamatan dirinya sendiri, Zela menerjang bangkit dari kursinya dan berlari sekencang mungkin!
"Bashkar, awas!" jerit Zela histeris.
Zela melompat mengudara, melingkarkan kedua tangannya di pinggang tegap Bashkar dan mengerahkan seluruh berat tubuhnya untuk menarik serta mendorong tubuh tinggi besar pria itu ke samping kanan sejauh mungkin!
BAM!
Tepat saat tubuh Bashkar tersentak jatuh tertarik ke lantai marmer bersama Zela, detik itu juga...
DUARRRRR!
Sebuah dentuman ledakan memekakkan telinga meletus hebat dari dalam rongga patung burung tersebut! Percikan api berkobar mendadak, menghempaskan gelombang tekanan panas yang menghancurkan patung kayu itu menjadi ribuan serpihan tajam yang melayang liar di udara!
PRANG! KABOOM!
Troli besi terpental, gelas-gelas kristal di meja VVIP hancur berkeping-keping, dan asap hitam pekat langsung membumbung tinggi menyelimuti area depan ballroom. Jeritan histeris dari para tamu undangan dan teriakan panik para pengawal seketika memecah keheningan acara lelang yang tadinya mewah.
Beruntung, bom rakitan di dalam patung itu bukanlah bom berskala besar yang sanggup merubuhkan bangunan, melainkan bom pemicu jarak dekat yang dirancang khusus untuk meremukkan organ vital dan wajah siapa pun yang memegang patung tersebut dari jarak nol.
Di atas lantai marmer yang tertutup serpihan kayu dan kaca, Bashkar dan Zela jatuh terguling bersama. Tubuh tegap Bashkar mendarat di bawah, sementara Zela berada di atas dadanya, memeluk leher suaminya erat-erat dengan tubuh yang gemetar hebat.
Asap tebal mengelilingi mereka. Rian dan puluhan pengawal pribadi Deluca dengan cepat menerobos masuk seraya mencabut senjata api, membendung area sekitar untuk melindungi sang majikan.
Bashkar, yang jantungnya sempat berdetak kencang karena keterkejutan atas ledakan dan aksi nekad Zela, mendongak dalam remang asap. Pria itu menatap wanita di atas dadanya yang memejamkan mata rapat-rapat sambil terengah-engah panik.
Asap hitam pekat yang berbau sangit dan menyengat masih membumbung tebal di udara, menyelubungi area VIP yang porak-poranda. Suara dengung di telinga belum sepenuhnya hilang saat Rian dan belasan pengawal bersetelan jas hitam menerobos masuk ke balik kepulan asap dengan senjata api yang sudah siap di tangan.
"Tuan! Anda tidak apa-apa?!" panggil Rian dengan nada panik luar biasa. Wajah asisten pribadi itu pucat pasi sewaktu menemukan sang majikan masih tergeletak di lantai marmer.
Bashkar tidak langsung menjawab. Pria itu menggerakkan jemari tangannya yang sedikit ternoda jelaga, lalu perlahan bangkit mendudukkan tubuh tegapnya. Di atas dadanya, Zela masih memeluk lehernya erat-erat dengan tubuh bergetar hebat dan napas terengah-engah panik.
"Nyonya... Anda tidak apa-apa?" tanya Rian lagi, matanya menyapu sekeliling.
Zela menyebakkan napasnya yang tercekat, menyadarkan dirinya dari shock. Dengan bersusah payah dan jemari bergetar, Zela melepaskan pelukannya pada leher Bashkar. Ia berdiri perlahan dari lantai marmer yang kotor penuh abu dan serpihan tajam. Gaun mewahnya tersingkap sedikit, dan lututnya tampak sedikit memar akibat terhempas tadi, namun ia mengabaikan rasa sakit itu.
Bashkar berdiri tegak di sampingnya, membetulkan kancing jas mewahnya yang kini ternoda abu hitam. Manik mata kelabunya menatap dingin ke arah troli besi yang hancur bengkok dan sisa-sisa kayu patung burung yang hangus berkeping-keping di lantai.
Rian melangkah mendekati sisa-sisa ledakan itu, lalu pandangan matanya mendadak beralih, menatap lekat-lekat pada sosok Zela. Tatapan mata Rian kini tidak lagi memancarkan rasa hormat biasa, melainkan dipenuhi oleh gelombang kecurigaan dan tuduhan yang amat pekat. Baginya, terlalu kebetulan bahwa Nyonya Zelara yang sebelumnya memaksa ikut, mendadak tahu persis detik demi detik bahwa patung tersebut berbahaya dan menyelematkan Bashkar tepat sebelum bom itu meledak.
Merasakan aura tuduhan yang diarahkan padanya, Zela menyipitkan mata dan langsung mengibas-ibaskan tangannya panik.
"B-bukan aku! Jangan menatapku begitu, Rian!" seru Zela memburu dengan suara sedikit serak karena menelan asap. Ia menunjuk ke arah sudut barisan meja VVIP sebelah kiri di dekat pilar besar. "Tadi... tepat saat Bashkar mau menyentuh patung itu, aku melihat pria jas abu-abu di sudut sana memegang sebuah benda kecil hitam! Jemarinya menekan pemicu remot itu! Karena itu aku langsung menabrak Bashkar!"
Zela tidak berbohong soal penglihatannya di detik-detik krisis tadi. Selain berpatokan pada ingatan alur novel, secara refleks matanya memang sempat menangkap pergerakan mencurigakan dari salah satu tamu misterius yang tergesa-gesa memencet alat pemancar tepat sebelum ledakan terjadi.
Bashkar melirik dingin ke arah pilar yang ditunjuk Zela, lalu beralih menatap wajah istrinya yang penuh jelaga tipis namun memancarkan kebenaran murni. Sebelum Bashkar sempat memberi perintah atau memeriksa area tersebut lebih lanjut—
BOOOOOOMMMM!
Sebuah ledakan kedua yang jauh lebih dahsyat dan bergemuruh meletus dari balik dinding ballroom sebelah barat!
PRANGGG! KABOOM!
Lantai gedung berguncang hebat bagai gempa bumi berskala tinggi! Lampu gantung kristal raksasa yang menggantung di langit-langit ballroom berayun liar sebelum akhirnya terputus dan menghantam lantai dengan suara dentuman memekakkan telinga!
PRANGGG!
Seketika itu juga, sistem listrik utama mati total. Ruangan ballroom terlempar ke dalam kegelapan yang pekat, hanya diterangi oleh pendar merah api dari sudut ruangan dan lampu darurat yang berkedip-kedip panik.
Jeritan histeris ribuan tamu undangan pecah seketika!
"Aaaaaaaa! Ada bom lagi! Lariiii!"
"Tolong! Buka pintunya! Tolong!"
Atmosfer kemewahan dan gengsi para elit seketika lenyap berganti menjadi kekacauan yang teramat liar dan brutal. Ratusan tamu berpakaian mahal para pejabat, pengusaha, hingga wanita bergaun mewah berlarian secara membabi buta ke satu arah demi menyelamatkan diri. Mereka saling sikut, memanjat kursi, bahkan saling dorong dan menginjak-injak satu sama lain hingga terjerembap di atas pecahan kaca demi mencapai pintu keluar darurat yang sempit.
"Lindungi Tuan dan Nyonya! Buat barikade!" berteriak Rian mengatasi kegaduhan yang memekakkan telinga seraya mengarahkan para pengawal Deluca untuk membentuk lingkaran perlindungan di sekeliling Bashkar dan Zela.