Dianggap sampah tanpa bakat. Dikhianati oleh seniornya sendiri. Dan dipaksa menyaksikan kematian sang guru di depan mata.
Hiraisin hanyalah murid terbuang di Sekte Awan Putih yang dianggap tak punya masa depan karena meridian tubuhnya terluka. Namun, di tengah gempuran brutal pasukan Raja Kegelapan, darah Hiraisin menetes di atas hulu pedang patah berkarat—membangunkan rahasia purba yang lama tertidur.
Segel di tubuhnya hancur. Petir dari langit menyambar, membakar meridiannya dan membangkitkan legenda yang telah lama punah: Pedang Kilat.
Kini, dengan luka pengkhianatan di dada dan percikan listrik yang sanggup merobek malam, Hiraisin memulai perjalanan darah. Di hadapannya berdiri jutaan pengikut iblis, para jenderal mengerikan, dan Raja Kegelapan yang menguasai takhta dunia.
Satu tebasan telah lahir. Dan kegelapan tak akan pernah sama lagi.
"Saat dunia dikuasai bayang-bayang, kilat adalah satu-satunya keadilan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astrius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konfrontasi di Altar Petir Purba
Bau busuk darah yang menyengat bercampur dengan aroma keasaman ozon memenuhi udara di dalam kuil Altar Utama. Dinding-dinding batu obsidian yang melingkari kuil dipenuhi oleh ukiran Runa purba yang kini tampak meredup, terdesak oleh cairan kehitaman yang merayap di sepanjang lantai bagaikan pembuluh darah raksasa yang berdenyut liar.
Di pusat ruangan, sebuah pilar badai raksasa membumbung tinggi menembus kubah kuil. Di dalam gulungan kilat ungu yang mengamuk hebat di tengah pilar tersebut, melayang sebuah kristal bening berbentuk belah ketupat yang memancarkan pendar keemasan tak tersentuh: Inti Pedang Kilat Pertama.
Namun, kesucian artefak purba itu kini berada di ambang kehancuran.
Empat pilar batu di sekeliling pilar badai telah dikuasai oleh para penyihir jubah hitam milik Pasukan Bintang Hitam. Dari telapak tangan mereka, mengalir semburan darah iblis yang pekat, membentuk rantai-rantai kegelapan yang melilit permukaan pilar petir, mencoba menyuntikkan racun sihir hitam ke dalam kristal artefak.
Di depan pilar utama, berdiri sosok tinggi kurus bertelanjang dada. Kulitnya berwarna abu-abu pucat dihiasi oleh simbol-simbol Runa Abyss yang terukir menembus dagingnya. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah sabit raksasa bertatahkan tengkorak manusia yang meneteskan darah segar.
Dialah Utusan Abyss, Zevran—tangan kanan Jenderal Ravaka.
"Sedikit lagi..." cicit Zevran dengan suara melengking yang mengerikan, sepasang matanya yang serba hitam menatap takjub pada kristal artefak yang perlahan mulai tercemar noda kehitaman. "Darah Iblis Abadi akan menodai kesucian artefak ini! Ketika Inti Petir ini hancur, tidak ada lagi yang bisa menghentikan kebangkitan Yang Mulia Raja Kegelapan!"
"Hentikan ritualmu, Iblis!"
Seruan tegas Hiraisin menggema membakar keheningan kuil.
Zevran memutar lehernya secara perlahan hingga terdengar suara gemeretak tulang yang mengerikan. Saat sepasang matanya yang serba hitam mengunci sosok Hiraisin dan Liora yang baru melangkah masuk, sebuah seringai penuh rasa jijik terukir di wajah pucatnya.
"Ah... pewaris kecil yang menyedihkan," kekeh Zevran seraya mengibaskan sabit raksasanya, memercikkan darah ke lantai batu. "Kau terlambat, Bocah. Ritual pencemaran ini sudah berjalan delapan bagian. Kau hanya datang untuk menyaksikan kehancuran warisan leluhurmu sendiri!"
Zevran menggerakkan jarinya. Dua belas penyihir Bintang Hitam di sekelilingnya mendadak menghentikan salat mantra mereka, memutar tubuh dan mengarahkan tongkat sihir mereka ke arah Hiraisin dan Liora.
"Hiraisin, ritual itu harus dihentikan sekarang juga!" bisik Liora cepat dengan nada suara panik. "Jika darah iblis itu menyentuh pusat kristal, Inti Pedang Kilat akan meledak dan memusnahkan seluruh lembah ini!"
"Biar aku yang menangani Zevran!" balas Hiraisin seraya menarik pedang patahnya.
"Tidak, para penyihir itu membentengi ritual dengan formasi berlapis," potong Liora tegas. Matanya memancarkan tekad bulat. "Kau tidak akan punya cukup waktu untuk menembus mereka satu per satu sembari bertarung melawan Zevran. Biarkan aku yang mengunci para penyihir itu!"
Sebelum Hiraisin sempat mencegahnya, Liora menepuk dadanya sendiri dengan keras. Ia memuntahkan setetes darah murni ke telapak tangannya, lalu mengibaskan kedua lengan bajunya ke udara.
Humm-SZSSSH!
Ratusan jarum perak bersalutkan tenaga batin berwarna hijau seroja menyembur keluar dari lipatan pakaian Liora, terbang melayang membentuk lingkaran raksasa yang menutupi seluruh pilar ritual.
"Teknik Rahasia Terlarang: Formasi Penjara Seroja!" jerit Liora.
Jarum-jarum perak itu menancap secara presisi di lantai batu sekeliling para penyihir Bintang Hitam, meledakkan kubah energi hijau bening yang mengurung tubuh mereka seketika. Rantai-rantai darah yang mengalir menuju pilar petir terputus secara mendadak, menghentikan proses pencemaran artefak di udara.
Namun, harga dari teknik terlarang itu sangat mahal. Wajah Liora mendadak pucat pasi bagaikan mayat. Wanita itu ambruk berlutut di tanah, terengah-engah hebat dengan darah segar yang meleleh dari sudut bibirnya akibat pengurasan Qi secara drastis.
"Liora!" teriak Hiraisin cemas.
"Jangan hiraukan aku!" seru Liora lemah namun penuh penekanan. "Fokus pada Zevran...!"
"Perempuan tidak berguna!" raung Zevran murka melihat ritualnya terhenti.
Dengan kecepatan yang tidak masuk akal, Zevran meluncur membelah udara, mengayunkan sabit raksasanya lurus ke arah leher Liora yang tak berdaya.
CLANG!
Hiraisin melompat tepat waktu, menahan mata sabit raksasa Zevran dengan bilah pedang patahnya. Benturan dua energi raksasa itu memercikkan kilatan api hitam dan ungu, melempar gelombang kejut yang meretakkan lantai obsidian di bawah kaki mereka.
"Lawanmu adalah aku!" bentak Hiraisin, matanya menyala oleh pendar petir keemasan.
"Kecoa pengganggu!" maki Zevran.
Zevran menarik sabitnya, lalu melancarkan sabetan bertubi-tubi bagaikan badai membabi buta. Setiap ayunan sabitnya membawa aroma hanyir darah dan menyemburkan cambuk-cambuk cairan korosif yang sanggup melelehkan batu keras.
Tring! Tring! CRASSS!
Hiraisin mengimbangi kecepatan Zevran dengan pergerakan Aliran Senyap. Dalam sebuah celah serangan, Hiraisin memutar tubuhnya dan menyabetkan pedang patahnya secara mendatar, membelah dada Zevran hingga menembus tulang rusuk sang utusan iblis.
Darah kehitaman menyembur deras. Namun, alih-alih merintih kesakitan, Zevran justru tertawa histeris.
"Hahaha! Ilmu pedang yang bagus, Bocah! Tapi kau tidak tahu dengan siapa kau bertarung!"
Gloop... gloop...
Luka mematikan di dada Zevran mendadak membuih. Serat-serat daging dan pembuluh darah kehitaman tumbuh kembali dengan kecepatan mengerikan, menutup luka tebasan Hiraisin dalam hitungan detik tanpa menyisakan bekas sedikit pun.
Ilmu rahasia aliran hitam: Sihir Darah Abadi!
"Selama tempat ini dibasahi oleh darah iblis, tubuhku tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh pedang tumpulmu!" raung Zevran.
Sebelum Hiraisin sempat menarik kembali pedangnya, Zevran menghentakkan tangan kirinya. Cambuk darah yang mengeras bagaikan tombak besi meluncur dari telapak tangannya, menghantam dada Hiraisin secara telak.
BANG!
Hiraisin terlempar keras ke udara, menghantam pilar batu sebelum jatuh terjerembap di atas tanah basah. Suara tulang rusuk yang retak terdengar menyedihkan di tengah gemuruh ruangan.
"Hiraisin!" jerit Liora dari kejauhan.
Hiraisin mencoba bangkit seraya memegangi dadanya yang dihantam rasa sakit mendalam. Namun, Zevran sudah muncul kembali di hadapannya. Dengan satu pakan telapak kaki yang dilapisi Qi kegelapan, Zevran menginjak dada Hiraisin ke tanah, lalu mengibaskan sabitnya menghantam tangan kanan Hiraisin.
CRACK!
"AAAGH!"
Hiraisin menjerit kesakitan saat jemari tangannya terhempas keras. Pedang patah berkarat miliknya terlepas dari genggaman, melayang jatuh dan tertancap jauh di sudut ruangan yang gelap.
Zevran mengangkat Hiraisin pada lehernya dengan satu tangan, membiarkan tubuh pemuda itu tergantung tak berdaya di udara, tepat di hadapan pilar badai raksasa tempat Inti Pedang Kilat Pertama melayang.
Darah segar mengalir deras dari kepala dan dada Hiraisin, menetes jatuh membasahi lantai batu. Meridian di tubuhnya menegang hebat, berada di titik nadir akibat kelelahan dan luka dalam yang amat parah.
"Lihatlah dirimu, Pewaris Petir yang agung," bisik Zevran penuh kemenangan, menatap mata Hiraisin yang mulai menyipit redup. "Kau tidak punya pedang, tidak punya kekuatan, dan teman tabibmu sudah hampir mati. Kau hanyalah sampah yang gagal menjalankan takdirmu!"
Zevran mengangkat sabit raksasanya tinggi-tinggi, mengarahkan mata pisau yang bergerigi tepat ke jantung Hiraisin. "Sekarang, matilah dan biarkan darahmu menjadi pelengkap pencemaran artefak ini!"
Di antara remang-remang kesadarannya yang kian mengabur, Hiraisin menolehkan pandangannya ke belakang.
Hanya berjarak setengah meter di belakang punggungnya, pilar badai raksasa mengamuk liar. Di dalam pusaran petir ungu yang mematikan itu, Inti Pedang Kilat Pertama berpendar halus, seolah memanggil nama dan jiwa sang pemuda melalui getaran frekuensi yang teramat sangat familiar.
Jika aku diam saja... Liora akan mati. Warisan sekte akan musnah. Dan benua ini akan jatuh ke tangan kegelapan...
Rasa takut dan kesakitan fisik di tubuh Hiraisin mendadak sirna, digantikan oleh keheningan total di dalam jiwanya.
"Aku... tidak akan pernah kalah di sini!" pangkas Hiraisin dengan bisikan yang sangat dingin.
Dengan sisa-sisa tenaga terakhir dari jiwa dan raganya, Hiraisin mengabaikan cengkeraman leher Zevran. Ia memutar tubuhnya melintir di udara, mengulurkan tangan kirinya yang bersimbah darah—menembus lurus ke dalam pusaran pilar badai yang mematikan!
"Kau gila?!" jerit Zevran membelalak kaget. "Petir murni itu akan meleburkan tanganmu menjadi abu dalam sekejap!"
SZZZZZZT-BOOM!
Tangan kiri Hiraisin menembus batas getaran pilar badai. Saat jemarinya yang terluka menyentuh permukaan Inti Pedang Kilat Pertama, waktu di dalam kuil Altar Utama seolah mendadak berhenti berputar.
Darah murni Pewaris Petir yang menempel di telapak tangan Hiraisin tersedot masuk ke dalam serat-serat kristal belah ketupat tersebut.
HUMMMMMMMMM!
Sebuah getaran resonansi purba yang maha dahsyat meledak dari pusat artefak!
Bukan api petir penghancur yang membakar tangan Hiraisin, melainkan gelombang pendar cahaya ilahi berwarna ungu keemasan murni yang menyembur keluar membubung tinggi menembus langit-langit Altar Utama.
BOOOOOOOOOOM!
Semburan cahaya petir suci itu meledak menghempaskan Zevran hingga terlempar ratusan meter menghantam dinding obsidian kuil. Seluruh rantai darah, noda sihir hitam, dan pendar kegelapan yang menempel di dalam ruangan terhapus dan terbakar habis menjadi abu dalam hitungan mikrodetik.
Seluruh ruangan Altar Utama mendadak diterangi oleh cahaya sejernih mentari siang hari.
Di tengah pilar cahaya ilahi yang membumbung tinggi tersebut, sosok Hiraisin melayang perlahan di udara, diselimuti oleh aura petir purba yang kini bergelora sempurna tanpa cacat.