Di dunia fantasi yang kejam, di mana hierarki ditentukan oleh kekuatan dan kemurnian garis keturunan, terlahir sebagai seekor Goblin adalah sebuah kutukan. Mereka adalah ras terendah-lemah, kotor, diburu sebagai ajang latihan para petualang amatir, dan dibantai tanpa ampun oleh umat manusia.
Namun, dari kedalaman keputusasaan ras yang nyaris punah di Hutan Misti, lahirlah sebuah anomali.
Bukan dengan kulit hijau menjijikkan atau tubuh bungkuk yang menyedihkan, melainkan dengan paras rupawan bagai seorang High Elf yang agung. Berambut pirang keemasan, bertelinga runcing yang elegan, dan dianugerahi ingatan serta kecerdasan dari dunia modern, ia adalah Altair-Sang Goblin Emperor pertama.
menyadari ras nya di ambang kepunahan altair pun bertekad membangkitkan kembali ras goblin yang hina, menjadi penguasa dunia dengan bantuan sistem manipulasi genetik dan kekuatan reproduksi nya sebagai sang kaisar goblin. bisakah dia menghadapi segala rintangan di depan nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Kelahiran Sang Panglima
Udara di dalam ruang persalinan terasa jauh lebih panas dan mencekam dibandingkan saat Lyra melahirkan seminggu yang lalu.
Napas Cassvia memburu dengan kasar, dadanya naik turun dengan liar. Keringat dingin membanjiri tubuh sang Ksatria Perak yang kini terbaring di atas ranjang batu. Rahimnya yang berevolusi secara paksa untuk menampung benih Golden Emperor bekerja dengan sangat buas. Tubuhnya yang terlatih secara militer justru memberikan perlawanan alami terhadap proses inkubasi singkat itu, membuat rasa sakit yang ia derita berkali-kali lipat lebih menyiksa daripada manusia biasa.
Namun, ketahanan fisiknya pula yang membuat proses ini menghasilkan panen yang jauh lebih mematikan.
Di ambang pintu, Altair berdiri dalam diam, menatap proses itu dengan mata merah rubinya yang berpendar dalam kegelapan. Ia bisa merasakan fluktuasi energi fisik yang sangat kuat merembes keluar dari perut Cassvia.
Dengan satu jeritan panjang yang melengking hingga membuat dinding gua bergetar tipis, proses persalinan itu akhirnya mencapai puncaknya.
Empat sosok makhluk kecil meluncur ke dunia secara berurutan, disusul oleh bau anyir darah dan cairan ketuban yang pekat. Dua bidan Goblin Hijau dengan sigap namun gemetar membersihkan makhluk-makhluk tersebut dan meletakkan mereka di atas bentangan kulit beruang.
Altair melangkah maju, aura dominasinya menyelimuti seluruh ruangan. Ia menatap keempat anak yang baru saja lahir dari rahim seorang ksatria Rank B+.
Tiga bayi pertama adalah Hobgoblin, namun mereka sangat berbeda dari anak-anak Lyra. Jika Hobgoblin biasa berkulit hijau pucat atau hijau lumut, ketiga bayi ini memiliki kulit berwarna hijau tua yang nyaris kehitaman, tampak sekeras besi tempa. Otot-otot mereka sudah tercetak jelas meski baru lahir, dan kuku mereka setajam belati. Mereka adalah Iron-skin Hobgoblin, varian prajurit garis depan yang ketahanan fisiknya tidak akan bisa ditembus oleh pedang besi biasa.
Lalu, pandangan Altair jatuh pada bayi keempat.
Bayi itu tidak menangis. Ia langsung berusaha menopang tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya yang mungil, memamerkan anatomi tubuh yang sangat proporsional dan padat. Kulitnya berwarna ungu gelap yang memancarkan kilau aura tipis. Berbeda dengan Zyrus yang lahir dengan afinitas sihir dan postur ramping, bayi ungu dari rahim Cassvia ini memancarkan tekanan fisik yang buas, mewarisi insting membunuh ibunya.
Antarmuka sistem Altair berkedip, menampilkan panel data yang memuaskan:
[ [ Valdor : Ras Goblin (Goblin Ungu - Garis Darah Ksatria)
Umur : 0 tahun (Batas Usia: 400 Tahun)
Jenis kelamin : Laki-laki / Jantan
Peringkat Kekuatan : Rank C- Hunter (Potensi Berkembang)
Serangan: 25 (+8)
Vitality: 30 (+15)
Mana: 15 (+5)
Kecerdasan: 30 (+10)
Ketahanan benturan: 35 (+15)
Ketahanan magic: 20 (+5)
Attribute: Aura Fisik / Pedang (Keturunan Cassvia), Ketahanan Ekstra (Keturunan Altair)
Pekerjaan : - (Belum ditentukan)
Genetic Talent: [Insting Bertarung Mutlak], [Tulang Baja] ] ]
Seringai Altair melebar. Rank C- di usia nol tahun. Bayi ini terlahir sebagai mesin pembunuh alami. Jika Zyrus adalah calon komandan sihirnya, maka bayi ungu ini adalah calon jenderal pasukan perangnya di masa depan. Kualitas indukan berdarah bangsawan tempur benar-benar membuktikan nilainya.
Altair membungkuk, mengangkat bayi ungu yang berat dan berotot padat itu dengan satu tangan. Mata kuning bayi itu menatap Altair, memancarkan kepatuhan yang bercampur dengan kebuasan murni.
"Darah ibumu mengalirkan disiplin pedang, dan darahku memberimu dominasi mutlak," suara Altair mengalun berat. "Namamu adalah Valdor. Tumbuhlah dengan cepat. Kau akan memimpin legiun garda depanku, dan menghancurkan siapa pun yang berani menghalangi jalan Kekaisaran."
Valdor kecil menggeram rendah, sebuah geraman parau yang membuat ketiga saudara Hobgoblin besinya secara instingtual menundukkan kepala.
Di atas ranjang, Cassvia memaksakan diri untuk mengangkat kepalanya yang pening. Mata birunya yang sayu menatap pemandangan itu. Hancur sudah semua yang ia yakini. Rahimnya yang seharusnya melahirkan penerus bangsawan Cass yang terhormat, kini baru saja melahirkan komandan monster yang kelak akan menjadi mimpi buruk umat manusia.
Kewarasannya berteriak untuk membenci bayi-bayi itu, untuk mencekik mereka sebelum mereka tumbuh. Namun ikatan genetik dari benih Altair meracuni insting keibuannya. Saat Altair meletakkan Valdor dan ketiga Iron-skin Hobgoblin itu di sisinya, tangan rapuh Cassvia bergerak dengan sendirinya. Ia memeluk monster-monster kecil itu ke dadanya, air mata mengalir deras dalam diam menembus pipinya yang pucat. Tubuhnya merengkuh anak-anak itu, memberi mereka kehangatan yang tak bisa ia tolak.
Altair menatap pemandangan itu tanpa emosi. Siklus pertama dari kedua indukan manusianya telah selesai dengan sempurna. Kekuatan tempur garis depan dan garis belakangnya telah lahir.
Sang Kaisar berbalik, membiarkan sang ksatria beristirahat untuk pemulihan siklus bulanannya. Ia melangkah keluar dari ruang persalinan dengan langkah pelan dan penuh wibawa, bersiap menyusun langkah ekspansi selanjutnya.
Namun, kedamaian di dalam gua itu tidak akan bertahan lama.