Celine Wang pernah percaya bahwa cinta mampu mengubah hati seorang pria yang dingin.
Selama tiga tahun pernikahannya dengan Alexander Wu, pewaris keluarga konglomerat Wu Group, Celine berusaha menjadi istri yang sempurna. Ia merawat rumah mereka, mendampingi Alexander ketika menghadapi kesulitan, dan diam-diam membantu menyelamatkan perusahaan suaminya dari krisis keuangan.
Namun, semua pengorbanannya tidak pernah dianggap berarti.
Bagi Alexander, Celine hanyalah wanita biasa yang beruntung mendapatkan tempat di keluarga Wu. Terlebih lagi, kehadiran Evelyn Zhao, cinta pertama Alexander yang kembali ke Shanghai, perlahan menghancurkan rumah tangga mereka.
Atas hasutan Evelyn dan tekanan keluarganya, Alexander menuduh Celine sebagai wanita yang tidak tahu diri, menandatangani surat perceraian, lalu mengusirnya dari rumah tanpa memberinya kesempatan menjelaskan kebenaran.
Pada malam yang sama, Celine mengetahui bahwa sebagian besar penderitaan yang dialaminya bukanlah kebetulan. Ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 — HARGA SEBUAH PENGORBANAN
Pagi itu, Shanghai diselimuti kabut tipis. Dari jendela apartemen kecil yang baru disewanya, Celine Wang memandangi gedung-gedung tinggi yang berdiri di kejauhan. Kota itu terlihat sama seperti kemarin, tetapi hidupnya telah berubah sepenuhnya.
Tiga tahun.
Selama tiga tahun, ia mengabdikan dirinya sebagai istri Alexander Wu. Ia belajar memahami kebiasaan suaminya, mengingat makanan kesukaannya, menemaninya melewati malam-malam panjang ketika perusahaan hampir bangkrut, bahkan mengorbankan impian pribadinya demi memastikan Alexander dapat berdiri di puncak kesuksesan.
Namun, pada akhirnya, semua pengorbanan itu hanya dibalas dengan selembar surat perceraian.
Celine menunduk, menatap cincin pernikahan yang masih terletak di atas meja. Ia belum membuangnya. Bukan karena masih berharap Alexander akan kembali, melainkan karena ia ingin mengingat satu hal: jangan pernah lagi menyerahkan seluruh hidupnya kepada seseorang yang tidak menghargainya.
Ponselnya berdering.
“Celine, kau sudah siap?” suara Daniel Zhou terdengar dari seberang.
“Ya. Aku sedang dalam perjalanan.”
“Bagus. Ada sesuatu yang harus kau lihat. Dokumen yang ditinggalkan ibumu ternyata jauh lebih penting daripada yang kita duga.”
Celine terdiam sesaat.
“Ibuku meninggalkan apa?”
“Aku akan menjelaskannya ketika kita bertemu. Datanglah ke kantorku secepatnya.”
Panggilan berakhir.
Celine mengambil tasnya, mengenakan mantel krem, lalu meninggalkan apartemen. Ia belum mengetahui bahwa pertemuan pagi itu akan mengubah pandangannya terhadap keluarga Wu—dan mengungkap harga sebenarnya dari pengorbanan yang selama ini ia berikan.
Kantor Daniel berada di sebuah gedung perkantoran yang tidak terlalu jauh dari pusat kota. Ketika Celine tiba, pria itu sudah menunggunya dengan beberapa map tebal di atas meja.
Daniel berusia tiga puluh lima tahun. Ia adalah pengacara yang pernah bekerja bersama ayah Celine, sekaligus salah satu dari sedikit orang yang masih dipercayainya.
“Duduklah,” katanya.
Celine duduk di hadapannya. “Katakan apa yang sebenarnya terjadi.”
Daniel membuka sebuah map berwarna cokelat dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen.
“Kau ingat tiga tahun lalu, ketika Wu Group hampir mengalami kebangkrutan?”
“Tentu.” Celine mengangguk pelan. “Alexander bekerja hampir setiap malam. Para investor menarik modal mereka, dan bank menolak memberikan pinjaman tambahan.”
“Lalu perusahaan itu tiba-tiba memperoleh suntikan dana yang besar. Itulah yang membuat Wu Group bertahan.”
Celine mengerutkan kening.
“Aku tahu. Alexander pernah mengatakan bahwa ayahnya berhasil mendapatkan investor baru.”
Daniel menatapnya dengan serius.
“Itu bukan sepenuhnya benar.”
Ia mendorong dokumen ke arah Celine.
Di sana tercantum sebuah perjanjian investasi dengan nilai yang membuat Celine terdiam. Dana tersebut berasal dari perusahaan investasi milik keluarganya sendiri—perusahaan yang dahulu dikelola ayahnya sebelum meninggal dunia.
“Tidak mungkin,” bisik Celine.
“Dana itu disalurkan melalui sebuah perusahaan perantara. Namamu tercatat sebagai pihak yang menyetujui transaksi tersebut.”
Celine membalik halaman demi halaman. Tanda tangannya terlihat jelas di beberapa dokumen, tetapi ia tidak pernah mengingat pernah menandatangani perjanjian sebesar itu.
“Aku tidak pernah menyetujui investasi ini.”
Daniel mengangguk, seolah sudah memperkirakan jawabannya.
“Menurut catatan yang berhasil kutemukan, sebagian dana itu berasal dari aset peninggalan ibumu. Sisanya berasal dari rekening investasi keluarga yang berada di bawah pengawasan wali amanat setelah ayahmu meninggal.”
Celine merasakan dadanya sesak.
Tiga tahun lalu, ia memang menggunakan sebagian tabungannya untuk membantu Alexander. Ia bahkan pernah menjual beberapa perhiasan peninggalan ibunya ketika Wu Group membutuhkan uang untuk membayar gaji karyawan.
Namun, ia tidak pernah tahu bahwa bantuan yang diberikannya jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.
“Apakah Alexander mengetahui semua ini?” tanyanya lirih.
Daniel tidak langsung menjawab.
“Namanya tercantum dalam laporan internal perusahaan. Setidaknya, dia mengetahui bahwa ada investor yang menyelamatkan Wu Group. Aku belum bisa memastikan apakah dia mengetahui identitas pemilik dana yang sebenarnya.”
Celine tertawa kecil, tetapi tidak ada kebahagiaan di dalamnya.
“Jadi, selama ini aku membantu menyelamatkan perusahaannya, sementara dia menganggapku hanya seorang istri yang tidak punya pekerjaan penting.”
“Celine, ada hal lain yang perlu kau ketahui.”
Daniel mengeluarkan satu lembar surat yang sudah menguning di bagian tepinya.
“Ini surat dari ibumu. Dia meminta agar surat ini diberikan kepadamu ketika kau berusia dua puluh tujuh tahun.”
Tangan Celine bergetar ketika menerima surat itu.
Tulisan tangan ibunya masih sama seperti yang ia ingat.
Putriku tersayang, jika suatu hari kau membaca surat ini, mungkin Ibu sudah tidak lagi berada di sisimu. Jangan pernah menganggap kebaikan sebagai kelemahan, dan jangan biarkan siapa pun menggunakan cinta untuk mengambil sesuatu yang menjadi hakmu.
Air mata menggenang di mata Celine.
Ia melanjutkan membaca.
Ada rahasia tentang kematian ayahmu yang belum berhasil Ibu ungkap. Jika sesuatu terjadi pada Ibu, carilah catatan transaksi perusahaan keluarga. Kebenaran itu mungkin tersembunyi di tempat yang tidak pernah kau duga.
Celine berhenti membaca.
Ayahnya meninggal dalam kecelakaan mobil bertahun-tahun lalu. Saat itu, ia masih terlalu muda untuk memahami banyak hal. Keluarganya menerima penjelasan resmi bahwa kecelakaan tersebut hanyalah musibah.
Namun, mengapa ibunya menulis seperti itu?
“Daniel,” ucapnya pelan, “apakah kematian ayahku benar-benar kecelakaan?”
“Aku belum memiliki bukti untuk menyimpulkan sebaliknya,” jawab Daniel jujur. “Tetapi ada transaksi keuangan yang dilakukan beberapa hari sebelum kecelakaan itu. Transaksi tersebut melibatkan perusahaan yang kemudian memiliki hubungan bisnis dengan keluarga Wu.”
Celine mengepalkan surat itu.
Keluarga Wu.
Nama itu kembali muncul di hadapannya, seolah masa lalunya belum selesai menyiksanya.
“Selama ini, apakah mereka mengetahui bahwa keluargaku memiliki hubungan dengan dana tersebut?”
“Itulah yang harus kita cari tahu.”
Pada saat yang sama, di kantor pusat Wu Group, Alexander Wu sedang meninjau laporan keuangan ketika sekretarisnya mengetuk pintu.
“Tuan Wu, ada dokumen lama yang perlu Anda periksa. Bagian keuangan menemukan ketidaksesuaian dalam catatan investasi tiga tahun lalu.”
Alexander mengangkat wajah.
“Ketidaksesuaian apa?”
“Beberapa dokumen menunjukkan bahwa dana penyelamat perusahaan berasal dari perusahaan investasi yang terhubung dengan keluarga Wang.”
Alexander terdiam.
Keluarga Wang?
Ia mengambil dokumen itu dan membaca halaman pertama. Semakin jauh ia membaca, semakin dalam kerutan di dahinya.
Nama Celine muncul berulang kali.
Selama ini, ia mengira Wu Group diselamatkan oleh jaringan investor yang diperkenalkan ayahnya. Ia tidak pernah mempertanyakan asal dana tersebut karena perusahaan berhasil bangkit, sementara tekanan bisnis menuntutnya untuk terus bergerak maju.
Namun, mengapa tanda tangan Celine ada di sana?
Pintu kantornya terbuka tanpa ketukan panjang.
Evelyn Zhao masuk dengan membawa dua cangkir kopi.
“Alexander, kau belum makan sejak pagi.” Senyumnya mengembang ketika melihat dokumen di tangan pria itu. “Ada masalah?”
Alexander menutup map tersebut.
“Tidak ada yang perlu kau khawatirkan.”
Evelyn meletakkan kopi di meja, lalu melirik sekilas nama yang tercetak pada sampul dokumen.
Wang.
Senyumnya nyaris memudar, tetapi ia segera menguasai ekspresinya.
“Apakah itu ada hubungannya dengan Celine?” tanyanya lembut.
Alexander menatapnya tajam.
“Mengapa kau menyebut namanya?”
“Karena aku tahu kalian baru saja bercerai. Aku hanya khawatir dia mungkin akan menggunakan dokumen perusahaan untuk menyulitkanmu.”
Alexander tidak menjawab.
Evelyn menyentuh lengannya dengan lembut.
“Jangan sampai rasa bersalah membuatmu kehilangan fokus. Kau sudah terlalu banyak berkorban untuk membangun perusahaan ini.”
Kata-kata itu terdengar menenangkan, tetapi untuk pertama kalinya Alexander tidak sepenuhnya memercayainya.
Setelah Evelyn meninggalkan ruangan, ia kembali membuka dokumen tersebut.
Matanya berhenti pada satu angka besar yang tercatat sebagai investasi dari pihak keluarga Wang.
Tiba-tiba, ia teringat sebuah malam tiga tahun lalu ketika Celine pulang dengan wajah pucat. Saat itu, ia bertanya apakah Celine sedang sakit, tetapi istrinya hanya menjawab bahwa semuanya baik-baik saja.
Ia tidak pernah tahu bahwa pada malam yang sama, Celine telah menjual perhiasan peninggalan ibunya untuk membantu membayar kewajiban perusahaan.
Alexander menatap lembaran-lembaran itu dalam diam.
Untuk pertama kalinya, muncul pertanyaan yang selama ini tidak pernah berani ia ajukan kepada dirinya sendiri.
Berapa banyak yang telah diberikan Celine kepadanya tanpa pernah meminta balasan?
Di kantor Daniel, Celine menyeka air matanya dan memasukkan surat ibunya ke dalam tas.
“Aku tidak ingin langsung menuduh siapa pun,” katanya. “Aku ingin mengetahui kebenarannya terlebih dahulu.”
“Itu keputusan yang tepat,” jawab Daniel. “Kita akan memeriksa semua transaksi dan mencari dokumen aslinya.”
Celine berdiri, lalu menatap gedung-gedung di balik jendela.
Dulu, ia mengira pengorbanan adalah bagian dari cinta. Ia percaya bahwa selama ia cukup sabar, Alexander suatu hari akan melihat semua yang telah dilakukannya.
Kini, ia memahami sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.
Pengorbanan tanpa penghargaan dapat membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri.
Dan ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Jika kau ingin mengetahui siapa yang bertanggung jawab atas kematian ayahmu, berhentilah menyelidiki keluarga Wu.
Celine membaca pesan itu dua kali.
Beberapa detik kemudian, pesan kedua muncul.
Tidak semua orang yang kau percayai ingin melihatmu selamat.
Wajah Celine menegang.
Ia mengangkat pandangan ke arah jendela, merasa seolah seseorang sedang mengawasinya dari kejauhan.
Perceraiannya dengan Alexander mungkin telah berakhir, tetapi perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Dan kali ini, Celine tidak akan berkorban demi cinta.
Ia akan berjuang demi kebenaran.