NovelToon NovelToon
Dendam Salah Alamat

Dendam Salah Alamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mardzan J.

Pernikahan Nadira Alesya batal di depan mata ketika calon suaminya melarikan diri demi menikahi wanita lain. Terluka dan dipenuhi dendam, Nadira tak menyangka justru harus menikah dengan Rayzan Arjunawan, saudara dari pria yang telah meninggalkannya. Bagi Nadira, Rayzan hanyalah penebus dosa atas penghinaan yang ia terima.

Namun, Rayzan menghadapi sikap Nadira dengan kesabaran dan ketulusan. Perlahan, pernikahan yang awalnya dibangun atas dendam berubah menjadi sesuatu yang tak pernah Nadira rencanakan. Laki-laki yang seharusnya menjadi alat balas dendam justru membuat hatinya jatuh cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesal Tapi Perhatian

Ceklek!

Pintu ruangan terbuka lebar. Orang yang sejak tadi mereka bicarakan kini sudah berdiri di depan mata.

"Emir... Kenapa kamu membiarkan Rayzan menikah dengan Nadira? Aku 'kan udah menyelamatkan kamu supaya nggak mendapatkan perempuan itu."

Daulat dan Resya pun mulai berdiri.

"Aku nggak tahu kalau Rayzan akan menikahi Nadira. Dan soal kamu memberitahuku tentang Nadira, itu 'kan kemauan kamu, bukan kemauanku."

"Kamu jahat! Seharusnya aku yang menjadi menantu di rumah kalian. Tapi apa? Sekarang malah Nadira. Aku mengungkapkan semuanya supaya Nadira gagal menjadi menantu di keluarga kalian."

"Itu urusanmu. Yang penting sekarang aku nggak jadi menikah dengannya."

"Kamu memang egois. Dari dulu kamu selalu membuat Rayzan berada dalam masalah. Aku nggak tahu harus berbuat apa lagi. Aku sayang sama Rayzan, tapi dia malah menikah dengan Nadira. Dan itu semua gara-gara kamu!"

"Jaga ucapanmu! Kamu sendiri yang bertindak. Aku nggak pernah bertanya apa pun tentang Nadira kepadamu."

"Aku menyesal sudah memberitahumu tentang semuanya. Sekarang aku malah kehilangan Rayzan."

"Jangan lebay. Pernikahan mereka berdua nggak akan bertahan lama. Nadira bahkan terang-terangan bilang kepadaku kalau dia akan membalas dendam melalui Rayzan karena aku sudah membatalkan pernikahan kami secara sepihak."

"Itu artinya Rayzan sedang dalam masalah."

Daulat mengedikkan bahunya.

"Jahat kamu! Seharusnya kamu bisa melindungi Rayzan, tapi kamu malah melakukan sebaliknya."

"Tenang saja. Aku juga nggak sudi kalau Nadira menjadi bagian dari keluarga kami. Wanita murahan!"

"Tolong bantu aku mendapatkan Rayzan kembali. Aku mohon."

"Oke ... Tapi aku nggak bisa janji."

"Jangan begitu, Daulat. Ini demi kebaikan Rayzan. Dia juga saudaramu."

"Iya, iya ... Aku akan membantumu."

"Aku pegang janji kamu."

Meidra pun kembali keluar dari ruangan. Dia cukup senang karena mendapatkan dukungan dari calon iparnya. Namun, di balik rasa senangnya, dia mulai mengkhawatirkan kondisi Rayzan karena dendam yang disimpan Nadira.

"Mas ... Kita nggak boleh ikut campur dalam urusan rumah tangga orang. Nanti Rayzan bisa marah," ucap Resya. "Mas nggak lihat bagaimana marahnya Rayzan sewaktu Mas bilang kalau Nadira sudah nggak suci lagi?"

"Aku nggak peduli. Aku nggak mau Rayzan mendapatkan imbasnya. Kali ini aku akan melindungi adikku," ucap Daulat sambil menatap tajam ke arah depan.

[] [] []

"Umi, hati-hati, ya," ucap Nadira sambil melambaikan tangannya kepada wanita itu.

Begitu Indah sudah pulang, Nadira berlari ke dalam kamar untuk menemui Rayzan. Pria itu tersenyum ketika melihat sang istri, tetapi tiba-tiba saja Nadira memukul lengannya.

"Kamu kenapa?" tanya Rayzan kebingungan.

"Aku malu. Masa kamu bilang sama Umi kalau kita sudah berhubungan?"

"Ya 'kan memang benar. Aku 'kan nggak bohong sama Umi."

"Aku tahu," ucap Nadira sambil membulatkan matanya. "Tapi kamu nggak perlu bilang kepada orang-orang."

"Kamu salah. Tujuanku mengatakan itu supaya Umi mendoakan kita agar cepat punya bayi."

"Aku nggak mau! Apa perlu aku tulis di jidat kamu kalau aku nggak mau punya anak dalam pernikahan kita ini?"

Rayzan tersenyum simpul. "Terlambat, Nadira. Benihku sudah ada di dalam rahimmu. Dan kamu harus ingat satu hal. Kamu yang mulai duluan."

Nadira langsung berdiri tegap. Dia begitu malu ketika Rayzan mengingatkannya tentang kejadian malam itu.

"Hmmm ... Aku jadi penasaran. Kok bisa, ya, kamu yang mulai duluan? Kamu membayangkan siapa? Daulat?"

"Jaga ucapanmu, Rayzan! Aku nggak semurah itu. Berhubungan dengan orang lain sambil membayangkan orang yang berbeda."

"Berarti kamu memang benar-benar melihat aku? Tergoda sama ketampananku, ya?"

"Iiih..." Nadira kesal dan mengepalkan tangannya di hadapan Rayzan.

"Sekarang begini, deh. Bagaimana kalau giliran aku yang mulai duluan?"

"Sialan kamu, Rayzan."

Saat hendak memukul pria itu lagi, Rayzan langsung menarik tangan Nadira hingga tubuh wanita itu kehilangan keseimbangan dan menimpa tubuhnya.

"Arghhh..."

Rayzan meringis kesakitan saat dagu sang istri mengenai tulang pipinya. Rasa perih langsung menjalar di wajahnya.

"Rasain! Makanya jangan bikin orang kesal."

Cup!

Nadira mematung saat Rayzan mengecup wajahnya.

"Itu hukuman karena kamu sudah bikin aku sakit."

Nadira merasa gugup dengan posisi mereka. Saat ini dia berada di atas tubuh Rayzan, sementara pria itu justru tersenyum lebar menatap istrinya.

"Nyaman, ya? Sampai nggak mau beranjak dari pelukanku?"

"Iiih!"

Nadira pun mencubit pipi sang suami. Kemudian dia segera menjauh dari Rayzan.

"Pintar banget cari kesempatan. Pasti kamu sering mainin cewek, 'kan?"

"Iya ... Mereka tergila-gila dengan ketampananku. Seperti kamu!"

"Nggak usah kepedean. Aku sama sekali nggak tergoda sama kamu."

"Yakin? Buktinya tadi malam kamu yang merayuku."

"Rayzan!!!"

Nadira kesal dan berlalu pergi dari sana. Langkahnya sengaja dihentakkan, membuat Rayzan ingin tertawa melihat tingkah wanita itu.

[] [] []

Siang hari pun tiba. Rayzan keluar dari kamar. Langkahnya sedikit pincang karena rasa sakit yang dia alami tadi cukup parah.

Nadira kebetulan lewat ketika Rayzan sedang berjalan-jalan di dalam rumah. Tatapannya sempat mengarah ke bawah, memperhatikan langkah pria itu.

"Eh, kamu lihat apa? Mesum banget."

"Kamu, ya!" Nadira menatap tajam kepada pria itu. "Bisa nggak, sih, sekali saja kamu jangan bikin aku emosi? Suka banget bikin orang kesal."

"Ya kamu juga aneh. Lihat ke bawah ngapain? Tadi malam 'kan sudah lihat. Masih pengin lihat?"

"Iiih!"

Lagi-lagi Nadira mengepalkan tangannya di depan wajah Rayzan. Pria itu tertawa terbahak-bahak setelah berhasil membuat Nadira kesal.

"Terus, terus ... Ketawa terus sampai puas."

"Oke, oke." Rayzan mencoba menghentikan tawanya. "Kenapa, sayang?"

Nadira memandang Rayzan dengan tatapan miring. Sementara itu, pria tersebut masih berusaha menyembunyikan rasa bahagianya karena berhasil membuat sang istri kesal terus-menerus.

"Kenapa jalannya pincang?" tanya Nadira.

"Sakit," jawab Rayzan.

"Kalau sudah tahu sakit, ngapain juga keluar dari kamar?"

"Aku lapar."

"Biasanya juga minta makan. Terus sekarang kenapa mau sendiri?"

"Sayang ... Aku lihat tadi kamu bawa kemoceng. Aku yakin kamu pasti kelelahan karena membersihkan rumah, 'kan?"

"Itu bukan urusan kamu. Ini 'kan rumahku. Terserah aku mau membersihkannya atau nggak."

"Ini bukan rumah kamu. Ini rumah Papa dan Mama. Jadi, orang harus sadar diri, oke!"

"Sama saja, kali. Kamu jangan mancing emosiku lagi, ya."

Rayzan menganggukkan kepalanya. Kemudian dia melangkah pergi begitu saja tanpa menoleh ke arah istrinya lagi.

"Lho ... Kok aku diabaikan, sih?" batin Nadira. "Laki-laki satu ini memang suka bikin orang kesal."

Tiba-tiba saja Nadira kaget dan berlari ke arah Rayzan ketika pria itu terlihat kehilangan keseimbangan saat berjalan.

"Pelan-pelan, dong," kesal Nadira. "Sudah tahu sakit, bukannya minta tolong malah diam saja."

"Lagi-lagi kamu menolong aku. Aku yakin sebentar lagi aku bisa mendapatkan hatimu," batin Rayzan.

Rayzan sengaja merangkul pinggang istrinya. Nadira tentu saja terkejut dengan tindakan itu. Namun, dia tidak membantah karena Rayzan sedang membutuhkan pegangan. Dia tidak tahu bahwa pria itu sebenarnya hanya berpura-pura.

Sekilas Nadira melihat Rayzan memejamkan mata, seolah sedang menahan rasa sakit yang teramat dalam.

"Sakit banget, ya?" tanya Nadira mulai penasaran.

"Arghhh!"

Rayzan pun memeluk wanita itu dari samping.

Nadira sebenarnya ingin menolak, tetapi melihat ekspresi wajah suaminya, dia justru merasa kasihan.

"Kita ke rumah sakit saja. Kayaknya kamu kesakitan banget."

"Nggak perlu. Cukup ada istriku di sampingku, aku pasti baik-baik saja."

"Tapi—"

"Ssst..." Rayzan meletakkan jari telunjuknya tepat di bibir sang istri. "Bantu aku jalan. Aku mau makan."

"Oke."

1
Rian Moontero
mampiirr👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!