"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Sinar tipis menerobos celah daun-daun mahoni yang basah oleh sisa embun, membiaskan pendar terang ke sepanjang jalan setapak menuju ndalem utama. Suasana pondok relatif lengang, hanya terdengar sayup-sayup lantunan bait Imriti dari arah asrama santri putra yang sedang mengulang hafalan.
Dari arah ndalem barat, Reyhan melangkah pelan dengan ekspresi wajah yang tenang namun tersimpan kelelahan batin yang tak sepenuhnya terhapus. Di sampingnya, Rani berjalan setengah menunduk, mengenakan gamis nuansa pastel dan jilbab lebar yang menjuntai rapi. Kedua tangannya memeluk sebuah rantang stainless steel berisi olahan sup hangat dan bubur lembut.
"Mas... kira-kira Umi mau terima masakan Rani tidak?" bisik Rani ragu. Langkah kakinya agak tersendat sendat saat gubuk ndalem utama makin dekat di pelupuk mata.
Reyhan menghentikan langkah sejenak, memandang wajah santriwati yang kini berstatus istrinya itu. "Umi cuma sedang kurang sehat, Rani. Niatmu baik, insya Allah Umi menghargainya."
Rani mengangguk pelan, berusaha mengukir senyum walau cemas tetap menggelayut. Ia mendengar kabar dari santri khidmah kemarin sore bahwa Bu Nyai Khadijah sempat tumbang karena kelelahan dan demam tinggi. Sebagai menantu yang kehadirannya memicu kontroversi, Rani merasa ini adalah momen yang tepat untuk perlahan mencairkan suasana.
Memasuki teras ndalem utama yang sejuk, wangi kayu jati dan aroma khas minyak atar menyambut mereka. Reyhan mengetuk pintu kayu berukir yang terbuka sedikit.
"Assalamu’alaikum..." salam Reyhan seraya melangkah masuk ke ruang tamu.
Tak lama, Mbak Zainab—keluar dari arah selasar tengah seraya merapikan jilbabnya.
"Wa’alaikumsalam warahmatullah. Eh, Gus Reyhan... Mbak Rani," sapa Mbak Zainab santun, meski nada suaranya sedikit lebih datar ketimbang biasanya.
"Mbak Zainab, Umi di mana ya?" tanya Reyhan seraya melepas peci hitamnya sebentar lalu merapikan tatanan rambutnya.
"Bu Nyai di kamar, Gus, didampingi Yai. Tadi habis diperiksa dokter pondok, minum obat terus istirahat," jawab Mbak Zainab ramah.
"Nggih, maturnuwun, Mbak. Biar saya tengok ke dalam," ujar Reyhan.
Rani yang berdiri sedikit di belakang Reyhan mengangkat rantangnya pelan. "Mbak Zainab, saya ke dapur belakang sebentar ya, mau siapkan mangkuk dan menata makanan ini buat Umi."
"Monggo, Mbak Rani. Langsung ke dapur saja," sahut Mbak Zainab sopan sebelum berbelok menuju halaman samping untuk menjemur pakaian.
Reyhan mengangguk pada Rani, memberi isyarat agar wanita itu mengurus makanannya lebih dulu. Setelah Rani berlalu menyusuri lorong menuju dapur, Reyhan menyusuri koridor dalam ndalem utama. Langkah kakinya yang beralas kaus kaki tak menimbulkan suara di atas lantai keramik dingin. Tujuan utamanya adalah kamar tidur orang tuanya yang berada di lantai satu, tak jauh dari ruang keluarga.
Saat jaraknya tinggal dua meter dari ambang pintu kamar yang sedikit terbuka—menyisakan celah beberapa senti—langkah Reyhan terhenti otomatis.
Dari dalam ruangan berkorden putih itu, terdengar suara Bu Nyai Khadijah yang parau namun jelas, diselingi batuk kecil.
"Bi... kabare Naya piye ya ning Dubai? Diberkahi mboten kuliahe?" (Bi... bagaimana kabar Naya di Dubai ya? Diberkahi tidak kuliahnya?)
Reyhan membeku di tempatnya. Napasnya tertahan seketika di tenggorokan. Dubai?
Suara bariton Kyai Ahmad terdengar menimpali dengan tenang dan teduh. "Alhamdulillah, Umi. Tadi pagi sebelum Subuh, Naya sempat kirim pesan singkat lewat WhatsApp. Katanya proses administrasi kampus lancar. Naya sudah masuk orientasi spesialisasi psikologi klinis. Suasananya bagus, dosen-dosennya juga sangat kooperatif."
"Alhamdulillah..." desah Bu Nyai Khadijah. Ada nada lega yang amat dalam menyusup dalam helaan napas wanita sepuh itu. "Kangen banget rasanya sama anak itu, Bi. Tapi Umi ya ora mau ganggu. Naya itu lagi menata jiwanya, lagi meraih impian besarnya yang sempat mati pas sama Reyhan. Jangan sampai bayang-bayang masa lalunya di sini malah dadi beban buat dia ning sana..."
"Nggih, Umi benar. Kita mendoakan saja dari sini. Naya itu wanita kuat, cerdas. Gusti Allah mboten sare, pasti dituduhkan jalan terbaik buat Naya," tutur Kyai Ahmad lembut.
Di luar pintu, Reyhan menyandarkan punggungnya ke dinding tembok yang dingin. Dadanya bergemuruh hebat, seolah dihantam godam tak berwujud.
Dubai.
Naya tidak hanya pergi meninggalkan Mojokerto atau menjauh dari jangkauannya; wanita itu telah terbang ribuan kilometer menyeberangi samudra, kembali mengejar impian lamanya menjadi seorang spesialis psikiatri—cita-cita mulia yang dulu dengan egoisnya diabaikan oleh Reyhan demi menuntut kepatuhan seorang istri.
Bayangan Naya yang dulu selalu menyambutnya dengan senyuman tenang, yang menyeduh teh hangat di sore hari tanpa pernah mengeluh meski tak pernah disentuh secara batin, kini menari-nari di ingatan Reyhan. Penyesalan itu datang bukan lagi berupa titik air mata, melainkan lubang hitam yang menggerogoti ulu hatinya sampai sesak.
‘Haruskah aku menyusulnya?’ bentak batin Reyhan dengan keputusasaan yang liar. ‘Aku bisa terbang ke Dubai. Aku bisa memohon di hadapannya, berlutut meminta maaf atas segala kebodohanku...’
Namun, logikanya sendiri langsung menyambar pemikiran itu dengan kenyataan pahit. Naya yang ia kenal adalah sosok yang sangat rasional dan berprinsip. Jika ia tiba-tiba muncul di hadapan Naya, itu bukan dianggap sebagai bentuk perjuangan cinta, melainkan bentuk intimidasi dan sifat egois yang belum sembuh. Naya pasti akan semakin membencinya. Naya akan memandangnya dengan tatapan dingin yang paling menakutkan—tatapan asing dari seseorang yang telah sepenuhnya selesai dengan masa lalunya.
Dua tahun. Pendidikan magister dan spesialisasi setidaknya memakan waktu dua tahun. Apakah ia harus menunggu dalam ketidakpastian yang menyiksa ini selama dua tahun penuh, membiarkan dadanya digerus rasa bersalah setiap hari?
"Mas Reyhan?"
Sebuah tepukan halus di pundaknya membuat Reyhan tersentak kaget. Lamunannya buyar seketika.
Reyhan menoleh cepat dan menemukan Rani sudah berdiri di sampingnya. Wanita itu memegang baki kayu berisi mangkuk sup yang masih mengepulkan uap panas serta segelas air putih hangat. Rani menatap Reyhan dengan dahi berkerut heran.
"Mas kenapa berdiri di sini melamun? Kenapa tidak masuk dari tadi?" tanya Rani pelan, matanya menyapu wajah Reyhan yang tampak sedikit pucat.
Reyhan dengan cepat menguasai ekspresi wajahnya, menghela napas halus seraya merapikan letak bajunya. "Oh... ini. Tadi Mas mau masuk, tapi mau nunggu kamu sekalian biar barengan," alibinya beralasan, berusaha menutupi guncangan batin yang baru saja dialaminya.
Rani tersenyum manis, merasa tersanjung atas sikap perhatian kecil yang ditunjukkan Reyhan. "Ya sudah, yuk Mas, kita masuk. Mumpung supnya masih hangat."
Reyhan mengangguk tipis. Ia melangkah maju satu pukulan jari, lalu memutar gagang pintu kayu tersebut seraya mengumandangkan salam dengan suara yang diatur sedemikian rupa agar terdengar mantap.
"Assalamu’alaikum, Abi... Umi..."
Di dalam kamar yang bernuansa hangat dengan aroma minyak kayu putih, Kyai Ahmad yang sedang duduk di kursi kayu sebelah ranjang langsung menoleh. Sementara Bu Nyai Khadijah yang bersandar pada tumpukan bantal tebal perlahan membetulkan letak kerudungnya.
"Wa’alaikumsalam warahmatullah..." jawab Kyai Ahmad tenang, pandangan matanya yang teduh namun tajam tertuju pada putra tunggalnya dan Rani yang melangkah masuk berurutan.
"Bagaimana keadaan Umi?" tanya Reyhan seraya mendekat, membungkuk khusyuk untuk menyalami telapak tangan sang ayah, lalu mengecup pelan jemari ibundanya yang terasa sedikit hangat karena demam.
"Alhamdulillah, Reyhan. Sudah mendingan, tinggal lemasnya saja," jawab Bu Nyai Khadijah dengan intonasi rendah. Tatapan matanya bergulir pada Rani yang mengekor di belakang Reyhan.
Rani menundukkan kepalanya dalam-dalam, menunjukkan gestur takzim yang sangat santun. Ia meletakkan baki berisi makanan itu di atas meja kecil dekat pembaringan, lalu dengan canggung mengulurkan tangan untuk menyalami Bu Nyai Khadijah.
"Pangapunten, Umi..." tutur Rani lirih, suaranya halus menahan getar nervous. "Rani tadi buatkan sup ayam bening sama bubur halus di dapur ndalem barat. Mumpung masih hangat, sekiranya Umi berkenan untuk sarapan sedikit supaya ada tenaga."
Bu Nyai Khadijah menatap mangkuk sup yang mengepul itu sejenak. Ada jeda hening yang agak canggung mengendap di udara kamar tersebut. Sebagai seorang ibu yang sangat mencintai Naya dan merasa terpukul atas perlakuan putranya, ada rasa berat yang tak bisa dibohongi di dalam dada Bu Nyai untuk menerima kehadiran Rani begitu saja. Rasa enggan sempat terbersit di benaknya untuk menolak masakan tersebut secara halus.
Namun, sebelum kata penolakan itu sempat terucap dari bibir sang ibu, Kyai Ahmad yang duduk di sampingnya bergerak pelan. Pria sepuh berwibawa itu menyentuh punggung Bu Nyai Khadijah, memberikan elusan lembut yang konstan—sebuah isyarat tanpa kata yang penuh makna bijaksana dari seorang ulama: hargailah niat baik seseorang, terlepas dari rumitnya garis takdir yang sedang terjadi.
Bu Nyai Khadijah menghela napas halus, melelehkan sisa ketegangan di raut wajahnya. Ia menatap Rani lalu mengangguk tipis.
"Nggih, Rani. Maturnuwun ya, sudah repot-repot membuatkan sup," ujar Bu Nyai Khadijah akhirnya, memaksakan sebuah senyum tipis yang cukup untuk menghargai usaha menantu barunya.
"Tolong ambilkan mangkuk kecilnya, kita sarapan sama-sama di sini."
Rani mendongak, matanya berbinar lega seolah sebuah beban berat baru saja diangkat dari pundaknya. "Nggih, Umi. Rani racikkan sekarang."
Sembari Rani dengan telaten menyiapkan piring dan mangkuk untuk Kyai Ahmad dan Bu Nyai Khadijah, Reyhan duduk bersila di karpet bawah dekat kaki ranjang ibunya. Pria itu menyimak interaksi di dalam kamar dengan pikiran yang melayang jauh.
Di luar tampak sebuah keharmonisan keluarga yang diusahakan dengan susah payah, namun di dalam dada Reyhan, ada kehampaan besar yang tak bisa diisi oleh siapa pun. Kata Dubai yang diucapkan ibunya tadi terus mengiang, menjelma menjadi jarak kasat mata yang makin merenggangkan jiwanya dari Naya.
***
Naya cerdas berpendidikan dr latar belakang keluarga yg beradab pula, lah kamu sudah orang biasa dgn merebut suami orang berharap dihormati, mimpi, sanksi sosial cap pelakor itu selamanya meski sudah bertaubat tp cap pelakor itu tdk akan hilang,
maksudnya bersedekap tangan kali ya thor, masa bersedekah 🤭🤭
klo gk cinta knp gk dilepas aja sekalian rani
malah dijemput sruh kembali..kesenengan kan tuh sih rani jadinya..
emang bener ya pelakor itu tdk harus cantik semok yg penting menggatal
jd inget artis penyanyi religi yg itu jd istri siri selama dua tahun baru terungkap, giliran terungkap jawaban klise khilaf pret lah khilaf apa doyan masa khilaf smpe dua tahun😄😄😄