Seorang pemuda yang memiliki rasa haus akan mimpi menjadi orang kaya, berangkat merantau penuh harapan tinggi.
Tapi, sesampainya dikota, tamparan keras menghantamnya.
Ternyata hidup dikota tidak semudah yang dia bayangkan.
Sampai pada akhirnya sistem datang seperti malaikat yang jatuh dari langit, memberi jalan baru baginya untuk melawan kerasnya hidup didunia orang dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gen-1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Dari Status Palsu ke Hubungan Nyata
Risa terdiam cukup lama.
Mencoba mencerna semua yang baru saja didengarnya.
Ingatan tentang Yuda dua tahun lalu perlahan kembali muncul di kepalanya.
Seorang pemuda berusia 19 tahun yang sering datang mengambil paket di rumahnya dengan pakaian sederhana dan selalu berbicara sopan kepadanya.
Saat itu, Risa sama sekali tidak pernah berpikir lebih jauh tentang Yuda.
Ia hanya mengenalnya sebagai seorang kurir yang cukup sering mengambil pesanan dari tokonya.
Ia menganggap Yuda sebagai pemuda yang menarik dan cukup lucu ketika mereka mulai akrab.
Tidak pernah terpikir olehnya kalau pemuda itu ternyata sudah memiliki ketertarikan kepadanya sejak awal.
Dan yang lebih mengejutkan lagi, perasaan itu ternyata tidak berhenti di sana.
Selama dua tahun mereka berinteraksi, meskipun hanya sebatas urusan pekerjaan, perasaan Yuda justru perlahan tumbuh.
Risa menundukkan kepalanya.
Ia merasa sedikit malu sekaligus bahagia.
Ternyata Yuda tidak tiba-tiba menyukainya.
Tapi perasaan itu sudah ada jauh sebelumnya.
Bahkan ketika Yuda masih merasa dirinya tidak pantas untuk mendekatinya.
Risa menarik napas pelan.
Kekhawatiran tentang usia mereka masih ada.
Ia masih belum bisa memastikan seperti apa hubungan mereka nanti.
Namun setidaknya sekarang ia tahu bahwa Yuda tidak sedang terbawa suasana.
Pria itu sudah memikirkan perasaannya sejak lama.
Dan berbeda dengan dirinya yang masih terus meragukan hubungan mereka, Yuda sudah mengambil keputusan untuk maju dan melawan.
Risa perlahan mengangkat wajahnya.
Tatapannya kembali bertemu dengan mata Yuda.
Ada sedikit keraguan yang masih tersisa, tetapi kali ini tidak sebesar sebelumnya.
Saat mendengar bahwa Yuda pernah merasa tidak pantas seperti dirinya justru membuat hati Risa terasa lebih tenang.
Mungkin mereka memang berbeda usia.
Mungkin masa depan mereka tidak akan selalu mudah.
Tetapi setidaknya, kali ini Risa tidak lagi merasa sendirian dalam menghadapi keraguannya.
Yuda memperhatikan raut wajah Risa yang terus berubah-ubah.
Melihat wanita itu masih tenggelam dalam pikirannya sendiri, ia tersenyum tipis lalu bertanya dengan nada yang sangat lembut,
"Bagaimana? Maukah kamu jadi pacarku?"
Pertanyaan itu seketika menyadarkan Risa dari lamunannya.
Ia perlahan mengangkat wajah dan menatap lurus ke mata Yuda.
Berbagai keraguan yang sebelumnya memenuhi pikirannya kini perlahan menghilang.
Ia memang masih memikirkan perbedaan usia mereka dan seperti apa hubungan ini nantinya.
Namun, setelah mendengar semua yang dikatakan Yuda, Risa tidak ingin terus bersembunyi di balik kekhawatiran itu.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Risa akhirnya mengangguk pelan.
"Iya... Aku mau..."
Suaranya terdengar lembut dan pelan.
Senyum kecil yang perlahan muncul tanpa sadar di bibirnya sudah cukup memberikan jawaban yang jelas.
Mendengar jawaban tersebut, binar bahagia langsung terlihat di mata Yuda.
Bersamaan dengan anggukan Risa.
[Ding!]
Notifikasi sistem terdengar di benak Yuda.
Namun, ia mengabaikannya begitu saja dan memilih fokus pada wanita di sampingnya.
"Benarkah?"
Risa mengangguk lagi. "Iya."
Kali ini jawabannya terdengar lebih jelas.
Yuda tersenyum sangat lebar.
Tanpa banyak bicara, kedua tangannya, menarik lembut tubuh elok wanita itu mendekat secara perlahan.
Yuda menundukkan kepala, menempelkan bibirnya kembali pada bibir Risa.
Berbeda dari ciuman pertama yang tiba-tiba dan cukup intens, ciuman kali ini jauh lebih lembut.
Risa tidak menolak, perlahan kedua tangan kecilnya merangkul belakang leher Yuda dan membalas ciumannya.
Ia memejamkan matanya menikmati sensasi manis di mulutnya.
Pada saat Yuda merenggangkan celah bibirnya yang sudah tak berdaya menolak.
Bulu mata Risa sedikit bergetar.
Lidah Yuda menerobos masuk, menyambar dan bermain dengan lidah Risa, membawa ciuman itu jauh lebih dalam dan basah.
Risa seketika menahan napasnya.
Sensasi hangat dan getaran menjalar cepat ke seluruh tubuhnya.
Kelopak matanya terpejam bergetar, sementara kedua tangannya merangkul belakang leher pria itu lebih erat.
Ia benar-benar tersihir oleh keintiman ini, membiarkan Yuda memimpin dan membelai setiap sudut di dalam mulutnya.
Keheningan malam dan suara deru angin danau seolah lenyap, tergantikan oleh degupan detak jantung Risa yang makin tak beraturan di bawah kendali Yuda.
Beberapa menit berlalu lagi dalam ciuman yang makin memabukkan itu.
Kedua tangan Yuda yang tadinya memegang lengan atas kini berpindah, menangkup lembut kedua pipi Risa untuk memperdalam tiap tautan lidahnya.
Namun seiring gairah yang makin membakar, jemari Yuda mulai bergerak gelisah dan kian liar.
Tangannya meluncur turun menelusuri leher, meraba pinggang ramping Risa, mengusap punggung mulusnya, hingga merayap naik menangkap dada besar dan montok milik wanita itu.
Sensasi intim itu membuat Risa makin bergetar hebat dan tubuhnya makin melemah.
Aliran hangat membakar seluruh sarafnya, membuat napasnya kian tersendat di tengah kepungan gairah Yuda.
Puncaknya, saat jemari Yuda meluncur makin ke bawah, membelai paha berisi Risa dan mulai hendak mengangkat roknya untuk menyusup ke dalam, kesadaran Risa seketika terbangun.
Kedua tangan Risa yang tadinya merangkul erat leher Yuda langsung terlepas.
Dengan sisa tenaga dan napas yang tersisa, ia dengan cepat meraih dan menahan tangan Yuda yang hendak menyusup lebih jauh.
"Jangan..." bisik Risa terengah di sela bibir mereka.
Yuda seketika menghentikan pergerakannya.
Dengan sisa kendali diri yang ada, ia perlahan menarik bibirnya kembali, melepaskan ciuman itu.
Seuntai air liur tipis sempat terhubung sekejap di antara bibir mereka sebelum akhirnya terputus.
Risa segera menghirup udara dalam-dalam, napasnya hampir habis.
Dadanya naik-turun tak karuan, sementara sensasi panas dan basah masih tertinggal jelas di bibirnya.
Tiga puluh tahun hidupnya, Risa belum pernah sekalipun merasakan ciuman.
Dan sekarang, ciuman pertamanya justru begitu dalam dan penuh gairah.
Selama ini, adegan berciuman seintim itu hanya pernah ia tonton di drakor, saat sedang santai di kamar.
Jadi, begini rasanya ciuman panas seperti di drakor?' batin Risa, jantungnya masih berdegup liar.
'Sensasinya aneh, tapi... rasanya lumayan.' Risa menyentuh bibirnya dengan ujung jari, merasakan jejak ciuman yang masih melekat, panas, basah, lembut.
Pikiran itu segera ia usir dengan perasaan malu, 'Ada apa denganku?'
Tepat saat ia berusaha menenangkan pikirannya yang kacau, pandangan Risa tertuju wajah Yuda.
Di sana, sudut bibir pria itu terangkat lebar.
Yuda menyunggingkan senyum puas dengan raut yang luar biasa bangga atas reaksinya.
Risa menatapnya tak percaya.
Dulu di matanya, Yuda adalah anak muda yang sopan, baik, dan selalu menjaga jarak dengan rapi.
Ternyata, begitu status mereka resmi berubah jadi pacaran, sifat aslinya yang jahil dan muka tebal langsung keluar tanpa saringan.
"Kamu..." Risa melayangkan tatapan tajam, mengeluh dengan wajah memerah hingga ke telinga. "Aku pikir kamu itu orangnya baik-baik dan sopan. Baru juga aku bilang iya, kamu langsung ngelunjak begini!"
Yuda tetap bermuka tebal.
Tanpa rasa bersalah sedikit pun, ia menanggapi santai, "Lho, bukankah ini wajar? Kita kan sudah resmi pacaran. Lagian... kamu tadi juga enggak menolaknya, kan?"
"Kamu...! Aku curiga kamu punya fetis ciuman." Wajah Risa makin membara karena ucapan Yuda memang ada benarnya lalu membalas.
Karena kesal Risa langsung melayangkan tangannya dan mencubit pinggang Yuda.
"Aww! Aduh, sakit, Sayangku Ris!" Yuda pura-pura meringis kesakitan sambil memegangi pinggangnya.
Namun bukannya kapok, ia justru menatap Risa dengan wajah godaan yang makin jadi.
"Lagian kalau dipikir-pikir... kamu juga sepertinya punya fetis mencubitku, kan?"
Risa memalingkan mukanya lalu mendengus pelan. "Hmph... terserah kamu!"
Namun, rasa kesalnya tidak benar-benar bertahan lama.
Tanpa sadar, senyum kecil justru muncul di wajahnya.
Ia kemudian meraih lengan Yuda dan memegangnya cukup erat, seolah ingin memastikan pria di sampingnya benar-benar ada di sana.
Perlahan, Risa menyandarkan kepalanya di pundak Yuda.
Tatapannya kembali mengarah ke permukaan danau yang tenang.
Ada rasa bahagia yang sulit dijelaskan di dalam hatinya.
Ia masih merasa sedikit tidak percaya.
Beberapa menit yang lalu, mereka masih membicarakan berbagai keraguan tentang hubungan ini.
Sekarang, pria yang selama ini ia kenal sebagai kurir yang sering datang mengambil paket justru sudah menjadi pacarnya.
Risa tersenyum kecil. 'Jadi... sekarang aku benar-benar pacaran dengan Yuda?'
Memikirkan hal itu, membuat hatinya terasa tak karuan.
Perlahan, Risa memejamkan matanya.
Ia hanya ingin menikmati momen saat ini.
Berdua dengan Yuda, tanpa perlu memikirkan berbagai kekhawatiran yang sebelumnya memenuhi pikirannya.
Beberapa saat ia hanya diam, menikmati rasa nyaman dari bersandar di pundak pria yang kini sudah menjadi pacarnya.
Yuda yang menyadari perubahan sikap Risa menoleh ke arahnya.
Melihat wanita itu tersenyum sambil bersandar padanya, Yuda ikut tersenyum tipis.
Tangannya kemudian terangkat, merangkul bahu Risa dengan lembut.
Keduanya kembali menatap danau dalam diam.
Kali ini, keheningan di antara mereka terasa jauh lebih nyaman.
Untuk beberapa saat, keduanya hanya diam menikmati suasana malam di sekitar danau.
Bab Berakhir.