NovelToon NovelToon
OUTPLAYED BY YOU : He Wins Every Game. She Wins Every Argument

OUTPLAYED BY YOU : He Wins Every Game. She Wins Every Argument

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mars Is Blue

OUTPLAYED BY YOU

He wins every game. She wins every argument.

"Aku tidak akan menikah denganmu kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku!"

Raka Adhitama memijat pelipisnya. Di hadapannya, Nadira Prameswari berdiri dengan piyama biru dan ekspresi siap membatalkan pernikahan mereka, padahal pria itu bahkan belum selesai menjelaskan.

"Aku belum mengatakan apa-apa."

"Tepat! Kamu selalu begitu. Diam, menghindar, lalu memasang wajah tampan seolah semuanya akan selesai sendiri."

"Aku tidak pernah menggunakan wajahku untuk menyelesaikan masalah."

Nadira mendengus. "Sayang sekali. Padahal itu satu-satunya kemampuanmu yang kuakui di luar permainan."

Raka hampir tersenyum. Hampir.

Di arena esports, ia dikenal sebagai Vex, pemain profesional yang mampu mengalahkan lawan terkuat tanpa kehilangan ketenangan. Namun, menghadapi calon istrinya sendiri ternyata membutuhkan keterampilan yang tidak tersedia dalam buku strategi mana pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8

Raka Adhitama punya satu masalah besar malam itu.

Ia sudah menghabiskan dua puluh menit memilih pakaian, padahal biasanya ia hanya membutuhkan waktu tiga menit untuk mengambil kaus yang tidak kusut.

Masalah yang lebih besar? Ia tidak tahu kenapa hal itu mengganggunya.

“Lo mau makan malam atau menghadiri penghargaan pemain terbaik?” tanya Bima dari sofa apartemennya.

Raka melirik rekannya melalui cermin.

“Kenapa lo masih di sini?”

“Karena gue belum selesai menikmati tontonan langka ini.”

“Tontonan apa?”

“Kapten ASTRAL kebingungan memilih baju gara-gara seorang wartawan.”

Raka mengambil jaket dari gantungan.

Bima menyeringai lebar. “Oh, jadi benar buat Nadira?”

“Gue bisa membatalkan latihan tambahan lo untuk sebulan penuh.”

“Ancaman yang sangat romantis.”

Raka melempar bantal ke arahnya, lalu meninggalkan apartemen sebelum Bima menemukan bahan ejekan baru.

Ia sudah memutuskan satu hal: makan malam ini tidak akan menjadi kencan.

Mereka hanya akan makan, berbicara, lalu pulang.

Sederhana.

Setidaknya, itulah rencananya.

Restoran yang dipilih Raka berada di sebuah sudut tenang Jakarta Selatan. Tempatnya cukup nyaman untuk berbincang tanpa harus bersaing dengan suara musik, tetapi tidak terlalu mewah hingga membuat orang merasa sedang menghadiri pertemuan bisnis.

Raka tiba lebih awal dan memilih meja di dekat jendela.

Ia baru saja memesan air mineral ketika Nadira muncul di pintu masuk.

Perempuan itu mengenakan blus biru tua dan celana panjang hitam. Rambutnya dibiarkan tergerai, sementara tas kecil tersampir di bahunya.

Penampilannya sederhana.

Sayangnya, otak Raka memutuskan untuk memperhatikan setiap detailnya.

“Kamu datang lebih awal,” ujar Nadira setelah duduk di hadapannya.

“Aku tahu kamu akan menggunakan keterlambatan sebagai bahan ejekan kalau aku datang terlambat.”

“Bagus. Berarti kamu mulai belajar dari kesalahan.”

“Aku mulai belajar mengantisipasi gangguan.”

Nadira tersenyum tipis.

“Kalau begitu, kita berdua punya tujuan yang sama.”

Pelayan datang membawa menu. Mereka memesan makanan, lalu terjebak dalam keheningan singkat yang terasa sedikit canggung.

Nadira akhirnya meletakkan menu.

“Baiklah. Kenapa kamu mengajakku makan?”

Raka mengangkat alis. “Kamu bahkan belum mencoba makanannya.”

“Aku bisa makan sambil menginterogasimu.”

“Aku mulai memahami kenapa narasumbermu membutuhkan persiapan mental.”

“Jadi?”

Raka menyandarkan punggung.

“Karena aku ingin berbicara denganmu tanpa mikrofon dan kamera.”

Jawaban itu membuat Nadira terdiam sejenak.

Ia menduga Raka ingin membahas artikel terbarunya, meminta klarifikasi, atau menyampaikan protes yang dibungkus kalimat sopan. Namun, pria itu justru terlihat serius.

“Baik,” katanya akhirnya. “Tentang apa?”

“Banyak hal. Tapi pertama-tama, aku ingin tahu sesuatu.”

“Apa?”

“Kenapa kamu memilih menjadi jurnalis esports?”

Nadira berkedip.

Pertanyaan itu bukan sesuatu yang biasa ia dengar dari narasumber. Biasanya, orang ingin tahu pendapatnya tentang pertandingan, prediksinya tentang turnamen, atau apakah ia akan menulis artikel yang menguntungkan mereka.

Jarang ada yang bertanya tentang dirinya.

“Aku suka cerita di balik pertandingan,” jawabnya. “Orang sering hanya melihat siapa yang menang dan siapa yang kalah. Padahal, ada banyak hal yang terjadi sebelum pemain naik ke panggung.”

“Seperti apa?”

“Tekanan, konflik, keputusan buruk, kerja keras yang nggak selalu menghasilkan kemenangan. Aku suka mencari tahu kenapa sesuatu terjadi, bukan sekadar melaporkan hasil akhirnya.”

Raka mengangguk pelan.

“Masuk akal.”

“Sekarang giliranku.”

“Tentu saja.”

“Kenapa kamu memilih esports? Dengan kemampuan dan koneksi yang kamu punya, kamu mungkin bisa melakukan banyak hal lain.”

Pertanyaan itu membuat ekspresi Raka berubah sedikit.

Hanya sesaat, tetapi cukup untuk ditangkap Nadira.

“Karena di sini, hasil kerjaku bisa dilihat langsung,” jawabnya. “Kalau timku kalah, aku nggak bisa menyalahkan nama keluarga, uang, atau siapa pun yang mengenalku. Kami kalah karena permainan kami memang lebih buruk hari itu.”

Nadira memperhatikan wajahnya.

“Berarti kamu tidak suka ketika orang menilai seseorang berdasarkan latar belakangnya?”

“Aku lebih suka kalau mereka melihat apa yang benar-benar dilakukan orang itu.”

Jawaban tersebut terdengar lebih pribadi daripada yang mungkin dimaksudkan Raka.

Namun, sebelum Nadira sempat bertanya lebih jauh, makanan mereka tiba.

Ia memutuskan untuk tidak mendesaknya.

Malam ini, mereka tidak sedang berada di ruang wawancara. Setidaknya, ia ingin memperlakukannya seperti itu.

Percakapan mereka berangsur-angsur menjadi lebih santai setelah makanan tersaji.

Nadira bercerita tentang pengalamannya mewawancarai pemain yang menjawab setiap pertanyaan dengan kalimat promosi tim. Raka membalas dengan kisah tentang sponsor yang pernah meminta anggota ASTRAL melakukan pengambilan gambar berulang kali hanya karena salah satu pemain terlihat berkedip.

“Berapa kali?” tanya Nadira, nyaris tertawa.

“Sebelas.”

“Tidak mungkin.”

“Sebelas kali untuk satu foto.”

Nadira tertawa sampai harus meletakkan sendoknya.

Raka menatapnya, dan tanpa sadar ikut tersenyum.

“Apa?” tanya Nadira ketika menyadari tatapannya.

“Tidak ada.”

“Kamu menatapku seperti aku baru saja melakukan sesuatu yang aneh.”

“Kamu memang aneh.”

Nadira langsung berhenti tertawa.

“Tarik kembali ucapanmu.”

“Tidak.”

“Raka.”

“Nadira.”

Mereka saling menatap selama beberapa detik sebelum akhirnya tertawa bersamaan.

Untuk pertama kalinya, tidak ada yang berusaha memenangkan perdebatan itu.

Dan justru itulah yang membuat suasananya terasa berbeda.

Ketika makanan mereka hampir habis, Nadira mengeluarkan ponselnya untuk memeriksa pesan dari redaksi.

Raka melirik layar yang menyala.

“Masih bekerja?”

“Redakturku mengirim revisi.”

“Sekarang?”

“Berita nggak menunggu orang selesai makan malam.”

Raka mengangguk, tetapi kemudian memperhatikan judul dokumen yang sempat terlihat di layar.

“DI BALIK SIKAP DOMINAN VEX, ADA KAPTEN YANG BELAJAR MENDENGARKAN?”

Nadira buru-buru mematikan layar.

“Kamu tidak seharusnya membaca itu.”

“Judulnya cukup menarik.”

“Belum tentu diterbitkan.”

“Apakah aku akan terlihat buruk?”

Nadira menatapnya, mencoba memastikan apakah ia sedang bercanda.

Namun, Raka tampak sungguh-sungguh.

“Tidak,” jawabnya. “Aku justru menulis bahwa kamu bisa mengakui kesalahan dan memberi ruang kepada anggota timmu.”

Raka mengangguk kecil.

“Bagus.”

“Kamu terdengar lega.”

“Aku hanya tidak ingin seluruh internet membahas kekuranganku selama seminggu.”

“Sayangnya, itu mungkin tetap terjadi.”

“Terima kasih atas dukungannya.”

“Sama-sama.”

Mereka kembali tersenyum.

Lalu ponsel Raka bergetar di atas meja.

Sebuah nama muncul di layar.

Ayah.

Senyum di wajahnya menghilang.

Ia membalik ponselnya tanpa menjawab.

Nadira melihat perubahan itu, tetapi tidak bertanya. Ia hanya melanjutkan makan seolah tidak terjadi apa-apa.

Beberapa saat kemudian, Raka mengangkat pandangan.

“Kamu tidak penasaran?”

“Penasaran tentang apa?”

“Kenapa aku tidak menjawab telepon itu.”

Nadira meletakkan sendoknya.

“Aku penasaran. Tapi kamu akan memberitahuku kalau memang ingin bercerita, kan?”

Raka tidak langsung menjawab.

Sikap perempuan itu seharusnya membuatnya lega. Namun, ada bagian dalam dirinya yang justru merasa ingin membuka mulut, mengatakan sesuatu yang selama ini ia simpan rapat-rapat.

Ia ingin menjelaskan bahwa nama Adhitama bukan sekadar nama keluarga baginya. Bahwa ada tanggung jawab yang terus mengejarnya, bahkan ketika ia sedang berusaha menjalani hidupnya sendiri.

Namun, ia belum siap.

“Ya,” jawabnya akhirnya. “Kalau waktunya tepat.”

Nadira mengangguk.

“Kalau begitu, kita tunggu waktunya.”

Tidak ada tuntutan. Tidak ada pertanyaan lanjutan.

Hanya sebuah jawaban sederhana yang membuat Raka merasa sedikit lebih mudah bernapas.

Mereka meninggalkan restoran setelah makan malam selesai.

Udara malam Jakarta terasa hangat, sementara kendaraan masih berlalu-lalang di jalan. Raka mengantar Nadira sampai ke mobil yang dipesannya.

“Terima kasih untuk makan malamnya,” kata Nadira.

“Sama-sama.”

“Dan untuk sekali ini, kamu tidak terlalu menyebalkan.”

Raka menatapnya datar.

“Pujianmu selalu terdengar seperti penghinaan.”

“Setidaknya kamu mendapat pujian.”

Nadira membuka pintu mobil, tetapi sebelum masuk, ia kembali menoleh.

“Raka?”

“Ya?”

“Aku senang kita bicara malam ini.”

Kalimat itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat Raka kehilangan jawaban cerdas yang biasanya selalu tersedia.

Ia hanya mengangguk.

“Aku juga.”

Nadira tersenyum sebelum masuk ke mobil.

Raka berdiri di tepi trotoar sampai kendaraan itu menjauh dari pandangannya.

Ponselnya kembali bergetar.

Kali ini, sebuah pesan dari ayahnya masuk.

Besok pukul sembilan. Jangan terlambat.

Raka menatap layar itu lama-lama.

Makan malam tadi memberinya beberapa jam untuk melupakan kehidupan yang terus menuntut sesuatu darinya.

Namun, besok pagi, ia harus kembali menghadapinya.

Dan suatu saat nanti, jika Nadira benar-benar menjadi seseorang yang penting baginya, ia harus memilih: terus menyembunyikan bagian hidupnya yang paling rumit, atau mempercayai perempuan yang selama ini selalu berani mempertanyakan segala sesuatu.

Raka memasukkan ponselnya ke saku.

Untuk sekarang, ia belum punya jawabannya.

Tetapi satu hal mulai terasa jelas.

Ia ingin ada makan malam berikutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!