NovelToon NovelToon
Hari Terakhir Bersama Keluarga

Hari Terakhir Bersama Keluarga

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Kutukan / Anak Genius
Popularitas:874
Nilai: 5
Nama Author: my queen

Aku mempunyai kemampuan bisa melihat hari kematian semua orang termasuk diriku sendiri. Tapi justru aku di anggap aneh dan pembawa sial bagi keluarga ku sendiri dan juga orang lain. Tapi hanya satu yang peduli padaku yaitu kakekku sebelum dia meninggal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 7

"Apa maksudmu?" tanya pemilik studio foto kepada Bella. Matanya menatap gadis di hadapannya dengan kernyit bingung.

"Foto duka yang seperti itu," tunjuk Bella. Telunjuknya mengarah pada sebuah bingkai foto hitam-putih milik seorang kakek yang tertempel pasrah di dinding semen studio.

Pemilik studio terdiam sesaat. Tatapannya beralih dari dinding, lalu menyapu wajah Bella yang masih tampak sangat muda. "Nona, umurmu sekarang berapa?" tanyanya dengan nada prihatin yang tidak bisa disembunyikan. Ada rasa heran sekaligus ngeri yang mendesak di dadanya melihat seorang gadis muda datang ke studio foto hanya untuk menyiapkan foto kematian dirinya sendiri.

"Umurku baru dua puluh tahun," jawab Bella. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang teramat tenang—ketenangan yang justru terasa janggal bagi siapa pun yang mendengarnya.

Merasakan ada sesuatu yang tidak beres, sang pemilik studio memajukan tubuhnya. "Apakah Nona sedang ada masalah saat ini?" tanyanya hati-hati, mencoba menggali apa yang tersembunyi di balik tatapan kosong gadis itu.

Dengan tegas Bella menggeleng. "Tidak ada," sahutnya pendek.

Ia kemudian menunduk, memandangi jemarinya yang saling bertautan di atas pangkuan. Bella melanjutkan dengan suara yang nyaris menyerupai bisikan lirih, "Hanya saja... waktuku sudah tidak banyak lagi."

Pemilik studio tersebut seketika terpaku. Jantungnya mencelos, serasa dihantam kejut yang luar biasa mendengar kalimat yang meluncur begitu saja dari bibir sang gadis.

Seketika itu juga, air mata sang pemilik studio tak lagi terbendung. Sambil menahan tangis yang mendesak di dada, ia menggenggam tangan Bella. "Ayo, ikut aku," ucapnya lirih namun penuh penekanan, lalu membimbing gadis itu masuk ke dalam ruang riasnya.

"Nona, rambutmu agak berantakan. Apakah aku boleh merapikannya?" tanya pemilik studio setelah mereka sampai di dalam ruangan.

"Boleh," jawab Bella tenang.

Pemilik studio itu kemudian mengambil sebuah sisir. Dengan gerakan pelan dan penuh kehati-hatian, ia mulai menyisir helai demi helai rambut Bella.

Nona, selamat ulang tahun," ucap pemilik studio foto itu lirih. Tangannya bergerak hati-hati, menyisir rambut Bella dengan lembut.

Bella tersentak. Rasa kaget dan haru seketika membuncah di dadanya. Ini adalah kali pertama dalam hidupnya ada seseorang yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya.

        Dia orang pertama yang mengucapkannya padaku ... dan mungkin satu-satunya, batin Bella.

Air matanya luruh tak terbendung. Melihat Bella menangis, pemilik studio itu langsung merengkuh tubuhnya ke dalam pelukan yang erat, mencoba menyalurkan ketenangan. Bella akhirnya tumpah dalam tangis sesengukan di pundak wanita itu.

Setelah beberapa saat hingga tangisnya mereda dan jiwanya lebih tenang, Bella perlahan mengurai pelukan.

"Mbak, sudah," bisik Bella. "Apakah ... apakah kita bisa mulai sesi fotonya? Aku ingin segera pulang ke rumah."

"Bisa, Mbak. Mari kita mulai," jawab pemilik studio dengan senyum maklum.

Mereka pun segera bersiap memulai sesi pemotretan—sebuah foto duka yang terasa kian menyesakkan bagi Bella.

Bella melangkah pelan memasuki area pemotretan. Ruangan itu terasa begitu sunyi, hanya menyisakan deru halus dari lampu kilat studio yang mulai dinyalakan. Sebuah latar belakang berwarna gelap telah terpasang, kontras dengan gaun hitam yang melekat di tubuh Bella.

Pemilik studio mengatur posisi kamera, lalu menatap Bella dari balik lensa. "Mbak Bella, silakan duduk di kursi yang sudah disediakan. Rileks saja, ya."

Bella mengangguk samar. Ia duduk tegak, melipat kedua tangannya di pangkuan. Namun, menatap langsung ke arah lensa kamera terasa begitu berat. Di sana, ia seolah dipaksa menghadap kenyataan pahit yang sedang ia lalui.

"Pandangan lurus ke depan, Mbak. Tarik napas dalam-dalam ... ya, bagus. Pertahankan," instruksi wanita itu dengan nada selembut mungkin, tidak ingin merusak ketenangan yang baru saja Bella bangun.

Cklek!

Kilatan lampu putih menerangi wajah Bella yang pucat selama sepersekian detik. Di depan kamera, Bella mencoba menahan agar bibirnya tidak bergetar. Tidak ada senyuman. Matanya yang sembap justru memancarkan kekosongan yang teramat dalam—sebuah potret kedukaan yang akan mengenang selamanya.

"Sekali lagi ya, Mbak. Sesi terakhir," ucap pemilik studio, matanya sendiri tampak berkaca-kaca melihat betapa rapuhnya gadis di depannya itu.

Bella memejamkan mata sejenak, mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya, lalu kembali menatap lensa untuk jepretan terakhir.

Setelah jepretan terakhir selesai, keheningan kembali merayap di dalam studio. Pemilik studio menurunkan kameranya dengan perlahan, lalu melempar senyum hangat yang menenangkan.

"Sudah selesai, Mbak Bella. Proses cetaknya memakan waktu sekitar lima belas menit. Mbak bisa tunggu di ruang depan sambil minum teh hangat," ucapnya lembut.

Bella hanya mengangguk samar. Kakinya terasa lemas saat melangkah keluar dari area pemotretan. Di ruang tunggu, ia duduk memeluk lututnya, menatap kosong ke lantai marmer yang dingin. Di dalam ruangan kerja, pemilik studio mulai memindahkan berkas digital ke komputer dan menatap layar monitor. Foto Bella muncul di sana. Begitu kontras, begitu sunyi, dan memancarkan duka yang teramat pekat. Dengan helaan napas berat, wanita itu menekan tombol print.

Suara mesin cetak yang berderu halus menjadi satu-satunya bunyi yang memecah kesunyian. Selembar kertas foto berkualitas tinggi perlahan keluar dari mesin, memunculkan bayangan wajah Bella seiring dengan mengeringnya tinta.

Tak lama kemudian, pemilik studio keluar membawa sebuah bingkai kayu hitam berukuran sedang yang sudah terpasang rapi. Bingkai itu dibungkus dengan kain flanel agar tidak tergores.

"Ini fotonya, Mbak Bella," kata wanita itu sambil menyerahkannya dengan kedua tangan, penuh rasa hormat.

Bella mendongak. Tangannya yang gemetar terjulur untuk menerima bingkai tersebut. Ketika ia membuka kain penutupnya dan menatap lembar foto di balik kaca, jantungnya serasa berhenti berdetak.

Di dalam foto itu, dirinya terlihat begitu asing. Wajahnya pucat tanpa riasan berlebih, matanya yang sembap menatap lurus ke depan dengan kekosongan yang memilukan. Namun, yang membuat dadanya sesak bukanlah penampilannya yang menyedihkan, melainkan kenyataan yang mutlak terpampang di sana: foto ini adalah bukti nyata bahwa ia kini benar-benar sendirian. Kehilangan itu kini telah abadi dalam selembar kertas.

Air mata Bella kembali menetes, jatuh tepat di atas permukaan kaca yang menutupi wajahnya di dalam foto. Ia memeluk bingkai foto duka itu erat-erat di dadanya, seolah sedang memeluk seluruh rasa sakit yang tak mampu ia suarakan.

"Terima kasih, Mbak..." bisik Bella dengan suara yang tercekik.

Bella merogoh tasnya, berniat mengambil dompet untuk melunasi biaya pemotretan. Namun, sebelum jemarinya sempat menyentuh benda itu, sebuah tangan lembut menahan pergelangan tangannya.

"Tidak usah dibayar, Mbak. Tidak apa-apa," ucap pemilik studio itu tulus. Ia tersenyum hangat. "Semoga Mbak selalu bahagia, ya. Sekali lagi, selamat ulang tahun."

Wanita itu kemudian berbalik, mengambil sesuatu yang tergeletak di atas mejanya. Sebuah kotak kecil berbungkus kertas kado pastel disodorkannya ke hadapan Bella.

"Dan ini ... buat Mbak. Anggap saja sebagai kado ulang tahun dari saya."

Bella tertegun, lalu menggeleng pelan. "Tidak usah, Mbak. Ini sudah terlalu banyak."

"Tidak apa-apa, Mbak, ambil saja. Anggap ini sebagai kenang-kenangan dari saya," bujuk pemilik studio dengan tatapan memohon yang meneduhkan.

Pertahanan Bella runtuh lagi. Tanpa memedulikan kotak kado di tangan wanita itu, Bella langsung menghambur dan memeluk sang pemilik studio. Tangisnya kembali pecah, meluapkan rasa haru yang teramat besar atas kebaikan asing yang baru saja ia terima.

"Terima kasih banyak, Mbak. Semoga Mbak selalu bahagia dan sehat," bisik Bella di sela tangisnya.

"Amin. Terima kasih banyak, Mbak. Yang tabah, ya," balas pemilik studio itu. Suaranya ikut bergetar, dan ia diam-diam mengusap sudut matanya yang basah sembari mengusap punggung Bella.

Setelah beberapa saat pelukan itu terurai, Bella menghapus sisa air mata di pipinya. "Saya pamit dulu ya, Mbak."

"Hati-hati di jalan. Semoga sampai di tujuan dengan selamat," jawab pemilik studio tersebut dengan senyuman melepas kepergian.

Bella hanya mengangguk samar. Dengan mendekap bingkai foto duka dan kado ulang tahunnya erat-erat, ia melangkah keluar dari studio. Air matanya terus berurai, membasahi jalanan sore itu seiring langkah kakinya yang membawa sejuta rasa sepi sekaligus kehangatan yang tak terduga.

Setelah berada di luar studio foto, Bella menghentikan langkahnya sejenak. Ia menghela napas dalam-dalam, mencoba meredakan debar sesak di dadanya dan menenangkan jiwanya yang sempat berguncang.

Ia mendongak, menatap hamparan langit kelabu yang seolah tanpa batas. Sembari mendekap erat bingkai foto duka di dadanya, sebuah senyuman tipis—yang terasa begitu getir namun penuh keikhlasan—terukir di bibirnya yang pucat.

"Kakek, Nenek, Ayah, Ibu ... Bella akan segera datang menemani kalian di surga sana," bisik Bella teramat lirih, membiarkan suaranya melebur bersama angin sore.

Kata-kata itu bukan lagi sebuah ratapan, melainkan sebuah janji dan kepasrahan yang teramat dalam. Bersama senyuman itu, ada rasa damai yang perlahan menyelinap, seolah bayangan keluarganya sedang melambaikan tangan dari balik awan, siap menyambutnya pulang. Dengan tekad yang kini terasa lebih ringan, Bella menundukkan kepala dan kembali melanjutkan langkahnya menembus rintik gerimis yang kian menderu.

Bella melangkah menjauh dari studio foto, namun kakinya tidak membawa dirinya pulang ke rumah. Tubuhnya yang mulai basah oleh gerimis tipis justru menuntunnya menuju sebuah taman kota yang tak jauh dari sana. Taman itu tampak begitu sepi sore ini, ditinggalkan oleh orang-orang yang bergegas mencari tempat berteduh. Hanya ada keheningan, suara rintik hujan yang berjatuhan di dedaunan, dan aroma tanah basah yang pekat menyambut kedatangannya.

Bella berjalan lesu ke arah sebuah bangku kayu tua di bawah pohon rindang yang cukup lebat untuk melindunginya dari terpaan air hujan. Ia duduk perlahan di sana, lalu meletakkan bingkai foto duka berselimut flanel itu dengan sangat hati-hati di sampingnya.

Alih-alih merenung dalam kekosongan, perhatian Bella teralih pada kotak kecil berbungkus kertas kado pastel yang sejak tadi digenggamnya. Rasa penasaran perlahan menyusup di antara sisa sesak di dadanya. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia mulai membuka selotip pembungkus kado itu dengan perlahan—takut merusak isinya.

Ketika kertas kado itu terkelupas, sebuah kotak kayu kecil bermotif ukiran bunga lavender yang cantik menyembul dari dalam. Bella membuka tutupnya dan menemukan sebuah kotak musik putar (music box) klasik berukuran mini dengan engkol kecil di sampingnya. Di sebelah kotak musik itu, terselip selembar kartu ucapan kecil dengan tulisan tangan yang rapi:

“Untuk Mbak Bella. Selamat ulang tahun. Saat dunia terasa terlalu bising dan sepi secara bersamaan, semoga melodi kecil ini bisa memeluk hatimu. Kamu tidak benar-benar sendirian. Bertahanlah sedikit lagi, ya.”

Membaca untaian kalimat itu, pertahanan hatinya kembali goyah. Jemarinya yang dingin mulai memutar engkol kecil di samping kotak musik tersebut. Begitu dilepaskan, seuntai melodi klasik yang jernih dan lembut langsung mengalun, memecah kesunyian taman dan bersahutan dengan suara rintik hujan.

Melodi itu terdengar begitu damai, seolah sedang berbisik langsung ke lubuk hati Bella yang paling dalam. Di bawah rimbunnya pohon taman yang sunyi, Bella mendekap kotak musik yang terus berdenting itu di depan dadanya. Sambil mengusap permukaan kaca bingkai foto dukunya, ia memejamkan mata dan membiarkan air matanya mengalir dalam diam—kali ini ditemani oleh sebuah simfoni kecil yang memberinya kehangatan tak terduga tepat di hari ulang tahunnya.

Bella tidak langsung pulang ke rumah. Kakinya justru melangkah membawa dirinya menuju sebuah taman kota yang terletak tak jauh dari sana. Taman itu tampak sepi sore ini, ditinggalkan oleh pengunjungnya yang memilih berteduh dari rintik gerimis. Hanya ada keheningan dan aroma basah dari rerumputan yang menyambut kedatangannya.

Ia berjalan menuju sebuah bangku kayu yang terletak di bawah pohon rindang. Daun-daun yang lebat di atasnya cukup teruji menahan rintik hujan agar tidak langsung membasahi tubuhnya.

Bella duduk perlahan. Ia memeluk lututnya di atas bangku, lalu meletakkan bingkai foto duka dan kotak musik kayu itu di sampingnya. Pandangannya lurus menatap hamparan rumput hijau yang basah, sementara angin sore berembus pelan, menerpa wajahnya yang pucat.

Di tempat yang sunyi ini, Bella kembali memutar engkol kotak musik pemberian pemilik studio tadi. Melodi klasik yang lembut itu kembali berdenting, memecah kesunyian taman dan bersahutan dengan suara rintik hujan yang jatuh di dedaunan.

Sambil mendengarkan alunan musik yang menenangkan itu, Bella perlahan mengusap permukaan kaca bingkai foto dukanya. Menatap wajahnya sendiri yang terpampang di sana, ia kembali teringat akan ucapannya di luar studio tadi tentang menyusul keluarganya ke surga. Berada di taman yang damai ini memberikan waktu bagi jiwanya yang rapuh untuk merenung di tengah kesendiriannya yang mutlak.

Tapi  tiba-tiba

1
M. Al-Farezi
Lanjutkan👍

eh ia nanti mampir di Novel aku yaaa~
my queen 👸: siap kk
total 1 replies
Sayekti 0519
sangat mengenaskan.mili terus air mata Ama ingus ku thooor
my queen 👸: terima kasih sudah mampir kk
pantau cerita ku yang lain ya 🙏❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!