Terbang menuju Italia demi cinta, Evelyn hanya ingin membahagiakan kekasihnya. Namun, takdir berkata lain saat ia menemukan kenyataan pahit di dalam pesawat: sang kekasih berciuman mesra dengan wanita lain di depan matanya.
Saat air mata menetes dan tubuhnya goyah akibat turbulensi mendadak, sepasang lengan kekar menariknya rapat. Ia berada di pelukan Wiliam, pria dewasa berwajah tegas, berkelas, dan memiliki tatapan dingin membunuh. Pria itu tak membiarkan Evelyn lepas begitu saja. Dari sebuah insiden guncangan pesawat, Evelyn justru melangkah masuk ke dalam dunia sang pria paruh baya yang kaya raya, protektif, dan siap memanjakannya tanpa batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 30
****
Hawa dingin malam berganti menjadi hangat yang asing saat mata Lyn perlahan terbuka. Aroma sandalwood yang pekat beradu dengan bau lembut antiseptik medis merayap lembut memasuki indra penciumannya. Pemandangan pertama yang tertangkap oleh iris matanya yang sayu adalah langit-langit berukir kayu jati berkualitas tinggi dan pantulan pendar lampu pijar bernuansa keemasan.
Lyn berada di sebuah vila mewah tersembunyi di kawasan pinggiran kota—sebuah bangunan megah bernuansa privat yang dikelilingi hutan pinus dan penjagaan ketat.
Saat Lyn mencoba menggerakkan jemari tangannya yang terasa amat berat, sengatan dingin merambat di punggung tangan kirinya. Ia menoleh pelan, menemukan selang infus transparan terpasang rapi di sana, menyalurkan cairan vitamin dan penguat kandungan ke dalam pembuluh darahnya.
Seketika, ingatan akan guyuran hujan deras di stasiun, barikade pengawal hitam, hingga bisikan dominan Wiliam membanjiri otaknya bagaikan gelombang pasang.
"A-Anakku..." cicit Lyn parau. Jemari kanannya yang gemetar hebat refleks merambat turun, meremas lembut perut bawahnya yang masih terasa rata.
Pintu kamar berukir itu terdorong pelan. Sesosok dokter wanita paruh baya bersertifikasi spesialis kandungan melangkah masuk bersama dua perawat pribadi, diikuti oleh Wiliam yang mengenakan kemeja hitam tanpa jas dengan lengan yang tergulung kaku hingga siku. Pria berkuasa itu melangkah dengan ketenangan yang mengintimidasi, namun pendar matanya tak lepas menatap lurus sosok wanitanya di atas ranjang.
"Dokter... bagaimana kondisi janin di dalam rahim wanitaku?" suara berat Wiliam bergaung rendah di dalam kamar yang sunyi.
Dokter kandungan tersebut memposisikan alat USG portabel dan melakukan pemeriksaan cepat seraya menatap layar monitor. Ia menghela napas pendek sebelum menoleh menatap Wiliam dan Lyn secara bergantian.
"Tuan Wiliam, nona Evelyn... kondisi kandungannya saat ini sangat rawan," tutur dokter tersebut dengan nada bicara yang teramat hati-hati. "Paparan suhu dingin yang ekstrem beradu dengan tingkat stres emosional yang terlalu tinggi membuat rahim mengalami kontraksi dini. Ada ancaman keguguran yang cukup serius jika kondisi ini dibiarkan."
DEG.
Kalimat dokter itu bagaikan petir yang menghantam dada Lyn. Air mata seketika menetas melintasi pipi pucatnya. Tangisnya pecah tanpa suara, bahunya terguncang hebat di atas ranjang king size yang empuk.
"Dokter... tolong selamatkan bayi saya... hiks... saya mohon..." jerit Lyn histeris, meremas kain seprai sutra di bawah tubuhnya. "Ini salah saya... saya ibu yang bodoh... hiks! Saya hampir membunuh anak saya sendiri...!"
Wiliam melangkah cepat, duduk di tepi ranjang dan langsung menggenggam erat telapak tangan kanan Lyn yang dingin. Sisi keteguhan dingin pria tua itu seketika runtuh melihat keputusasaan wanitanya.
"Dengarkan saya baik-baik, Nona Evelyn," lanjut sang dokter tegas namun lembut. "Nona wajib menjalani bedrest total. Tidak boleh ada aktivitas fisik yang melelahkan, tidak boleh stres, dan Nona tidak diizinkan turun dari tempat tidur ini sampai flek dan kontraksi benar-benar hilang. Perawatan penuh harus dilakukan dua puluh empat jam."
"Lakukan apa pun yang diperlukan," potong Wiliam dengan intonasi mutlak yang tak membantah. "Seluruh fasilitas, obat terbaik, dan tim medis harus bersiap di vila ini. Pastikan wanitaku dan anakku pulih sepenuhnya."
"Baik, Tuan Besar. Kami sudah menyiapkan semua resep penguat dan akan memantau tanda vital berkala," sahut dokter itu sebelum berpamitan mundur bersama para perawat, meninggalkan pasutri terselubung itu dalam keheningan kamar yang pekat.
**
Hari-hari berikutnya berjalan dalam sunyi yang mencekam di vila tersembunyi tersebut.
Mengetahui kondisi fisik dan mental Lyn yang berada di ambang kerapuhan, Wiliam mengambil tindakan ekstrem. Pria paruh baya itu memindahkan seluruh pusat pekerjaannya dari perusahaan dan kantor pusat ke vila ini. Dokumen-dokumen korporasi bernilai miliaran rupiah bertumpuk di meja kerja kamar, namun fokus utama pria berkuasa itu sepenuhnya tertuju pada wanita muda yang terbaring lemas di atas ranjang.
Pagi itu, pendar matahari menembus dinding kaca besar yang menghadap langsung ke hamparan pepohonan hijau. Wiliam melangkah mendekati ranjang seraya membawa nampan berisi bubur gandum hangat dan segelas susu hamil.
Pria tua itu mendudukkan dirinya di tepi kasur, menyendok bubur secara telaten lalu mendekatkannya ke bibir Lyn.
"Makan sedikit, Little Lady," bisik Wiliam serak namun teramat lembut. "Kamu butuh nutrisi untuk anak kita."
Lyn hanya menatap lurus ke depan, ke arah pemandangan hutan di luar jendela. Paras ayunya pucat bagaikan patung porselen. Bibirnya terkatup rapat, tidak menunjukkan niat sedikit pun untuk merespons atau mengumbar suara. Rasa bersalah pada Clara dan luka batin atas keterkungkungannya membuat Lyn memilih membatasi diri dalam tembok aksi bisu.
Ia tidak memberontak, ia tidak lagi menjerit atau menangis... namun ia menolak berkomunikasi.
Wiliam menghela napas panjang. Keheningan dingin dari Lyn terasa jauh lebih menyiksa daripada caci maki atau dorongan histeris yang diterima dada bidangnya malam itu. Namun, pria yang biasa disembah dan ditakuti di dunia bisnis itu sama sekali tidak menunjukkan kekesalan. Dengan kesabaran yang luar biasa, Wiliam tetap mendekatkan sendok itu.
"Buka mulutmu, Lyn," bujuk Wiliam pelan, jemarinya yang besar dan hangat mengusap lembut rahang tirus wanitanya. "Jangan menghukum anak kita hanya karena kamu membenciku. Kalau kamu tidak mau bicara padaku, tidak apa-apa... tapi makanlah demi bayi di rahimmu."
Mendengar kata 'bayi', iris mata jernih Lyn bergetar tipis. Tanpa menatap wajah Wiliam, Lyn akhirnya membuka bibirnya perlahan, menerima suapan demi suapan dari sang tuan dalam kepasrahan yang sunyi.
Setiap detik di vila itu diisi oleh pelayanan penuh dari Wiliam. Pria yang tak pernah menyentuh pekerjaan rumah tangga itu kini menyuapi Lyn, mengelap tubuh halus wanitanya dengan air hangat saat jam mandi tiba, hingga mengusap punggung dan perut rata Lyn sampai gadis itu tertidur lelap akibat efek obat penguat kandungan.
Saat sore menjelang, Wiliam selesai memandikan dan mengganti gaun tidur tipis Lyn dengan penuh kehati-hatian. Pria tua itu memanjat naik ke atas ranjang, memposisikan tubuh tegapnya menaungi Lyn dan melingkarkan lengan kokohnya di pinggang ramping sang gadis dari belakang.
Wiliam menyandarkan dagunya di ceruk leher wangi Lyn, menyusupkan jemari besarnya di atas tangan Lyn yang menempel di perut bawahnya.
"Aku tahu kamu marah padaku, Evelyn..." bisik Wiliam serak di telinga Lyn, napas hangatnya berembus pelan membelai kulit mulus wanitanya. "Kamu boleh membenciku sesukamu. Kamu boleh menguncimu dalam diam seperti ini. Tapi kamu harus tahu... aku tidak akan pernah melepaskanmu."
Lyn tetap mematung kaku dalam dekap hangat tersebut. Masing-masing bulu kuduknya meremang saat merasakan kecupan hangat dan lama dari bibir Wiliam mendarat di tengkuknya.
"Kamu dan anak ini adalah milikku," sambung Wiliam posesif, nada suaranya bergetar oleh keteguhan yang tak terobohkan. "Segala hal tentang Clara, Siska, atau dunia di luar sana... biarkan aku yang menghancurkannya jika mereka berani mengusikmu. Tugasmu hanya satu, Little Lady... tetap di sisiku dan tumbuhkan anak kita dengan selamat."
Air mata bening perlahan menetes dari sudut mata Lyn yang terpejam rapat, membasahi bantal sutra di bawah kepalanya. Di dalam dekapan dada bidang yang hangat dan protektif ini, Lyn menyadari betapa tragis takdir hidupnya. Ia membenci sangkar emas yang mengurungnya ini, namun di saat yang sama, ia tak mampu memungkiri bahwa kehangatan dan perlindungan mutlak dari sang tuan adalah satu-satunya benteng yang menjaga nyawa buah hatinya saat ini.
Bersambung....