Rara, seorang gadis yang gemar membaca kisah pria tampan, tiba-tiba terbangun di dalam novel yang baru saja dibacanya. Namun, bukan sebagai pemeran utama yang baik hati, ia justru menjadi Zelara Sabiru, istri arogan, sombong, dan kejam dari seorang bos mafia bernama Bashkar Deluca. Dalam cerita asli, Zelara selalu membenci Bashkar dan ikut keluarganya menuduh sang suami sebagai dalang di balik kematian kedua orang tuanya. Bahkan, Zelara berakhir dengan nasib tragis. Namun Rara mengetahui satu rahasia yang tidak diketahui siapa pun Bashkar tidak pernah membunuh orang tuanya. Semua tuduhan itu hanyalah fitnah. Berbekal pengetahuan tentang alur cerita, Rara memutuskan mengubah takdir Zelara. Ia meninggalkan sifat buruk sang istri, memilih untuk bertaubat, dan mulai membela Bashkar yang selama ini hidup dalam kesepian serta penuh kecurigaan. Tetapi semakin Rara berusaha mengubah akhir cerita, semakin banyak rahasia keluarga Deluca yang terbongkar. Dan yang paling membuatnya bingung… Mengapa sang mafia dingin yang seharusnya membencinya justru mulai melindunginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Malam mulai merayap naik, menutupi lanskap kota dengan kegelapan yang dihiasi curahan salju yang makin lebat. Jam dinding di mansion menunjukkan pukul tujuh malam, namun Bashkar belum juga menunjukkan tanda-tanda akan pulang.
Zela, yang sudah tidak sabar dan ingin agar kue cokelat buatannya serta suasana hangat di kamar tidak mendingin sia-sia, akhirnya memutuskan untuk menyusul suaminya ke kantor. Menggunakan mantel bulu hangat dan membawa sedikit keberanian, ia meminta sopir keluarga untuk mengantarkannya ke gedung Deluca Corp.
Setibanya di lantai eksekutif yang sudah sepi dan temaram, Zela berjalan berjingkat melintasi karpet tebal. Di depan pintu kayu jati tebal ruang kerja Bashkar, Zela tersenyum tipis. Jemarinya yang lentik memegang gagang pintu, berencana memberikan kejutan kecil dengan mengajak pria itu pulang lebih awal.
Klek.
Zela mendorong pintu itu pelan tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Namun, senyum manis yang baru saja terukir di bibirnya seketika membeku. Seluruh pasokan udara di dalam paru-parunya seolah tersedot habis.
Di dalam ruang kerja yang bernuansa redup itu, tepat di dekat dinding kaca besar yang memperlihatkan tarian salju di luar, berdiri dua sosok manusia. Seorang wanita bergaun merah anggun dengan rambut bergelombang yang terurai indah—Clarissa—sedang melingkarkan kedua tangannya di pinggang tegap Bashkar, menyandarkan kepalanya mesra di dada bidang pria itu.
Bashkar berdiri kaku di sana. Pria itu memang tidak membalas pelukan tersebut, namun ia juga sama sekali tidak menolak, tidak mendorong, atau menjauhkan Clarissa dari tubuhnya.
Suara gesekan pintu yang terbuka memecah keheningan romantis di antara mereka. Clarissa dan Bashkar refleks menoleh ke arah pintu.
Melihat kehadiran Zela yang berdiri kaku di ambang pintu, Clarissa perlahan melepaskan pelukanya dengan gerakan yang teramat anggun dan tenang. Wajah cantiknya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah atau terkejut; sebaliknya, sepasang matanya menatap Zela dengan kilatan dingin dan tidak senang—seolah-olah kedatangan Zela adalah sebuah gangguan tak diundang yang merusak momen berharganya.
Zela meremas jemarinya sendiri di balik saku mantel tebalnya. Dadanya berdesir hebat, memancarkan rasa panas dan nyeri yang menyengat hingga ke dalam tenggorokan.
Dengan suara yang sedikit bergetar dan sedikit serak, Zela memberanikan diri menatap lurus ke dalam sepasang mata kelabu milik suaminya.
"Kalian... lagi ngapain?" tanya Zela pelan, menuntut penjelasan di tengah sesak yang meremukkan dadanya.
Clarissa menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan rasa superioritas. Wanita itu merapikan gaun mewahnya, lalu membuka mulutnya untuk bersuara, "Nyonya Zelara, sepertinya Anda tidak tahu sopan santun untuk—"
"Bukan urusanmu," cut Bashkar dingin.
Kalimat itu terucap dari bibir tegas Bashkar dengan nada rendah, datar, dan tajam tanpa riak emosi sedikit pun. Suaranya bergema nyaring di dalam ruangan yang sunyi, memotong ucapan Clarissa sekaligus menghantam tepat di ulu hati Zela.
Bashkar tidak menunjuk Clarissa, tidak memberi penjelasan, dan tidak pula mencoba menenangkan Zela. Tiga kata yang keluar dari mulutnya secara mutlak mengunci hak Zela sebagai seorang istri, memposisikan wanita itu tak lebih dari orang luar yang tidak berhak mencampuri urusannya.
Zela membeku di tempat. Kata-kata yang tadinya sudah ia susun di dalam kepala—ajakan untuk pulang bersama, cerita tentang kue cokelat yang ia buat hingga tangannya pegal, dan ucapan selamat ulang tahun yang manis—sekilas menguap tanpa sisa. Rasa hangat yang tadi memenuhi dadanya berubah menjadi tumpukan es yang membeku dan menusuk.
Zela menatap Bashkar sekali lagi, mencari sedikit saja raut kehangatan atau penyesalan di wajah porselen pria itu. Namun yang ia temukan hanyalah mata kelabu yang sepi dan membekukan darah.
Tanpa melontarkan sepatah kata pun lagi, Zela perlahan mundur satu langkah. Ia tidak mengomel, tidak menangis histeris, dan tidak pula membuat keributan. Dengan raut wajah yang mendadak redup, murung, dan sayu, Zela berbalik secara perlahan.
Langkah kakinya melangkah lesu menyusuri koridor gedung yang dingin dan sepi. Di balik punggungnya yang menjauh, pintu ruang kerja itu kembali tertutup rapat, meninggalkan Zela dalam keputusasaan yang sunyi di tengah malam musim dingin.
Malam mulai merayap naik, menutupi lanskap kota dengan kegelapan yang dihiasi curahan salju yang makin lebat. Jam dinding di mansion menunjukkan pukul tujuh malam, namun Bashkar belum juga menunjukkan tanda-tanda akan pulang.
Zela, yang sudah tidak sabar dan ingin agar kue cokelat buatannya serta suasana hangat di kamar tidak mendingin sia-sia, akhirnya memutuskan untuk menyusul suaminya ke kantor. Menggunakan mantel bulu hangat dan membawa sedikit keberanian, ia meminta sopir keluarga untuk mengantarkannya ke gedung Deluca Corp.
Setibanya di lantai eksekutif yang sudah sepi dan temaram, Zela berjalan berjingkat melintasi karpet tebal. Di depan pintu kayu jati tebal ruang kerja Bashkar, Zela tersenyum tipis. Jemarinya yang lentik memegang gagang pintu, berencana memberikan kejutan kecil dengan mengajak pria itu pulang lebih awal.
Klek.
Zela mendorong pintu itu pelan tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Namun, senyum manis yang baru saja terukir di bibirnya seketika membeku. Seluruh pasokan udara di dalam paru-parunya seolah tersedot habis.
Di dalam ruang kerja yang bernuansa redup itu, tepat di dekat dinding kaca besar yang memperlihatkan tarian salju di luar, berdiri dua sosok manusia. Seorang wanita bergaun merah anggun dengan rambut bergelombang yang terurai indah Clarissa sedang melingkarkan kedua tangannya di pinggang tegap Bashkar, menyandarkan kepalanya mesra di dada bidang pria itu.
Bashkar berdiri kaku di sana. Pria itu memang tidak membalas pelukan tersebut, namun ia juga sama sekali tidak menolak, tidak mendorong, atau menjauhkan Clarissa dari tubuhnya.
Suara gesekan pintu yang terbuka memecah keheningan romantis di antara mereka. Clarissa dan Bashkar refleks menoleh ke arah pintu.
Melihat kehadiran Zela yang berdiri kaku di ambang pintu, Clarissa perlahan melepaskan pelukanya dengan gerakan yang teramat anggun dan tenang. Wajah cantiknya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah atau terkejut; sebaliknya, sepasang matanya menatap Zela dengan kilatan dingin dan tidak senang—seolah-olah kedatangan Zela adalah sebuah gangguan tak diundang yang merusak momen berharganya.
Zela meremas jemarinya sendiri di balik saku mantel tebalnya. Dadanya berdesir hebat, memancarkan rasa panas dan nyeri yang menyengat hingga ke dalam tenggorokan.
Dengan suara yang sedikit bergetar dan sedikit serak, Zela memberanikan diri menatap lurus ke dalam sepasang mata kelabu milik suaminya.
"Kalian... lagi ngapain?" tanya Zela pelan, menuntut penjelasan di tengah sesak yang meremukkan dadanya.
Clarissa menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan rasa superioritas. Wanita itu merapikan gaun mewahnya, lalu membuka mulutnya untuk bersuara, "Nyonya Zelara, sepertinya Anda tidak tahu sopan santun untuk—"
"Bukan urusanmu," cut Bashkar dingin.
Kalimat itu terucap dari bibir tegas Bashkar dengan nada rendah, datar, dan tajam tanpa riak emosi sedikit pun. Suaranya bergema nyaring di dalam ruangan yang sunyi, memotong ucapan Clarissa sekaligus menghantam tepat di ulu hati Zela.
Bashkar tidak menunjuk Clarissa, tidak memberi penjelasan, dan tidak pula mencoba menenangkan Zela. Tiga kata yang keluar dari mulutnya secara mutlak mengunci hak Zela sebagai seorang istri, memposisikan wanita itu tak lebih dari orang luar yang tidak berhak mencampuri urusannya.
Zela membeku di tempat. Kata-kata yang tadinya sudah ia susun di dalam kepala ajakan untuk pulang bersama, cerita tentang kue cokelat yang ia buat hingga tangannya pegal, dan ucapan selamat ulang tahun yang manis sekilas menguap tanpa sisa. Rasa hangat yang tadi memenuhi dadanya berubah menjadi tumpukan es yang membeku dan menusuk.
Zela menatap Bashkar sekali lagi, mencari sedikit saja raut kehangatan atau penyesalan di wajah porselen pria itu. Namun yang ia temukan hanyalah mata kelabu yang sepi dan membekukan darah.
Tanpa melontarkan sepatah kata pun lagi, Zela perlahan mundur satu langkah. Ia tidak mengomel, tidak menangis histeris, dan tidak pula membuat keributan. Dengan raut wajah yang mendadak redup, murung, dan sayu, Zela berbalik secara perlahan.
Langkah kakinya melangkah lesu menyusuri koridor gedung yang dingin dan sepi. Di balik punggungnya yang menjauh, pintu ruang kerja itu kembali tertutup rapat, meninggalkan Zela dalam keputusasaan yang sunyi di tengah malam musim dingin.