NovelToon NovelToon
Jadi Ibu Tiri Itu Gak Mudah

Jadi Ibu Tiri Itu Gak Mudah

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Menikahi seorang duda beranak tiga dipikirnya akan membawa kebahagiaan baru, namun kenyataan menjadi ibu tiri ternyata jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Di balik pintu rumah yang tampak sempurna, ia harus berhadapan dengan penolakan halus, bahkan kasar, serta dinamika tiga anak dengan karakter yang bertolak belakang.
Mampukah Ayu meluluhkan hati anak-anak tirinya dan mempertahankan rumah tangganya, atau justru menyadari bahwa ketulusan saja tidak pernah cukup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20: Penghakiman

Kepanikan melingkupi setiap detik perjalanan menuju Rumah Sakit Umum Daerah terdekat di kota kecamatan itu. Laju mobil SUV hitam yang dikendarai Yoga membelah jalanan menanjak dengan kecepatan tinggi.

Di dalam kabin, tidak ada lagi keheningan yang biasa, yang ada hanya suara tangis Moana yang kian melemah, rintihan ketakutan Ayu, serta raungan tangis Lea di baris kedua.

"Moana... bertahan ya, Sayang. Sebentar lagi kita sampai rumah sakit," bisik Yoga dengan suara serak, matanya tak berhenti melirik ke spion tengah dengan deru napas yang memburu.

Di kursi samping kemudi, Ayu duduk dengan tubuh yang gemetar hebat. Airmata membasahi pipinya tanpa henti. Tangan kirinya meremas kain jas Yoga yang tergeletak di pangkuannya.

Rasa bersalah menggerogoti ulu hatinya bagaikan cuka yang disiramkan ke atas luka yang terbuka. Hanya karena kelalaian beberapa detik saat ia mengambil tas bekal yang tergelincir, putri kecil yang sangat menyayanginya itu harus mengalami musibah mengerikan ini.

Di baris kedua, Lea memeluk tubuh mungil Moana dari samping, sambil menahan kain kassa bersih yang diberikan petugas wisata untuk menyumbat luka di pelipis sang adik.

Wajah Lea merah padam dan dipenuhi lelehan air mata amarah. Setiap kali matanya menatap punggung Ayu di depan, tatapannya menyinarkan kebencian yang makin membara.

"Kalau terjadi apa-apa sama Moana... aku gak akan pernah maafkan wanita itu, Pa!" jerit Lea sesenggukan, suaranya parau menahan rasa sakit di dadanya.

Ayu makin menundukkan kepalanya, dan memejamkan mata rapat-rapat seraya menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Ia tak membalas sepatah kata pun. Ia merasa tidak berhak membela diri.

Lampu darurat Instalasi Gawat Darurat (IGD) menyala merah terang saat mobil Yoga mendadak berhenti di depan selasar.

Petugas medis berseragam hijau dengan cepat mendorong brankar keluar. Moana langsung dipindahkan ke atas kasur dorong dan dilarikan masuk menembus pintu kaca ganda IGD.

"Bapak dan keluarga silakan tunggu di luar area tindakan ya!" cegah seorang perawat wanita saat Yoga, Kenzo, dan Lea hendak ikut menerobos masuk.

Pintu kaca ganda terkatup rapat, menyisakan lampu tulisan TINDAKAN yang menyala terang di atasnya.

Atmosfer di lorong ruang tunggu IGD mendadak berubah menjadi sangat dingin, kaku, dan mencekam. Ubin putih yang mengkilat dan aroma antiseptik yang menyengat seolah mempertegas jurang pemisah di antara mereka.

Yoga terduduk di salah satu kursi besi panjang. Pria itu menyangga sikunya di atas paha, dan menutupi seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya yang tegap tampak turun, memperlihatkan sosok seorang ayah yang hancur dan tertekan di titik terendahnya.

Kenzo berdiri bersandar di dinding lorong, tepat di bawah lampu neon. Jaket hoodie hitamnya terpasang menutupi sebagian wajahnya.

Matanya yang tajam menatap lurus ke arah Ayu yang berdiri gemetar di sudut lorong dekat dispenser air. Sementara Lea duduk di ujung kursi besi lainnya, sambil menangis sesenggukan dengan kepala tersandar di bahu Kenzo.

Ayu melangkah pelan dan mendekati Yoga dengan perasaan yang campur aduk. Tangannya yang dingin terulur hendak menyentuh bahu suaminya.

"Mas..." bisik Ayu lirih dengan suara bergetar. "Mas... bagaimana kalau minum air hangat dulu? Saya ambilkan—"

"GAK USAH SOK PERHATIAN!"

Bukan Yoga yang menjawab, melainkan Kenzo. Remaja laki-laki itu mendadak melangkah lebar menerobos jarak di antara mereka.

Wajahnya yang biasa datar kini merah padam oleh amarah yang meledak liar. Ia berdiri tepat di hadapan Ayu, dan menunjuk wajah ibu tirinya itu dengan telunjuk yang gemetar.

"Kenzo, tenang..." sela Yoga pelan tanpa mengangkat wajahnya dari telapak tangan.

"Gimana bisa tenang, Pa?!" bentak Kenzo dengan suara melengking yang bergema di sepanjang lorong rumah sakit yang sepi. "Anak kecil enam tahun bisa jatuh dari ketinggian dua meter karena wanita ini! Dia ditugasi jaga Moana, cuma jaga satu anak kecil, Pa! Tapi apa yang dia lakukan?! Dia malah lalai!"

"Kenzo, Ibu tidak pernah bermaksud..." air mata Ayu kembali menetes deras. "Ibu cuma mau mengambil tas bekal yang jatuh, cuma dua detik, Kenzo..."

"Dua detik itu hampir bikin adik aku mati, Tante!" potong Kenzo dengan nada menusuk yang amat tajam. "Tante tahu gak?! Selama lima tahun Mama meninggal, kita bertiga jaga Moana tanpa ada lecet sedikit pun! Tapi baru berapa bulan Tante masuk ke rumah kita, Moana masuk rumah sakit dengan kepala berdarah!"

Lea berdiri dari duduknya, lalu melangkah menghampiri Kenzo dengan tangisan histeris. "Bener kata Bang Kenzo, Pa! Perempuan ini pembawa sial di keluarga kita! Dia sengaja biar Moana celaka! Dia iri karena Moana lebih sayang sama kita!"

"Lea! Kenzo! Cukup!" bentak Yoga, yang akhirnya menegakkan tubuhnya. Matanya yang merah menatap kedua anak remajanya dengan pandangan terluka dan frustrasi. "Ini musibah! Tidak ada yang menginginkan ini terjadi! Ibu kalian juga panik dan terluka!"

"Papa selalu saja ngebela dia!" teriak Lea histeris, sambil menunjuk Ayu yang berdiri terpaku dengan dada yang sesak. "Papa lebih mentingkan wanita penipu ini dibanding keselamatan anak Papa sendiri! Kalau Mama masih ada, hal kayak gini gak bakal pernah terjadi!"

Tuduhan "wanita pembawa sial" dan "penipu" yang dilontarkan di depan lorong rumah sakit itu bagaikan belati yang merobek-robek ulu hati Ayu hingga tak berbentuk lagi.

Ayu memegangi dadanya, napasnya tersengal-sengal menahan rasa perih yang teramat sangat. Rasa bersalah pada Moana berpadu dengan vonis kebencian dari kedua anak tirinya membuat Ayu merasa benar-benar hancur dan kerdil.

Ia tidak menjawab lagi, dan perlahan mengundurkan langkahnya, berbalik membelakangi mereka, dan berjalan gontai menuju lorong samping yang gelap dekat taman dalam rumah sakit.

Di sana, di balik pilar beton yang dingin dan sepi, Ayu terduduk di atas bangku semen. Ia melipat kedua kakinya, menyembunyikan wajahnya di atas lutut, dan menangis sejadi-jadinya dalam hening malam.

Dalam sujud doa di dalam hatinya, Ayu menjerit memohon agar Sang Pencipta menyelamatkan Moana dan mengampuni segala kelalaian dirinya.

"Ya Allah..."

Hampir satu jam berlalu dalam ketegangan yang menyiksa. Pintu kaca ganda IGD akhirnya terbuka. Seorang dokter pria berjas putih keluar seraya melepaskan sarung tangan medisnya.

Yoga langsung berdiri dengan cepat, menghampiri sang dokter disusul Kenzo dan Lea. Ayu yang mendengar pintu terbuka juga bergegas kembali dari lorong samping dengan mata yang bengkak dan memerah.

"Dokter! Bagaimana keadaan putri saya?" tanya Yoga panik.

Dokter mengulas senyum menenangkan, seraya menepuk pelan bahu Yoga. "Bapak dan keluarga harap tenang. Kondisi Dik Moana sudah stabil. Luka robek di pelipis kanannya sudah kami tangani dan diberikan lima jahitan halus. Beruntung tidak ada fraktur atau retak pada tulang tengkorak, dan dari hasil pemeriksaan awal tidak ada indikasi pendarahan dalam."

Helaan napas lega yang teramat besar berhembus dari dada Yoga, Kenzo, dan Lea. Ayu yang berdiri agak jauh di belakang mereka mengusap dadanya dan mengucap syukur berkali-kali dalam tangis harunya.

"Alhamdulillah... Ya Allah, terima kasih..." bisik Ayu lirih.

"Apakah putri saya sudah bisa ditemui, Dok?" tanya Yoga lagi.

"Sudah, Pak. Pasien sudah dipindahkan ke ruang rawat inap anak. Pembius lokalnya mulai memudar, jadi kemungkinan sebentar lagi Dik Moana akan terbangun," jelas dokter ramah tersebut sebelum berlalu.

Ruang rawat inap anak kelas VIP itu terasa hangat dan tenang. Di atas ranjang rumah sakit yang bersih, Moana terbaring kecil dengan perban putih melingkar rapi di kening dan pelipis kanannya. Selang infus pun terpasang di punggung tangan mungilnya.

Yoga duduk di kursi samping ranjang, memegang erat jemari Moana yang tidak terinfus. Sedangkan Kenzo dan Lea berdiri di sisi lain ranjang, dan menatap adik bungsu mereka dengan rasa penuh kasih dan keharuan.

Sementara, Ayu berdiri terpaku di dekat ambang pintu kamar. Ia tidak berani melangkah lebih dekat. Rasa canggung, takut ditolak oleh Kenzo dan Lea, serta rasa malu akan kelalaiannya menahan langkah kakinya di batas garis pintu.

Tak lama kemudian, kelopak mata bulat Moana bergerak-gerak pelan. Gadis kecil itu mengerjapkan matanya beberapa kali, dan menyesuaikan diri dengan pendar lampu kamar yang terang.

"M-Moana... Sayang?" panggil Yoga lembut.

Moana menoleh pelan, suara kecilnya terdengar sangat lemah dan serak. "P-Papa..."

"Iya, Nak... Ini Papa, ada Abang Kenzo sama Kak Lea juga di sini," tutur Yoga dengan mata berkaca-kaca, dan mengecup jemari mungil anaknya.

Lea menunduk, dan mengusap lembut pipi Moana. "Moana... Ada yang sakit, Sayang? Maafin Kakak ya..."

Namun, mata bulat Moana yang masih redup itu justru menyapu ke sekeliling ruangan besar tersebut. Ia tidak mencari mainannya, ia tidak menanyakan rasa sakit di kepalanya. Pendar matanya mencari satu sosok yang paling ia rindukan sejak terbangun.

"I-Ibu... Mana?" cicit Moana pelan, suaranya kecil namun terdengar sangat jelas di tengah keheningan kamar.

Kenzo dan Lea seketika membeku. Senyum di wajah Lea luntur berganti raut terkejut.

Moana menggerakkan tangannya yang tidak terinfus, dan menunjuk ke arah pintu tempat Ayu berdiri merapat ke dinding.

"Ibuuu..." panggil Moana lagi, kali ini mata bulatnya mulai berkaca-kaca. "Moana mau Ibu... Ibu kemari..."

Ayu yang mendengar panggilan itu tak sanggup lagi menahan bendungan air matanya. Dengan dada yang bergelombang hebat oleh rasa haru dan rasa bersalah, Ayu melangkah ragu-ragu mendekati ranjang.

Pandangan matanya sempat bertemu dengan mata Kenzo dan Lea yang menatapnya kaku, namun Ayu mengabaikannya demi menyambut panggilan putri kecil itu.

Ayu berlutut di sisi tempat tidur Moana, menggapai tangan mungil Moana dan menciumnya bertubi-tubi dengan derai air mata.

"Ibu di sini, Sayang... Ibu di sini. Maafkan Ibu ya, Nak... Maafkan Ibu..." bisik Ayu sesenggukan.

Moana mengulas senyum tipis yang sangat manis meski wajahnya masih pucat. Jemari mungilnya yang lemah terulur mengusap air mata di pipi Ayu.

"Ibu jangan menangis... Moana gak apa-apa kok," bisik Moana polos, lalu menyusupkan telapak tangan kecilnya ke dalam genggaman Ayu. "Moana mau dipeluk Ibu..."

Ayu membungkukkan badannya dengan sangat hati-hati, memeluk tubuh mungil Moana dan menyandarkan pipinya di samping kepala Moana yang terbalut perban.

Kehangatan dan ikatan batin yang begitu murni di antara ibu tiri dan anak bungsu itu terpancar begitu indah di dalam ruangan tersebut.

Yoga menatap pemandangan itu dengan mata berbinar haru, dan mengusap pundak Ayu dengan lembut untuk memberikan kekuatan.

Sementara itu, Kenzo dan Lea berdiri mematung di sisi lain ranjang. Keduanya menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Moan, adik yang paling mereka lindungi, sama sekali tidak menyimpan dendam atau trauma pada Ayu.

Justru dalam kondisi paling sakit dan lemah, sosot Ayu lah yang paling dicari dan memberikan rasa aman bagi Moana.

Pemandangan itu bagaikan tamparan tak kasat mata yang menghantam kesadaran Kenzo dan Lea.

Tudingan "wanita pembawa sial" dan "pembenci" yang baru saja mereka lontarkan di lorong tadi mendadak terasa begitu dangkal, dan membuktikan betapa pekatnya prasangka dan kebencian yang selama ini membutakan hati mereka sendiri.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!