Dijual oleh keluarganya demi melunasi utang, Aurora terperangkap dalam sangkar emas milik Gabriel Moretti—bos mafia paling dingin dan ditakuti di dunia bawah tanah. Meski hanya berstatus sebagai selir rahasia tanpa cincin di jarinya, Aurora menjadi satu-satunya wanita yang sanggup melunakkan kegelapan sang iblis. Di antara benturan bahayanya, ancaman musuh, dan obsesi Gabriel yang makin mengekang, Aurora harus memilih: menyerahkan hatinya secara utuh pada sang penguasa, atau bertaruh nyawa demi merebut kebebasannya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja sastrala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Hari-hari di negara sebelah berlalu dalam buaian gairah dan dominasi kelam. Gabriel Moretti seolah sengaja mengulur waktu penugasannya di wilayah utara. Di mansion mewahnya yang megah namun terisolasi, ia menikmati peran barunya sebagai penakluk mutlak atas anak gadis dari pengkhianat yang telah dibantainya.
Gadis muda itu sebuah mainan baru yang tak berdaya menjadi pelampiasan sempurna bagi hasrat liar dan insting berburunya yang tak pernah padam. Gabriel menghabiskan malam demi malam di atas peraduan asing itu, melumat tubuh rampasannya tanpa belas kasihan, memuaskan nafsunya tanpa perlu memikirkan kerapuhan emosional atau trauma masa lalu. Bagi sang Don, gadis itu tak lebih dari sekadar piala kemenangan yang menyenangkan untuk dimainkan sebelum nantinya dibuang atau diserahkan kepada para pengawalnya saat ia merasa bosan.
Namun, di balik kepuasan fisiknya bersama selir baru tersebut, Gabriel tetap mempertahankan Ilusi besarnya. Setiap kali panggilannya tersambung ke puri asal tempat Aurora berada, suara berbaritonnya secara instingtif berubah menjadi hangat, sarat akan kerinduan dan perhatian yang berpura-pura manis.
Ia merasa telah berhasil memainkan kedua dunia tersebut dengan sangat sempurna.
---
Akan tetapi, seribu kilometer di selatan, di dalam kamar megah Puri Moretti yang dingin, kenyataan yang sebenarnya bergulir ke arah yang sama sekali tak pernah dibayangkan oleh Gabriel.
Aurora tidak pernah leleh oleh kelembutan fajar itu. Ia tidak pernah benar-benar membuka hatinya, apalagi menyerahkan jiwanya pada sang iblis pembantai.
Di sore hari yang tenang, Aurora duduk di dekat meja hiasnya, memoles sedikit riasan tipis di raut wajahnya yang anggun. Matanya menatap pemandangan taman luar melalui jendela kaca, memancarkan kedinginan dan ketajaman murni yang tersembunyi rapat di balik senyum tipisnya.
Segala kepasrahan, tangisan, desahan terbuai di malam fajar itu, serta kepura-puraan cemasnya di telepon setiap malam... hanyalah sebuah sandiwara berdarah dingin yang ia racik dengan sangat rapi.
Aurora tahu betul siapa Gabriel Moretti. Pria itu adalah pemangsa gila kontrol. Memunculkan perlawanan frontal atau melarikan diri secara mentah-mentah hanya akan berakhir dengan pendarahan hebat di ruang ICU seperti beberapa minggu lalu. Untuk meloloskan diri dari iblis, ia harus menjadi pemain sandiwara yang lebih licik daripada sang iblis itu sendiri.
“Pria seperti Gabriel tidak akan memeliharaku selamanya,”bisik Aurora dalam hatinya seraya menatap pantulan dirinya di cermin. “Saat ini dia terobsesi karena aku menentangnya. Begitu dia merasa telah memenangkanku, begitu dia bosan dengan tubuhku, dia pasti akan membuangku atau membunuhku seperti sampah. Aku tidak boleh menjadi wanita bodoh yang menanti eksekusinya sendiri.”
Kebebasan yang diberikan Gabriel pintu sangkar emas yang dibuka lebar-lebar beserta kartu kredit tanpa batas adalah kesempatan emas yang tak boleh disia-siakan. Gabriel mengira ia sedang memberi hadiah kebebasan untuk menyenangkan selirnya; ia tidak tahu bahwa ia justru sedang membiayai rencana pelarian calon buronannya sendiri.
---
Langkah awal rencana pelarian Aurora dimulai dari gerak-gerik yang sangat halus dan terencana.
Setiap hari, Aurora memanfaatkan kebebasannya untuk mengelilingi pusat kota. Namun ia tidak hanya berbelanja gaun-gaun mahal atau meminum teh di kafe seperti yang disangka oleh para pengawal yang mengawasinya dari kejauhan.
Di balik aktivitas belanja mewahnya, Aurora secara bertahap menukarkan nominal uang yang sangat besar dari kartu kredit tanpa batas milik Gabriel menjadi aset-aset yang tak teracak. Ia mendatangi toko perhiasan ternama, membeli berlian-berlian murni berukuran kecil, batangan emas batangan yang mudah disembunyikan, serta mata uang asing secara tunai dalam jumlah yang terkontrol agar tidak memicu kecurigaan sistem perbankan utama Moretti.
Uang tunai dan barang berharga itu tidak pernah dibawanya kembali ke puri.
Melalui komunikasi tertutup yang berhasil ia bangun secara gerilya di internet umum menggunakan komputer di perpustakaan kota tanpa meninggalkan jejak digital Aurora telah menyewa sebuah loker deposit rahasia atas nama identitas palsu di salah satu bank swasta independen yang tak terjangkau oleh radar mafia Moretti.
Setiap kali ia kembali ke puri dengan membawa puluhan tas belanjaan mewah berisi pakaian dan sepatu mahal sebagai 'bukti' bahwa ia menikmati uang Gabriel, sebagian besar dana rahasia untuk kehidupannya di masa depan telah aman tersimpan di tempat lain.
Ia menyusun modal kebebasannya rupiah demi rupiah, dolar demi dolar, menggunakan kekayaan pria yang telah meremukkannya.
---
Malam harinya, tepat pukul sembilan malam, ponsel khusus di atas meja rias bergetar nyaring. Nama 'Gabriel' tertera di layarnya.
Aurora menarik napas dalam-dalam. Dalam hitungan detik, raut wajahnya yang dingin dan penuh kalkulasi berubah total. Mata sayunya memancarkan kehangatan palsu, dan bibirnya mengukir senyuman manis yang begitu meyakinkan.
Ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Gabriel?" panggil Aurora dengan suara yang lembut, manis, dan sedikit gemetar oleh kerinduan yang sengaja dibuat-buat.
Di ujung telepon sana, Gabriel yang baru saja selesai meluapkan nafsunya bersama selir barunya di mansion utara menyesap cerutunya seraya tersenyum puas. Ia sangat menikmati perubahan Aurora yang kini terdengar begitu tergantung padanya.
"Ya, Cara mia" jawab Gabriel rendah dan hangat. "Bagaimana keadaanmu malam ini? Apakah kau merindukanku?"
Aurora terkekeh halus sebuah tawa kecil yang terdengar sangat menggemaskan dan lugu di telinga Gabriel.
"Tentu saja aku merindukanmu," bisik Aurora pelan, memainkan jarinya di atas meja rias. "Kamar ini terlalu luas dan dingin tanpamu... Aku selalu melihat ke arah pintu, berharap kau tiba-tiba pulang dan memelukku seperti malam itu."
Kalimat itu bagai ramuan pembuat mabuk yang paling ampuh bagi ego Gabriel. Sang *Don* menghembuskan asap cerutunya dengan napas yang memburu, merasa menang mutlak karena telah berhasil menjinakkan wanita paling keras kepala yang pernah ditemuinya.
"Sabar, Cara mia," jawab Gabriel manis, benar-benar tidak menyadari bahwa di balik suara lembut wanita itu, Aurora sedang menatap kalender dinding dengan pandangan dingin dan penuh perhitungan. "Urusanku di sini sebentar lagi selesai. Begitu aku pulang, aku akan memberimu segalanya."
"Aku akan menunggumu, Gabriel... Jaga dirimu di sana," balas Aurora penuh kelembutan sebelum menutup panggilan tersebut.
Begitu sambungan terputus, raut wajah manis dan nada suara lembut Aurora lenyap seketika.
Ia meletakkan ponsel itu di atas meja tanpa sedikit pun getaran emosi. Ia mengusap bibirnya dengan sapu tangan, merasa jijik pada setiap kata manis yang baru saja diucapkannya demi membuai ego sang bos mafia.
"Teruslah bermain dengan mainan barumu di sana, Gabriel," gumam Aurora lirih, matanya menyipit tajam menatap bayangannya sendiri di kaca jendela yang gelap. "Teruslah merasa bahwa kau telah memenangiku dan menguasaiku sepenuhnya."
Ia berdiri dari duduknya, melangkah menuju balkon kamar dan menatap luasnya kota di bawah sana.
Paspor palsu sedang dalam proses pembuatan oleh jaringan bawah tanah independen yang ia hubungi secara rahasia, jalur pelarian antar-negara sedang dirancang, dan tabungan rahasianya kian menggelembung setiap harinya.
Gabriel Moretti boleh saja berpikir bahwa ia adalah pemain catur terbaik yang sedang menikmati dua mainan di dua negara berbeda. Namun di dalam sangkar emas ini, Aurora sedang menyiapkan kejutan terbesar dalam hidup sang raja mafia: sebuah aksi pelarian sempurna yang akan meruntuhkan seluruh kesombongan sang Don, tepat saat Gabriel merasa telah memiliki segalanya.