Novel ini mengisahkan Ahmad Zaki, seorang pemuda berusia 20 tahun yang merupakan anak dari pedagang kain. Ia berniat untuk belajar dan memperdalam ilmu di pondok pesantren yang berada di pedesaan.
Baru beberapa hari di pondok pesantren, ia telah menanam benih-benih cinta. Cinta yang tulus kepada seorang santriwati berusia 18 tahun, Nafisah Zahra.
Namun, cinta keduanya terhalang oleh perjodohan dan agresi militer.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Tugas Pertama Sebagai Kurir
Pengarahan dari Ustaz Malik berlangsung singkat namun penuh penekanan pada kehati-hatian. Zaki, Darto, dan tiga santri senior lain dikumpulkan di sudut lumbung, jauh dari telinga yang tidak perlu, sementara Ustaz Malik menjelaskan aturan main yang harus mereka patuhi.
"Kalian akan membawa surat-surat kecil, digulung rapat dan disembunyikan di dalam ikat pinggang atau lipatan sarung," katanya, menunjukkan cara melipat kertas hingga setipis mungkin. "Jangan pernah membawa lebih dari satu surat sekaligus. Jangan berhenti terlalu lama di satu tempat. Dan yang paling penting, kalau ditanya, kalian adalah santri biasa yang sedang mencari kayu bakar atau mengunjungi kerabat. Tidak lebih."
"Bagaimana kalau ketahuan, Ustaz?" tanya salah satu santri senior, suaranya sedikit gemetar.
"Berdoalah supaya itu tidak terjadi," jawab Ustaz Malik, wajahnya serius. "Tapi kalau memang terjadi, jangan pernah menyebut nama siapa pun. Diam adalah pilihan paling aman."
Zaki menelan ludah, merasakan beratnya tanggung jawab yang baru saja ia terima. Tapi ia teringat kata-kata Kiai Wahid semalam, tentang menjaga amanah, dan itu cukup untuk menguatkan tekadnya.
Tugas pertama Zaki adalah mengantar surat dari Kiai kepada seorang tokoh laskar di dusun tetangga, sekitar dua jam perjalanan kaki melalui jalan setapak yang jarang dilalui. Darto ditugaskan untuk rute yang berbeda, mengantar kabar ke arah selatan, tempat sebagian pasukan Hizbullah bermarkas sementara.
"Hati-hati, Kang," pesan Darto sebelum mereka berpisah di persimpangan jalan setapak. "Kalau ada apa-apa, langsung lari ke arah sungai. Airnya bisa jadi tempat sembunyi."
"Kamu juga hati-hati," jawab Zaki, menepuk bahu sahabatnya. "Semoga kita berdua kembali dengan selamat, dan semoga kamu dapat kabar tentang ayahmu."
Darto mengangguk, lalu berjalan menuju arahnya sendiri, punggungnya tegap meski Zaki tahu ada kecemasan besar yang ia sembunyikan di balik langkah mantap itu.
Perjalanan Zaki melewati hutan bambu yang rimbun, jalan setapak yang licin karena hujan semalam, dan sesekali suara burung yang membuat jantungnya berdegup kencang karena mengira ada sesuatu yang lebih berbahaya. Ia menjaga langkahnya tetap tenang, mengingat pesan Ustaz Malik untuk terlihat seperti santri biasa.
Sekitar satu jam perjalanan, ia berpapasan dengan dua orang berseragam lusuh yang membawa senjata rakitan, berjalan cepat dari arah berlawanan. Jantung Zaki hampir berhenti, tapi ia memaksakan diri berjalan tenang, menunduk sopan seperti kebiasaan santri bertemu orang asing.
"Mau ke mana, Nak?" tanya salah satu dari mereka, suaranya tegas tapi tidak kasar.
"Mencari kayu bakar, Pak," jawab Zaki, suaranya berusaha setenang mungkin meski jantungnya berdegup kencang.
Orang itu menatapnya sejenak, matanya menyapu seluruh tubuh Zaki seperti mencari sesuatu yang mencurigakan. Zaki menahan napas, berdoa dalam hati agar ikat pinggangnya yang menyembunyikan surat tidak terlihat mencurigakan.
"Hati-hati, Nak. Daerah ini sedang tidak aman. Cepat pulang setelah dapat kayu," kata orang itu akhirnya, lalu melanjutkan perjalanan mereka bersama rekannya.
Zaki menghela napas lega, meski kakinya terasa lemas beberapa saat setelahnya. Ia melanjutkan perjalanan dengan hati yang lebih waspada, setiap suara daun bergemerisik membuatnya waspada penuh.
Ia tiba di dusun tujuan menjelang siang, sebuah perkampungan kecil yang tampak lebih siaga dari Karangtengah, dengan beberapa pemuda berjaga di pos-pos kecil yang tersembunyi di antara semak-semak.
Setelah menyebutkan kata sandi yang diajarkan Ustaz Malik, ia diantar menemui seorang lelaki paruh baya yang diperkenalkan sebagai Pak Karto, salah satu tokoh laskar setempat.
"Dari Kiai Wahid?" tanya Pak Karto setelah Zaki menyerahkan surat yang disembunyikan di ikat pinggangnya.
"Inggih, Pak."
Pak Karto membuka surat itu, membacanya dengan seksama, wajahnya serius. Setelah selesai, ia menatap Zaki dengan pandangan yang lebih hangat.
"Sampaikan pada Kiai, kabar diterima dengan baik. Kami akan usahakan yang terbaik untuk membantu rombongan pengungsian." Ia kemudian menyerahkan sepucuk surat balasan, dilipat rapat. "Ini balasannya. Hati-hati di jalan, Nak. Dan terima kasih sudah berani membawa kabar di tengah situasi seperti ini."
"Sama-sama, Pak. Ini amanah yang harus saya jaga."
Sebelum Zaki berpamitan, seorang pemuda lain, yang tampaknya baru kembali dari suatu tempat, memasuki ruangan dengan napas terengah. Wajahnya penuh debu dan keringat, tapi matanya menyala penuh semangat.
"Pak Karto, ada kabar penting dari markas Hizbullah di selatan!"
"Kabar apa?"
"Gus Hanif dan pasukannya berhasil menghalau patroli Belanda kemarin malam, tanpa korban jiwa di pihak kita!"
Nama itu membuat dada Zaki bergetar aneh, campuran antara lega dan sesuatu yang lebih rumit untuk dijelaskan.
"Alhamdulillah," gumam Pak Karto. "Gus Hanif memang pemuda yang tangguh."
Zaki mengangguk sopan, berpamitan, dan melangkah keluar dengan pikiran yang penuh. Kabar tentang keberhasilan Gus Hanif seharusnya membuatnya lega, karena itu berarti keselamatan bagi banyak orang, termasuk mungkin secara tidak langsung bagi rombongan pengungsian mereka. Tapi ada juga rasa yang sulit ia namai, sesuatu yang mengingatkannya bahwa di tengah perjuangan besar ini, ada juga pertarungan kecil dalam hatinya sendiri yang belum menemukan penyelesaian.
Ia berjalan pulang dengan langkah yang lebih cepat, membawa surat balasan dengan hati-hati, dan sepanjang jalan, doa dalam hatinya bukan hanya untuk keselamatan dirinya sendiri, tapi juga untuk kejernihan hati, agar apa pun yang terjadi ke depan, ia bisa menghadapinya dengan kejujuran, seperti yang selalu diajarkan ayahnya.