Ardio adalah seorang mafia kejam sejak kematian istri yang meninggal karena di bunuh oleh musuhnya, padahal istrinya bari melahirkan seorang bayi.
Setelah kepergian istrinya, ia menjadi bertambah kejam, meskipun begitu, ia sangta lembut kepada putri kecilnya yang bernama Adel, bahkan menggantikan popok pun ia mau bahkan rela begadang agar buah hatinya tidak terganggu oleh masalah.
Hari ini ia sedang mengeksekusi penjahat yang ingin menganggu bisnisnya, Tiba-tiba saja ia mendapat telpon dari pengasuh anaknya jika Adel tidak bisa tidur tanpa dirinya, dan ia rela pulang, dan menyurh anak buahnya untuk mengeksekusi penjahat tersebut.
Meskipun ia mafia kejam, tapi ia adalah ayah yang penyayang.
Adel pun berusia masuk SMA favorit, tapi ia mendapatkan pembullyan daei teman Sekolahnya karena ada seorang pria primadona yang mendekatinya.
Sementara ia tidak sedikit pun menyukai sang primadona tersebut.
Tapi Adel menyimpan sendiri pembullyan itu hingga akhirnya di ketahui oleh Ardio.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
"Iya, Sayang. Mereka mau buat kejutan permainan laser tag dan pertunjukan kembang api khusus di ulang tahunmu. Tapi karena sistem listrik restorannya mendadak rusak dan mati lampu, kejutannya jadi kacau. Bunyi letupan keras yang kamu dengar itu cuma petasan kembang api yang meledak terlalu dekat di luar, dan asap pekat itu cuma gas yang bocor," jawab Ardio terpaksa berbohong.
Adel memiringkan kepalanya. Tapi... kenapa Papa teriak-teriak dan marah sekali kemarin?" tanyanya penasaran.
Ardio tertawa pelan. "Papa marah karena acara kejutan itu bikin putri kesayangan Papa ketakutan sampai menangis! Papa kan paling tidak suka kalau ada hal yang bikin Adel sedih. Makanya Papa langsung suruh Paman Reno menghentikan seluruh pertunjukannya dan membawa kita pulang," jawab Ardio.
"Jadi... tidak ada yang mau culik Adel?" tanya Adel memastikan.
"Tidak akan pernah ada yang bisa culik Adel. Siapa yang berani coba-coba culik anak Papa yang paling cantik ini, hm? Papa bakal ubah orang itu jadi patung sebelum dia sempat melangkah!" jawab Ardio merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya
Adel akhirnya tertawa. Ia membenamkan wajahnya di leher Ardio.
"Papa suka berlebihan! Tapi... terima kasih ya, Pa. Karena Papa selalu ada buat jaga Adel," kata Adel tulus.
"Sama-sama, Sayang. Sekarang, Princess mandi ya? Bi Inah sudah siapkan sarapan pancake cokelat kesukaanmu di bawah," ujar Ardio seraya mengecup dahi Adel penuh kasih.
"Siap, Papa!" seru Adel ceria.
Ia melompat turun dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi dengan riang.
Begitu pintu kamar mandi tertutup. Ia merogoh ponsel di saku celananya dan melangkah menuju balkon kamar.
Di bawah, di balik pepohonan rindang halaman rumah, Reno sudah berdiri menunggu laporan.
"Reno," panggil Ardio dingin melalui sambungan telepon.
"Saya di sini, Bos," sahut Reno cepat.
"Laporan untuk pembantaian aliansi musuh yang mendanai aksi semalam sudah selesai. Tiga markas utama mereka di sektor timur sudah kami ratakan dengan tanah. Tidak ada satu pun pimpinan mereka yang tersisa," jawab Reno dengan tegas.
"Bagus. Pastikan media massa mencatat kejadian semalam di restoran sebagai insiden ledakan tabung gas dan kebocoran pipa. Jangan sampai ada satu berita pun di TV atau internet yang menyebutkan kata 'penembakan' atau 'mafia'," bisik Ardio datar.
"Pesan diterima, Bos. Semua jaringan berita sudah kami kendalikan penuh. Non Adel tidak akan pernah melihat berita itu di mana pun," jawab Reno cepat.
"Satu hal lagi. Tingkatkan intensitas pengawasan di sekolah Adel. Jika ada orang asing yang mencurigakan mendekati radius seratus meter dari Adel... habisi mereka di tempat. Jangan tunggu perintahku," titah Ardio menatap langit pagi yang cerah.
"Dimengerti, Bos Ardio!"
Ardio mematikan teleponnya. Ia memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang.
Adel bukan hanya sekadar nyawa baginya. Adel adalah satu-satunya penahan agar tidak sepenuhnya ia menjadi iblis.
Suara pintu kamar mandi yang terbuka memecahkan lamunan Ardio.
"Papa! Tolong bantu sisir rambut Adel!" teriak Adel dari dalam kamar sambil memegang sisir merah muda.
Ardio berbalik.
"Iya, Sayang, Papa datang," sahut Ardio lembut, melangkah masuk untuk membantu Adel menyisir rambutnya.
...⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️...