Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.
Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.
Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Wunggg.
Suara kipas komputer terdengar konstan di dalam kamar Tommy yang gelap.
Jari-jarinya bersiap di atas papan tik sementara matanya menatap tajam ke arah layar.
"Sistem, buka Toko Sistem sekarang juga," perintah Tommy di dalam hatinya.
Ting!
Layar biru transparan langsung muncul di depan pandangannya.
"Aku butuh keahlian untuk menyadap komunikasi telepon di sekitarku," batin Tommy mencari solusi.
[Keahlian Penyadapan Frekuensi Lokal Aktif - Harga: 50 PS]
[Deskripsi: Memungkinkan pengguna meretas dan menyadap saluran komunikasi seluler dalam radius sepuluh kilometer tanpa terdeteksi.]
"Beli sekarang," putus Tommy tanpa ragu.
[Pembelian berhasil. Poin Sistem dikurangi -50 PS.]
[Skill Keahlian Penyadapan Frekuensi Lokal Aktif telah ditambahkan.]
Tommy langsung memejamkan matanya saat ribuan cara memanipulasi gelombang radio masuk ke dalam otaknya.
Tak! Tak! Klik!
Tangan Tommy langsung bergerak mengetikkan serangkaian perintah di jendela terminal komputernya.
Ia memasukkan nomor ponsel Bang Jali yang ia dapatkan dari meretas basis data operator lokal.
Seketika itu juga, suara percakapan dari seberang sana terdengar sangat jelas melalui pelantang suara komputernya.
"Iya, Bos, saya sedang mengawasi rumah janda itu sekarang," ucap suara Bang Jali diiringi suara jangkrik malam.
"Bagus, apa ada tanda-tanda komputer server raksasa atau peralatan canggih di dalam sana?" tanya suara pria berotot dari seberang telepon.
"Belum kelihatan, Bang, dari luar rumahnya kelihatan gembel banget," jawab Bang Jali dengan nada meremehkan.
"Besok malam kita dobrak masuk saja sekalian, kalau anak itu beneran Blank, kita habisi di tempat."
"Siap, Bang, saya siapkan anak-anak untuk penggerebekan besok malam," balas Bang Jali mengakhiri panggilan.
Tommy memutar kursinya dan tersenyum sangat dingin ke arah jendela.
"Kalian ingin mendobrak rumahku besok malam?" gumam Tommy pelan.
"Sayang sekali, kalian akan mengunjungi alamat yang sangat salah."
Tommy kembali menghadap komputernya dan mulai merangkai sebuah jebakan digital.
Ia membuat sebuah paket data terenkripsi palsu yang memancarkan sinyal lokasi aktif.
Sinyal itu ia atur agar terlihat seperti "markas rahasia Blank" yang baru saja dihidupkan.
"Ke mana aku harus mengarahkan kalian ya?" batin Tommy sambil melihat peta kota di layarnya.
Matanya tertuju pada sebuah gudang besar di pelabuhan utara yang merupakan wilayah kekuasaan geng naga hitam.
Geng naga hitam adalah musuh bebuyutan dari sindikat mafia Bos Anton.
"Sempurna," ucap Tommy sambil menekan tombol kirim.
Sinyal lokasi palsu itu langsung memancar kuat dan pasti akan segera ditangkap oleh peretas milik Bos Anton.
Ketika anak buah Bos Anton menggerebek gudang pelabuhan itu besok malam, mereka hanya akan disambut oleh peluru dari geng naga hitam.
Keesokan paginya, matahari bersinar sangat terik di atas lapangan SMA Garuda.
Suasana lapangan dipenuhi oleh murid-murid kelas sebelas IPS dua yang sedang melakukan pemanasan.
"Ayo semuanya lari keliling lapangan tiga kali!" teriak guru olahraga meniup peluitnya.
Prit!
Semua murid mulai berlari dengan wajah malas dan keringat yang mulai bercucuran.
Tommy berlari di barisan paling belakang dengan langkah yang sengaja ia buat terseret-seret.
"Aduh, capek banget," keluh Tommy dengan suara keras sambil memegangi perutnya.
Sementara itu, di dalam ruang kelas yang kosong, pintu depan terbuka secara perlahan.
Kriet.
Nadin mengintip ke dalam kelas untuk memastikan tidak ada siapa-siapa di sana.
"Aman, Vin, ayo masuk," bisik Nadin sambil memberikan isyarat tangan.
Kevin, sang ketua OSIS, melangkah masuk dengan wajah yang terlihat sangat tegang.
"Lo yakin kita harus ngelakuin ini, Din?" tanya Kevin ragu-ragu.
"Ini namanya pelanggaran privasi lho."
"Kalau kita gak bertindak sekarang, sekolah kita bisa hancur kalau ketahuan menang olimpiade pakai cara curang," balas Nadin berargumen.
Nadin berjalan cepat menuju meja Tommy di sudut belakang kelas.
Tas ransel kusam milik Tommy tergeletak di atas kursi dengan ritsleting yang sedikit terbuka.
"Gue yakin dia nyimpen alat komunikasi atau contekan tingkat tinggi di dalam tas ini," ucap Nadin penuh keyakinan.
Srak.
Nadin membuka ritsleting tas itu lebar-lebar dan mulai mengeluarkan isinya satu per satu.
Buku paket yang lecek, kotak pensil patah, dan sebuah botol minum plastik yang sudah kusam.
"Gak ada apa-apa, Din, cuma barang-barang gembel," lapor Kevin yang ikut memperhatikan.
"Tunggu sebentar, ada satu buku lagi di bagian paling bawah," ucap Nadin sambil merogoh dasar tas.
Nadin menarik keluar sebuah buku catatan bersampul hitam tebal yang terlihat sangat misterius.
"Buku apa ini?" gumam Nadin dengan dahi berkerut.
"Mungkin ini buku rumus rahasianya," tebak Kevin ikut penasaran.
Nadin membuka halaman pertama buku tersebut dengan tangan sedikit gemetar.
Namun, alih-alih menemukan rumus fisika atau algoritma matematika, mata Nadin justru terbelalak lebar membaca tulisan di sana.
"Buku Harian Sang Master Keberuntungan," Nadin membaca judul halaman itu dengan suara tertahan.
"Hah? Buku harian?" Kevin melongo tidak percaya.
Nadin membalik halaman berikutnya dengan cepat.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
logis dikit kelesss..😇😇