Aisyah pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Raka akan bertahan selamanya. Selama lima belas tahun, mereka membangun keluarga sederhana dari nol, melewati susah dan senang hingga dikaruniai dua anak yang menjadi sumber kebahagiaan mereka.
Sampai suatu hari, suaminya mengaku telah jatuh cinta pada Nabila, sahabat Aisyah sendiri, dan meminta izin untuk menikahinya. Dengan hati yang hancur, pada akhirnya Aisyah mengizinkannya.
Namun, Aisyah tidak ingin menjadi.lemah. Demi anak-anaknya, dia mulai menyusun strategi. Hasil keringatnya bertahun-tahun, ia tak rela dinikmati oleh wanita lain yang sama sekali tak ikut berjuang.
Setelah Aisyah pergi, barulah Raka menyadari tak ada yang lebih baik dari Aisyah. Raka menyesal dan ingin kembali.
Namun, mampukan Aisyah melupakan luka ketika lelaki yang paling ia cintai pernah memilih wanita lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
.
“Ayah…!”
Akbar menatap ayahnya dengan ekspresi antara heran dan pasrah. Entah kenapa sejak perkenalan dengan Aisyah beberapa waktu lalu, ayahnya seolah kehilangan akal sehatnya. Ayahnya itu begitu bersemangat ingin menjadikan Aisyah sebagai menantu, padahal mereka baru beberapa kali bertemu.
“Kenapa?” Pak Rozak justru menatap putranya dengan sengit. “Apa yang Ayah katakan salah? Wanita baik seperti Mbak Aisyah tidak boleh dibiarkan hidup dengan suami model serigala seperti itu.”
“Bukan begitu maksudku.” Akbar mengusap wajahnya sebelum kembali menatap ayahnya. “Tapi kenapa Ayah sampai segitunya ingin menjadikan Mbak Aisyah sebagai menantu? Ayah bahkan belum mengenalnya dengan baik.”
“Ayah memang baru beberapa kali bertemu dengan Aisyah. Tapi ayah sudah bisa melihat karakternya hanya dari bagaimana dia bersikap.” Pak Rozak mengangkat map yang masih berada di tangannya.
“Apalagi setelah hasil penyelidikan dari anak buahmu ini.” Pak Rozak meletakkan berkas itu dengan keras di atas meja tepat di hadapan Akbar. “Perempuan itu selama bertahun-tahun membantu suaminya membangun usaha, tetapi setelah mereka hidup enak suaminya malah menikah lagi. Lalu sekarang perempuan itu sendirian merawat dua anak mereka. Kalau perempuan seperti itu bukan calon menantu yang baik, lalu perempuan seperti apa yang Ayah cari?”
Akbar menghela napas panjang. Ia tahu percuma berdebat jika ayahnya sudah memasang pendirian seperti itu. “Mungkin Mbak Aisyah memang sebaik yang Ayah bilang, tapi dia masih memiliki suami.”
“Suaminya sudah menikah lagi!” sahut Pak Rozak cepat.
“Tetap saja statusnya masih istri orang.”
“Kalau begitu pisahkan!”
Akbar langsung menatap ayahnya dengan mata memicing tajam.
Namun, Pak Rozak malah tersenyum penuh arti. “Kamu dekati dia pelan-pelan. Bantu dia kalau memang membutuhkan bantuan, kalau perlu ayah akan menyewa preman untuk pura-pura berbuat jahat padanya, lalu kok kamu muncul sebagai pahlawan. Dengan begitu dia akan mulai melihat kamu.”
“Astagfirullah…” Akbar menggeleng tidak percaya. “Ayah kebanyakan nonton dracin. Makanya kepala ayah isinya cuma intrik!”
“Ayah hanya menyuruhmu mengenalnya.” Pak Rozak menatap sengit. “Jadi kalau dia nanti bercerai dengan suaminya laki-laki yang dia lihat pertama kali adalah kamu.”
“Kalau akhirnya dia bercerai dengan suaminya, artinya dia seorang janda.” Akbar sengaja mengatakannya untuk melihat reaksi ayahnya. “Memangnya Ayah tidak keberatan memiliki menantu seorang janda?”
Pak Rozak malah mengangkat alis, seolah pertanyaan itu sangat aneh. “Memangnya kenapa? Jaman sekarang itu janda semakin di depan.”
Akbar mengerjapkan mata. “Ayah?” pria itu benar-benar tidak apakah harus tertawa atau justru mengkhawatirkan pola pikir ayahnya. “Baiklah. Anggap saja Ayah tidak keberatan dia seorang janda. Tapi Aisyah juga punya dua anak.”
“Lalu?” Pak Rozak mengerutkan kening tak mengerti.
“Ayah tidak keberatan menerima dua anak orang lain sebagai cucu?” tanya Akbar lagi.
Bukannya berpikir, Pak Rozak malah tersenyum lebar. “Justru bagus.”
Akbar semakin bingung. “Bagus dari mana?”
“Di toko saja kalau promosi palingan beli dua gratis satu.” Pak Rozak mengangkat bahu dengan santai. “Ini malah sebaliknya. Beli satu gratis dua. Kita untung besar.”
Akbar langsung menutup wajahnya dengan telapak tangan. “Ayah…”
“Kenapa? Ayah serius.”
Akbar sudah benar-benar kehilangan akal untuk membujuk ayahnya agar menghentikan rencana tersebut. Semua keberatan yang ia ajukan selalu dipatahkan dengan jawaban yang begitu enteng.
Akhirnya Akbar berdiri dari sofa sambil mengambil tas kerjanya. “Terserah Ayah saja.” pria itu berbalik ke arah tangga untuk menuju kamarnya yang berada di lantai atas.
“Akbar!”
Pria itu berhenti dan menoleh mendengar seruan ayahnya.
Pak Rozak berdiri menatapnya sambil berkacak pinggang. “Pokoknya Ayah mau Aisyah jadi menantu di rumah ini.”
Akbar menghela nafas lalu tanpa menjawab sepatah kata pun pria itu melanjutkan langkahnya.
Pak Rozak mendengus kesal melihat putranya menghilang di balik pintu.
“Anak ini benar-benar keras kepala,” gumamnya. “Padahal aku tahu aslinya dia juga suka sama Aisyah. Siapa di dunia ini yang akan menolak perempuan sebagus itu.”
Malam harinya, pembicaraan tentang Aisyah ternyata belum selesai.
Saat mereka makan malam, Pak Rozak tiba-tiba mengatakan bahwa besok mereka akan berangkat ke Surabaya.
Akbar yang sedang mengambil lauk langsung menoleh. “Mau ngapain?”
“Ziarah ke makam ibumu, lah,” jawab pak Rozak ketus. “Apalagi memangnya?”
Akbar terdiam sejenak. “Bukannya baru seminggu kita ke sana?”
“Memangnya tidak boleh ziarah lagi?”
Akbar kembali menghela nafas. Tentu saja ia tahu tujuan utama ayahnya. Mungkin ayahnya itu memang akan pergi ke makam ibunya, tetapi pasti ayahnya memiliki tujuan lain yaitu bertemu dengan Aisyah. “Bulan depan saja, Yah. Besok aku ada banyak pekerjaan di perusahaan.”
Pak Rozak langsung memasang wajah tidak senang. “Kamu mau membohongi ayahmu? Ayah sudah bertanya sama asistenmu barusan. Dan dia bilang besok tidak ada agenda penting.”
“Ya Tuhan…” agar memijat pelipisnya yang terasa pening.
“Pokoknya kalau kamu tidak mau mengantar, Ayah akan pergi sendiri naik bis,” ancam Pak Rozak.
Akbar hampir tersedak mendengar jawaban itu. “Dari Jakarta ke Surabaya Ayah mau naik bus sendirian?”
“Memangnya kenapa? Ayah masih kuat.”
Akbar menarik napas dalam-dalam. Kalau ayahnya itu mau naik pesawat sih tidak apa-apa. Tapi sejak dulu Ayahnya tidak suka naik pesawat. “Ayah sebenarnya mau menemui Bu Aisyah, kan?”
Pak Rozak meletakkan sendoknya dengan kasar lalu melipat kedua tangannya bersedekap di depan dada. “Kalau sudah tahu ngapain nanya?!”
Akbar meletakkan sendoknya lalu menatap ayahnya. “Kemarin Ayah sudah membaca berkas tentang Bu Aisyah sampai selesai, kan? Ayah juga sudah tahu siapa istri kedua suaminya.”
“Tentu saja.” Pak Rozak mengangguk mantap. “Justru karena itu, kita harus menyelamatkan Aisyah sebelum negara api menyerang.”
Akbar mengernyitkan kening. “Negara api?”
Pak Rozak menatap putranya dengan wajah serius. “Maksud Ayah, kita harus menyelamatkan Mbak Aisyah dari siluman rubah betina itu.”
Akbar menatap wajah ayahnya dengan sorot mata yang berubah datar. “Ayah masih membencinya hingga saat ini?”
“Ayah tidak membenci. Ayah hanya tidak suka,” jawab Pak Rozak yang suaranya juga berubah menjadi dingin. “Sejak awal ayah sudah memperingatkan kamu bahwa dia bukan perempuan yang baik. Kamu saja yang buta. Pokoknya kalau kamu tidak mau mengantar ayah akan pergi sendiri.”
Akbar terdiam. Dia memang pernah bersalah karena tidak mendengar nasehat ayahnya. Sementara Pak Rozak kembali menyantap makan malamnya dengan tenang, seolah baru saja memenangkan perdebatan besar.
Akhirnya Akbar menyerah. Pria itu tahu betul bagaimana watak ayahnya. Jika dia bilang pergi maka pasti pergi. “Baiklah. Besok aku antar.”
Wajah Pak Rozak seketika berbinar. “Nah, begitu dong. Dari tadi kenapa? Kan ayah jadi nggak harus buang-buang tenaga buat ngomong ngalor ngidul?”
Akbar hanya menggeleng membayangkan betapa rempongnya ayahnya saat nanti bertemu dengan Aisyah.