Shen Ruozi, mahasiswi kedokteran modern yang super judes dan matre, terlempar ke zaman kuno dan terpaksa tinggal di gua. Ogah hidup miskin, ia berniat menjadi juragan obat kaya raya memanfaatkan ilmu medis abad ke-21 miliknya.
Takdirnya berubah kocak saat ia menyelamatkan Long Tianxu, Jenderal Besar berwajah kaku seperti papan tripleks yang sekarat karena racun kronis. Bukannya tunduk pada wibawa sang Dewa Perang, Ruozi malah menjadikannya asisten magang tanpa gaji, buruh numbuk jamu, hingga investor paksaan untuk mendanai apotek barunya di ibu kota!
Menghadapi musuh politik kekaisaran dengan modal lencana emas Jenderal, tabib matre yang tidak pernah mau rugi ini siap mengguncang dunia medis kuno!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26: Inspeksi mendadak dan makan malam berujung gobyos
Malam pun jatuh di ibu kota, menyelimuti pasar utama dengan kegelapan yang sunyi. Di dalam Apotek Ruozi Jaya Medika, tirai bambu telah ditutup rapat dan lilin-lilin minyak mulai dinyalakan. Ruozi baru saja selesai mengelap konter kayu jati untuk terakhir kalinya ketika embusan angin yang sangat tipis namun bertekanan tinggi berembus dari arah pintu belakang.
Empat pengawal berzirah hitam yang tadinya sedang selonjoran sambil memijat lengan mereka yang pegal, seketika langsung melompat berdiri tegak. Mereka memberi hormat dengan meletakkan kepalan tangan di dada. Sesosok pria bertubuh tegap dengan jubah hitam bersulam benang perak melangkah masuk dari kegelapan halaman belakang. Long Tianxu datang melakukan inspeksi mendadak tanpa pengawalan protokoler istana.
Mata elang sang Jenderal Besar langsung menyapu seisi ruangan lantai satu. Alisnya yang tebal bertaut heran. Rak-rak kayu yang tadinya kosong melompong kini telah dipenuhi oleh ratusan botol keramik kecil yang tersusun sangat rapi berdasarkan warna labelnya. Namun, pandangannya perlahan beralih ke sudut ruangan, menatap empat lumpang batu raksasa yang menyisakan bubuk herbal hijau di pinggirannya.
"Jenderal..." pemimpin pengawal berkata dengan suara yang sedikit bergetar, "Hamba berempat... telah berhasil menuntaskan misi penumbukan daun dewa dan akar ginseng dengan selamat."
Tianxu terdiam sesaat. Sudut bibirnya berkedut melihat empat pasukan khususnya yang biasa memimpin barisan garis depan di medan perang, kini memiliki telapak tangan yang memerah dan beraroma jamu menyengat. Ia melirik Ruozi yang sedang bersandar di konter dengan senyuman watados wajah tanpa dosa andalannya. "Kau benar-benar tahu cara memanfaatkan aset militer kekaisaran, Shen Ruozi," ucap Tianxu dengan suara baritonnya yang rendah.
"Hehe, manajemen sumber daya manusia yang efisien namanya, Mas Jenderal!" sahut Ruozi riang tanpa rasa bersalah sedikit pun. Ia berjalan mendekat ke arah Tianxu, lalu menepuk kantong emas hadiah semalam yang kini ia ikat di pinggangnya. "Stok obat untuk pra-pembukaan tiga hari lagi sudah aman terkendali. Papan pengumuman juga sudah terpasang. Tadi sore mata-mata Perdana Menteri Li langsung kalang kabut begitu melihat cap nagamu terpampang nyata di depan toko."
Tianxu mengangguk pelan, berjalan mendekati salah satu rak dan mengambil sebuah botol keramik kecil bertuliskan Pil Detoksifikasi Jiwa. "Li adalah rubah tua yang sangat berhati-hati. Tulisanmu di luar yang mencatut namaku pasti membuatnya menduga aku sedang merencanakan sesuatu bersamamu. Dia tidak akan tinggal diam dalam tiga hari ini."
"Bagus dong! Semakin dia penasaran, semakin gratis promosi apotek ini di kalangan pejabat," balas Ruozi optimis. Namun, tepat ketika ia ingin menjelaskan strategi pemasaran lanjutannya, sebuah suara gemuruh yang cukup nyaring mendadak terdengar dari arah tengah tubuhnya.
Kruuukkk...
Suasana ruko yang semula serius mendadak hening seketika. Ruozi langsung membekap perutnya dengan wajah yang merona merah karena malu. Efek bekerja rodi seharian penuh dari subuh membuatnya lupa bahwa ia belum memasukkan sebutir nasi pun ke dalam lambungnya.
Tianxu menatap perut Ruozi, lalu menatap wajah gadis itu dengan pandangan datar yang sulit diartikan. "Sepertinya tabib agung yang bisa menghancurkan sumbatan meridianku ini sedang berada di ambang kematian karena kelaparan."
"Aduh, namanya juga manusia modern, bisa lapar tahu!" ketus Ruozi sambil memalingkan wajahnya yang mendadak panas. Untuk menutupi rasa malunya, ia langsung berbalik badan ke arah tangga dapur. "Karena Mas Jenderal sudah jauh-jauh datang meronda, sekalian saja temani aku makan malam di atas. Anggap saja sebagai bentuk terima kasih karena pengawalmu sudah mau jadi kuli tumbuk dadakan hari ini!"
Tianxu tidak menolak. Langkah kaki tegapnya mengikuti Ruozi menaiki anak tangga menuju lantai dua yang berfungsi sebagai ruang tinggal sekaligus dapur darurat. Di sana, Ruozi mulai sibuk mengeluarkan persediaan bahan makanan yang ia beli di pasar dua hari lalu: mi gandum kering, beberapa ikat sayuran hijau, irisan daging sapi tipis, dan satu toples kecil bumbu pasta cabai fermentasi yang ia racik sendiri menyerupai bumbu hotpot modern.
Hanya butuh waktu lima belas menit bagi Ruozi untuk meramu makanan di atas kompor arang kecil. Tak lama kemudian, dua mangkuk besar mi kuah merah membara yang mengepulkan uap panas dan aroma rempah pedas yang menyengat hidung sudah tersaji di atas meja kayu.
Tianxu menatap mangkuk di depannya dengan dahi berkerut. Sebagai seorang jenderal, makanannya selalu diatur ketat oleh tabib militer biasanya berupa sup bening hambar dan daging rebus tanpa bumbu untuk menjaga kestabilan energi murninya. Kuah merah pekat yang tampak seperti genangan darah mendidih ini terlihat sangat asing dan berbahaya baginya. "Ini... makanan macam apa?" tanya Tianxu ragu.
"Ini namanya mi gobyos tingkat dewa, Mas Jenderal! Makanan paling ampuh untuk menghilangkan stres setelah seharian diperas tenaganya," ujar Ruozi yang sudah mulai menyendok kuahnya dengan lahap hingga mendesah puas. "Cobalah sedikit, jangan penakut begitu. Katanya Dewa Perang, masa sama cabai saja ciut?"
Merasa harga dirinya ditantang oleh seorang gadis sekurus triplek, Tianxu perlahan mengambil sumpit bambunya. Ia menjepit untaian mi gandum dan meniupnya sedikit sebelum memasukkannya ke dalam mulut.
Detik pertama, matanya melebar. Sensasi rasa gurih yang kaya langsung meledak di lidahnya, diikuti oleh rasa pedas menyengat yang membakar tenggorokan. Rasa pedas itu begitu kuat hingga memicu aliran tenaga dalam di dalam tubuhnya mendadak bereaksi, menciptakan hawa hangat yang menjalar dari perut hingga ke ujung-ujung jarinya.
Dalam beberapa suapan berikutnya, pelipis sang Dewa Perang yang biasanya selalu tampak dingin dan berwibawa mulai dihiasi oleh butiran keringat halus. Wajah tampannya yang terbiasa kaku kini tampak sedikit memerah menahan sensasi terbakar yang aneh namun entah bagaimana terasa sangat adiktif.
Ruozi yang memperhatikan perubahan ekspresi Tianxu langsung terkikik geli sambil menyodorkan secangkir teh melati hangat. "Bagaimana? Enak, kan? Di duniaku dulu, makanan pedas seperti ini bisa membuat orang mengantre berjam-jam. Anggap saja ini terapi kejut kedua untuk melancarkan sirkulasi darahmu yang sempat tersumbat!"
Tianxu meminum tehnya dalam satu tegukan besar, mencoba meredakan sensasi "gobyos" di lidahnya. Ia meletakkan cangkir kosong itu ke meja dengan ketukan pelan, lalu menatap Ruozi dengan pandangan yang jauh lebih hangat daripada biasanya. "Makanan yang aneh, sama seperti pemiliknya. Tapi... tubuhku memang terasa jauh lebih ringan setelah memakannya." Pria itu menopang dagunya dengan satu tangan, membiarkan keheningan malam di lantai dua itu terasa sedikit lebih santai di antara mereka berdua, melupakan sejenak beban politik kekaisaran yang menanti mereka di luar sana.
Ruozi hanya tersenyum bangga mendengar pujian terselubung itu. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kayu sambil mengelus perutnya yang kini sudah kenyang dan bahagia. "Tentu saja! Makanan pedas itu mengandung endorfin, hormon yang bikin suasana hati jadi senang. Makanya, kalau nanti apotek kita sudah sukses besar, aku mau bikin satu ruangan khusus di ruko ini cuma untuk makan-makan santai seperti sekarang," ujarnya dengan mata berbinar-binar membayangkan masa depan yang gemilang.
Tianxu terdiam sesaat, menikmati sisa rasa hangat yang masih tertinggal di dadanya akibat mi racikan Ruozi. Selama bertahun-tahun hidup di tengah intrik istana dan medan pertempuran yang dingin, ia selalu dituntut untuk waspada setiap detik. Namun malam ini, di sebuah dapur kecil apotek yang belum resmi dibuka, berhadapan dengan seorang gadis eksentrik yang tidak memiliki setitik pun tenaga dalam, sang Dewa Perang justru merasakan kedamaian yang sudah lama hilang dari hidupnya.
"Jika itu maumu, lakukan saja. Kediaman Jenderal Long akan memastikan tidak ada satu pun tikus istana yang bisa mengganggu ketenangan tempat ini," ucap Tianxu dengan nada bariton yang terdengar sangat protektif, membuat Ruozi sempat tertegun sejenak sebelum akhirnya berdeham canggung untuk menutupi detak jantungnya yang mendadak kembali tidak beres.
Setelah menyelesaikan makan malam alternatif yang sukses membuat sang pangeran es berkeringat, Tianxu bangkit berdiri dan merapikan jubah hitamnya yang kembali terlihat anggun. Sebelum melangkah turun menuju pintu belakang untuk kembali ke kediamannya, ia sempat berhenti di ambang pintu tangga dan melirik Ruozi lewat pundaknya. "Istirahatlah yang cukup, Shen Ruozi. Tiga hari lagi adalah pembukaan resmimu, dan aku tahu kau pasti sudah menyiapkan pertunjukan yang besar untuk seluruh ibu kota."
Ruozi melambaikan tangannya dengan santai sebagai salam perpisahan. "Tenang saja, Mas Jenderal! Serahkan semuanya pada ahlinya. Pastikan saja besok sore kurirmu datang membawa pasokan daun dewa tambahan dari kebun militer, oke?" serunya penuh semangat yang dibalas dengan anggukan pelan dari Tianxu sebelum sosok pria tinggi itu menghilang ditelan bayangan koridor bawah ruko.
Malam itu, di bawah temaram cahaya lilin lantai dua, Ruozi akhirnya merebahkan diri di atas tempat tidur jerami barunya dengan perasaan puas yang membuncah.
Dengan ratusan botol obat yang sudah berbaris rapi di lantai bawah, perlindungan mutlak dari kekuatan militer kekaisaran, dan perut yang kenyang oleh mi kuah pedas, sang gadis modern kini siap memejamkan mata untuk menyongsong hari-hari persiapan terakhir menuju grand opening yang dipastikan akan mengguncang tatanan sosial ibu kota kuno tersebut.