NovelToon NovelToon
Simpanan Kesayangan Sang CEO

Simpanan Kesayangan Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Dendam konglomerat / Sekretaris
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Dua tahun Anala Paramitha menjadi sekretaris pribadi—sekaligus "simpanan"—Damar Hadiwijaya, pewaris paling berbahaya di Jakarta. Semua orang mengira Nala mencintainya. Padahal setiap ciuman di mata pria itu adalah bagian dari dendam.

Dibius dan dilelang di Batam, Nala menikam penculiknya, lalu pulang membawa barang curian Damar dan menyebut harganya: sepuluh miliar. Damar membayar, menghancurkan musuhnya demi dia, lalu menjadikannya miliknya—tanpa nama, tanpa status.

Makin gila Damar mencintainya, makin dekat Nala pada bukti untuk menjatuhkannya. Tapi bagaimana kalau pria yang ingin dia hancurkan bukan pembunuh yang dia cari… dan ternyata yang selama ini jadi pengganti bukan dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11: Si Cengeng

Mobil itu baru berhenti di carport ketika Damar sudah membuka pintunya.

Rumah gelap. Pagar terkunci. Tidak ada koper di teras, tidak ada taksi di depan, tidak ada suara teriakan dari dalam. Dia berdiri di carport dengan kemeja yang masih lembap dan ponsel di tangan, dan merasa sedikit bodoh.

Ponselnya bergetar.

Si Cengeng: Mas, aku mampir beli boba dulu ya, antriannya panjang banget wkwk. Satu jam lagi nyampe. JANGAN TIDUR.

Damar menghela napas panjang. Di belakangnya, Anala turun dari mobil dan menatapnya dengan alis sedikit terangkat.

"Masih di jalan," kata Damar. "Beli boba."

"Jam dua belas malam?"

"Dia memang begitu."

Dia tidak menjelaskan siapa "dia". Anala tidak bertanya. Tapi Damar bisa melihat perempuan itu menyimpan pertanyaan itu, seperti dia menyimpan semua hal lain, rapi dan tanpa suara.

***

Bi Iyah sudah tidur. Dapur rumah utama gelap kecuali lampu di atas kompor.

Damar membuka lemari, mengambil dua bungkus Indomie goreng, dan menyalakan kompor.

Anala berdiri di ambang pintu dapur. "Bapak masak?"

"Kamu belum makan dari sore."

"Bapak juga."

"Makanya dua."

Dia mengisi panci dengan air. Dia tidak menoleh, tapi dia tahu Anala masih berdiri di sana, memperhatikannya, seperti orang yang sedang menonton hewan langka melakukan sesuatu yang tidak biasa.

Ponselnya bergetar lagi di meja dapur. Kali ini Reza.

"Mar, soal desainer tadi." Suara Reza terdengar terlalu santai, seperti orang yang sudah berlatih kalimatnya. "Aku baru inget, kamu juga kenal orangnya, kok."

"Siapa?"

"Laras."

Damar berhenti menuang bumbu. "Laras kuliah kriminologi."

"Iya, tapi gambarnya bagus banget, Mar. Dari SMA dia bikin sketsa terus, kamu tahu sendiri. Dia juga udah tahu soal Bukit Selatan, aku pernah cerita..."

"Kapan kamu cerita?"

Hening sebentar. "Pokoknya dia mau bantu. Udah, ya, aku kirim contoh gambarnya."

Notifikasi masuk. Sebuah tangkapan layar. Damar membukanya dengan satu tangan sambil mengaduk mi dengan tangan yang lain.

Gambarnya memang bagus. Sketsa pensil sebuah kedai kopi kecil di lereng bukit, dengan jalan setapak dan pohon-pohon. Tapi bukan itu yang membuat Damar berhenti mengaduk.

Di bagian atas tangkapan layar itu, Reza lupa memotong percakapan sebelumnya.

Lar, udah makan belum? Jangan lupa cek gula darah ya. Nanti aku jemput di bandara.

Gak usah Kak Reza, aku naik taksi aja, mau ngagetin Mas!

Ya udah, hati-hati. Kabarin kalau udah sampai.

Di samping pesan terakhir itu, sebuah emoji hati.

Damar menatap emoji itu lama sekali.

Reza dua puluh sembilan tahun. Laras dua puluh. Sembilan tahun. Waktu Reza sudah bekerja di kantornya, Laras masih pakai seragam SMP.

"Mar? Gimana? Bagus, kan?"

"Bagus," kata Damar. "Boleh."

"Serius?" Suara Reza langsung naik.

"Dengan satu syarat. Dividenmu tiga tahun ke depan, masuk ke rekeningku."

"Apa? Mar, itu namanya pemerasan!"

"Itu namanya harga."

"Kamu tega sama sahabatmu sendiri? Aku yang nemenin kamu makan nasi..." Reza berhenti, lalu tertawa. "Oke, oke. Dua tahun."

"Tiga."

"Dua setengah, final."

Damar mematikan telepon tanpa menjawab. Di ambang pintu, Anala menutup mulutnya dengan punggung tangan. Bahunya bergetar.

Dia sedang tertawa. Bukan senyum yang dia pasang di kantor, bukan senyum yang dia pakai untuk Bianca. Tertawa yang sungguhan, yang dia coba sembunyikan.

Damar memalingkan wajah ke panci sebelum perempuan itu sadar dia melihatnya.

"Kalau desainernya adik Bapak," kata Anala setelah tawanya reda, "suruh dia kirim draf awal dulu. Kalau bagus, kita pakai. Kalau tidak, Pak Reza tetap bayar dividen."

"Kamu di pihak siapa?"

"Pihak proyek, Pak."

***

Mereka makan di meja dapur yang kecil, berhadap-hadapan, dengan dua piring Indomie goreng dan telur mata sapi yang pinggirnya terlalu gosong.

Anala tidak protes soal telurnya. Dia makan dengan pelan, dan Damar memperhatikan bahwa perempuan itu memakan bagian yang gosong lebih dulu.

"Waktu kecil, Bapak sering masak sendiri?" tanyanya.

"Tidak."

"Tapi ini lumayan."

"Ini satu-satunya yang bisa kumasak."

Anala tersenyum ke piringnya.

Mereka diam sebentar. Di luar, jangkrik berbunyi di halaman belakang. Lampu paviliun di seberang taman masih mati.

"Kamu," kata Damar. "Orang tuamu meninggal kapan?"

Anala tidak langsung menjawab. Garpunya berhenti di udara, lalu turun pelan.

"Waktu aku sudah kuliah," katanya. "Setelah itu aku sendiri. Beasiswa UI menanggung kuliahku sampai selesai. Sisanya aku cari sendiri. Lomba studi kasus bisnis, tingkat nasional. Hadiahnya lumayan."

"Menang?"

"Empat kali."

"Empat kali juara?"

"Medali emas, empat kali." Dia menatap Damar, sedikit menantang. "Bapak kira saya jadi sekretaris Bapak karena wajah saya?"

Damar tidak menjawab itu. Dia menatap perempuan di depannya, perempuan yang dua tahun duduk di depan pintunya dan tidak pernah sekali pun bercerita soal dirinya sendiri, dan dia merasa malam ini ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuat lidahnya lebih longgar dari biasanya.

"Aku pernah makan nasi basi," katanya.

Anala mengangkat wajah.

"Waktu aku seumuran Laras sekarang... bukan. Lebih muda." Damar menatap piringnya. "Ada beberapa tahun aku tidak tinggal di rumah keluarga. Aku tinggal di Bekasi. Kadang ada makanan, kadang tidak. Kalau tidak ada, nasi kemarin pun dimakan. Di sana aku ketemu Reza."

Dia tidak menjelaskan kenapa dia tinggal di Bekasi. Dia tidak menjelaskan bagaimana dia bisa sampai di sana. Dia belum pernah menjelaskan itu kepada siapa pun selain Reza, dan dia tidak berniat mulai sekarang.

Tapi dia sudah mengatakan lebih banyak daripada yang pernah dia katakan kepada siapa pun dalam sepuluh tahun terakhir.

Anala diam. Dia tidak bertanya. Dia tidak mengatakan "kasihan" atau "pasti berat". Dia hanya memotong telur mata sapinya, mengambil bagian kuningnya yang masih utuh, dan meletakkannya di piring Damar.

"Bagian terbaiknya," katanya. "Buat yang masak."

Damar menatap kuning telur itu. Lalu dia menatap perempuan itu.

***

Dia tidak ingat siapa yang lebih dulu berdiri.

Dia hanya ingat piring-piring sudah ditinggalkan di meja, dan mereka sudah di ruang tengah, dan Anala sedang tertawa pelan karena dia hampir tersandung karpet. Lalu tawa itu berhenti, karena dia menariknya ke sofa dan menciumnya.

Anala membalasnya. Tangannya di bahu Damar, di lehernya, di rambutnya yang masih sedikit lembap oleh hujan. Ciuman itu rasa Indomie dan teh manis dan sesuatu yang lain, sesuatu yang membuat Damar lupa bahwa dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak melakukan ini di dalam rumah utama.

Punggung Anala menyentuh bantal sofa. Damar menopang tubuhnya dengan satu siku, cincin di jari tengah perempuan itu dingin di tengkuknya.

Bunyi kunci diputar.

Lalu pintu depan terbuka lebar, dan lampu ruang tamu menyala terang benderang.

"SURPRISE!"

Damar membeku.

Seorang perempuan muda berdiri di ambang pintu dengan koper merah muda di satu tangan dan gelas boba ukuran jumbo di tangan yang lain. Rambutnya dikuncir tinggi. Hoodie kebesaran bergambar kanguru dengan tulisan Melbourne di dadanya. Di pinggangnya, tas kecil tempat dia selalu menyimpan alat cek gula darah.

Laras.

Adiknya menatap mereka berdua di atas sofa. Mulutnya terbuka. Sedotan boba jatuh dari bibirnya.

Damar duduk dengan cepat. Anala juga, merapikan bajunya dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja tertangkap basah.

Laras tidak bergerak dari ambang pintu. Matanya berpindah dari wajah kakaknya yang memerah, ke wajah perempuan di sebelahnya, lalu turun ke tangan kanan perempuan itu.

Ke cincin dengan tetesan merah muda di jari tengahnya. Cincin yang tiga jam lalu ada di semua akun gosip Instagram.

"Mas..." Suara Laras pelan, nyaris berbisik. "Ini... kakak sekretaris yang tinggal di paviliun itu?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!