NovelToon NovelToon
Mendadak Menikah

Mendadak Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Billa Hamkah

Reyhan Ilham, cowok 19 tahun yang sekarang sedang sibuk bekerja menjadi pramuniaga minimarket, suka nongkrong di bengkel teman karena hobi mekanik, sayangnya gak lanjut kuliah karena tidak ada uang.

Suatu hari pergi liburan ke Bandung ke rumah temannya, tapi saat datang dengan status bujang tapi saat pulang malah berstatus menikah. Kok, bisa? Rey saja tidak mengerti kenapa? Kehidupan dia saja sebelumnya sudah pas-pasan, eh ditambah sekarang harus memberi makan satu orang lagi, semakin kekurangan uang dia.

Bagaimana sih, rasanya menjadi Reyhan, tiba-tiba mempunyai seorang istri saat masih muda dan melarat? Apakah pernikahan dia akan langgeng atau berhenti di tengah ja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membawa Bekal

**

Reyhan tersenyum tipis, melihat bagaimana semangatnya Ayana yang sedang melihat-lihat barang jualan apa saja yang mereka lewati.

Lima menit sekali, gadis itu akan berhenti untuk melihat barang-barang atau juga bertanya banyak hal ke Reyhan dengan antusias. Reyhan seperti sedang melihat adiknya yang paling kecil saat dia bawa belanja ke pasar. Tidak berbeda jauh, hanya berbeda fisik saja.

Malam ini, Reyhan sengaja membawa Ayana ke pasar setelah pulang kerja dan tentunya setelah menerima gaji. Menepati janji untuk membelikan barang yang kemarin malam gadis itu minta.

Reyhan baru tahu hanya dengan membawa Ayana ke pasar, sudah bisa membuat gadis itu bisa sebahagia ini.

"Rey, ini bagus yah?" tanya Ayana untuk yang kesekian kalinya.

Reyhan tersenyum tipis. "Kalau lo berhenti mulu buat lihat barang terus, kapan kita bisa sampai ke penjual kompornya?"

"Ish ... sebentar," rajuk Ayana yang langsung membuat Reyhan takjub, karena untuk pertama kalinya melihat raut wajah itu, biasanya wajah penuh amarah saja.

"Kaya baru keluar dari gua aja lo, gak pernah lihat pasar."

Ayana malah mengangguk. "Emang iya, kenapa? Di kampung pasarnya jauh, terus gak sebesar ini. Gak se-komplit ini juga barangnya."

"Ini baru pasar. Gimana kalau gue bawa ke mall, takjub gak lo?"

Reyhan kembali berjalan, menarik tangan Ayana supaya gadis itu kembali melangkah. Reyhan sudah merasa sesak di sini karena terlalu banyak orang. Bau amis juga dimana-mana. Dia ingin segera membeli barang-barang yang mereka butuhkan dan segera pulang.

"Ayo jalan cepet, nanti kita ke mall," bujuk Reyhan supaya Ayana mau melangkah.

"Serius, kapan kita mau ke mall?" Ayana sudah bertanya antusias.

"Kapan-kapan pokoknya, kita ke sana. Nanti gue bawa lo main ke time zone."

"Awas yah, kalau bohong. Biasa-biasanya jawaban kapan-kapan itu adalah janji palsu." Ayana mencebik, setelah itu kembali ceria. "Mau banget main ke time zone, biasanya cuman bisa lihat di konten YouTube anak-anak artis."

"Iya, janji. Nanti gue ajak main bola-bola sama bikin anak. Udah ketunda lama nih, gue dapat jatah" ujar Reyhan yang suaranya pelan di akhir.

"Hah, apa? Gak kedengeran, pelan banget ngomongnya."

Reyhan berdehem. "Bukan apa-apa. Tuh ... lihat, tokonya udah deket!"

"Ayee!" Ayana terlihat makin senang, berjalan di depan sambil menarik Reyhan.

"Penjualnya baik banget, gampang banget ditawar."

"Dan lo bodo banget, jadi cewek gak bisa nawar." Reyhan tertawa mengejek.

"Kalau pasar di kampung, penjualnya ngambil untung itu dikit-dikit, jadi kasian kalau ditawar." Ayana melihat Reyhan tajam. "Kamu itu bodo malah, bisa-bisanya hampir ribut karena tawar menawar dengan penjual dengan harga murah banget."

"Namanya juga usaha. Duit itu pen--"

"Rey, itu apa?" tanya Ayana memotong ucapan Reyhan, melihat ke depan dengan berbinar. Mungkin kalau ini animasi sudah terlihat bunga-bunga yang bertaburan di wajahnya.

Saat ini mereka sedang duduk di kursi depan sebuah toko yang sudah tutup. Mereka beristirahat sejenak karena terlalu lelah, apalagi Reyhan sudah menjadi kaum jompo dimasa muda ini.

"Apa?" Reyhan melihat arah yang Ayana lihat karena penasaran. "Tukang cilok?"

Saat kembali melihat Ayana, Reyhan melihat wajah Ayana seperti anak kecil yang merajuk mau sesuatu. Terlihat imut, eh? Mana ada!

"Beli, yuk!" mohon Ayana dengan raut wajah masih sama merajuknya. "Gak bawa uang aku."

"Banyak maunya banget sih, kaya anak kecil. Tadi mau beli eskrim, terus ini--"

"Berisik Reyhan, jadi suami jangan perhitungan nanti rizkinya makin susah." Ayana sudah menyumpal mulut Reyhan dengan eskrim. "Ayo beli!"

"Ish ... ini rasa susu, gue gak suka." Reyhan dengan terpaksa menelan eskrim itu, kemudian merogoh uang sepuluh ribu dan menyerahkannya ke Ayana. "Ini, beli sendiri!"

"Okey!" Setelah mengatakan itu, Ayana sudah berlari ke pedagang cilok.

Reyhan hanya geleng-geleng. "Benar-benar kaya anak kecil. Gue gak akan ditangkap polisi kan, karena nikah sama anak di bawah umur itu? Apalagi, sesekali gue sering berpikiran sedikit mesum tentang gadis itu."

Wajar bukan, Reyhan sudah usia dewasa, lelaki normal dan harus harus hidup bersama dalam kosan kecil dengan seorang gadis yang bisa dikatakan cantik. Walaupun gadis itu tidak memakai pakaian yang sangat terbuka tapi tidak bisa dibilang pakaian di rumah juga tertutup. Intinya dia normal jika sedikit berpikiran aneh-aneh, untung saja iman dia sekuat baja.

"Selesai!"

Entah sejak kapan, Ayana sudah berada di depannya dengan sekantong cilok. Reyhan berdehem, berusaha menyingkirkan pikiran aneh-aneh dia barusan. Tidak lucu bukan, sesuatu harus bangun di pasar, jika di kosan dia gampang tinggal berlari ke kamar mandi seperti biasanya. Eh?

"Ayo pergi, beli yang lain lagi!" ajak Reyhan yang sudah kembali bisa waras.

Ayana mengangguk. "Ayo."

Mereka berkeliling lagi untuk mencari sayuran dan beberapa lauk yang bisa dimasak dan bisa tahan beberapa hari tidak busuk karena mereka tidak punya kulkas. Ini maunya Ayana, karena gadis itu bersikeras ingin memasak.

Reyhan hanya menjadi kacung, mengikuti kemana Ayana berjalan.

Setelah sampai kosan, Ayana Sudah heboh langung memasak. Sedang Reyhan, hanya menunggu berharap masakan gadis itu bisa dimakan karena dia sudah lapar.

"Ayo dimakan!"

Reyhan bangun dari tidurnya, melihat beberapa lauk yang sudah tersaji. Dari tampilannya sih meyakinkan, dari wangi saat memasak juga semakin membuat Reyhan kelaparan.

"Yakin, bisa dimakan, kan?" Reyhan masih menatap tak yakin. Siapa tahu kan, tampilan dan wangi bisa berbohong seperti sifat alamiah manusia.

Wanginya sudah menyebar ke seluruh kosan karena berhubung kamar kosan dia satu petak, jadi otomatis gadis itu memasak di sini juga. Reyhan makin lapar, tapi masih tak yakin dengan rasanya.

"Gak usah makan, biar aku yang makan sendiri." Ayana mulai memakan makanannya, membiarkan Reyhan yang bengong melihatnya.

Melihat Ayana yang lahap makan, Reyhan juga akhirnya ikut makan. Sebenarnya, ini hanya makanan sederhana yaitu tumis kangkung, goreng ikan tongkol, tempe goreng dan sambal goreng. Tapi Reyhan akui, rasa makanannya enak seperti masakan rumahan. Lebih enak dari rasa masakan di warteg.

"Gimana?" tanya Ayana terlihat penasaran, melihat Reyhan yang sedang makan.

Lelaki itu membuat gestur dengan tangan, menunggu dia berhasil untuk menelan makanannya untuk menjawab.

"Gimana apanya?"

"Rasanya, memangnya apa lagi?"

Reyhan pura-pura berpikir, ingin mengerjai Ayana. "Gimana, yah? Emmm ...."

Reyhan senang sekali melihat raut wajah Ayana yang terlihat kesal. Lucu, jadi mau dia makan. Eh?

Reyhan menggeleng, dia sepertinya perlu mandi suci untuk menjernihkan pikirannya yang kotor ini.

"Rey!" Ayana sudah sangat kesal.

"Apa?" Reyhan masih meledek.

"Terserah." Ayana kembali makan, sedang malas menanggapi Reyhan.

Reyhan terkekeh. "Ini enak, gue suka."

Disela makannya, Ayana tersenyum saat mendengar pujian Reyhan tentang masakannya. Siapa sih, yang tidak senang masakannya dipuji?

Setelah itu untuk pertama kalinya, mereka berdua bisa makan dengan suasana damai karena biasanya selalu ada hal kecil yang diperdebatkan.

*

"Ini!"

"Apa?" Ayana bertanya saat melihat Reyhan menyerahkan sebuah amplop.

"Uang sisa hutang warung, bayar kosan dan sisa uang bensin gue. Lo yang pegang buat beli sayuran buat masak.  Nanti kalau habis bilang karena ini emang gak banyak."

"Kenapa aku yang pegang?"

"Ribet, kalau gue harus kasih setiap hari. Ini bekal gue, kan?" Reyhan menunjuk kotak makanan yang mereka beli semalam.

Reyhan memutuskan untuk membawa bekal setelah makan semalam. Dia memang harus berhemat, karena pengeluaran diawal mereka sudah banyak karena membeli peralatan masak. Untung bulan ini dia mendapat bonus lebih jadi tidak terlalu habis uang mereka. Ditambah, bulan ini untuk pertama kalinya dia tidak mengirimkan uang untuk keluarganya.

Dia harus segera menemui mereka untuk menjelaskan semuanya.

Ayana mengangguk. "Iya, itu bekal kamu. Tapi Rey, ini yakin aku yang pegang?"

"Mau bagaimana lagi, lo itu seorang istri. Tugasnya kan gitu. Udah ah, gue telat." Reyhan sudah bersiap membuka pintu, kemudian terhenti untuk kembali menoleh. "Kalau mau belanja sama amang sayur di depan harus tahan kuping, gak usah diambil hati soalnya ibu-ibunya jago gosip."

"Tenang, aku punya seribu cara buat menghadapi ibu-ibu jenis seperti itu soalnya di kampung juga banyak."

Reyhan terkekeh, kemudian dia benar-benar keluar untuk berangkat.

Reyhan masih mengingat, saat pertama kalinya Ayana keluar dan langsung menjawab ucapan para ibu yang langsung membuat mereka terdiam.

Gadis itu memang dari kampung, tapi dia bukan jenis gadis pendiam dan penurut yang mudah ditindas. Reyhan bahkan jika percaya jika di kampung, gadis itu adalah seorang preman.

"Akh ... sialan! Mogok lagi. Sayang, kamu tuh kenapa, sih?"

Reyhan mengelus motornya yang kembali berulah. Terpaksa, dia sekarang harus kembali berjalan kaki ke depan untuk mencari angkot.

"Gue tukar tambah, nangis lo!"

**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!