Dua puluh lima tahun Ryu Jin mengurung jiwanya di dasar jurang terlarang demi menahan kebangkitan Pedang Tulang Hitam. Namun, Aliansi Tiga Sekte membantai seluruh warga desanya demi menguras darah jiwa murni. Tetesan darah warga merobek segelnya. Sang Iblis Purba terbangun dengan mata membara. Mereka tidak tahu bahwa desa itu bukanlah pemukiman biasa, melainkan penjara tempat dikurungnya bencana abadi. Kini, pintunya telah terbuka, dan Ryu Jin siap menagih jiwa para penguasa benua!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKAR BENCANA
Angin malam di Lembah Tengkorak Hitam berembus kencang, membawa sisa bau racun dan amis darah yang membakar hidung. Di tengah panggung batu yang hancur berkeping-keping, Gubernur Yuan merangkak lemah di antara mayat Utusan Zang dan Ketua Cabang Luar Mo.
Putri Yuan Xuefei melangkah mendekat. Tubuhnya gemetar hebat, gaun ungunya ternoda oleh debu batu dan serpihan darah. Matanya yang sembab menatap pria paruh baya di hadapannya dengan duka yang menyayat hati.
"Ayah..." rintih Yuan Xuefei dengan suara pecah. "Hentikan semua kegilaan ini... Hancurkan formasi bawah tanah itu dan bebaskan sisa anak-anak serta warga yang masih dikurung! Tolong, Ayah... kembalikan kota kita yang dulu!"
Gubernur Yuan mendongak perlahan. Wajahnya yang semula pucat dan ketakutan akibat kehadiran Ryu Jin mendadak berubah menjadi senyuman sinis yang mengerikan. Matanya yang merah oleh erosi energi iblis menatap putri kandungnya sendiri dengan kebencian dan penghinaan yang mendalam.
"Menghentikan semua ini?" Gubernur Yuan tertawa melengking, suara tawanya menggema gila menembus dinding-dinding tebing lembah. "Anak bodoh! Kau tidak tahu apa-apa tentang keagungan yang sedang kubangun!"
Gubernur Yuan berusaha duduk tegak, memegang dadanya yang terluka seraya membusungkan dadanya penuh kesombongan yang membuta.
"Sekte Iblis Langit Merah telah menjanjikan ranah Soul Formation dan keabadian mutlak padaku!" jerit Gubernur Yuan dengan mata melotot gila. "Rakyat biasa dan anak-anak di kota itu? Mereka tak lebih dari sekadar pupuk spiritual! Merekalah harga murah yang harus dikorbankan agar kita—keluarga penguasa—bisa melompati batas manusia biasa dan menjadi dewa di Benua Luar ini!"
"Tapi itu semua bohong, Ayah!" teriak Yuan Xuefei, air matanya menetes membasahi pipinya yang mulus. "Apakah Ayah tidak merasakannya?! Setiap kali formasi bawah tanah itu bekerja, energi yang mengalir ke dalam tubuh Ayah bukanlah energi suci, melainkan racun jiwa yang sedang mengikis organ dalam Ayah! Ayah cuma dijadikan wadah mayat bernyawa oleh Sekte Iblis!"
"Tutup mulutmu, anak tidak tahu diri!" bentak Gubernur Yuan murka. "Setiap hari aku merasakan tambahan kekuatan yang teramat dahsyat mengalir di pembuluh darahku! Aku semakin kuat! Aku semakin mendekati keabadian! Kau yang masih mentah dan berhati lembut tidak berhak menggurui keputusan ayahmu sendiri!"
Gubernur Yuan mengarahkan tatapan beracunnya ke arah Yuan Xuefei. Kebencian akibat ambisinya yang terancam hancur melenyapkan seluruh kasih sayang seorang ayah.
"Kau datang ke sini membawa orang luar untuk merusak masa depanku..." rintih Gubernur Yuan dengan gigi gemeretak. "Anak pengkhianat! Jika kau terus ikut campur... lebih baik aku membunuhmu dengan tanganku sendiri malam ini daripada melihatmu meruntuhkan kejayaanku!"
Gubernur Yuan mengangkat tangan kanannya yang gemetar, mencoba mengerahkan sisa energi murni beracun untuk menghantam kepala putri kandungnya sendiri!
Yuan Xuefei terpaku di tempatnya, memejamkan mata dengan pasrah dan hati yang hancur berkeping-keping.
Namun, di samping mereka, Ryu Jin berdiri mematung.
Jubah cokelar pudar milik sang pendekar terkibas pelan oleh angin malam. Wajah kusam Ryu Jin tetap tenang, dingin, dan tanpa ekspresi sedikit pun. Di matanya, drama emosional pertengkaran keluarga ini tak lebih dari sekadar bising angin yang tak bernilai. Ryu Jin sama sekali tidak peduli pada moralitas, dosa Gubernur Yuan, atau air mata Yuan Xuefei.
Bagi Ryu Jin, tempat ini hanyalah batu pijakan. Fokus utamanya adalah mencari akar biang masalah dari jaringan penangkaran jiwa raksasa ini dan menghancurkan pimpinan tertinggi yang mengendalikannya.
Melihat Gubernur Yuan yang menolak buka mulut, bertingkah gila oleh ambisinya, dan hendak membunuh putrinya sendiri, Ryu Jin tidak lagi membuang waktu.
Ryu Jin mengangkat tangan kanannya perlahan ke udara.
TAK.
Ryu Jin mengepalkan jarinya ke arah Gubernur Yuan.
SSSTTT!
Tidak ada jurus berapi-api atau tebasan pedang yang megah. Namun, aura kematian murni dari Pedang Tulang Hitam di dalam dada Ryu Jin merayap keluar, mengunci seluruh pembuluh darah, jaringan energi murni, dan Inti Jiwa milik Gubernur Yuan secara mutlak!
Gubernur Yuan yang hendak mengayunkan tangannya mendadak membeku sepenuhnya di udara. Ia tidak sanggup menggerakkan satu jari pun, bahkan kelopak matanya dikunci oleh tekanan aura kematian yang tak terukur besarnya.
"A-Apa ini... Kenapa tubuhku..." rintih Gubernur Yuan dalam hatinya, matanya melotot dalam ketakutan yang teramat sangat saat menyadari bahwa seluruh kekuatan yang dibanggakannya runtuh tanpa perlawanan sama sekali di hadapan pemuda ini!
Ryu Jin memutar pergelangan tangannya sedikit ke kanan.
KRAK!
"AAAGHHHJGHHH!"
Jeritan penderitaan yang teramat memilukan pecah dari tenggorokan Gubernur Yuan! Tulang-tulang di kedua tangannya dipatahkan secara perlahan dari dalam oleh aura kematian Ryu Jin, remuk menjadi abu tanpa menyentuh kulit luar!
Penyiksaan dingin itu berlanjut tanpa henti. Ryu Jin mematahkan simpul energi utama Gubernur Yuan satu per satu, mengupas energi iblis palsu yang dibanggakan pria itu bagaikan menguliti daging busuk dari tulang.
Gubernur Yuan meronta-ronta histeris di udara, matanya memuntahkan darah segar, dan rasa sakit yang menusuk hingga ke dasar jiwanya meremukkan seluruh kegilaan dan ambisi kosongnya dalam sekejap mata!
Yuan Xuefei jatuh terduduk, menutup wajahnya karena tak sanggup melihat penyiksaan mengerikan itu. Namun ia tahu, ayahnya telah memilih jalannya sendiri di dalam kegelapan.
"Siapa yang berada di puncak tertinggi jaringan ini?" suara Ryu Jin bergaung pelan, datar, namun sanggup merobek kesadaran Gubernur Yuan yang berada di ambang kehancuran.
"A-Ampun... Ampun!" rintih Gubernur Yuan dengan suara pecah dan napas tersengal-sengal di udara, seluruh kesombongannya telah hancur berganti ketakutan mutlak. "Aku... aku akan katakan semuanya! Jangan hancurkan jiwaku!"
Di bawah siksaan aura kematian yang meremukkan pusat energinya, Gubernur Yuan akhirnya memuntahkan seluruh rahasia terlarang Sekte Iblis Langit Merah yang diketahuinya.
"Gerhana Merah... besok malam!" jerit Gubernur Yuan seraya memuntahkan darah hitam. "Tetua Agung Du Xuan... dialah dalang utama seluruh proyek ini! Dia akan menggelar Ritual Pengorbanan Utama di Puncak Gunung Tengkorak Merah saat Gerhana Merah besok malam!"
Napas Gubernur Yuan makin memburu, air mata darah mengalir di pipinya yang keriput. "Seluruh esensi jiwa dari ribuan kota... dialirkan langsung menuju Altar Utama di puncak gunung! Tetua Agung Du Xuan berniat menggunakan seluruh esensi murni itu untuk membuka gerbang kuno dan mencapai tingkat kekuatan yang tak tertandingi!"
Gubernur Yuan mendongak dengan pandangan kabur, memohon-mohon pada Ryu Jin. "A-Aku sudah katakan semuanya... Dialah biang masalahnya... Tolong... lepaskan aku..."
Ryu Jin menatap pria paruh baya itu dengan pandangan yang teramat dingin.
Informasi mengenai akar biang masalah kini telah utuh. Waktu yang tersisa hanya sampai besok malam sebelum ritual puncak itu menyempurnakan kehancuran benua.
"Kau tidak pantas dilepaskan," kata Ryu Jin datar.
Ryu Jin merapatkan kepalan tangannya secara penuh.
DUAARR!
Inti Jiwa dan pusat energi milik Gubernur Yuan meledak dari dalam tubuhnya sendiri! Sisa-sisa energi jiwanya ditarik lurus menembus udara, dilahap utuh oleh Pedang Tulang Hitam di dalam dada Ryu Jin. Tubuh fisik Gubernur Yuan ambruk kaku ke tanah batu, mengering menjadi abu hitam yang lenyap ditiup angin malam.
Lembah Tengkorak Hitam kembali hening membisu.
Yuan Xuefei berlutut di tanah, menatap tumpukan abu ayahnya dengan rasa duka yang telah membeku. Tidak ada lagi air mata yang tersisa di matanya. Pria yang membesarkannya telah mati oleh ambisinya sendiri, dan kini satu-satunya tugas sang putri adalah membawa sisa warga kota yang selamat untuk melarikan diri sebelum bencana besar meletus.
Yuan Xuefei perlahan berdiri, menangkupkan kedua tangannya memberi penghormatan terakhir kepada Ryu Jin. "Terima kasih... Pendekar Ryu Jin. Pergilah ke puncak gunung... akhiri kegilaan ini dari akarnya."
Ryu Jin tidak membalas penghormatan itu. Ia memutar tubuhnya, menatap lurus ke arah puncak tertinggi Gunung Tengkorak Merah yang menjulang gagah menembus awan racun di kejauhan langit malam.
Di dalam dadanya, ketujuh ukiran mata merah pada sarung Pedang Tulang Hitam bergetar hebat, memancarkan hawa pembunuhan yang belum pernah tersebar sepekat ini.
Target utama telah terkunci. Perburuan puncak menuju Tetua Agung Du Xuan akan segera dimulai!