Arabella (18th), gadis SMA yang haus kasih sayang akibat diabaikan keluarga, dia mencari kasih sayang itu dari luar. tanpa dia berpikir panjang bahwa dia di manfaatkan oleh dunia luar yang ia percaya sebagai rumah.
Merasa putra pertamanya, Nathan tak dekat dan mengabaikan bella. orang tua Nathan mengirim sang adik untuk membatu mengurus Bella.
Karena sikap liar Bella dengan kekasihnya itu membuat christian menyimpan rasa pada Bella. hingga perasaan itu berubah menjadi obsesi terlarang.
.
.
Happy reading ✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Beberapa hari berlalu dengan cepat. Hari ini menandai awal kembalinya Arabella ke sekolah setelah insiden panjang yang menguras emosi dan fisiknya. Begitu mobil berhenti di depan gerbang utama, atmosfer permusuhan langsung menyambutnya. Bisik-bisik tajam, lirikan menghakimi, dan tatapan penuh kebencian dari para siswa terpancar jelas ke arahnya. Bella meremas tali ranselnya erat-erat, menundukkan kepala, berusaha meredam rasa gelisah dan takut yang merayap di dadanya.
Sesampainya di ruang kelas, suasana yang tadinya riuh mendadak hening seketika saat ia melangkah masuk. Baru saja Bella menarik kursi dan duduk di bangkunya, sesosok gadis dengan gaya arogan—Resha—langsung menghampirinya tanpa aba-aba.
Brak!
"Aw!" rintih Bella tertahan saat Resha dengan kasar mencengkeram dan menarik rambutnya ke belakang.
"Anak tidak tahu malu!" desis Resha penuh kebencian tepat di depan wajah Bella, membuat seluruh isi kelas menoleh memperhatikan mereka. "Gara-gara kamu, Vero sekarang mendekam di penjara! Kamu benar-benar jalang sialan, Bella!"
Bella, yang tahu betul bahwa Resha adalah teman dekat sekaligus bagian dari lingkaran pertemanan Vero, hanya bisa menggigit bibir bawahnya rapat-rapat.
Sebelum Bella sempat bersuara, Clarisa yang baru saja masuk langsung berlari dan mendorong bahu Resha hingga cengkeramannya terlepas. "Lepasin tangan kotormu dari Bella, Resha! Jangan jadi provokator murahan di kelas ini!" bentak Clarisa sengit.
Resha mendengus sinis, melipat tangannya di dada sambil tersenyum meremehkan ke arah seluruh isi kelas. "Kenapa? Aku cuma ngomong fakta! Kalian semua pada nggak tahu, kan, kalau jalang satu ini sebenarnya udah nggak virgin? Dia pasti udah sering ditiduri banyak pria di luar sana! Vero sendiri yang bilang langsung ke aku!"
Murka dan bisik-bisik gempar langsung meledak di seluruh penjuru kelas. Wajah Bella memucat pasi; hatinya terasa dihantam palu tak kasat mata. Ia hanya bisa terdiam kaku, menelan ludah yang terasa pahit. Percuma saja ia membela diri atau meluruskan kebohongan itu, sebab foto-fotonya di klub malam bersama banyak pria beberapa waktu lalu sudah terlanjur menjadi bukti telak di mata orang-orang yang gemar menghakiminya.
"Jaga mulut busukmu, Resha!" murka Clarisa, nyaris melayangkan tamparan, sebelum suara derap langkah kaki tegas dari ambang pintu menghentikan keributan tersebut.
"Ada apa ini?! Kembali ke bangku kalian masing-masing sekarang!" bentak guru wali kelas yang baru saja masuk, membuat Resha mendengus kesal dan kembali ke tempat duduknya dengan sorot mata penuh permusuhan.
Sepanjang jam pelajaran berlangsung, Bella lebih banyak berdiam diri, menatap kosong ke atas meja dengan air mata yang tertahan di pelupuk matanya. Clarisa terus menggenggam tangan sahabatnya itu, memberikan dukungan penuh tanpa henti.
Begitu bel akhir sekolah berbunyi, Clarisa merangkul bahu Bella berjalan keluar gerbang. "Semangat, Bell. beberapa hari lagi kita ujian kelulusan. Fokus saja ke ujian," bisik Clarisa hangat. "Setelah ini kita lulus, dan kamu nggak perlu lagi ketemu sama orang-orang toksik bermuka dua kayak mereka."
Bella tersentak pelan, lalu mengangguk lemah. Benar kata Clarisa. Semua ini akan segera berlalu, dan ia tidak akan pernah melihat mereka lagi setelah ini.
*
Bella tiba di mansion Allegra menumpang mobil jemputan. Suasana rumah tampak begitu lengang dan sepi; Bi Rina, sang ART kepala, terlihat sibuk membereskan pekerjaan rumah tangga di bagian belakang.
Setelah membersihkan diri dan mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian santai, Bella merasa penat dan ingin merilekskan tubuhnya. Mumpung seisi rumah sepi, ia memutuskan untuk menghabiskan waktu di kolam renang pribadi.
Ia mengenakan pakaian renang model one-piece minimalis yang membalut tubuh rampingnya dengan sempurna. Bella menceburkan diri ke dalam air yang sejuk. Rambut hitamnya terurai indah, mengapung di permukaan saat ia mulai berenang dengan gerakan santai, menikmati ketenangan yang sudah lama hilang.
Tak lama kemudian, Bi Rina datang membawa nampan berisi segelas jus mangga segar. "Nona Bella, ini jusnya saya taruh di pinggir kolam ya," ujar Bi Rina.
"Taruh di situ saja, Bi. Sebentar lagi saya selesai," balas Bella dari dalam air.
Bi Rina meletakkan gelas itu di atas meja kecil dekat kursi berjemur, lalu pamit kembali ke belakang. Bella kembali melanjutkan aktivitas berenangnya. Kali ini, gerakan tubuhnya terlihat jauh lebih luwes, anggun, dan tanpa disadari memancarkan aura sensual yang begitu memikat.
Namun, Bella tidak menyadari bahwa dari bayang-bayang pilar marmer dekat taman samping, sepasang mata gelap tengah mengamatinya lekat-lekat. Seseorang berdiri di sana, terpaku menikmati pemandangan indah yang tersaji di hadapannya dalam diam.
Merasa lelah setelah beberapa putaran, Bella akhirnya menepi. Ia meraih pinggir kolam, mengangkat tubuhnya ke atas dengan tetesan air yang membasahi kulit mulusnya. Sambil menikmati udara sore, tangannya terulur mengambil gelas jus mangga di pinggir kolam, meneguknya perlahan dengan napas yang masih sedikit tersengal.
Karena pandangannya agak buram akibat cipratan air dan rambut basah yang menutupi wajah, Bella mendengar langkah kaki mendekat. Ia mengira itu adalah Bi Rina yang kembali untuk mengeceknya.
"Bi... tolong ambilkan handuk di kursi sebelah sana, ya," pinta Bella manja tanpa menoleh, masih asyik menikmati jus mangganya.
Langkah kaki itu berhenti tepat di sampingnya. Seseorang tampak membungkuk, mengambil handuk mandi berbulu lembut dari kursi berjemur, lalu mengulurkan tangan ke hadapan Bella.
"Ini," ucap sebuah suara bariton yang berat, maskulin, dan begitu familier.
Bella menoleh sambil tersenyum kecil, lalu meraih uluran tangan pemilik handuk tersebut. Namun, sedetik kemudian, kernyitan bingung terpatri di keningnya. Ada yang berbeda dengan tangan itu. Kulit hangat seorang pria, lengan kemeja panjang berwarna gelap yang digulung rapi sebatas siku, serta kilau jam tangan mewah bermerek ternama yang melingkar di pergelangan tangannya.
Bella tertegun. Ia mendongakkan kepalanya perlahan, mengikuti garis lengan itu naik hingga menatap wajah sang pemilik tangan.
Jantung Bella seolah copot seketika. Sosok yang berdiri tepat di hadapannya, menatapnya dengan sorot mata tajam, gelap, dan penuh intensitas membara adalah Christian Gerald.
"O-Om...?" cicit Bella kaget setengah mati, matanya membelalak lebar.
Karena rasa terkejut yang teramat sangat serta tubuhnya yang masih basah dan licin, keseimbangan Bella langsung hilang. Refleks tangannya yang masih memegang pergelangan tangan Christian tertarik kuat ke depan.
"Ah—!" pekik Bella tertahan.
Byuuuur!
Tarikan refleks itu membuat Christian ikut kehilangan pijakan. Pria berwibawa itu langsung ikut terjatuh ke dalam air kolam renang bersama Bella, menciptakan cipratan air yang besar ke udara.
*
*
*
kesel banget liat keluarga allegra
tadi aja pada diem Bae pas Bella di maki"
pake acara marah segala pas Bella di culik orang