Seorang ratu yang kehilangan mahkota karena fitnah dan seorang putri yang tumbuh dalam pengasingan tanpa mengetahui bahwa darahnya menyimpan kunci takhta.
Enam belas tahun kemudian, seorang dayang baru memasuki istana dengan wajah polos, tangan terampil, dan rahasia yang dapat mengguncang dua kerajaan. Ia datang bukan untuk mencari cinta.
Ia datang untuk membersihkan kembali nama ibunya, membongkar dosa masa lalu, dan mengambil kembali takhta yang dirampas.
Namun, takdir mempertemukannya dengan dua pangeran: seorang pewaris takhta yang kejam tetapi kesepian, dan seorang pangeran dari kerajaan musuh yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya.
Ketika pernikahannya dengan putra mahkota diumumkan, sang kekasih menculiknya tepat pada malam pertama. Satu tindakan nekat itu memicu perang yang mengancam menghancurkan kedua kerajaan di tengah pertumpahan darah, rahasia kelahirannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22. Harga Sebuah Dusta
Menjelang malam, Pejabat Qian Bei menerima laporan bahwa kedua saksi telah menyampaikan kesaksian mereka tanpa saling bertemu.
Ia berada di ruang kerjanya sendiri, sebuah ruangan luas dengan rak-rak dokumen yang memenuhi hampir seluruh dinding. Sebuah meja kayu hitam berdiri di tengah ruangan, dihiasi tempat tinta dari batu giok, kotak segel, dan sebuah patung kecil berbentuk kura-kura yang melambangkan umur panjang serta kesetiaan.
Di luar jendela, taman pribadi Qian Bei tampak sunyi. Lentera batu berdiri di sepanjang jalan setapak, menerangi kolam kecil yang dipenuhi ikan koi merah dan putih. Tidak ada suara selain gemericik air dari pancuran bambu.
Qian Bei membaca laporan itu sekali lagi.
Kemudian ia membakarnya di atas nyala lilin.
Kertas tersebut melengkung, menghitam, lalu berubah menjadi abu yang jatuh ke dalam wadah perunggu.
Ia tidak memerlukan catatan tambahan untuk mengingat apa yang telah dilakukan. Semua sudah tersusun di dalam pikirannya, rapi seperti bidak-bidak catur yang menunggu perintah.
Tabib Gu Wen telah memberikan perkiraan waktu kematian.
Zhou De telah mengaku melihat Shen Rui menjelang fajar.
Kedua kesaksian itu kini berada di tangan kerajaan, tercatat secara resmi, dan dapat digunakan untuk memperpanjang penyelidikan selama yang diperlukan.
Tidak ada seorang pun yang perlu mengetahui bahwa kesaksian tersebut telah dibeli dengan perak dan ancaman.
Qian Bei berjalan menuju jendela.
Ia memandang langit yang mulai gelap, lalu tersenyum tipis.
“Wang Laoyin,” gumamnya, “kau terlalu percaya bahwa kebenaran akan menyelamatkanmu.”
Ia mengangkat cangkir teh yang baru disiapkan pelayannya.
“Di istana, kebenaran hanyalah sesuatu yang dapat digunakan jika menguntungkan. Jika tidak, orang-orang akan menguburnya dan menyebutnya sebagai pengorbanan demi kerajaan.”
Ia menyesap teh.
Di tempat lain, Tabib Gu Wen duduk di samping tempat tidur cucunya yang sedang sakit, memandang wajah kecil itu dengan penyesalan yang semakin dalam. Zhou De berjalan sendirian di jalan sempit menuju rumahnya, membawa janji pembayaran yang belum diterima dan ketakutan yang tidak dapat ia ceritakan kepada siapa pun.
Dua orang itu telah menjual kesaksian mereka.
Namun, harga yang mereka bayar tidak sama dengan uang yang mereka terima.
Tabib Gu Wen kehilangan ketenangan yang selama puluhan tahun ia bangun melalui pengabdian. Zhou De kehilangan keberanian untuk memandang dirinya sendiri tanpa rasa malu.
Dan Wang Laoyin, yang bahkan tidak mengetahui seluruh rancangan itu, harus menanggung akibat dari kebohongan mereka.
Di atas meja Qian Bei, sebuah peta Istana Weishan terbentang dengan garis-garis merah yang menandai gerbang, paviliun, dan lorong penghubung. Jarinya berhenti pada bagian yang menunjukkan Paviliun Fengyi.
“Belum cukup,” katanya pelan.
Kebingungan mengenai waktu kematian mungkin dapat memperlambat penyelidikan, tetapi ia mengetahui bahwa Wang Laoyin bukan perempuan yang mudah menyerah. Selama masih memiliki kesempatan untuk berbicara dengan para saksi, ia mungkin dapat menemukan celah yang tidak terlihat oleh orang lain.
Karena itu, langkah berikutnya harus dilakukan dengan lebih hati-hati.
Qian Bei memanggil seorang pengawal kepercayaannya.
“Besok pagi, pastikan laporan pemeriksaan diserahkan langsung kepada Raja Han Quan. Tekankan bahwa kedua kesaksian itu bertentangan dan penyelidikan belum dapat memastikan apa yang sebenarnya terjadi.”
“Baik, Tuan Pejabat.”
“Jangan menyebutkan siapa pun sebagai pelaku. Biarkan Yang Mulia sendiri yang menarik kesimpulan.”
Pengawal itu membungkuk.
“Dimengerti.”
Setelah pengawal tersebut pergi, Qian Bei kembali duduk.
Ia mengetahui kelemahan terbesar Raja Han Quan bukanlah kurangnya kekuasaan, melainkan ketakutannya kehilangan kendali. Raja itu tidak suka dipermainkan, tidak suka dianggap lemah, dan tidak suka menerima kemungkinan bahwa orang-orang yang berada di bawah perintahnya dapat menyusun konspirasi tanpa sepengetahuannya.
Selama kecurigaan terhadap Wang Laoyin terus dipelihara, Raja akan sibuk mempertahankan kewibawaannya sendiri.
Dan selama Raja sibuk mempertahankan kewibawaan, Qian Bei akan memiliki waktu untuk menghapus jejak-jejak yang dapat membongkar rencananya.
Ia mematikan lilin di atas meja.
Ruangan pun tenggelam dalam kegelapan.
Di luar, angin malam kembali bertiup, menggerakkan dedaunan dan mengguncang lentera di sepanjang jalan setapak. Cahaya merahnya bergetar, lalu kembali tegak, seperti api kecil yang berusaha bertahan di tengah badai.
Sama seperti kebenaran yang masih bertahan di dalam istana.
Lemah.
Terdesak.
Tetapi belum padam.
Malam itu, Wang Laoyin kembali duduk di dekat jendela Paviliun Fengyi.
Ia tidak mengetahui nama-nama orang yang telah dibeli. Ia belum memiliki bukti mengenai peran Qian Bei. Ia juga tidak tahu apakah Raja Han Quan masih menyisakan sedikit kepercayaan terhadap dirinya.
Namun, kini ia memahami satu hal dengan lebih jelas.
Pertentangan dalam kesaksian bukanlah sesuatu yang boleh diabaikan. Jika seorang tabib menyatakan bahwa Shen Rui meninggal sebelum tengah malam, sementara seorang penjaga mengaku melihatnya memasuki paviliun menjelang fajar, maka ada sesuatu yang tidak beres dalam rangkaian peristiwa itu.
Entah salah seorang saksi keliru.
Entah salah seorang berbohong.
Atau keduanya sedang digunakan untuk menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar.
Wang Laoyin menatap bayangan bulan yang terpantul di kolam taman.
“Shen Rui,” bisiknya, “apa yang sebenarnya terjadi malam itu?”
Angin menyapu halaman, membawa beberapa kelopak bunga prem ke permukaan air.
Ia mengangkat wajah, dan di balik kesedihan yang masih membebani matanya, sebuah tekad baru mulai terbentuk.
Jika hukum kerajaan tidak mampu membedakan kebenaran dari kebohongan, ia akan mencari jalan untuk membuktikannya sendiri.
Jika para saksi memilih diam karena takut, ia akan mencari orang-orang yang masih memiliki keberanian untuk berbicara.
Dan jika musuh-musuhnya bersembunyi di balik kedudukan serta kekuasaan, ia akan mengingat setiap nama, setiap perkataan, dan setiap ketidaksesuaian yang mereka tinggalkan.
Wang Laoyin tidak lagi berharap Raja Han Quan akan menyelamatkannya.
Harapan itu telah retak ketika sang Raja memintanya mengakui dosa yang tidak pernah dilakukan kini dia hanya memiliki dirinya sendiri. Dan untuk pertama kalinya, ia mulai menyadari bahwa bertahan hidup di istana mungkin mengharuskannya menjadi lebih kuat daripada perempuan yang selama ini ia kenal.
Di luar Paviliun Fengyi, penjaga berganti giliran. Suara langkah mereka menggema di sepanjang lorong, teratur dan berat, mengingatkan bahwa setiap gerak sang Permaisuri masih berada di bawah pengawasan, tetapi tidak seorang pun menyadari bahwa di balik jendela yang tertutup, Wang Laoyin sedang menyusun kembali kejadian malam berdarah itu, satu demi satu.
Ia belum menemukan jawaban, tapi ia telah menemukan pertanyaan yang tepat.
Jika kesaksian para saksi saling bertentangan, siapa yang paling diuntungkan ketika seluruh istana berhenti mempercayai kebenaran?
Dan di suatu tempat di dalam Istana Weishan, seseorang yang merasa rencananya berjalan sempurna belum menyadari bahwa pertanyaan itulah yang kelak akan meruntuhkan seluruh kebohongannya.
(Bersambung)