Novia Maharani itu paket lengkap masalah: ratu bolos, langganan BK, dan hobi bikin rusuh di sekolah. Tapi hidupnya berbalik 180 derajat saat dijodohkan paksa dengan Reyhan Aldebaran, Ketua OSIS paling dingin, perfeksionis, dan kaku se-antara jagat.
Tinggal seatap dengan musuh bebuyutan itu neraka. Reyhan benci kekacauan, sedangkan Novia adalah kekacauan itu sendiri. Namun, di balik sikap pemberontak Novia, ada luka masa lalu yang ia sembunyikan dengan tawa. Dan di balik wajah datar Reyhan, ada rahasia yang membuatnya enggan menyentuh cinta.
Saat tembok pertahanan mereka mulai runtuh oleh perhatian kecil yang bikin baper, rahasia keluarga dan ego remaja mengancam segalanya. Bisakah si pembuat onar dan si Ketua OSIS belajar dewasa bersama, atau pernikahan ini justru menghancurkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman Pertama 05.
Bisikan-bisikan itu merayap seperti semut hitam di atas gula. Tajam dan bikin gatal.
Novia bisa merasakan puluhan pasang mata murid SMA Pelita Bangsa menancap di punggungnya.
Di ujung jalan, SUV hitam milik Reyhan masih diam. Namun, cowok yang semenit lalu berteriak seperti kesetanan itu kini sudah kembali menarik diri ke dalam mobil.
Kaca hitamnya tertutup rapat, menyembunyikan ekspresi sang Ketua OSIS yang baru saja meruntuhkan topeng esnya sendiri.
"Lo gapapa?"
Sebuah tangan terulur di depan wajah Novia. Itu si pengendara motor sport yang tadi nyaris menabraknya. Cowok itu membuka kaca helm, wajahnya panik.
Novia menggeleng cepat. Dia menepis tangan itu, lalu bangkit berdiri dengan lutut yang gemetar parah.
Alih-alih meratapi syoknya, Novia justru menatap lurus ke arah mobil Reyhan yang kini perlahan melaju pergi, meninggalkannya dalam kubangan gosip pagi.
'Sialan' umpat Novia dalam hati. 'Lo yang bikin aturan untuk jadi asing, tapi lo juga yang bikin semua orang curiga.'
Begitu kakinya melangkah melewati gerbang sekolah, atmosfer terasa berbeda.
Beberapa siswi yang sedang berkumpul di koridor mendadak diam saat Novia lewat, lalu berbisik-bisik di belakang punggungnya.
"Bukannya tadi yang teriak Kak Reyhan, ya? Kok dia sekarang dekat ya dengan Novia? Biasanya mereka selalu ribut"
"Iya, mana panik banget lagi suaranya. Nggak pernah-pernah Kak Reyhan kayak gitu."
Novia mengeratkan pegangan pada tali tasnya. Dadanya sesak. Pernikahan paksa ini baru berjalan kurang dari dua puluh empat jam, dan dia sudah merasa seperti penjahat yang siap dieksekusi di tengah lapangan sekolah.
Kelas XII A siang itu terasa seperti neraka yang pengap, padahal AC menyala penuh.
Novia duduk di bangku paling belakang, menatap papan tulis dengan pandangan kosong.
Pikirannya melayang pada kejadian tadi pagi, lalu berputar pada memori semalam saat mereka menandatangani surat perjanjian di atas meja makan apartemen.
Poin 2: Jangan pernah terlibat satu sama lain di area sekolah.
Novia tersenyum sinis. Sudut hatinya yang terluka memicu sebuah ide gila.
Jika Reyhan begitu memuja reputasi dan ketenangannya, maka Novia tahu persis bagaimana cara menghancurkannya.
Dia lelah menjadi pihak yang selalu ditekan dan dibuang ke pinggir jalan.
**
Saat bel istirahat berbunyi, Novia tidak pergi ke kantin. Dia melangkah menuju ruang OSIS.
Di dalam ruangan ber-AC itu, Reyhan sedang duduk di balik meja besar, dikelilingi oleh tiga anggota pengurus lainnya.
Cowok itu terlihat begitu berkuasa, dengan lengan kemeja yang digulung rapi hingga siku dan pulpen yang berputar di sela jarinya. Benar-benar definisi cowok idaman satu sekolah.
Tok! Tok! Tok!
Novia mengetuk pintu kaca dengan keras, sengaja memutus obrolan serius di dalam ruangan.
Reyhan mendongak. Matanya yang tajam sempat melebar satu milidetik sebelum kembali datar dan sedingin es.
"Ada keperluan apa?" tanya Reyhan, suaranya berat dan formal, seolah-olah mereka tidak pernah berbagi kasur yang sama semalam.
Novia melangkah masuk tanpa izin, melipat tangan di dada dengan pose menantang. "Gue mau protes soal jadwal piket kebersihan lingkungan sekolah. Kenapa kelas XII A dapet bagian area belakang? Itu nggak adil."
Dua anggota OSIS lain saling pandang, bingung dengan kelancangan Novia yang menurutnya berani kali ini.
"Itu sudah sesuai pembagian acak, Novia," jawab Reyhan tenang, namun ada nada peringatan yang tersirat di sana. Matanya seolah berkata: Pergi sekarang sebelum gue hilang kesabaran.
"Tapi gue nggak terima," balas Novia, mencondongkan badannya ke meja Reyhan, memangkas jarak di antara mereka. "Sebagai Ketua OSIS, lo harusnya becus bikin pembagian. Atau jangan-jangan, lo sengaja targetkan kelas lo sendiri karena ada sentimen pribadi dengan gue?"
"Novia, jaga bicara lo," tegur salah satu anggota OSIS bernama internal, Rian. "Ini keputusan rapat."
"Gue nggak ngomong sama lo," potong Novia sengit, matanya tetap mengunci manik mata Reyhan. Novia ingin melihat robot ini rusak. Dia ingin melihat Reyhan marah, berteriak, atau melakukan apa saja yang membuktikan bahwa cowok ini punya darah mengalir di tubuhnya, bukan minyak pelumas.
Reyhan meletakkan pulpennya ke meja dengan ketukan pelan, namun sanggup membungkam ruangan.
Dia berdiri, membuat tubuh tegapnya menjulang di depan Novia. Atmosfer di antara mereka mendadak berubah menjadi medan magnet yang siap meledak.
"Kalian berdua, keluar sebentar. Tinggalkan berkasnya di meja," perintah Reyhan pada dua anggotanya.
Begitu pintu ruang OSIS tertutup rapat dari luar, ketegangan yang tertahan sejak pagi akhirnya pecah.
"Lo gila?" desis Reyhan, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Apa yang lo lakuin tadi pagi di jalan, dan apa yang lo lakuin sekarang di sini? Lo mau ngerusak semuanya?"
Novia tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar getir di telinga sendiri. "Gue yang ngerusak? Bukannya lo yang teriak kayak orang kesurupan tadi pagi? Lo yang bikin satu sekolah curiga, Reyhan!"
Reyhan mengepalkan tangannya di sisi celana. Rahangnya mengeras. "Gue refleks karena lo hampir mati ketabrak motor! Lo jalan kayak orang bego nggak lihat kanan-kiri!"
"Oh, jadi Ketua OSIS kita yang terhormat ini bisa cemas juga?" Novia melangkah satu kali lagi, dadanya hampir bersentuhan dengan dada Reyhan. Air mata yang sejak pagi dia tahan kini mendadak menggenang di pelupuk mata, membuat suaranya bergetar parah. "Gue kayak orang bego karena lo baru aja ngebuang gue di pinggir jalan seolah gue ini sampah yang memalukan! Lo tahu nggak gimana rasanya? Lo nikahin gue karena terpaksa, gue tahu! Tapi jangan perlakukan gue kayak kriminal!"
Satu tetes air mata lolos ke pipi Novia.
Reyhan terpaku. Amarah di matanya mendadak surut, digantikan oleh kilasan rasa bersalah yang amat dalam.
Cowok itu membuka mulutnya, ingin mengatakan sesuatu, namun egonya yang setinggi langit menahan kata-kata itu di tenggorokan. Dia tidak terbiasa meminta maaf. Dia tidak tahu cara menenangkan perempuan yang sedang terluka karena perbuatannya.
Keheningan yang menyakitkan kembali merayap di antara mereka. Jarak yang begitu dekat justru mempertegas jurang pemisah yang terbentang luas.
Reyhan menarik napas panjang, mencoba mengembalikan topeng datarnya yang sempat retak. "Ini sekolah, Novia. Dan di sini, gue adalah Ketua OSIS yang harus menegakkan aturan. Lo udah bikin keributan di ruang OSIS dan menantang otoritas gue di depan anggota lain."
Novia menghapus air matanya dengan kasar, menatap Reyhan dengan pandangan benci sekaligus kecewa. "Terus? Lo mau hukum gue?"
Reyhan menatap mata sembap Novia dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada perang batin yang berkecamuk di dalam sana, namun kedisiplinan besi yang ditanamkan orang tuanya sejak kecil akhirnya menang.
"Pulang sekolah nanti. Bersihkan gudang lama di dekat laboratorium biologi. Sendirian," kata Reyhan dengan suara yang kembali dingin dan tak tersentuh. "Sampai bersih total. Dan jangan harap ada yang bakal bantu lo."
Novia tersenyum getir. Dada sebelah kirinya rasanya seperti ditusuk belati tumpul. Sakit, tapi tidak berdarah. "Oke. Bagus. Makasih hukumannya, Ketua OSIS yang terhormat."
Tanpa menunggu jawaban lagi, Novia berbalik dan melangkah keluar, membanting pintu kaca ruang OSIS hingga bergetar hebat.
Waktu bergerak lambat seperti cairan kental. Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak dua jam yang lalu. Koridor SMA Pelita Bangsa kini sudah sepi, menyisakan kesunyian yang mencekam.
Di dalam gudang lama yang pengap dan dipenuhi debu tebal, Novia masih berkutat dengan sapu dan kain lap.
Tangannya sudah kotor, dan seragamnya kusut. Setiap sudut ruangan ini dipenuhi tumpukan meja dan kursi rusak yang menghasilkan bayangan-bayangan menyeramkan di dinding.
Novia sengaja memperlambat gerakannya. Dia enggan pulang ke apartemen itu. Dia enggan melihat wajah cowok yang kini berstatus sebagai suaminya namun memperlakukannya lebih buruk daripada orang asing.
Jedarrr!!!
Suara guntur yang menggelegar tiba-tiba memecah keheningan.
Novia tersentak hingga menjatuhkan sapunya. Dia menoleh ke arah jendela kecil di bagian atas gudang.
Dalam hitungan detik, langit yang semula temaram langsung menumpahkan air dengan sangat deras. Hujan lebat mengguyur bumi, disertai angin kencang yang membuat ventilasi kayu gudang berderit keras.
Klik.
Tiba-tiba, lampu neon di langit-langit gudang berkedip dua kali, lalu padam total. Ruangan itu seketika jatuh ke dalam kegelapan yang pekat.
Novia membeku di tempat. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Dia meraba-raba kantong roknya, berniat mengambil ponsel.
Namun, nihil. Ponselnya tertinggal di atas meja kelas yang terkunci.
"Reyhan..." bisik Novia lirih, sebuah nama yang secara tidak sadar keluar dari bibirnya saat rasa takut mulai melumpuhkan logikanya.
Di luar, hujan semakin menggila, meredam suara langkah kaki seseorang yang sedang berlari kencang di koridor menuju ke arah gudang.
......................
...****************...
Tbc,