NovelToon NovelToon
Sisi Gelap Anak Kost

Sisi Gelap Anak Kost

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Lelaki/Pria Miskin / Slice of Life
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Cerita terinspirasi kisah nyata!

Karena tak tahan dengan kerasnya didikan sang ayah, Galih nekat pergi dari rumah. Dia meninggalkan kampung halamannya hanya dengan selembar uang seratus ribu.

Galih memilih pergi ke ibukota. Di sanalah dia menemukan tempat tinggal baru yaitu sebuah kost campuran. Di sana Galih bertemu wanita cantik yang ternyata istri orang, lalu gadis pendiam misterius, serta lelaki mencurigakan yang terus menatapnya. Saat satu per satu misteri terkuak, Galih sadar, tempat yang ditinggalinya punya sisi gelap tak terduga.

Di antara sisi gelap itu, Galih berusaha keras mengejar mimpi dan memperbaiki kehidupannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24 - Kitchen Asisten

Di tengah keheningan malam yang mendadak terasa mencekam, Indri bergerak cepat. Dengan tangan yang masih gemetar hebat dan sisa air mata yang membasahi pipinya, ia buru-buru menyambar daster tidurnya yang berserakan di lantai, lalu mengenakannya kembali dengan tergesa-gesa. Ia merapikan letak pakaiannya sebisa mungkin guna menutupi kekacauan yang baru saja terjadi di antara mereka.

Sementara itu, Galih berdiri terpaku di dekat pintu. Napasnya masih menderu kencang, dan keringat dingin belum sepenuhnya kering dari pelipisnya. Mendengar ketukan bertalu-talu yang kini mendadak terhenti, Galih mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia melirik sekilas ke arah Indri yang sudah menutup tubuhnya dengan daster, lalu perlahan-lahan memutar selot kunci dan membuka daun pintu kayu kamar tersebut selebar beberapa jengkal.

Ceklek...

Galih melongokkan kepalanya ke luar, menyapukan pandangan ke sepanjang koridor kosan yang gelap gulita. Cahaya lampu bolam lima watt bergoyang pelan tertiup angin malam yang berembus dari celah-celah papan.

Sepi. Tidak ada siapa pun di sana. Pintu-pintu kamar penghuni lain tertutup rapat dan terkunci sunyi.

"Siapa di luar?!" seru Galih dengan nada suara tertahan namun tegas, membelah kesunyian lorong.

Hening. Tidak ada jawaban, tidak ada derap langkah lari, dan tidak ada bayangan manusia. Koridor itu benar-benar kosong melompong seolah-olah ketukan keras barusan hanyalah sekelebat ilusi atau gema hampa di tengah malam buta.

Dengan perasaan heran bercampur curiga, Galih menutup kembali pintu kayunya, memutar kunci ganda, dan menyelotnya rapat-rapat. Ia berbalik dan mendapati Indri sedang berdiri gelisah di dekat tempat tidur, meremas jemarinya sendiri dengan wajah pucat pasi.

"Siapa yang datang, Galih? Apa itu Pak Yono? Atau Ifan?" tanya Indri dengan suara berbisik, diselimuti rasa takut yang amat sangat.

"Nggak ada siapa-siapa di luar, Dri," jawab Galih singkat, nada suaranya terdengar dingin dan datar.

Indri membelalakkan matanya, bulu kuduknya meremang seketika mendengar jawaban tersebut. Ia melangkah mendekati Galih, lalu tanpa sadar menghimpitkan tubuhnya erat-erat ke sisi lengan pemuda itu, mencari perlindungan.

"Ma-mana mungkin nggak ada siapa-siapa? Ketukannya tadi keras banget, Galih... Aku takut..." bisik Indri ketakutan, menyembunyikan wajahnya di balik bahu Galih. "Jangan-jangan... jangan-jangan tadi itu hantu gentayangan penunggu kostan ini?!"

Galih mendengus pelan, melirik Indri sekilas dengan tatapan separuh jengkel. Ia menyingkirkan pelan tangan wanita itu dari lengannya. "Kalau benar itu hantu, sepertinya dia sengaja datang buat memperingatkan kita... Atau mungkin, hantunya marah sama kelakuan kamu barusan."

Mendengar kalimat menohok namun sarkas itu, wajah Indri kontan merona merah padam menahan rasa malu yang luar biasa. Ia menunduk dalam-dalam, menggigit bibir bawahnya hingga pucat. "Ga-Galih... jangan ngomong gitu. Aku kan tadi khilaf... Aku minta maaf..." cicit Indri merasa sangat bersalah dan hina di hadapan suami kontraknya.

Galih mengembuskan napas panjang, meredam sisa-sisa emosi di dadanya. Ia tidak berniat memperpanjang perdebatan atau menghakimi Indri lebih jauh, mengingat kondisi kejiwaan dan hormonal wanita itu sedang labil akibat kehamilan.

"Udah, nggak usah dibahas lagi," ujar Galih datar. "Waktu sudah mau subuh. Mending kita tidur."

"Aku tidur di lantai sini saja." Galih langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur lipat tersebut dan membelakangi Indri.

Indri hanya bisa menggigit bibirnya, menelan ludah kepahitan atas penolakan telak yang diterimanya malam itu. Ia perlahan merebahkan diri kembali di atas ranjangnya, meratapi kebodohannya sendiri dalam kesunyian malam yang panjang.

Keesokan paginya, tatkala fajar menyingsing membawa kehangatan matahari pagi, Galih sudah terbangun lebih awal. Ia menyiapkan air hangat untuk Indri seperti biasa, lalu berpamitan berangkat menuju Warung Makan Bu Asih tanpa banyak berbicara mengenai kejadian semalam.

Sesampainya di warung, suasana kerja langsung menyita seluruh perhatian Galih. Bersama Pak Susilo dan Bu Asih, Galih kembali meracik menu andalannya: ayam kuah rempah berkaldu pekat yang semerbak.

Benar saja, begitu jam makan siang tiba, ramalan kemarin terbukti berlipat ganda. Warung Makan Bu Asih diserbu gelombang pengunjung yang jauh lebih banyak dari hari sebelumnya. Antrean panjang pembeli tampak mengular hingga ke teras depan. Para pekerja kantoran, mahasiswa, hingga pengemudi ojek online berbondong-bondong datang karena penasaran dengan kelezatan masakan yang viral dari mulut ke mulut.

Pak Susilo dan Bu Asih tampak sangat kewalahan melayani pesanan yang membludak, namun senyuman tak pernah lepas dari bibir pasutri paruh baya itu. Melihat antusiasme yang luar biasa tinggi, Pak Susilo langsung memanggil Galih di sela-sela kesibukannya.

"Lih! Ini warung kita benar-benar kebanjiran pelanggan!" seru Pak Susilo di tengah suara bising panci dan obrolan pembeli. "Tenaga kita di dapur udah nggak cukup lagi buat nanganin semua pesanan ini. Mulai hari ini, saya putuskan buat pasang pengumuman lowongan kerja di depan! Kita butuh tambahan minimal dua orang pelayan dan satu asisten juru masak lagi buat bantu kamu di dapur!"

Galih tersenyum lebar menyeka keringat di dahinya. "Bagus itu, Pak! Biar kerjanya lebih ringan dan pelayanannya makin cepat."

Hari itu ditutup dengan rekor pendapatan tertinggi sepanjang sejarah Warung Makan Bu Asih berdiri. Pak Susilo memberikan bonus tambahan yang sangat lumayan kepada Galih sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras dan keahlian tangan dingin pemuda tersebut.

Menjelang sore hari, usai merapikan dapur dan berpamitan pada Pak Susilo, Galih berjalan kaki menuju halte bus kota untuk pulang ke kosan. Suasana sore di jalanan kota tampak padat oleh lalu lalang kendaraan dan pejalan kaki yang bergegas pulang.

Galih naik ke dalam bus kota ber-AC yang cukup sesak penumpang. Ia berdiri berpegangan pada tali gantungan besi di atas kepala, merenungkan perjalanan hidupnya yang perlahan mulai menunjukkan titik terang di tengah segala badai masalah yang menderanya.

Sambil menunggu bus melaju menembus kemacetan, Galih iseng merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel murah miliknya yang layarnya agak retak. Ia membuka aplikasi peramban internet untuk sekadar membaca berita kuliner atau mencari referensi resep masakan baru guna persiapan menu warung esok hari.

Namun, saat ia menggulir halaman linimasa sebuah situs pencari kerja lokal, mata Galih mendadak terpaku pada sebuah banner iklan lowongan pekerjaan yang muncul di sudut layar ponselnya.

Sebuah teks berukuran sedang terpampang jelas di sana:

DIBUTUHKAN SEGERA: JURU MASAK BAWAHAN / KITCHEN ASSISTANT UNTUK HOTEL BINTANG LIMA "GRAND PALACE HOTEL". GAJI MENARIK + TUNJANGAN PROFESIONAL.

Jantung Galih berdegup kencang seketika. Matanya membelalak lebar, menatap lurus tulisan hotel bintang lima dan chef/kitchen assistant pada layar ponsel muram itu. Cita-cita masa kecilnya yang selama ini terpaksa ia kubur dalam-dalam di desa, mimpi besar untuk mengenakan topi chef putih dan meracik hidangan di dapur restoran mewah, seolah mendadak melompat hidup kembali di hadapannya.

1
Ardan
ingat warung pak susilo, jangan langsung ditinggalkan, kasihan ledua orang paruh baya tsb, bikin warungnya rame dan maju dulu galih
Ardan
misteri nya blm terpecahkan, antara horor atau ada orang usil nih
fara sina
lanjut kak. semangat selalu ya nulisnyaa
fara sina
ini gak adil. indri kamu bener bener jahat. padahal galih ga ada salah apa apa sama kamu. kamu memanfaatkan kebaikan galih.
fara sina
mas Adit gamau bantu?? kenapa ya🥺 inget mas Adit mas Adit 1 piring Indomie kamu ga ada niatan bantuin
fara sina
sangking baiknya kamu ya galih. padahal kenal belum ada seminggu
fara sina
galih orangnya gaenakan ya. serius jadi orang gaenakan itu gaenak. serba salah
fara sina
kenapa ga pernah akur begitu ya
fara sina
Waduh Galih, jangan senyum kecut aja dong... Hati-hati itu Fika tetangga sebelah beneran takut atau cuma modus malam-malam begini?
fara sina
gerak geriknya serem ya kaya bukan manusia
fara sina
ikutan sedih ya lih, banyak banyak berdoa biar warungnya laris manis.
fara sina
yess, cari cuan dulu ya buat modal nantinya. kalo udah ada modal tambahan juga cari kerja yang gajinya lumayan
fara sina
yuk bisa yuk galih cita citanya bisa terwujud
fara sina
tapi kayanya mba Fika bukan orang jahat ya
fara sina
duh, hati hati galih. jangan gampang menerima pemberian orang asing yang baru kenal apalagi makanan
fara sina
🥺 tetap semangat ya galih. semoga nantinya cepet dapet kerjaan
fara sina
gatau, aku bukan laki laki. kayanya gasemua sama dah
Ekka
aneh
fara sina
sekaligus baik dan pengertian. tau galih ga ada duit inisiatif ngasih duit
fara sina
keuntungan biar banyak yang kos wkwkwk pak Yono
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!