NovelToon NovelToon
Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Cinta Seiring Waktu / Mafia / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: bubu1234

yuna adalah perempuan cantik mandiri, dan cantik dipaksa nikah dengan Marco hanya karena kesepakatan bisnis keluarga nya
Marco adalah laki-laki yang dinggin,cuek,dan dikenal sebagai raja mafia yang namanya disegani bahkan ditakuti diseluruh dunia baginya hidup hanyalah tentang kekuatan, kekuasaan,dan kekayaan semua orang memanggil nya "Qing"
Yuna memiliki 2 sahabat terbaik nya bernama Yona dan jisoo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bubu1234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

benci jadi cinta ( bab 18) di tempat semuanya bermula

Rumah tua itu berdiri di tengah hutan kecil, bangunan yang hangus sebagian namun masih berdiri tegak seperti hantu dari masa lalu. Dindingnya hitam terbakar, jendelanya pecah, dan angin berdesir di antara sisa-sisa ruangan seakan membawa bisikan masa lalu yang menyakitkan. Yuna berhenti di depan pintu yang sudah tidak utuh, jantungnya berpacu kencang, tapi kakinya tidak mundur selangkah pun. Dia harus menyelesaikan ini. Demi Marco. Demi mereka berdua.

Saat dia melangkah masuk, Julian berdiri di tengah ruangan utama, menatap sisa-sisa perapian yang dulu menghangatkan rumah itu. Saat dia berbalik, senyumnya tidak lagi terlihat sopan atau menyembunyikan apa pun — matanya tajam, penuh kebencian yang lama tertahan, dan di tangannya dia memegang sebuah tongkat kayu yang ujungnya tajam.

"Kau datang," ucapnya dingin, tersenyum miring. "Aku tahu kau tidak akan membiarkannya sendirian. Kau terlalu tulus, Yuna. Dan itulah kelemahan terbesarmu."

"Aku tahu semuanya, Julian. Kaulah yang membunuh ibunya Marco malam itu. Kau yang menanamkan kecurigaan pada ayahku agar Marco membenci dia. Kau yang memisahkan kami. Semua ini rencanamu sejak awal," ucap Yuna tegas, berusaha tidak terlihat gemetar meski tubuhnya merinding ketakutan.

Julian tertawa keras, suaranya menggema di ruangan kosong itu.

"Pintar sekali! Ya, akulah yang melakukannya. Aku tumbuh bersama Marco. Kami seperti saudara. Tapi dia selalu mendapatkan segalanya — kekayaan, kekuasaan, rasa hormat semua orang. Dan aku? Aku selalu di belakangnya, di bawah bayang-bayang nya. Ibunya Marco... dia tahu rahasia tentangku. Dia tahu aku mencuri uang dari bisnis keluarganya. Dia akan memberi tahu semuanya. Jadi aku membungkamnya selamanya. Aku membakar rumah ini bersamanya di dalamnya."

Dia melangkah maju satu langkah, matanya menyala penuh amarah.

"Dan sekarang? Semuanya akan menjadi milikku. Kekuasaannya, kekayaannya, tempatnya sebagai Qing. Dia lemah tanpamu. Dia hancur. Dan aku akan menghabisinya hari ini, di tempat yang sama di mana semuanya bermula. Lalu tidak ada yang bisa menghentikan ku."

"Kau salah," suara berat terdengar dari pintu masuk. Marco berdiri di sana, napasnya terengah karena berlari, matanya menatap Julian dengan amarah yang membara namun tenang. "Kau salah mengira aku lemah. Selama aku tahu ada orang yang kucintai menungguku, aku lebih kuat dari yang kau bayangkan."

Wajah Julian berubah menjadi marah. Dia melirik Yuna tajam, lalu tersenyum licik.

"Bagus sekali! Kalian berdua datang. Jadi aku bisa menyelesaikan ini sekaligus."

Dia menarik Yuna ke belakang dengan cepat, menekan ujung benda tajam itu ke lehernya. Yuna tersentak, napasnya tertahan.

"Maju selangkah lagi dan dia mati!" teriak Julian liar. "Aku tidak peduli apa pun harganya. Aku sudah kehilangan kemanusiaanku sejak malam ini terbakar. Jadi jangan ragukan aku untuk menghabisinya sekarang juga!"

Marco berhenti di tempat, tangannya terangkat perlahan ke depan, telapak tangannya terbuka menunjukkan bahwa dia tidak berniat menyerang. Matanya membelalak penuh ketakutan saat melihat Yuna dalam bahaya.

"Baik... aku tidak bergerak. Tolong... lepaskan dia. Dia tidak ada hubungannya dengan masa lalu kita. Kau ingin aku, kan? Ambil aku. Lepaskan dia."

"Kau pikir aku bodoh? Jika aku melepaskannya, kau akan menghabisi ku. Tidak ada tawar-menawar. Salah satu dari kalian tidak akan keluar dari sini hidup-hidup. Dan pilihannya ada padamu, Marco — nyawamu atau nyawa wanitamu?"

Air mata mengalir di pipi Yuna, tapi dia tidak menangis. Dia menatap Marco, dan suaranya terdengar jelas meski sedikit tertekan.

"Marco... dengarkan aku. Cintaku padamu tidak akan pernah berubah. Apa pun yang terjadi, kau adalah kebahagiaanku. Jangan biarkan kemarahannya menguasai mu. Tetaplah baik... bahkan saat aku tidak di sisimu lagi."

"Diam!" desis Julian, menekan lebih kuat hingga Yuna meringis kesakitan.

"Tidak! Jangan bicara begitu!" Marco suaranya bergetar, matanya basah namun tekadnya baja. Dia melihat sekeliling dengan sudut matanya — ada sisa tiang kayu yang terbakar di dekat kaki Julian. Dia melihat celah kecil yang terbuka saat Julian memiringkan tubuhnya.

Marco tiba-tiba berbicara dengan suara yang anehnya tenang. "Kau tahu, Julian... ibuku pernah berkata sesuatu padaku sebelum dia pergi. Dia berkata kebenaran mungkin terlambat, tapi keadilan selalu datang tepat waktu."

"Sampah!" Julian meledak, dan itulah celah yang ditunggu.

Marco bergerak secepat kilat, melompat ke samping bukan ke depan, menendang tumpukan kayu yang terbakar di samping kaki Julian. Asap dan api kecil beterbangan. Julian terkejut, refleksnya teralih sejenak — dan itulah saat Yuna dengan berani menekan sikunya ke perut Julian sekuat tenaga. Julian meringis, cengkeramannya melemah, dan Yuna berlari menjauh ke arah Marco.

Tapi Julian tidak menyerah begitu saja. Dengan mata yang merah dan penuh kegilaan, dia mengayunkan benda tajam itu ke arah mereka berdua. Marco mendorong Yuna menjauh dengan satu gerakan cepat — dan benda tajam itu menghantam sisi bahunya tepat di tempat yang dulu pernah terluka. Darah segar langsung merembes keluar di antara jari-jarinya saat dia menekan lukanya.

"Marco!" teriak Yuna panik, menahan tubuh suaminya agar tidak jatuh.

Marco tidak peduli pada lukanya. Dia berdiri tegak di depan Yuna, menatap Julian yang kini terhuyung-huyung di tengah ruangan yang mulai terasa panas — sisa-sisa kayu kering di dekatnya terbakar karena api kecil yang menyebar.

"Kau sudah kalah, Julian. Rumah ini akan membakar semangatmu sama seperti kau membakarnya dulu. Keluar selagi kau bisa!" Marco berteriak di tengah suara retakan kayu yang mulai runtuh.

Julian menatap mereka berdua, lalu ke sekelilingnya yang mulai dipenuhi asap tebal. Dia tertawa histeris, suara yang penuh keputusasaan dan kegilaan.

"Kau pikir kau menang? Aku akan selalu ada di antara kalian! Ingatlah malam ini! Ingatlah bahwa kebahagiaan kalian dibangun di atas rasa sakit yang tidak akan pernah hilang!"

Bagian atap di dekat tempat Julian berdiri runtuh dengan suara gemuruh yang dahsyat. Marco menarik Yuna keluar secepat mungkin, tidak menoleh ke belakang. Saat mereka sampai di halaman dan berbalik, rumah tua itu terbakar hebat, api menjulang tinggi ke langit malam, dan di dalam sana... Julian telah menghilang bersama masa lalunya yang kelam.

Marco jatuh berlutut di tanah, napasnya terengah, darah dari lukanya menetes ke tanah yang lembap. Yuna langsung berlutut di sampingnya, menekan sapu tangan ke luka di bahunya, menangis tanpa suara karena lega dan ketakutan yang baru saja berlalu.

Marco memegang tangannya yang gemetar di wajahnya, menatap matanya dalam-dalam meski pandangannya sedikit kabur karena kelelahan.

"Kau aman... kau aman..." bisiknya berulang-ulang, seakan meyakinkan dirinya sendiri.

"Aku aman. Karena kau ada di sisiku," jawab Yuna di antara isak tangisnya, mencium keningnya dengan penuh rasa syukur yang tak terlukiskan. "Semua sudah berakhir, Marco. Masa lalu sudah terbakar habis. Kita bebas. Akhirnya kita bebas."

Mereka berpeluk erat di bawah langit malam yang gelap namun kini terasa jauh lebih tenang. Badai besar telah berlalu. Luka-luka mereka belum sembuh sepenuhnya, tapi mereka menghadapinya bersama — dari sekarang, selamanya.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!