Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidup Zoey berubah menjadi mimpi buruk.
Di depan ratusan tamu undangan, sahabat yang paling ia percaya mengaku tengah mengandung anak calon suaminya.
Tak ingin keluarganya dipermalukan, Zoey melakukan sesuatu yang bahkan tak pernah terlintas di benaknya. Ia menarik tangan seorang pria asing yang kebetulan hadir sebagai tamu.
“Aku akan menikah dengannya.”
Pria itu adalah Damian, konglomerat tampan berusia tiga puluh delapan tahun yang dikenal dingin, berwibawa dan sulit didekati. Demi alasan masing-masing, mereka sepakat menjalani pernikahan tanpa cinta.
Namun, sesaat setelah resmi menjadi suami istri, Zoey dibuat syok oleh kenyataan yang sengaja tidak diberitahukan Damian. Pria itu adalah seorang duda dengan anak kembar berusia enam belas tahun.
Mampukah Zoey menaklukkan sang duda yang menutup hatinya sekaligus memenangkan hati kedua kembar nakalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 19
Begitu memastikan Zoey menjauh menuju garasi depan, Victor segera menarik lengan saudarinya agar bersembunyi di balik pilar besar ruang tengah.
“Masih ada satu kesempatan,” bisik Victor.
Victoria memutar bola matanya malas. “Kesempatan apalagi? Dia jauh lebih licik dari kita, Vic! Aku bahkan masih merinding dan trauma saat dia mengatakan soal jarum suntik raksasa itu.”
Victoria menghela napas kasar. Awalnya, ia pikir Zoey akan sama seperti deretan baby sitter dan guru les mereka sebelumnya. Yakni orang-orang lemah yang langsung kabur menangis hanya dengan beberapa ide jahil murahan dari si kembar.
Nyatanya, ibu sambungnya yang masih muda ini punya mental baja dan otak kancil yang tak bisa ditaklukkan semudah itu.
“Jangan menyerah dulu, Victoria. Dia itu hanya ibu sambung kita. Dia tidak berhak mengatur-atur hidup kita seperti ini. Pokoknya ikuti saja aku. Rencanaku kali ini pasti berhasil.”
Victoria mengerutkan kening. “Apalagi rencanamu?”
Victor tersenyum licik. “Dia menyuruh kita menemuinya di mobil depan, kan? Nah, aku sudah mengirim pesan menyuruh sopir pribadi kita menunggu di gang belakang. Kita tidak akan kabur lewat jendela seperti yang dia tebak, tapi lewat pintu dapur.”
Mata Victoria berbinar mendengarnya.
Benar juga. Keluar dari pintu dapur adalah celah buta yang tak mungkin dipikirkan oleh wanita itu.
Mereka berdua pun mulai mengendap-endap berjalan menuju dapur layaknya sepasang maling profesional di rumah sendiri.
Saat mereka sedang berjinjit melewati meja pantri, seorang pelayan wanita yang sedang membawa keranjang buah memergoki mereka.
“Tuan Muda? Nona? Kalian sedang apa—”
“Sst!” Victor meletakkan telunjuk di bibirnya dengan mata mendelik tajam. “Diam kau! Jangan berani-berani membuka mulut atau ku pastikan Papa memecat mu hari ini juga,” ancamnya berbisik.
Pelayan itu seketika menunduk ketakutan dan menutup mulutnya rapat-rapat.
Victor kembali memimpin jalan. “Cepat, Victoria! Jalanmu lelet sekali seperti siput,” tegurnya dengan suara tertahan saat melihat kembarannya tertinggal di belakang.
“Iya, sebentar. Rok seragamku terlalu ke bawah dan ketat, jadi sulit untuk berjalan cepat,” balas Victoria sambil mengangkat sedikit ujung roknya dengan kesal.
Setelah bersusah payah mengendap-endap, akhirnya mereka berhasil membuka pintu belakang dan keluar menuju gang kecil di balik tembok mansion.
Begitu angin pagi menerpa wajah mereka, Victor dan Victoria saling melempar senyum kemenangan.
“Lihat? Kita berhasil kan. Tidak ada siapa-siapa di sini. Dia pasti sedang kebingungan mencari kita di garasi depan,” ucap Victor sembari membusungkan dada.
Victoria tertawa kecil, merasa sangat lega. Ia menepuk lengan Victor.
“Kau memang saudara kembarku yang paling pintar, Vic! Aku sangat bangga padamu. Rencanamu sempurna!”
Sialnya, tawa kemenangan itu tidak bertahan lama.
Saat mereka berbalik hendak menghampiri mobil hitam yang sudah terparkir rapi di ujung gang, mereka membeku di tempat.
Tubuh si kembar kaku bagai disambar petir di siang bolong.
Tepat di samping pintu mobil mereka, Zoey sudah berdiri menyandar dengan sangat santai. Wanita itu mengenakan kacamata hitam, sebelah tangannya memegang segelas kopi hangat yang asapnya masih mengepul.
Zoey menyesap kopinya perlahan, lalu menurunkan kacamata hitamnya sebatas hidung.
“Sudah selesai main petak umpetnya, anak-anak?” sapanya dengan senyum manis yang mematikan.
“K—kau?!” pekik Victor seraya menunjuk Zoey dengan gemetar hebat. “Bagaimana bisa kau ada di sini?!”
“Sepertinya kalian lupa kalau ibu sambung kalian ini tidak mudah di manipulasi,” balas Zoey.
Ia menyerahkan gelas kopinya pada sopir yang berdiri canggung, lalu melangkah maju mendekati si kembar.
Tanpa basa-basi kedua tangan Zoey langsung mendarat di telinga Victor dan Victoria.
“Aduh! Aduh! Sakit, Zoey!” teriak Victor meronta.
“Kalian ingin menguji kesabaranku rupanya,” ucap Zoey, sama sekali tak mengendurkan tarikannya.
Ia malah tertawa puas melihat wajah meringis kedua anak tirinya.
“Sayang sekali ya, ide kalian boleh juga, tapi ibu sambung kalian ini jauh lebih pintar.”
Sementara Zoey tertawa, Victor dan Victoria meringis kesakitan dengan mata berair. Telinga mereka seolah ingin lepas dari tempatnya karena tarikan Zoey benar-benar tidak main-main.
Tepat sasaran dan sangat ngilu!
“Ayo cepat naik. Kita berangkat sekarang. Kepala Sekolah kalian sudah menunggu,” ucap Zoey santai sembari mendorong mereka berdua masuk satu per satu ke dalam bangku penumpang mobil.
“Iya, iya! Tapi lepaskan dulu! Sakit tahu!” rengek Victor sambil memegangi telinganya yang kini memerah seperti kepiting rebus.
Victoria yang sudah duduk di dalam mobil langsung mengusap telinganya yang berdenyut. Air matanya menetes sedikit karena marah dan malu.
“Kau kejam, Zoey! Beraninya kau main fisik. Kami akan laporka pada papa hari ini juga!” ancam Victoria dengan napas memburu.
Mendengar ancaman itu, gerakan Zoey yang hendak menutup pintu mobil terhenti. Wanita itu menunduk menatap Victoria.
Senyum jenakanya menghilang, berganti dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Cih! Melaporkan pada pria dingin yang bahkan selalu acuh pada kalian itu?” desis Zoey dengan nada datar. “Silakan saja. Telepon dia sekarang. Aku akan menunggunya, Victoria.”
Blam!
Pintu mobil ditutup rapat. Di kursi belakang, Victor dan Victoria saling menatap dalam diam.
Hawa panas akibat amarah di dada Victoria perlahan menyusut, digantikan oleh rasa sesak yang tiba-tiba mencekik tenggorokannya.
Tangan Victoria yang tadinya mengepal kini terkulai lemas di atas pangkuannya. Ancaman Zoey bagaikan tamparan keras yang menyadarkannya pada realita.
Zoey benar. Memangnya kapan Damian peduli?
Jika Victoria mengadu telinganya dijewer, Damian mungkin hanya akan memberikan tatapan datarnya yang biasa, lalu kembali menatap layar laptopnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Jangankan peduli pada keluh kesah mereka, melihat wajah anak-anaknya saja pria itu seakan enggan.
Untuk sesaat, sorot mata sombong Victoria itu meredup. Victoria menyimpan luka seorang anak perempuan yang hanya merindukan tatapan hangat dari ayahnya.
“Kau baik-baik saja Victoria?” tanya Victor dengan berbisik.
“Hmm. Aku baik-baik saja,” jawabnya lirih.
Sabar ya Zoey menghadapi suami dan anak laki2 nya😄
Anak & ibu sambung kompak sekali pagi ini.
Ayo Zoey buat Victoria menyerah juga dgn kamu😁
apa rasa berantem Ama duplikat nya sendiri?🫣🤣🤣
cemburu sama ank sendiri 🫣