Zahira Aulia Utami menikah dengan Galang Putra Hadian. Mereke sudah menikah selama delapan tahun dan di karuniai seorang putri cantik bernama Cantika Alya Putri Hadian, berusia enam tahun. Namun putri mereka memiliki hal yang berbeda dengan putri orang lain pada umumnya. Dia memiliki sesuatu yang spesial.
Rumah tangga mereka sebeanrnya baik-baik saja. Hanya memang satu tahun terakhir Aulia dan Galang sering bertengkar. Dan inti dari masalahnya adalah Cantika, Galang merasa malu memiliki anak yang dia pikir ga-gu. Dan itu semua karena Aulia. Dia menyalahkan Aulia sehingga membuatnya malu saat membawa mereka dalam pertemuan keluarga atau saat acara di kantor.
Semenjak itu, hubungan mereka terasa hambar, Galang seing pulang telat ke rumah.
pertengkaran terus berlanjut, apalagi keluarga Galang juga ikut campur hingga akhirnya Aulia dan Cantika melihat Galang bersama dengan seorang wanita bergandengan mesra. Hati Aulia rasanya semakin membeku. Tak ada lagi alasan untuk bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aulia 17
"Kalau begitu, mari kita buktikan dengan kepala dingin. Supaya adil dan tidak ada fitnah di antara kita," ucap Aulia, suaranya mengalun bening di udara sore.
"Mas Galang, mumpung ada Ayah, Ibu, dan Mbak Rika di sini. Tolong buka aplikasi mobile bankingmu. Tunjukkan mutasi rekeningmu selama dua bulan terakhir kepada mereka semua."
Deghh.
Jantung Galang rasanya mencelos sampai ke lambung. Pegangannya pada ponsel pintar itu mendadak terasa licin karena telapak tangannya langsung dibanjiri keringat dingin.
"Aulia, apa-apaan sih? Ini privasi rumah tangga kita, kenapa harus ditunjukkan ke orang lain?" dalih Galang gagap, suaranya naik satu oktav karena panik.
"Orang lain?" Aulia menaikkan sebelah alisnya, memancing.
"Bukannya mereka ini keluarga kandungmu yang barusan berteriak menuduhku menguras habis uangmu? Ibu bilang uang gajimu habis ratusan juta karena aku dan Cantika, kan? Ayo, Mas. Buka mutasi rekeningnya. Kita lihat bersama, berapa ratus juta yang keluar untuk biaya dokter dan terapi Cantika, dan berapa yang keluar untuk keperluan lain."
Bu Ratna yang merasa di atas angin langsung menyambar umpan Aulia.
"Nah, benar itu! Galang, buka sekarang! Biar perempuan ini tidak bisa mengelak lagi! Tunjukkan ke Ibu biar Ibu tahu berapa ratus juta yang sudah dia rampok dari kamu!"
"Iya, Lang, buka aja! Biar sekalian ketahuan kalau istrimu ini memang boros!" kompor Rika, ikut mendesak.
Galang semakin terdesak. Wajahnya yang semula ceria kini berubah pucat pasi bagai mayat. Di dalam rekening itu, tercatat dengan sangat jelas aliran dana puluhan juta untuk membelikan tas branded, transferan berkala ke rekening wanita bernama Belinda, hingga transaksi pelunasan gaun satin premium sebesar lima belas juta rupiah yang baru saja dia lakukan beberapa jam lalu di pusat kota. Jika mutasi itu dibuka, tamatlah riwayatnya.
"Nggak perlu, Bu... Galang bilang nggak perlu ya nggak perlu! Uang Galang ya urusan Galang!" bentak Galang kasar, mencoba menggunakan otoritasnya sebagai suami untuk membungkam Aulia. Ia bahkan berbalik arah, berniat masuk ke dalam mobilnya untuk melarikan diri.
"Kenapa? Kamu takut, Galang?!"
Suara berat dan penuh wibawa dari Pak Hendra menghentikan langkah Galang seketika. Sang ayah, yang sejak tadi mengamati dengan mata menyipit, melangkah maju. Kedutan di rahang pria tua itu menandakan amarahnya sudah di ubun-ubun melihat gelagat putranya yang janggal.
"Kalau kamu jujur dan berada di pihak yang benar, kenapa harus gemetaran begitu? Buka ponselmu, tunjukkan mutasi rekeningmu kepada Ayah!" perintah Pak Hendra mutlak, tanpa bantahan.
"Ayah... ini..."
"Buka, Galang! Atau Ayah sendiri yang akan menyeretmu keluar dari rumah ini!" bentak Pak Hendra lagi, kali ini suaranya menggelegar membuat Bu Ratna dan Rika tersentak kaget.
Tangan Galang gemetar hebat. Di saat ia merasa benar-benar terpojok dan hampir tidak bisa bernapas di bawah tatapan mengintimidasi dari Pak Hendra, tiba-tiba ponsel di genggamannya bergetar kencang. Layar ponselnya menyala, menampilkan sebuah panggilan masuk. Belinda
Melihat nama yang tertera di sana, Galang seperti melihat seutas tali penyelamat di tengah jurang. Tanpa berpikir panjang, dia langsung mengangkat telepon itu dengan sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh semua orang.
"Halo? Iya, Pak! Apa? Masalah berkas tender yang tadi belum selesai?" ucap Galang setengah berteriak, berpura-pura panik dengan akting yang luar biasa total.
"Waduh, maaf, Pak. Tadi saya izin sebentar mau menjemput anak dan istri saya di rumah. Baik, baik, Pak! Saya segera kembali ke kantor sekarang juga untuk menyelesaikan acaranya. Ini darurat!"
Galang langsung mematikan ponselnya sepihak sebelum ada yang sempat interupsi. Dia memandang ke arah Pak Hendra dengan wajah yang dibuat seolah-olah penuh tanggung jawab dan tertekan oleh urusan pekerjaan.
"Ayah, Ibu, maaf sekali! Galang harus pergi sekarang. Urusan kantor benar-benar kacau kalau Galang tidak ada. Masalah mutasi rekening ini kita bicarakan nanti lagi, Galang tidak bohong! Dan uang bulanan untuk kalian akan aku transfer sesegera mungkin. Aku sedang banyak pekerjaan mohon mengerti!"
Tanpa menunggu jawaban dari siapa pun, Galang langsung berbalik, membuka pintu mobilnya dengan tergesa-gesa, dan menghidupkan mesin. Mobil mewah itu melesat pergi meninggalkan pekarangan rumah, meninggalkan kepulan asap dan debu yang tipis, sekaligus melarikan diri dari kebenaran yang hampir saja menelanjanginya.
Kepergian Galang yang mendadak membuat suasana di halaman rumah itu sempat hening selama beberapa detik. Namun, keheningan itu tidak bertahan lama. Kecewa dan amarah karena gagal membuktikan tuduhan mereka justru membuat Bu Ratna dan Rika melimpahkan seluruh kemurkaan mereka kembali kepada Aulia. Bahkan Galang tak peduli jika keluarganya akan melakukan hal buruk kepada istrinya. Yang terpenting sekarang adalah dia berhasil menyelamatkan dirinya sendiri. Pria tak bertanggungjawab dan pengecut.
"Dasar perempuan ular!" pekik Bu Ratna, wajahnya memerah padam menahan malu dan emosi. Dia melangkah lebar mendekati Aulia.
Plakk!
Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Aulia hingga wajah wanita itu terlempar ke samping. Sudut bibirnya terasa perih, namun Aulia tidak menangis. Dia hanya memejamkan mata sejenak, merasakan denyut menyengat di pipinya, lalu perlahan kembali menatap ibu mertuanya dengan tatapan yang semakin dingin.
"Ibu apa-apaan?!" Pak Hendra terkejut melihat tindakan kasar istrinya, namun Bu Ratna sudah telanjur dikuasai setan.
"Kamu sengaja, kan?! Kamu sengaja membuat fitnah dan menjebak anak saya supaya kami membencinya!" tunjuk Bu Ratna dengan jari gemetar tepat di depan wajah Aulia.
"Kamu itu yang sebenarnya punya simpanan! Kamu menuduh Galang macam-macam, bawa-bawa wangi parfum wanita, pasti karena kamu sendiri yang sudah main serong dengan laki-laki lain! Laki-laki tadi kan? Yang anaknaya kurang ajar itu!"
"Betul, Bu! Jangan-jangan uang ratusan juta yang hilang itu sebenarnya kamu yang pakai untuk membiayai selingkuhanmu!" timpal Rika berapi-api, ikut memanaskan suasana.
"Kamu sengaja memutarbalikkan fakta dan memfitnah Galang yang sudah kerja keras banting tulang siang malam, dasar istri tidak tahu diuntung!"
Aulia mengusap sudut bibirnya yang sedikit berdarah dengan ujung jarinya. Dia menatap noda merah di jarinya, lalu beralih menatap Bu Ratna dan Rika dengan sebuah senyuman tipis, senyuman yang justru membuat Rika tiba-tiba merinding.
Keluarga toxic ini benar-benar sudah buta oleh kepalsuan Galang. Namun, Aulia tahu, justru di sinilah letak kehancuran mereka yang sesungguhnya.