Rin-pertemuannya dengan Al adalah kebetulan. Tapi Al bisa memberikan rasa manis dan asem di hari-harinya.
Al-kaku dan dingin. Tapi dinginnya bisa meleleh. Pertemuannya dengan Rin seperti roti. hangat di luar empuk di dalam.
Kisah semanis roti buatan Rin, penuh proses, harus dibentuk dengan bahan takaran yang pas. Baru bisa dinikmati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
"Rin...!"
Al berdiri di depan pintu Roemah Roti, napasnya ngos-ngosan. Matanya melihat Rin di pelukan neneknya.
Rin berdiri, "Al... Kok lo di sini?" Rin mengusap air matanya cepat.
"Aku lihat wartawan ke sini bareng Viv..." Al mendekat dan memegang bahu Rin, wajahnya khawatir "Dia ngapain? Dia bilang apa?"
"Dia konferensi pers, soal film," nenek menjawab dengan nada datar.
"Film? Film apa?"
"Film kisah yang belum selesai! Udah deh, sana pulang! Siapa tahu Vivian mau belajar akting nangis!" Rin mendorong Al mundur. Sebenarnya Rin tidak percaya ucapan Vivian tadi tapi rasa cemburu sedikit muncul di hatinya. Dan jadi terlihat jelas.
"Nenek panggang roti, nenek tinggal dulu ya," nenek memberi ruang untuk Rin dan Al. Nenek paham kalau Rin yang tadinya kuat, di depan Al sebenarnya rapuh berbalut cemburu. Tapi Rin masih belum mengerti kalau dia sendiri sedang cemburu. Tiba-tiba marah dengan Al.
"Maksud kamu apa? Film dan Vivian ini aku nggak ngerti! Kalo dia mau main film ya biarin aja. Nggak..."
"Oh jadi beneran? Mau main film dengan Vivian?" Rin merengut, memotong pembicaraan Al dan duduk menyilangkan kedua tangannya. Al tersenyum tipis, sangat tipis nyaris tak terlihat. Ada sedikit rasa senang. Ini gadisnya pasti sedang cemburu.
"Emang boleh aku main film bareng dia?" tanya Al sengaja memancing Rin.
"Nggak ada urusannya dengan gue!" Rin beranjak mau kembali ke meja kasir. Al menahan tangan Rin.
"Emang nggak mau ikut?" tanya Al. Rin menoleh dengan kening berkerut. Al suka melihat Rin cemburu, dia semakin memanasi Rin.
"Nggak!"
"Bagus! Ayo!" Al menarik tangan Rin. "Nek! Al bawa Rin ya! Ada rapat sekalian ajak Rin lihat film!" Al berteriak dari depan. Karena dilihatnya Roemah Roti sudah mulai ada pengunjung.
"Iya! Pergilah! Ajarin cucu nenek biar nggak cemburu ya!"
"Siapa yang cemburu?"
"Ayo!" Al menarik tangan Rin lagi keluar Roemah Roti, Al menggandeng tangan Rin sambil bersiul-siul.
"Happy banget lo?" tanya Rin.
"Hmm" Al mengangguk.
"Ini mau ke bukit?" tanya Rin yang sudah tahu arah jalannya.
"Iya, kita harus rapat!" ucap Al. Rin hanya diam, lalu mereka mendaki lewat jalan yang sudah puluhan bahkan ratusan kali dilewati.
Keduanya duduk di kursi. Untung rindang karena hari sudah beranjak siang.
"Jadi, mau rapat apa? Cepetan! Gue banyak kerjaaan!" Rin melihat jam tangannya. Di sana masih ada gelang ungu dari Ara dan gelang perak halus yang Al kasih dulu.
"Jadiiiii... Aku udah tahu pelaku yang menyebar berita gosip itu,"
"Lo masih nuduh Zayn?"
"Hmmm... Bukan nuduh, tapi aku yakin itu dia. Karena bukti udah di kita sejak kemarin," ucap Al.
Rin menoleh, "Buktinya ada di kita? Gue nggak punya bukti selain rekaman CCTV itu,"
"Ada dan aku udah ketemu Zayn. Dia udah mengakui semuanya. Dan berita baiknya, besok kita ke kampus,"
"Ngapain?"
"Zayn, aku, kamu dipanggil untuk memastikan semuanya. Pihak kampus sudah menyelediki ini bareng mas Reza."
"Jadi selama ini kalian bantu nyari tau siapa pelaku sebenarnya?" tanya Rin.
"Yup! Aku udah bilang, aku nggak akan ninggalin kamu. Aku bakal cari tahu siapa yang nyebar fitnah. Memang nggak mudah, yang penting akhirnya kita tahu siapa pelakunya,"
"Gue masih nggak percaya kalau pelakunya Zayn,"
"Ya ya... Terserah kamu! Tunggu sampai Zayn kebanggaan kamu itu mengakui semuanya di ruang dosen besok!" ucap Al.
"Kok nyolot sih!"
"Kamu itu kelewat baik! Makanya disitu Zayn nyari simpati kamu. Kamu nggak percaya terus dari kemarin. Dan ini lagi, tiba-tiba marah nggak jelas soal film. Film apa? Coba cerita!"
Rin jelasin soal film yang diperankan oleh Vivian dan Al. Al tersenyum mendengar cerita Rin.
"Cemburu ya?" tanya Al
"Nggak!"
"Hmmm..." Al senyum-senyum. Dia geser duduknya makin deket. Rin geser menjauh. Masih kesal.
"Ngapain deket-deket?"
"Takut cemburunya ketularan?" Al nyengir. "Rin coba jelasin lagi, film apa yang Vivian bilang? Coba ulangi?"
Rin mendengus tapi akhirnya cerita juga. Masih dengan tangan disilang. "Dia bilang...dia bakal main film sama lo. Cerita tentang kalian yang belum selesai. Terus dia bilang wartawan bakalan nulis tentang kisah cinta pertama kalian yang belum selesai!"
Al langsung ngakak. Ngakaknya kenceng banget. Baru ini Rin liat Al ketawa selebar itu.
"Lo ngetawain gue?"
"Bukan! Bukan kamu!" Al nahan ketawa, tapi matanya berbinar. "Rin, aku aja baru denger soal film ini. Aku nggak pernah tanda tangan kontrak film apapun. Kan kamu tau sendiri, anak T&T sibuk dengan lagu-lagu baru,"
"Jadi?"
"Jadi, semua yang Viv bilang itu bohong. Dia hanya mau kamu panas. Lihat kan, dia sukses bikin kamu cemburu. Apa aku harus berterimakasih dengan Vivian?" Al menggoda Rin.
"Ya... Ya... Sana jumpain Vivian!"
Al menggaruk kepalanya. Kok salah lagi? Kan maksud Al berterimakasih ke Vivian karena bikin Rin cemburu, Al jadi tahu kalau Rin juga punya perasaan yang sama.
""Maksudku..."
"Besok gue belain Zayn, lo sama Vivian. Gue sama Zayn! Biar adil dan nggak ada lagi drama-drama bikin sakit kepala!"
"Eh..! Eh jangaaaaan!" Al panik. Gantian Rin yang tertawa.
Al menarik tangan Rin, kali ini tidak ada keraguan. Menggenggam tangan Rin sambil menikmati angin semilir di bukit, dan Al menarik napas. Bicara dengan serius.
"Rin, soal Zayn..."
Rin langsung tegang lagi.
"Aku ketemu dia tadi malam, di kampus,"
Flash Back Tadi Malam
Al menunggu Zayn di kampus, dia tahu Zayn pulang pukul sembilan malam. Dia pulang sendiri. Al mencegat Zayn saat dia mau menghidupkan motor.
"Zayn..."
"Mau ngapain lo?"
Al nggak mau basa-basi, "Jam tangan lo mana?" tanya Al.
"Rusak!"
"Rusak atau... Lo buang?" tanya Al dengan tatapan mematikan.
"Bukan urusan lo!"
"Urusan gue kalo itu menyangkut Rin!"
"Gue pulang!"
"Tali jam lo ada di gue!" ucap Al.
"Cuma tali jam doang! Lo kalo mau simpen, ambil aja!"
"Nggak mungkin jam tangan hadiah, lo buang gitu aja kalo bukan karena sesuatu," bisik Al.
"Apa maksud lo!" suara Zayn sedikit keras. Beberapa mahasiswa terakhir pulang melirik ke arah mereka.
"Lo tau kan, di rekaman CCTV kampus ada seseorang yang nempel berita murahan yang nggak bener?" tanya Al santai, wajah Zayn memucat.
"Ng... Nggak ada hubungannya sama gue!"
"Tali jam itu persis dengan yang lo pakai waktu di Roemah Roti, lengkap dengan sobekan kecil di ujungnya! Jam G-Shock aja ada beberapa orang yang pake, tapi dengan sobekan diujungnya itu, yang talinya pudar. Itu cuma elo yang punya!"
"Kurang ajar!"
Flash Back End
Rin melongo mendengar cerita Al.
"Jadi itu beneran Zayn?" Al mengangguk pelan. "Besok kita semua dapat surat panggilan ke kampus, aku sebagai saksi. Kamu nggak usah takut lagi. Satu masalah selesai,"
Al mengusap rambut Rin. Dia tahu pasti Rin kaget mendengar hal ini.
"Gue kecewa, gue anggap Zayn itu kayak kakak gue..."
"Aku ngerti," Al menarik Rin ke pelukannya. "Besok kita ke kampus, kamu dengerin sendiri gimana,"
Rin mengangguk.
"Terus... Vivian?"
Al tersenyum tipis, tapi kali ini dingin. "Dia pikir bakalan main film sendiri, besok kita kasih dia panggung yang sebenarnya,"
kisah Al dan Rin tak melulu soal cinta, ada sedih, bahagia, lucu dan kadang sedikit kaku🤭
kisahnya nggak berat kok