NovelToon NovelToon
Bunga Terakhir

Bunga Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Rumah Tangga
Popularitas:316
Nilai: 5
Nama Author: Idents

Arhan Hamid harus belajar kehilangan, padahal ia belum pernah siap.

Satu kalimat dari dokter meruntuhkan seluruh dunianya — usia Anya, istrinya, tinggal 30 hari. Karena kanker.

Sejak hari itu, Arhan memilih memikul semuanya sendirian. Di depan Anya, ia tetap menjadi suami yang utuh. Yang tertawa paling keras, yang membuatkan teh paling hangat, yang mencintai lebih dari separuh jiwanya sendiri.

Padahal di dalam dadanya, ia hancur pelan-pelan.

Ia menutupi air mata dengan tawa. Menutupi takut dengan doa-doa yang ia bisikkan diam-diam setiap malam.

Mampukah Arhan tetap kuat ketika waktu terus menghitung mundur?

Dan di antara 30 hari yang tersisa, mungkinkah semesta masih menyisakan satu keajaiban untuk mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idents, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Pelukan itu terlepas perlahan.

Arhan menatap Anya dan mengatakan, "Terima kasih sayang, aku udah tenang kok."

Anya duduk di sebelah Arhan. Memandangnya dan mengatakan, "Kamu berhak istirahat Han, aku sudah makan, aku sudah minum obat, aku tidak kenapa-napa, kamu lanjutkan istirahatnya ya?"

Arhan tertegun seketika sekali, dadanya terasa sesak. Bagaimana bisa dia melanjutkan tidur jika di dalam mimpinya saja, dia harus kalah dan kehilangan Anya.

Arhan menggelengkan kepala dan menjawab, "Aku mau lanjutin kerjaan An."

Anya menghela napas. Dia tahu, Arhan memang keras kepala.

Arhan menarik kursi kerjanya mendekat. Kayunya berdecit pelan, menambah hening di ruangan itu. Laptop di depannya masih menyala, layarnya menampilkan naskah yang terhenti di tengah kalimat. Kursor berkedip pelan. Di luar jendela, langit masih mendung dan jalan terlihat basah.

Anya tidak langsung membantah. Ia membiarkan Arhan melakukan apa yang menurutnya perlu, meski matanya menyimpan khawatir yang tidak ia ucapkan. Ia hanya duduk di sebelah Arhan, memperhatikan wajah Arhan yang masih menyisakan lelah. Matanya sembab sedikit, rambutnya agak berantakan karena tertunduk lama.

"Kamu kalau udah di depan laptop lupa waktu," kata Anya pelan. "Padahal kamu selalu kurang tidur, mengurus semuanya sendirian."

Arhan tersenyum tipis.

"Sebentar aja. Biar kepalaku nggak muter terus," jawab Arhan.

Anya mengangguk. Ia tahu, kalau dilarang, Arhan justru akan semakin kepikiran. Jadi ia membiarkan, tapi ia tetap di sana. Ia mengambil selimut tipis dari sofa dan meletakkannya di punggung kursi Arhan.

"Kalau pusing bilang ya," kata Anya.

"Iya," jawab Arhan.

Arhan mulai mengetik lagi, pelan. Tangannya tidak secepat biasanya. Sesekali ia berhenti, menatap layar, lalu menghapus satu dua kata. Anya di sebelahnya membuka ponsel, mengecek pesan, lalu menaruhnya lagi.

Tidak ada percakapan panjang, hanya kebersamaan yang tenang. Jam dinding berdetak pelan, menjadi satu-satunya suara selain napas mereka.

Beberapa menit berlalu. Anya sesekali melirik, memastikan Arhan tidak tertunduk lagi seperti tadi.

Lalu Arhan berhenti mengetik. Ia menatap layar kosong beberapa detik, lalu menutup laptopnya setengah. Bahunya turun.

"Nggak masuk," katanya pelan. "Kepalaku masih penuh."

Anya menoleh.

"Ya udah, jangan dipaksa," kata Anya.

Arhan mengangguk. Ia mendorong laptopnya sedikit menjauh, lalu bersandar di kursi bersama istrinya.

Anya meraih tangan Arhan, menggenggamnya.

"Di sini aja dulu ya," kata Anya.

Arhan menggenggam balik. Genggamannya erat dan menenangkan.

Mereka diam lagi. Rumah terasa lebih hangat dari sebelumnya, tenang dan tidak tergesa-gesa. Ada rasa aman yang pelan-pelan kembali mengisi ruangan itu. Cahaya dari luar masuk lewat jendela, pantulannya jatuh di lantai ruang tamu yang sudah rapi.

Anya berdiri, merapikan buku catatan kecil di meja samping. Dari ruang tamu, ia menatap keluar.

"Udah reda," kata Anya pelan.

Arhan menoleh ke jendela. Kaca yang tadi berembun kini sudah jernih. Jalan di depan rumah masih basah, tapi langit sudah membuka.

Arhan memejamkan mata sebentar, menarik napas panjang. Bahunya yang tadi tegang perlahan turun, meski pikirannya masih belum sepenuhnya ringan. Kata-kata Anya tadi tentang istirahat masih terngiang. Ia melihat halaman yang penuh daun basah.

"An," kata Arhan pelan. "Boleh aku nyapu halaman sebentar? Habis hujan gini debunya nggak terbang kemana-mana."

Anya menatap halaman, lalu mengangguk.

"Boleh, tapi jangan lama-lama ya," kata Anya.

Arhan mengangguk. Ia berdiri, mengambil sapu lidi yang bersandar di dekat gudang. Ia membuka pintu depan. Udara sore terasa sejuk masuk ke dalam.

Halaman masih basah, dengan sisa genangan kecil di selokan dan daun-daun yang menempel di tanah. Arhan menatapnya sebentar, menikmati jeda yang jarang ia punya. Langit terlihat lebih bersih, pantulan lampu teras terlihat di jalan yang mengkilap.

Lalu dari jendela ruang tamu ia melihat sebuah mobil tua melaju pelan dan berhenti di depan pagar.

Mobil sedan silver yang catnya sudah pudar di bagian kap. Mobil yang sangat ia hafal.

Pintu terbuka. Pak Hendra keluar dari sisi pengemudi, Ibu Soraya keluar dari sisi penumpang sambil membawa tas kain.

Orang tua Anya datang menjenguk.

Arhan menyapu pelan, srek srek, sambil sesekali menoleh ke dalam rumah untuk memastikan Anya masih di ruang tamu. Arhan meletakkan sapunya dan membuka pagar.

"Pa, Ma," sapa Arhan.

Soraya tersenyum.

"Pagi, Han," kata Soraya.

"Pagi, Ma," jawab Arhan.

Hendra mengangguk.

"Pagi, Han. Kami mampir sebentar pagi ini, mau lihat Anya," kata Hendra.

"Silahkan masuk dulu, Pa, Ma," kata Arhan sambil membuka pagar lebih lebar.

Mereka masuk ke ruang tamu dengan langkah biasa saja. Tidak ada persiapan pesta, hanya jenguk biasa seperti beberapa hari terakhir. Soraya meletakkan wadah plastiknya di atas meja dengan hati-hati, seperti takut mengganggu ketenangan rumah itu. Aroma sup hangat yang dibawa Ibu Soraya menguar pelan, harum dan menenangkan.

Anya yang mendengar suara di ruang tamu langsung keluar dari dapur. Matanya membulat melihat siapa yang datang.

"Mama! Papa datang!" seru Anya. Suaranya senang, tapi tidak berteriak keras.

Soraya mendekat dan menyentuh bahu Anya sebentar.

"Pagi, Nak," kata Soraya.

"Pagi, Ma," jawab Anya.

Hendra ikut duduk di kursi.

"Gimana tidurmu semalam, An?" tanya Hendra.

"Nyenyak, Pa," jawab Anya sambil tersenyum.

Suasana di ruang tamu berjalan biasa saja, cair dan akrab. Anya melihat apa yang dibawa oleh Ibunya, matanya berbinar melihat wadah yang masih mengepul samar.

"Mama bawain sup sedikit, An. Kalau mau nanti dipanasin ya," kata Soraya.

"Makasih, Ma," kata Anya.

Arhan melihat mereka tengah berbincang. Ia sengaja memberikan mereka ruang. Memberikan mereka waktu kebersamaan tanpa merasa diperhatikan. Arhan melangkah mundur dengan pelan.

"Aku lanjut sapu halaman dulu ya, Ma, Pa," kata Arhan pelan.

Soraya mengangguk.

"Iya, Han, nggak apa-apa," jawab Soraya.

Arhan keluar rumah dan mengambil sapu lidi yang tadi ia tinggalkan di dekat gudang. Sapu itu agak lembap ujungnya karena udara pagi. Selama seminggu ini halaman memang tidak terlalu ia perhatikan, hanya beberapa daun kering dari pohon tetangga yang jatuh semalam. Ia menyapunya pelan.

Tidak lama kemudian, ia mendengar langkah kaki dari belakang.

Seseorang keluar dari dalam rumah.

Arhan tetap menyapu, tidak langsung menoleh.

Sebuah tepukan pelan mendarat di pundaknya dari belakang.

Arhan tertegun. Sapunya berhenti di tengah ayunan.

Ia menoleh perlahan.

Pak Hendra berdiri tepat di belakangnya. Wajahnya terlihat biasa saja, tidak marah, tapi ada sesuatu yang ingin ia tanyakan. Ia berbicara dengan suara pelan sekali, agar tidak terdengar sampai ke dalam rumah.

Arhan menarik napas pelan. Ia tahu betul tatapan Pak Hendra seperti itu.

"Han," kata Pak Hendra. "Papa boleh tanya sesuatu soal Anya sebentar ya?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!