NovelToon NovelToon
Suara Hati Profesor Kejam Dan Dingin

Suara Hati Profesor Kejam Dan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Di balik tatapan tajam dan profesi akademiknya, Zain dikenal sebagai profesor dingin dan kejam di kampus. Namun, tak ada yang tahu ia terperangkap dalam pernikahan dingin selama hampir empat tahun bersama Mara. Ikatan itu lahir dari kesalahan masa lalu saat SMA, ketika malam yang dikuasai alkohol memaksa Zain menikahi Mara. Bagi Mara, setiap hari adalah siksaan karena Zain selalu bersikap dingin dan terkesan jijik padanya.

​Hingga sebuah tragedi pada malam penerimaan mahasiswa baru mengubah segalanya. Malam itu tak hanya membuat Mara hamil, tetapi juga memberinya kemampuan misterius, Mara bisa mendengar setiap suara hati Zain.

​Di balik topeng es dan sikap kejam yang ditunjukkan Zain, ternyata tersimpan rahasia besar yang selama ini tersembunyi rapat dalam batinnya. Di antara jeritan hati Zain yang kini bisa ia dengar dan benih kehidupan yang tumbuh di rahimnya, mampukah Mara menyingkap tabir masa lalu dan menyelamatkan rumah tangga mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA PULUH SATU

Tanpa menunggu lebih lama, Amara memutar tubuhnya dan melangkah pergi secepat yang ia bisa, meninggalkan bayangan suaminya yang masih larut dalam perbincangan.

Suasana rumah bernuansa modern minimalis itu terasa begitu sepi dan dingin saat Amara melangkah masuk. Lampu-lampu utama di ruang tamu dan teras depan belum menyala, membiarkan bayang-bayang senja memenuhi setiap sudut ruangan.

Amara melepas sepatunya, menyeret langkah layaknya raga tanpa jiwa menuju kamar utamanya di lantai dua. Ia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur berukuran besar. Ia meraih ponselnya di dalam tas, berharap menemukan baris pesan atau sekadar riwayat panggilan masuk.

Kosong. Tidak ada satu pun pesan atau telepon dari Zain. Pria itu seolah tak peduli ke mana istrinya pergi atau bagaimana kondisinya.

Di tengah denyut nyeri yang mulai menjalar hebat di pelipisnya, ponsel di genggaman Amara mendadak bergetar menyanyikan nada dering. Nama sang kakak, Arbara, tertera jelas di layar.

Amara Menarik napas dalam-dalam, berusaha menetralkan nada suaranya sebelum menggeser tombol hijau.

"Halo, Kak Bara?" sapanya pelan.

"Halo, Dek! Kamu sedang apa?" suara bariton Arbara bergema hangat dari seberang telepon, membawa rasa rindu yang familiar. "Suaramu kok agak lemas begitu? Zain ke mana? Kamu tidak sedang disusahkan oleh manusia kaku itu, kan?"

Air mata Amara nyaris menetes mendengar perhatian kakaknya, namun ia menahannya sekuat tenaga. Ia sadar betul tabiat kakaknya. Jika sampai Arbara tahu apa yang terjadi hari ini, kakaknya tak akan segan-segan mendatangi rumahnya dan menghajar Zain hingga tak bisa bangun lagi.

"Aku baru saja pulang kuliah, Kak," bohong Amara seraya mengukir senyum palsu yang tak terlihat lawan bicaranya. "Agak capek saja karena tugas minggu ini menumpuk. Kak Zain sedang ada rapat fakultas. Rumah tangga kami baik-baik saja, Kak. Kak Zain sangat memperhatikan aku."

"Bagus kalau begitu," Arbara terkekeh lega di seberang sana. "Kalau pria kaku itu sampai berani membuat adik kesayanganku menangis, katakan padaku. Aku sendiri yang akan mematahkan kakinya. Jaga kesehatanmu baik-baik, ya."

"Iya, Kak. Terima kasih..."

Sambungan telepon terputus. Amara menjatuhkan ponselnya ke samping bantal. Tengkorak kepalanya terasa serasa dihantam beban berat, memicu rasa pusing yang teramat sangat. Dengan sisa tenaga yang ada, ia menarik selimut hingga sebatas dada, menutup matanya rapat-rapat, lalu tenggelam dalam kegelapan lelap yang menyiksa.

Waktu menunjukkan pukul sembilan malam ketika mobil sedan hitam milik Zain berhenti di garasi rumah. Pria itu melangkah keluar dari mobil dengan guratan lelah yang tercetak jelas di paras tampannya. Perdebatan di kantornya tadi siang bersama Amara dan Silvia terus membayangi pikirannya sepanjang hari, mengganggu fokusnya saat mengajar.

Namun, dahi Zain seketika berkerut rapat saat mendapati area depan rumahnya gelap gulita. Lampu teras yang biasanya sudah menyala terang kini mati total. Tetapi mobil yang biasa digunakan Amara untuk ke kampus sudah terparkir di tempatnya.

"Ke mana anak itu? Kenapa lampu depan tidak dinyalakan?" omel Zain dengan nada ketus pada dirinya sendiri.

Zain membuka pintu depan dengan kunci cadangan. Suasana dalam rumah begitu senyap. Pria itu melangkah menuju area dapur untuk mengambil secangkir air dingin, namun matanya menatap tajam ke arah tempat cuci piring dan meja makan.

Tidak ada bekas piring kotor atau sisa makanan sedikit pun. Beberapa masakan sederhana yang ia siapkan tadi pagi pun masih utuh tersisa di dalam mesin pendingin, sewaktu-waktu bisa Amara hangatkan untuk makan malam.

Dia belum makan sama sekali sejak siang?

Sebuah sensasi cemas yang tak biasa mendadak merayapi dada Zain, menghempaskan ego keras kepala yang sejak tadi ia pertahankan. Tanpa membuang waktu, Zain melangkah cepat menaiki anak tangga menuju kamar tidur mereka.

Brak!

Zain mendorong pintu kamar dengan tergesa-gesa.

Di dalam kamar yang temaram, pendingin udara menghembuskan angin dingin yang menusuk tulang. Namun, pemandangan di atas tempat tidur membuat jantung Zain seolah berhenti berdetak seketika.

Amara terbaring meringkuk di balik selimut. Pelipis dan dahinya dibasahi oleh bulir-bulir keringat dingin yang mengucur deras. Bibirnya yang biasanya merona kini tampak pucat pasi, gemetar hebat seperti orang yang sedang menahan rasa sakit yang luar biasa pada bagian perutnya.

"Amara!"

Zain berhamburan mendekat, berlutut di tepi ranjang. Ia menyentuh kening Amara. Suhu tubuh istrinya sangat panas, membakar telapak tangannya.

"Amara, bangun! Kamu kenapa?" panggil Zain dengan nada suara yang tak lagi mampu menyembunyikan kepanikannya. Ia merengkuh bahu Amara, namun gadis itu hanya merintih pelan tanpa membuka mata.

Dengan tangan gemetar, Zain merogoh saku jasnya, mengambil ponsel dan langsung mendial nomor sahabatnya yang merupakan seorang dokter spesialis.

"Sandi! Cepat datang ke rumahku sekarang juga!" gertak Zain tanpa basa-basi begitu panggilannya terhubung.

"Hei, Zain! Kamu gila, ya?" omel Sandi di seberang telepon dengan nada tinggi. "Ini sudah jam berapa? Aku baru saja mau istirahat setelah operasi lima jam! Aku ini dokter bedah, Zain!"

"Aku tidak peduli!" potong Zain dengan suara yang bergetar penuh ancaman dan ketakutan yang mencekam. "Istriku sakit parah! Panasnya sangat tinggi dan dia terus merintih! Jika dalam waktu lima belas menit kamu tidak sampai di rumahku, aku pastikan izin praktilmu di rumah sakit akan kucabut esok hari!"

"Zain, kamu benar-benar—!"

Tut... tut... tut...

Zain mematikan panggilan secara sepihak, mengabaikan amukan sahabatnya. Pria itu menggenggam jemari Amara yang terasa dingin, menatap wajah pucat istrinya dengan rasa bersalah yang mendadak menekan dadanya hingga sesak.

Kurang dari dua belas menit kemudian, suara deru mobil dan hentakan langkah kaki tergesa-gesa bergema di lorong tangga. Sandi masuk ke dalam kamar dengan melempar pandangan tajam berniat memprotes, membawa tas medis di tangannya.

"Kamu ini benar-benar tidak punya hati nurani, Zain!" seru Sandi dengan nafas terengah-engah, meluapkan kejengkelannya seraya berjalan mendekati ranjang. "Memerintah orang seenaknya saja seperti komandan perang! Aku ini dokter, bukan budakmu!"

"Jangan banyak bicara, Sandi! Periksa dia sekarang!" pangkas Zain tegas, berdiri bergeser memberi ruang.

Sandi berdecak kesal, namun begitu pandangannya jatuh pada raut wajah Amara yang pucat dan terkulai lemas, raut wajah bercandanya seketika sirna. Pria bertubuh jangkung itu dengan sigap mengeluarkan stetoskop, termometer, dan peralatan medis lainnya.

Sandi memeriksa denyut nadi Amara, mengukur suhu tubuhnya yang mencapai angka 39,2 derajat Celsius, serta menekan lembut bagian ulu hati Amara yang membuat gadis itu terenyak kecil menahan perih.

Setelah menyuntikkan obat penurun panas dan cairan nutrisi melalui infus ringkas, Sandi melepas stetoskopnya. Ia menghela napas panjang, menatap Zain dengan pandangan mata yang dipenuhi kekecewaan mendalam.

"Bagaimana kondisinya?" tanya Zain cepat, raut kecemasan memenuhi wajah kaku pria itu.

Sandi mengemas peralatannya dengan gerakan lambat, lalu berbalik menatap Zain lurus-lurus.

"Demam tinggi akibat infeksi lambung yang parah. Maag akutnya kumat," ujar Sandi dengan nada suara dingin dan sarat akan teguran. "Perutnya kosong sama sekali sejak pagi, ditambah lagi stres berat yang menekan pikirannya. Kamu ini sebenarnya bagaimana, Zain?"

Zain terdiam, membisu di tempatnya berdiri.

"Kamu itu suaminya, Profesor Zain yang terhormat!" cerca Sandi, menyuarakan kekesalan yang tak lagi bisa ditahan. "Kamu sibuk mengurus ratusan mahasiswa di kampus, tapi menjaga satu orang istri di rumah saja kamu tidak becus! Bagaimana bisa kamu membiarkan dia kelaparan dan stres berat sampai terkulai seperti ini!"

Zain mengepalkan tangannya di samping tubuh, menerima setiap patah kata makian itu tanpa sanggahan sedikit pun. Mata di balik kaca matanya menatap tajam ke arah Amara yang kini tertidur lebih tenang di bawah pengaruh obat.

Sandi menghela napas, menepuk bahu Zain dengan agak kasar. "Obat penurun panas dan penenang sudah masuk melalui infus. Besok pagi dia harus makan bubur lembut. Kalau sampai besok panasnya tidak turun, kamu harus membawanya ke rumah sakit."

Sandi berjalan keluar kamar, meninggalkan Zain sendirian dalam keheningan yang menyesakkan.

Zain melangkah perlahan menuju tepi ranjang. Pria itu duduk di sisi Amara, mengulurkan tangannya yang gemetar untuk mengusap sisa-sisa keringat di dahi istrinya. Penyesalan yang teramat besar perlahan merayap dan menggerogoti dadanya, menghancurkan seluruh keangkuhan dan logika dingin yang selama ini ia banggakan.

Tepat saat jemari tegap Zain mengusap lembut pipi Amara, bibir pucat gadis yang sedang mengigau dalam tidurnya itu perlahan bergerak tipis, membisikkan sebuah kalimat lirih yang memecah keheningan malam.

"Jangan tahan aku lagi, Kak Zain... aku sudah lelah... Lelah sekali hingga sulit bernapas."

1
SENJA
bisa saling denger apa gimana?🫣
SENJA
pake nanya lu 😤
SENJA
hadeeeh makan aja kok susah ada yah orang kaya gini 😳
SENJA
lu pecat lah silvia gaje itu😤
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
wkwkwkw kalo begitu kau cium saja itu suamimu tiap hari biar bisa mendengar suara hati Zain kan lumayanlah tuh🤔🤭🤣🤣🤣
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
lahhhh kok ternyata kakak Amara sendiri yang merencanakannya kejadian empat tahun yang lalu itu 😱🤔
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
kali ini zain menang banyak wkwkw
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
si zain main sosor aja 😭
gak liat situasi apa gimana dah, istri abis sakit malah membrutal wkwkwkwk
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
owalah Zain kau itu benar benar menggemaskan sekaligus ngeselin banget cobalah sekali kali bicara yang jelas dan pikirkan perasaan Amara yang merasa dirinya tak cukup pantas berada disisimu🤔
Muft Smoker
gengsi di gedein zaiiin ,, zaiiin ,,
gmn yx kalo zain tau Amara bisa dgr suara hati ny🤭🤭🤭😂😂😂
Muft Smoker: waah dtggu banget tuh kak dew ,, penasaran ma ekspresi ny si zain ,,
muka doank dingin ,, tp curahan hati ny sangat2 berbahaya 🤭🤭😂😂😂😂
total 2 replies
Muft Smoker
zain peka dikit jd suami ,, sebelum semua terlambat
Muft Smoker
ni dosen kyak ny pake jalur instan nih ,, gx da adab ny
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
apakah ini ciri ciri amara mau pisah?
plot twist nya pas mau pisah malah hamidun miss 🤣
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
Zain tidak bisakah kau turunkan egomu itu jika Amara sudah memasuki fase lelah padamu yang ada kalian akan bubar 🤔🥹
SENJA
mantabs pak wanto 🤣
SENJA
sok tau lo 🤣
SENJA
yeeeeeey huuuu ga tau malu🤣🤣🤣
SENJA
laaaah siapa elu 🤣🤣
SENJA
lu dosen ga ada adab woeee
SENJA
jangan2 zain bisa juga 😳🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!