Reyhan (31), pemilik Waroeng Sederhana di Bandung, dingin dan penuh gengsi. Anindya (30), tukang cuci piring baru dengan mimpi kecil membuka usaha kuliner sendiri.
Sepasang sarung tangan tanpa nama, wedang jahe yang "kebetulan kelebihan", dan tumpangan "searah" mengubah segalanya. Tapi gengsi lebih keras dari perasaan, dan gosip dapur tak pernah berhenti.
Saat Reyhan terpaksa memecatnya, mereka berpisah. Akankah gengsi terus berdiri di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aravienne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Mbak Sari mengetuk pintu ruang kerja tiga kali, dan Reyhan tahu dari ketukannya bahwa yang datang bukan sekadar ingin bicara soal bumbu.
Jam sembilan malam. Warung sudah sepi, kursi-kursi dibalik di atas meja, dan lampu dapur hanya menyala sebagian. Reyhan sedang menatap buku catatan kecil di mejanya, halaman dengan coretan *Bu Ratna?* yang sudah ia robek separuh, ketika ketukan itu terdengar. Pelan, tertahan, seperti tangan yang sudah mengangkat berkali-kali di depan pintu yang sama sebelum akhirnya benar-benar mengetuk.
"Masuk, Mbak."
Pintu terbuka. Mbak Sari berdiri di ambang dengan jaket jeansnya, helm di tangan, tanpa celemek, tanpa penutup kepala hitam. Wajahnya pucat. Dan Reyhan, yang enam tahun mengenal perempuan itu sebagai seseorang yang tidak pernah salah mengiris bawang, melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat: tangan Mbak Sari gemetar.
"Mas." Suaranya hampir tidak keluar. "Saya mau ngomong."
"Duduk, Mbak."
"Saya berdiri aja."
Hening. Jam dinding berdetak, dan dari dapur terdengar tetesan air dari keran bengkok yang tidak pernah benar-benar tertutup rapat.
"Surat itu," kata Mbak Sari akhirnya. "Yang empat tanda tangan."
Reyhan tidak bergerak.
"Saya yang nulis, Mas."
Kalimat itu jatuh begitu saja ke lantai ruang kerja, ringan dan tanpa gema, seperti benda yang terlalu lama dipegang dan akhirnya dilepas. Reyhan tidak menjawab. Ia hanya menatap Mbak Sari, dan di dalam dadanya, sesuatu yang selama berbulan-bulan berputar tanpa arah tiba-tiba berhenti.
"Saya yang ngetik," lanjut Mbak Sari, suaranya mulai bergetar. "Di warnet dekat rumah, malam sebelum rapat. Saya kasih ke Dimas, saya bilang itu dari orang yang peduli sama keadilan. Dia nggak tanya siapa. Dia lagi sakit hati, Mas, dan saya tahu. Saya manfaatin itu." Ia menelan ludah. "Tanda tangan keempat, yang cuma coretan itu, itu saya."
"Mbak..."
"Saya nggak mau ketahuan. Tapi saya juga nggak mau surat itu kelihatan cuma dari anak-anak yang masih hijau." Mbak Sari menunduk. "Saya mau Mas lihat ada orang yang lebih tua, yang lebih lama, yang ikut ngerasa."
Reyhan menatapnya lama. Ia mengharapkan amarah muncul, panas dan membakar. Tapi yang datang justru sesuatu yang jauh lebih dingin dan lebih berat: kelelahan, seperti seseorang yang berjalan terlalu lama dan baru sadar ia berjalan ke arah yang salah.
"Kenapa?" tanyanya akhirnya. Suaranya pelan. Hampir tanpa nada.
Mbak Sari menggeleng. Air matanya jatuh sebelum ia sempat menahan. "Karena enam tahun, Mas."
"Enam tahun?"
"Enam tahun saya di sini. Saya dateng sebelum matahari terbit, saya pulang setelah semua lampu mati. Saya jaga rasa, saya jaga takaran, saya jaga warung ini waktu Mas sakit, waktu Mas pulang larut, waktu Mas nggak ngomong sepatah kata pun selama seminggu." Suaranya pecah. "Saya dua kali ngajuin ide menu. Dua kali Mas bilang 'nanti saya pikirkan.' Dua kali nggak pernah dipikirkan."
Reyhan membeku.
"Terus dateng anak baru. Dua minggu. Tangannya masih merah. Dan Mas nanya pendapat dia di depan semua orang. Cuma dengan satu kata." Mbak Sari menyeka wajahnya dengan punggung tangan. "Dan di rapat itu, waktu dia bilang mau pergi, Mas bilang 'Tidak. Saya bilang tidak.' Enam tahun, Mas. Nggak pernah sekali pun saya denger nada kayak gitu buat saya."
"Mbak Sari..."
"Saya nggak benci dia, Mas. Itu yang paling bikin saya jijik sama diri saya sendiri. Saya nggak bisa benci dia. Dia nggak salah apa-apa." Ia mengangkat wajah, dan Reyhan melihat sesuatu yang membuat dadanya mengencang: wajah perempuan empat puluh tahun yang selama ini kuat, dan kini hancur tanpa suara. "Saya cuma iri. Dan iri itu... iri itu bikin saya ngelakuin hal yang nggak bisa saya maafin sendiri."
Hening yang jatuh sesudah itu panjang.
Reyhan berdiri perlahan. Ia berjalan ke jendela kecil, membelakangi Mbak Sari, dan menatap halaman belakang yang gelap. Tangannya terkepal di sisi tubuh, dan di kusen jendela, jari-jarinya mengetuk kayu, satu kali, dua kali, tiga kali, lalu berhenti.
"Foto itu," katanya tanpa menoleh. "Yang dikirim ke ponsel saya."
"Bukan saya, Mas."
"Siapa?"
Mbak Sari menarik napas panjang, dan suaranya turun hampir menjadi bisikan. "Lilis."
Reyhan memejamkan mata.
"Dia nggak jahat, Mas. Dia cuma... mulutnya." Mbak Sari mengusap wajahnya. "Waktu itu hujan, dia nunggu di depan minimarket buat ngambil pesenan titipan. Dia lihat mobil Mas berhenti di gang. Dia lihat Anin turun. Dia foto, karena dia pikir seru, karena dia pikir cuma buat dia sendiri. Terus dia nunjukin ke ibu-ibu arisan RT, bukan buat nyebarin fitnah, cuma buat cerita. Tapi cerita itu menggelinding, Mas. Lilis sendiri udah nggak bisa nariknya."
"Dan pesan ke ponsel saya?"
"Itu juga dia. Dia nggak bisa tidur. Dia pengen Mas tahu, tapi nggak berani bilang langsung." Mbak Sari menelan ludah. "Dia nyesel dari hari pertama, Mas. Dia hampir ngaku ke Anin di pasar. Tapi saya yang... saya yang suruh dia diem."
Reyhan berbalik.
Wajahnya datar, setenang permukaan air di dasar sumur. Tapi matanya merah, dan Mbak Sari yang melihatnya langsung menunduk, tidak sanggup menahan tatapan itu.
"Mbak suruh dia diam."
"Iya."
"Setelah Anin pergi."
"Iya, Mas. Saya bilang sudah lewat. Saya bilang nggak ada gunanya." Suara Mbak Sari pecah. "Saya takut. Saya takut Mas marah. Saya takut Mas ngeluarin kami. Saya takut warung ini hancur, dan itu gara-gara saya."
Reyhan tidak menjawab. Ia berdiri di sana, di tengah ruang kerja yang sempit itu, dan untuk pertama kalinya dalam enam tahun, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan kepada seseorang yang berdiri di depannya.
Ia membayangkan ratusan hal yang bisa ia lakukan. Berteriak. Memecat. Mengusir. Menuntut. Tapi semuanya terasa seperti pakaian yang bukan miliknya. Karena di balik semua kata yang bisa ia lontarkan, ada satu kenyataan yang tidak bisa ia singkirkan, dingin dan keras seperti batu di dasar dada.
Ia memecat Anindya.
Bukan Mbak Sari. Bukan Teh Lilis. Ia sendiri, dengan tangan sendiri, di ruangan ini, dengan surat yang kolom alasannya ia kosongkan karena tidak berani menuliskan kebenaran. Ia percaya pada bisik-bisik, pada selembar surat, pada pesan dari nomor tak dikenal, lebih dari pada seorang perempuan yang setiap pagi datang lima belas menit lebih awal supaya tidak perlu berlari.
"Mas." Suara Mbak Sari memotong pikirannya. "Mas boleh marah. Mas boleh keluarin saya. Saya terima."
"Saya tidak akan mengeluarkan Mbak."
Mbak Sari mengangkat wajah, terkejut.
"Bukan karena saya memaafkan," kata Reyhan pelan. "Saya belum tahu apakah saya bisa. Tapi kalau saya mengeluarkan Mbak, itu cuma cara lain untuk menghindar. Sama seperti yang saya lakukan pada Anin."
"Mas..."
"Mbak harus bilang ke Anin sendiri." Suaranya tegas, tapi tidak keras. "Bukan lewat saya. Bukan lewat surat. Langsung. Dan Teh Lilis juga."
Mbak Sari mengangguk, air matanya mengalir tanpa suara. "Iya, Mas."
"Dan Dimas harus tahu."
"Dimas..." Mbak Sari menggigit bibir. "Dia nggak salah, Mas. Dia cuma ngira dia lagi bela temen."
"Dia berhak tahu siapa yang memakai kemarahannya."
Mbak Sari terdiam, lalu mengangguk lagi, lebih pelan.
Hening. Di luar, hujan mulai turun, tipis dan dingin, mengetuk atap seng dengan irama yang tidak terburu-buru.
"Mas mau nemuin Anin?" tanya Mbak Sari akhirnya, hampir berbisik.
Reyhan menatap jendela, ke gelap di baliknya. Di kepalanya, ia melihat sebuah gerobak kecil dengan papan cat putih, sebuah antrean di subuh yang dingin, seorang perempuan yang tertawa tanpa menahan apa pun.
"Ya," katanya. "Tapi bukan sekarang."
"Mas..."
"Saya tidak mau datang membawa penyesalan, Mbak. Itu cuma membuat dia harus memikul penyesalan saya, selain luka-lukanya sendiri." Ia berhenti, menarik napas. "Dia sudah memikul cukup banyak. Kalau saya datang, saya ingin datang sebagai orang yang berbeda. Yang kalau saya bilang maaf, itu bukan kata-kata. Tapi sesuatu yang bisa dia lihat."
Mbak Sari menatapnya lama. Ada sesuatu yang bergerak di wajahnya, bukan lega, tapi sesuatu yang lebih mirip rasa hormat yang terlambat.
"Dia pasti nunggu itu, Mas," katanya lirih. "Bukan maaf. Tapi buktinya."
"Saya tahu."
Mbak Sari menyeka matanya sekali lagi, mengenakan helmnya dengan tangan yang masih gemetar, dan berjalan ke pintu. Di ambangnya, ia berhenti.
"Mas."
"Ya?"
"Terima kasih nggak marah."
"Saya marah, Mbak." Reyhan menatap lantai. "Hanya saja, orang pertama yang harus saya marahi sedang berdiri di sini."
Mbak Sari tidak menjawab. Ia hanya mengangguk, dan pergi.
Setelah langkahnya menghilang, Reyhan berjalan ke dapur yang gelap.
Hanya lampu kecil di atas bak cuci yang menyala. Di sana, di leher keran bengkok yang basah, sepasang sarung tangan kuning masih tergantung, tak tersentuh selama sembilan bulan. Ia berdiri di depannya cukup lama. Lalu, untuk pertama kalinya, ia mengulurkan tangan dan mengambilnya, bukan untuk dipakai, bukan untuk disimpan, hanya untuk dipegang.
Karetnya sudah kering dan sedikit kaku. Di bagian ibu jari, ada bekas lipatan dari seorang perempuan yang dulu mengusapnya sekali sebelum meninggalkannya. Reyhan menatapnya, dan satu kalimat naik pelan dari dasar dadanya, tanpa suara, tanpa seorang pun yang mendengar.
*Maaf.*
Ia tidak mengucapkannya keras-keras. Karena ia tahu, kalimat itu belum boleh diucapkan di dapur kosong. Kalimat itu hanya boleh diucapkan di depan seseorang, setelah ia membuktikan bahwa kata itu berarti.
Ia menggantungkan kembali sarung tangan itu di leher keran, dengan hati-hati, seperti menyimpan janji.
Dan di dalam dadanya, di antara semua rasa bersalah dan penyesalan dan marah yang belum menemukan sasaran, ada satu hal yang untuk pertama kalinya terasa seperti arah. Bukan jalan keluar. Bukan penebusan. Hanya sebuah arah.
Ia tidak akan lagi menunggu seseorang mengaku. Ia akan berubah dulu, sampai ketika ia berdiri di depan gerobak itu, perempuan itu tidak perlu bertanya apakah ia sungguh-sungguh. Karena jawabannya sudah ada, di setiap hal kecil yang ia lakukan sebelum hari itu tiba.
Bersambung ke Bab 27...