NovelToon NovelToon
OTAK SUPER SANG DOKTER IDIOT

OTAK SUPER SANG DOKTER IDIOT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Di balik tatapan kosong dan cemoohan sebagai "dokter idiot" yang selalu diremehkan di rumah sakit elit, Arka Prasetya sebenarnya menyimpan kejeniusan otak super serta sertifikasi bedah internasional yang tidak diketahui siapa pun. Ketika hidupnya terus diinjak-injak oleh para dokter senior yang arogan dan terjebak dalam perjodohan tak terduga dengan Clara, seorang pewaris konglomerat yang angkuh, Arka perlahan mulai menunjukkan taringnya lewat operasi-operasi mustahil yang akan memberikan tamparan telak bagi siapa saja yang berani merendahkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Suasana di dalam ruang rapat lantai empat puluh gedung markas besar Grup Handojo berubah menjadi sangat mencekam.

Suara rintihan kesakitan dari Roy Handojo menggema di setiap sudut ruangan yang luas dan mewah itu.

Wajah pemuda itu sudah membiru dengan keringat dingin yang mengucur deras dari pelipisnya.

Tuan Handojo berlutut di lantai sambil memeluk tubuh anaknya yang terus kejang-kejang hebat.

"Roy! Bertahanlah! Jangan tinggalkan ayah!" seru Tuan Handojo dengan suara parau penuh keputusasaan.

Para direktur perusahaan berdiri terpaku di tempat masing-masing tanpa berani mendekat atau menawarkan bantuan.

Mereka semua tahu bahwa kondisi kesehatan Roy memang rentan, namun tidak pernah menyangka akan kolaps separah ini.

Tuan Handojo mendongakkan kepalanya, menatap tajam ke arah Arka dengan mata yang memerah penuh air mata kemarahan.

"Tolong... selamatkan anakku..." ucap Tuan Handojo dengan nada suara yang bergetar hebat melunturkan seluruh keangkuhannya.

Arka melipat kedua tangannya di dada, menatap rendah pria paruh baya yang tadinya begitu arogan.

"Menyelamatkan nyawanya bukanlah hal yang sulit bagiku, Tuan Handojo," jawab Arka dingin.

"Tapi pertanyaannya, seberapa besar harga yang sanggup kamu bayar untuk nyawa anak tunggalmu ini?"

Tuan Handojo mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Katakan apa maumu! Berapa pun uang yang kamu minta, akan aku bayar tunai sekarang juga!" teriak Tuan Handojo putus asa.

Arka tertawa kecil pelan, suara tawa yang terdengar sangat meremehkan tawaran uang dari seorang konglomerat.

"Uang? Apakah menurutmu aku kekurangan uang sampai harus mengemis pada keluarga kalian?" tanya Arka sarkas.

"Yang aku inginkan bukan uangmu, Tuan Handojo."

Clara Wijaya berdiri di belakang Arka dengan napas tertahan, menyaksikan bagaimana seorang penguasa besar takluk di bawah telapak kaki pria di depannya.

"Lalu apa yang kamu inginkan dari kami?!" bentak Tuan Handojo tidak sabar melihat kondisi Roy yang semakin melemah.

"Pertama, batalkan seluruh pemutusan kerja sama sepihak terhadap Grup Wijaya dalam waktu kurang dari satu menit," ujar Arka tegas.

"Kedua, pulihkan seluruh akses pinjaman bank mitra utama tanpa ada syarat yang dipersulit."

"Dan ketiga, buat surat permintaan maaf terbuka di media massa nasional atas tindakan kotor keluarga kalian."

Mendengar tiga syarat mutlak tersebut, seluruh direktur di dalam ruangan langsung terkesiap kaget.

Syarat itu bukan sekadar negosiasi bisnis biasa, melainkan penghancuran total atas harga diri dan dominasi Grup Handojo.

"Kamu... kamu meminta kami bertekuk lutut di hadapan publik?!" murka Tuan Handojo dengan urat leher yang menegang.

"Pilihan ada di tanganmu, Tuan Handojo," balas Arka tanpa bergeming sedikit pun dari tempatnya berdiri.

"Biarkan anakmu mati dalam waktu tiga puluh detik ke depan, atau selamatkan nyawanya dengan menyerahkan seluruh keangkuhanmu."

Roy Handojo mengeluarkan suara tersedak yang sangat mengerikan, bola matanya hampir memutih karena kekurangan oksigen.

"Ayah... tolong aku... aku mau mati..." rintih Roy dengan sisa-sisa tenaga yang sangat lemah.

Mendengar rintihan sakaratul maut dari putranya, pertahanan mental Tuan Handojo akhirnya runtuh sepenuhnya.

Ia tidak peduli lagi pada harga diri, martabat, atau kekuasaan bisnis yang telah ia bangun selama puluhan tahun.

"Baiklah! Aku setuju! Aku setuju dengan semua syaratmu!" teriak Tuan Handojo histeris sambil membungkukkan kepalanya ke lantai marmer.

"Cepat selamatkan anakku! Kumohon!"

[Sistem Mendeteksi Target Telah Menerima Seluruh Syarat Mutlak]

[Peluang Keberhasilan Penyelamatan Medis: 100 Persen]

[Memulai Sinkronisasi Keahlian Bedah Tingkat Lanjut]

Suara notifikasi bernada datar berderik cepat di dalam kesadaran kepala Arka.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Arka melangkah maju mendekati tubuh Roy yang terkapar lemah di lantai.

"Jangan bergerak atau anak ini akan langsung tewas seketika," perintah Arka dingin kepada Tuan Handojo.

Arka berlutut di samping Roy dengan gerakan tangan yang sangat cepat dan presisi tinggi.

Jari-jari tangannya menekan beberapa titik akupunktur vital di sekitar dada dan leher Roy dengan tekanan yang terukur sempurna.

"Ukh...!" Roy mengeluarkan suara batuk keras, memuntahkan gumpalan darah hitam pekat ke lantai.

Bau amis langsung menyerbak di dalam ruang rapat yang mewah itu.

Namun, perubahan terjadi secara instan setelah darah kotor tersebut keluar dari tubuh Roy.

Napas pemuda itu yang tadinya terputus-putus perlahan-lahan mulai kembali teratur dan dalam.

Warna kulit wajahnya yang tadinya membiru kini berangsur-angsur kembali normal memerah.

"Napasnya... napasnya sudah normal kembali!" seru salah satu direktur dengan nada tidak percaya.

Tuan Handojo langsung merangkul tubuh anaknya dengan air mata kelegaan yang tumpah begitu saja.

"Roy... kamu sudah sadar, nak?" tanya Tuan Handojo gemetar.

Roy mengerjap-ngerjapkan matanya pelan, menatap langit-langit ruangan dengan tubuh yang masih terasa lemas.

"Ayah... aku... aku masih hidup?" bisik Roy lemah.

Arka bangkit berdiri dari posisinya, membersihkan sedikit debu di celananya dengan tenang.

Ia menoleh ke arah sekretaris Maya yang berdiri mematung di dekat pintu.

"Nona Maya, ambil dokumen pembatalan blokade sekarang juga dan suruh Tuan Handojo menandatanganinya di hadapanku," perintah Arka mutlak.

Maya menelan ludahnya susah payah, ia tidak berani menolak dan langsung berlari keluar mengambil dokumen yang diminta.

Tidak sampai lima menit kemudian, Maya kembali membawa berkas perjanjian resmi pembatalan blokade dan surat pernyataan maaf terbuka.

Tuan Handojo dengan tangan gemetar menandatangani seluruh dokumen tersebut di atas meja rapat di bawah pengawasan tajam Arka.

"Semua persyaratanmu sudah dipenuhi..." ucap Tuan Handojo dengan suara parau dan pandangan penuh rasa kebencian yang terpendam.

Arka mengambil berkas-berkas yang sudah ditandatanganinya itu lalu menyerahkannya kepada Clara Wijaya.

Clara menerima dokumen tersebut dengan tangan yang masih sedikit gemetar karena rasa takjub yang luar biasa.

Ia membaca isi surat tersebut dan mendapati seluruh blokade terhadap perusahaannya telah resmi dicabut sepenuhnya.

"Terima kasih, Arka..." bisik Clara tulus dengan mata berkaca-kaca menatap pemuda di sampingnya.

"Belum waktunya berterima kasih, Nona," balas Arka tersenyum tipis.

"Pertunjukan kita di sini sudah selesai, saatnya kita kembali ke rumah sakit untuk menghadapi tikus-tikus kecil lainnya."

Arka berbalik badan melangkah meninggalkan ruang rapat mewah tersebut tanpa menoleh lagi ke belakang.

Clara berjalan mengikuti di belakangnya dengan langkah yang jauh lebih tegap dan penuh rasa percaya diri.

Di dalam ruangan itu, Tuan Handojo memeluk anaknya yang masih lemas dengan tatapan mata yang menyala-nyala penuh amarah dendam.

"Tunggu pembalasanku, bajingan sialan..." batin Tuan Handojo penuh kebencian.

Namun Arka sama sekali tidak memperdulikan ancaman kosong di dalam hati pria tua itu.

Sistem di dalam kepalanya kembali berderik memberikan notifikasi baru tentang babak selanjutnya dari rencana besar yang telah ia susun.

[Misi Penyelamatan Krisis Finansial Grup Wijaya Selesai Sepenuhnya]

[Membuka Jalur Misi Utama Tahap Ketiga: Pembersihan Internal Rumah Sakit Medika Sentosa]

[Target Utama Selanjutnya: Dokter Senior Dimas dan Komplotannya]

Arka tersenyum misterius saat melangkah masuk kembali ke dalam lift eksekutif bersama Clara.

Malam ini baru permulaan dari seluruh kehancuran para musuh yang meremehkannya selama ini.

1
Shinta geol
karya yang bagus dan masuk ke dalam alur
Shinta geol
salut sama sikap thor yang tenang menguasai keadaan,saya kasih vote lah biar rame😍
Shinta geol
kasihan si arka selalu dekerjain para dokter lain nya😭
setiawan
motivasi hidup,saya kasih bintang 5
Jangkar pion
🥰😍🤩
Anton barly
saya suka karakter Thor🤗
gofur
karya yg menarik
yani
😶‍🌫️
fitri
motivasi untuk org normal biar tambah wawasan
fitri
hebat nya orang idiot tpi otak melebihi orang normal👍
Angel
sangat berkesan untuk orang nornal biar tambah semangat dalam bekerja💪
Angel
walaupun banyak yang hina tpi dia tidak runtuh sama sekali👍👍👍
Anton barly
orang idiot aja masih punya musuh,apalagi dia normal
Anton barly
orang pintar walaupun udiot masih aja punya musuh
fitri
sikap thor yang tenang menghadapi masalah👍
pricilia
jangan meremehkan orang yang memiliki kekurangan,belum tentu orang kekurangan itu di bawah batas kita,saya sadar orang normal belum tentu baik😒
clara
sangat bagus
clara
saya suka alur crita nya saya kasih vote 1 deh biar bisa lanjut baca nya😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!